
"Brengsek! Indri, dia benar benar mempermalukan ku di depan umum. Aku pastiin aku akan bayar kontan perbuatannya malam ini. Ardi juga bisa bisanya ia menjebakku. Mengaku lagi gabut dan akan ke cafe untuk menenangkan dirinya. Aku pikir ia akan datang sendirian. Nyatanya ia malah pamer romantis dihadapanku." Cita terus saja mengomel sambil merem*s rem*s jari tangannya.
"Ini salah lo Cita! Coba aja lo gak ajak gue ke sini. Pasti gue gak bakalan dapat malu seperti ini." Cerocos Ronal di parkiran cafe.
"Enak aja lo nyalahin gue. Ini semua ide lo. Lo yang ajak gue buat menjebak mereka dengan perselingkuhan. Sekarang lo nyalahin gue? Ngaca lo! Ngaca!" Balas Cita tak mau kalah.
"Ya kalau lo gak ke sini. Apabila lo gak kepancing sama jebakan Ardi. Kita gak akan dapat malu seperti ini." Ronal masih saja menyalahkan Cita.
"Hey! Ronal kamu sadar gak sih. Aku ngelakuin ini untuk kamu. Aku bersedia ke sini agar bisa membuat jebakan untuk Indri mempercayai perselingkuhan Ardi. Jika aku tau kejadiaanya bakalan seperti ini. Aku justru gak mau juga setuju dengan ide konyolmu untuk menjebak mereka."
"Ya semua memang salah lo. Andai saja saat di sekolahan Indri tadi lo gak nyamperin gue ke gerbang sekolahnya. Vidio tersebut gak bakalan ada Cita. Kenapa lo gak sabar nunggu aku di posisi semula? Sekarang lo lihat jadinya. Malah senjata makan tuan. Ingin di jebak malah kena jebakan. Ingin memisahkan mereka. Yang ada mereka semakin lengket bagaikan perangko sekarang. Kamu menghancurkan rencana dan kesempatanku untuk mendapatkan kembali Indri." Ronalpun membentak.
"Ya habisnya kamu gak kunjung kembali ke posisi ku. Padahal Indri sudah lama masuk ke sekolahnya. Lagian aku heran. Kenapa sih kamu begitu berambisinya buat dapatin Indri? Cantikan juga aku kemana mana ketimbang Indri itu. Modis. Pokoknya Indri gak ada apa apanya di banding aku." Ucap Cita merendahkan Indri.
"Cita diam kamu ya! Cukup sekali ini kamu menjelekkan Indri di depan ku!" Ucap Ronal. Terlihat tangannya terkepal karena kesal Cita menjelek jelekkan Indri.
"Emang benar. Lo nya aja yang udah dibutakan cinta. Cinta konyol. Mencintai seseorang yang sudah punya suami. Jika aku berniat menghancurkan rumah tangga mereka. Itu karena aku dendam pada dua makhluk itu. Jikapun aku tak mendapatkan cinta Ardi lagi. Itu gak masalah. Asalkan mereka tak bahagia itu jauh membuat aku bahgia. Tapi bila mereka berpisah dan Ardi kembali ke pelukanku. Itu adalah bonus untukku." Jelas Cita panjang lebar.
Namun Ronal terlihat semakin kesal dengan perkataan Cita. Ia sekuat tenaga mengepal ke dua tangannya. Berusaha agar tangannya tak menyakiti Cita. Ia yang begitu mencintai Indri tak sedikitpun mau menerima Indri dijelekkan oleh orang lain.
"Paling tidak Indri lebih terhormat ketimbang kamu yang wanita murahan. Dipancing sedikit saja kamu sudah masuk keperangkap Ardi." Jawab Ronal singkat namun sangat menyakitkan oleh Cita.
Cita mendekat ke arah Ronal. Yang awalnya ia berdiri di depan Ronal yang agak berjarak.
Ia semakin mendekat. Hingga jaraknya hanya beberapa senti saja. Deru nafas Ronal mengibaskan rambut panjang Cita yang tergerai. Deru nafas Citapun menghembus wajah Ronal.
