Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Orang Gila


__ADS_3

Sebuah motor matic memasuki halaman rumah. Aku tak mengenal siapa yang datang, karena ia memakai helm dan masker, yang jelas ia seorang wanita muda kira kira seusia dengan ku, sekitar tiga puluh tahunan. Di lihat lihat dari penampilannya, ia begitu modis, cara berpakaiannya yang elegan membuat sepasang mata lelaki pasti terpana melihatnya. Tepat dihadapan motor kami, ia memarkirkan motornya. Helm dan maskernya yang masih belum terlepas.


Di dalam hati aku bermonolog. Siapakah wanita ini. Sudah seperti pemilik rumah saja. Berani menghambat jalan kami.


Perlahan ia membuka helmnya menampilkan rambut panjangnya yang terurai. Aku masih belum mengenalinya. Sempat aku melihat dari ekor mataku wajah suami berubah kesal. Aku semakin penasaran dengan wanita ini.


Terlihat ia ingin menggantungkan helmnya digantungan motor. Karena digantungan motor ada kantong yang berisi entah apa sedang bertengger disana. Ia pun mengambil kantong kresek yang berisi itu, setelahnya baru menggantungkan helmnya disana.


Kami seperti terhipnotis oleh tingkahnya, sehingga tak ada yang bersuara. Aku masih sibuk dengan pikiranku menerka nerka perempuan ini siapa. Dan apa tujuannya datang pagi pagi ke rumahku. Suami juga terdiam. Aku tak tau apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Saat wanita aneh ini berdiri dihadapan kami. Apakah ia mengenalinya atau tidak. Entahlah aku tak tau.


Perempuan ini semakin mendekat ke arah kami, saat sudah berada persis di depan kami. Ia buka maskernya. Aku masih belum mengenalinya.


"Cita!" Ucap suami terlihat kaget.


Aku dapat menyimpulkan wanita ini adalah Cita Rahayu mantan suamiku. Wanita yang mengganggu ketentraman rumah tanggaku. Aku sebenarnya kenal dan pernah ketemu dengan dia. Cuma itu disaat kami belum menikah dulu. Sudah lama sekali. Sudah belasan tahun. Jadi wajar saja sekarang aku tak mengenalinya lagi.


Aku turun dari motor. Dan menyuruh Rey masuk dulu ke dalam rumah.


"Rey masuk dulu ke dalam rumah ya nak. Bilang nenek jangan keluar. Karena di luar ada orang gila. Kunci pintu dari dalam ya!" Ucapku pada Rey. Aku sengaja berbohong dan menakutinya, agar ia tak keluar rumah. Posisi kami yang sudah hampir di bibir jalan. Halaman kami yang cukup luas dan sudah dipenuhi oleh kolam kolam kecil. Jadi posisi kami sekarang agak jauh dari rumah.


Mendengar ucapanku, Rey langsung berlari ke dalam rumah.


"Ini sarapan buat mu bang. Kamu pasti belum sarapan. Indri pasti tak mau lagi menyiapkan sarapan untukmu, karena ia sudah memgetahui perselingkuhan kita" Ucap Cita dengan nada manja yang dibuat buat sambil mengulurkan kantong kresek yang ia bawa.


Dengan percaya dirinya ia mengantarkan laki laki yang masih berstatus suami orang. Ke rumah istrinya lagi. Di depan istrinya juga. Benar benar wanita jal*ng. Ucapku dalam hati. Namun aku masih diam. Ingin melihat bagaimana respon suami


Suami terlihat bingung. Dan belum menerima pemberiannya. Ia masih diam dan tak merespon apa apa. Sesaat setelahnya.


"Maaf Cita kita tak punya hubungan apa apa. Kamu jangan memperkeruh suasana. Kemaren itu terjadi hanya karena kamu pingsan dihadapan saya. Dan saya akan cari siapa yang sudah menyebar foto fitnah tersebut." Suami terlihat tenang tapi diwajahnya terpancar kekesalan. Apakah kekesalan Cita mengganggu keluarga kami. Atau kesal Cita datang kesini dan kebusukannya akan terbongkar. Entahlah. Tak ada yang tau kecuali mereka berdua.


"Aduh bang Ardi. Tak perlu lagi disembunyiin. Toh Indri sudah tau. Sekarang kalian tinggal urus cerai. Dan kita menikah." Ucapnya semakin mendekat dan merangkul bahu suamiku yang duduk di atas motor.

__ADS_1


Dengan kasar suami menepis tangannya. Hingga ia terhuyung hampir terjatuh.


