Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Benda Misterius


__ADS_3

"Bang mau langsung dibawa kesini?" Ucap waitress kepada suami.


"Ah iya. Segera dibawa kesini saja. Juga dengan pesanan sekalian ya! Terus pengunjung sudah kebagian bingkisan semuanya belum?" Suami memerintahkan dan memastikan sesuatu.


Aku yang tak tau tentang apa yang dibicarakan suami. Aku hanya diam. Menjadi pendengar setia.


"Sudah bang. Di belakang masih ada sisa beberapa bingkisan." Jawab witress tersebut.


"Oh kalau ada sisinya ambil saja! Kalau banyak bagi bagi aja dengan teman temannya!" ucap suami.


"Iya bang. Makasih ya bang. Sebentar ya bang, kak, aku siapin pesanannya kebelakang dulu." ucap waitress.


Setelah selesai berbicara dengan suami. Waitress tadi kembali kebelakang.


"Ada apa sih yah?" Akhirnya aku bertanya juga karena penasaran.


"Pesanan bund. Emang bunda ke sini gak mau makan dan minum apa apa? Kan dari tadi pesanan kita belum diantar." Jawab suami sambil menunjuk ke arah meja yang kosong dari menu makanan.


"Hehe. Iya yah." Ucapku tersipu malu.


Aku yang sedari tadi tak menyadari bahwa dari pertama kami tiba di sini. Sampai saat ini belum ada aku memesan menu apapun.


"Terus ayah udah pesan? Kok bunda gak ditanyain mau mesan apa?" Aku mulai menyelidik.


"Ah, ayah udah hafal pesanan bunda. Nasi goreng topping cumi, jus alpokat sama ice cream coklat kan?" Jawab suami tegas dan mengerlingkan matanya sebelah, memastikan tebakannya benar.


"Hmp benar. Masih belum lupa aja." Lirihku.


Ya menu itu adalah menu yang setiap kali aku pesan jika kami makan disebuah cafe pada masa pacaran dulu.


"Gak mungkin lupa. Dan gak akan pernah ayah lupain bund." Ucapnya sambil mengelus bahu. Karena kami posisi sedang duduk sejajar dan suami memelukku.


Aku sungguh senang luar biasa hari ini. Entahlah. Seperti kembali kemasa remaja dulu. Sudah seperti ABG saja. Padahal usia sudah kepala tiga.


"Eh iya bund. Bunda dapat dari mana vidio tadi?"

__ADS_1


Akhirnya suami melontarkan pertanyaan yang sudah ku duga.


Belum sempat aku menjawab. Dua waitress kembali datang. Mereka masing masing membawa nampan. Waitress yang pertama membawa menu pesanan kami. Dua nasi goreng yang berbeda toping. Dua jus alpokat dan satu ice cream coklat. Pesananku sesuai yang dikatakan suami tadi. Sementara untuk suami hanya nasi goreng dengan toping ayam goreng dan jus alpokat.


Setelah waitress yang pertama menata pesanan di atas meja. Kini giliran waitress berikutnya. Namun aku menangkap sedikit keanehan pada nampan waitress kedua. Kenapa tidak? Nampan yang dibawa waitress tersebut berisi sesuatu yang terbalut kertas kado. Ukurannya juga cukup besar.


Sepintas aku melihat suami. Terlihat suami senyum senyum.


Waitresspun meletakkan benda misterius tersebut di atas meja.


"Silahkan dinikmati bang! Kakak!" Sapanya lembut sambil tersenyum.


Dan mereka pun berlalu menjauh.


"Apa ini yah?" Ucapku benar benar penasaran.


"Bunda buka saja!" Titah suami.


Dengan sedikit keraguan. Aku mulai menyentuh benda tersebut. Hanya merobek sedikit kertas kadonya saja. Aku sudah bisa menebak apa isinya. Ini adalah sebuah buket. Aku semakin merobek kertas kado untuk mengetahui isinya. Benar saja isinya buket. Buket coklat yang cukup besar. Berbagai macam coklat lengkap di sana. Mulai dari kemasan kecil hingga besar. Dan coklat dari bermacam merk.


Di tengah tengahnya terlihat ada tulisan, segera ku baca.


"Ayah berdoa agar kita menua bersama!"