"Apa kamu bilang? Murahan? Plak." Lirihnya nyaris tak terdengar. Tangan Cita menampar pipi kiri Ronal. Sesaat menyisakan bekas lima jari di sana. Begitu kerasnya tamparan Cita.
Sesaat setelah tamparannya mendarat di pipi Ronal. Cita segera mengikis jarak dan rembesan butiran bening menganak sungai di pipinya.
Rasa panas yang ditimpulkan oleh tamparan tangan cita menjalar hingga kebagian telinga. Ronal memegangi pipinya yang kini berbekas lima jari dan berwarna merah.
Seketika Ronal mendekat ke arah Cita. Ia sadar perkataannya barusan sangat melukai hati Cita. Tak seharusnya ia mencap Cita wanita murahan.
__ADS_1
"Cita maafin aku! Aku gak bermaksud merendahkanmu. Tapi kamu tolong jaga kata katamu tentang Indri jika bersamaku. Kamu boleh membencinya. Tapi jangan perlihatkan padaku. Karena aku sangat menyayangi Indri." Ronal berusaha mendapatkan maaf Cita.
"Ayo! Sekarang aku antar kamu pulang." Tawar Ronal sambil menggandeng tangan Cita menuju parkiran mobilnya.
Cita hanya menurut.
Di tengah perjalanan menuju rumah Cita.
"Anakmu usia berapa?" Tanya Ronal untuk mencairkan suasana karena sedari tadi Cita hanya diam saja menatap ke arah depan.
Ronal yang belum pernah berkunjung ke rumah cita. Jadi dia belum pernah bertemu dengan anak dan keluarga cita juga. Inilah kali pertama Ronal bertamu ke rumah cita.
"Satu setengah tahun." Jawab Cita singkat tanpa menoleh ke arah Ronal.
Ronal sangat sadar sekali kekecewaan Cita atas tudingannya mengatakan Cita wanita murahan.
"Bagaimana kalau kita mampir ke toko mainan dulu. Aku berniat membelikan anakmu beberapa mainan. Kasian dia semenjak kita punya misi ini. Ia jadi sering kamu tinggalkan." Tawar Ronal yang berusaha memperbaiki suasana hati Cita.
Tanpa menjawab Cita hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
Setelah semua lengkap mereka melaju ke rumah Cita.
Sampai di rumah. Mereka di sambut oleh ibuk dan gadis kecil Cita.
Semenjak bercerai dengan suaminya. Cita hanya tinggal bertiga saja sama ibunya. Sementara ayahnya sudah meninggal dunia.
Baru saja daun pintu terbuka lebar.
"Mama..." Terdengar teriakan gadis kecil Cita dari dalam sambil berlari ke arah Cita.
Cita langsung menggendong putri kecilnya dan mengajak Ronal untuk duduk di ruang tamu.
Setelah puas digendong. Rara putri kecil Cita meronta turun.
__ADS_1
"Ini mainan buat anak cantik." Ucap Ronal sambil menyodorkan kantong berisi beberapa mainan ke arah Rara.
Rara langsung meraih kantong tersebut dan mengangkat tangannya pertanda minta di gendong.
"Papa... ndong papa!" Ucap Rara dengan cadelnya.
Seketika Cita dan Ronal saling tatap.
Tanpa ba bi bu. Ronal langsung menggendong Rara. Terlihat di sudut matanya mengalir butiran bening. Namun dengan cepat ia tepis dan langsung mencium dan memeluk Rara.
Cita yang melihat Ronal meneteskan air mata. Ia pun bertanya tanya dalam hati. Namun segera ia tepis rasa penasaramnya untuk sesaat. Ia mencari celah untuk menanyak itu ke pada Ronal.
Beberapa menit Rara berada dalam gendongan Ronal.
"Rara cantik mama sini turun! Kasian omnya capek. Ayo! Main sama mama. Nih mainannya banyak dibelikan om!" Bujuk Cita
Rarapun segera turun dan berlari ke arah mainannya.
Ronal terpaku diposisinya semula. Dan kemudian ikut bergabung dengan Cita dan rara.
Visual Novel Awal Seorang Penulis terkenal
Indri
Ardi
Cita
__ADS_1
Ronal