"Bang, sekarang aja di depan istrimu kau begini. Kemaren?" Ia kembali berusaha mendekati suamiku.


Aku hanya diam saja di tempat. Menyaksikan entah perselingkuhan. Entah sandiwara. Entahlah aku pusing. Tak bisa mencerna dengan baik apakah suamiku benar benar menolaknya. Atau ini hanya sandiwaranya saja.


Tapi aku tak terima melihat Cita berusaha memel*k suami dihadapanku. Emosiku bangkit.


Dengan sigap aku mendekat ke arahnya. Menahan tangannya yang sudah mengudara hendak memel*k suami.


Ku ayunkan tangannya ke bawah. Ku rampas kantong kreseknya dan melemparkannya ke tanah. Kesabaranku sudah habis.


Ku tampar pipi mulusnya. Hingga meninggalkan jejak lima jari disana. Aku tak peduli.


"Dasar wanita murah*n." Umpatku.


Ia terlihat memegangi pipinya yang baru saja aku tampar. Dan terlihat kesal saat aku bilang wanita murahan.


"Bunda sabar bund, jangan kotori tangan bunda!" Ucap suami menenangkan.


"Bang lihat istrimu. Dia menamparku, dia mengatakan aku wanita murah*n, jelas jelas dia dulu merebut kamu dari ku, dan juga membuang sarapan yang aku beli khusus untukmu." Ucap Cita masih mengelus pipinya yang memerah.


"Kenapa kamu marah dibilang murah*n ha? Wanita terhormat mana yang bersedia datang ke rumah laki laki yang sudah beristri, mengantarkan sarapan lagi. Mana ada wanita terhormat seperti itu ha? Dasar jal*ng murah*n!" Umpat ku lagi.


"Diam kamu ya Indri. Kamu yang murah*n merebut bang Ardi dariku." Ucapnya menunjuk nunjuk ke arah wajahku.


"Cita diam! Aku tak butuh sarapan darimu. Aku tak butuh perhatianmu. Berhenti datang kesini. Dan berhenti menjebakku. Kita tak pernah menjalin hubungan apa apa saat aku sudah bekeluarga. Kita hanya mantan. Dan Indri tidak pernah merebut aku dari kamu. Jauh sebelum aku mengenal Indri aku sudah memutuskan hubungan denganmu." Ucap suami dengan tegas.


"Tapi aku tidak terima kamu tinggalkan saat itu."


"Terserah." Balas suamiku.

__ADS_1


"Pandai kamu bersandiwara di depan Indri ya bang!" Ucapnya lagi.


"Kamu yang bersandiwara. Jangan membuat posisiku semakin sulit. Aku mencintai Indri dan akan memepertahankan keutuhan rumah tanggaku." Ucap suami berapi api.


Terlihat Cita mendengus kesal. Dan berlalu dengan motornya meninggalkan pekarangan rumah.


Aku melihat kesekeliling, untung saja tidak ada yang melihat. Posisi rumahku yang agak berjarak dengan rumah lainnya. Jadi tak ada yang manyaksikan perseteruan kami tadi.


Aku tak mengatakan apa apa kepada suami.


"Bunda. Bunda gak perlu dengarin ucapan dia bund!" Suami meyakinkanku.


"Antarkan aku ke sekolah!" Aku tak merespon ucapan suami. Aku sekarang hanya ingin cepat cepat sampai di sekolah. Aku tak ingin terlambat, aku tak ingin masalah ini mempengaruhi kinerjaku.


Aku beralari kecil ke arah rumah.


"Rey ayo keluar. Kita berangkat ke sekolah lagi." Ucapku dari luar.


Sesuai perintahku tadi Rey mengunci pintu dari dalam.


Pintu terbuka, terlihat di balik pintu Rey berdiri dengan nenek dan Aihzan.


"Orang gila bagaimana tadi Ndri?" Ibu bertanya, sepertinya ia penasaran sekali.


"Gak tau buk, mungkin lewat tadi. Dan masuk kepekarangan rumah kita, tapi sekarang sudah aman. Ia sudah pergi." Jawabku asal.


"Tapi tadi ibuk intip dia tak seperti orang gila Ndri. Masak orang gila bawa motor." Ibuk terlihat masih penasaran.


"Udah buk, aku ke sekolah dulu." Jawabku tanpa menjawab pertanyaan ibuk. Ku rangkul Rey, ke arah motor.


Dan kami pun berlalu. Diperjalanan tak ada pembicaraan aku hanya diak seribu bahasa. Sibuk mencerna apakah ini suami yang bersandiwara atau si Cita rahayu itu. Aku bermonolog dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2