Tak terasa air mata mengalir dipipi. Namun kali ini bukan air mata kesedihan. Melainkan bahagia yang tiada tara.


"Ayah! Terimakasih." Ucapku sambil membenamkan wajah ini ke dada bidangnya. Aku sesegukan di dalam sana.


Walaupun pekerjaan suamiku bukan pekerjaan elit seperti kebanyakan. Namun perlakuan suami kepadaku melebihi kebanyakan orang.


Walaupun suami ku tak segagah dan setampan CEO perusahaan. Namun tubuh dan pelukannya mampu menghangatkan jiwa dan raga ini.


"Udah ah. Kok malah nangis?" Suami mengusap air mata dipipiku.


Aku hanya tersenyum.

__ADS_1


"Eh bunda punya utang penjelasan sama ayah. Gimana ceritanya bunda dapat rekaman tadi?" Suami masih menagih penjelasan dari ku. Sambil meraih sendok dan berniat menyuap nasi goreng. Mungkin ia sudah mulai lapar. Aku pun begitu.


Sambil makan aku kembali menceritakan.


"Tadi Ronal datang ke sekolah yah. Pas bunda mau jemput Rey, pas di gerbang dia cekal bunda. Dan menghasut bunda. Katanya ayah selingkuhlah. Ini lah. Dan dia mengatakan ia masih mencintai bunda dan berharap bahkan berusaha keras agar bunda ia dapatkan kembali. Untung bunda bisa lepas darinya. Terus bunda sudah berhasil masuk kantor. Bunda ingat di gerbang kan ada CCTV. Bunda langsung menuju ruang operator. Dan benar saja ternyata setelah bunda berhasil ke kantor. Cita datang nyamperin Ronal ke gerbang. Melihat itu bunda langsung meminta potongan rekaman CCTV ke teman. Dan memindahkannnya ke ponsel." Aku menjelaskan semua rentetan yang ku alami di sekolah tadi.


Sesaat aku menarik napas, berhenti bercerita. Suami langsung menyambar.


"Ini bund?" Ucapnya sambil menyodorkan ponselnya ke arahku.


Terlihat di sana gambar aku seperti bergandengan tangan dengan Ronal.


Aku lantas kaget.


"Dari mana ayah dapat foto itu?"


"Dari siapa lagi kalau bukan dari Cita bund."


"Terus ayah kok gak nanya bunda dari tadi?"


"Buat apa juga ayah tanya bund? Ayah sudah hafal kelakuan mereka. Dan karena kiriman foto dari Cita itulah, ayah punya ide atas kejadian yang baru saja terjadi di cafe ini. Ayah sengaja memancing Cita untuk datang ke sini. Dengan membuat status whatsapp yang hanya ayah atur untuk dapat dilihat oleh Cita saja. Akhirnya usaha ayah gak sia sia. Ia dengan senang hati menawarkan diri akan menemani ayah di cafe ini. Yang pada akhirnya ia mendapatkan malu yang tak pernah ia duga duga. Tapi kenapa bunda gak cerita dari tadi juga masalah rekaman itu?" Setelah menjelaskan panjang lebar, suami malah balik bertanya.


"Bunda berencana menyampaikannya saat makan malam ini. Makanya bunda ajak ayah makan malam. Tapi karena kelakuan Ronal yang masih saja menjelek jelekkan ayah saat ayah di panggung tadi. Bunda terlintas saja untuk membuka kebusukan mereka dihadapan orang ramai." Jelasku lagi.


Suami manggut manggut.


"Kalau di rekaman tadi Ronal bilang mereka impas. Sekarang kita juga impas bund." Seloroh suami.


"Impas bagaimana yah?" Tanyaku yang tak tau maksud pembicaraanya.


"Ya kita impas. Bunda memberi ayah kejutan denga vidio. Ayah memberi bunda kejutan dengan nyanyian ku ingin setia." Ucap suami dengan kekehan khasnya.


Kami sama sama tertawa bahagia.


Tak terasa nasi goreng kami sudah tewas karena keasyikan ngobrol sambil makan. Jus pun tinggal setengah. Karena hari yang sudah hampir jam sepuluh. Akhirnya kami kembali pulang. Pengunjung pun sudah mulai sepi. Tinggal beberapa pasang muda mudi yang masih menikmati waktunya.

__ADS_1


__ADS_2