Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Pesan Whatsapp Kedua


__ADS_3

Ting. Pertanda pesan kembali masuk.


Segera ku tatap kambali ponsel. Ternyata masih dari nomor yang tadi. Belum lepas rasanya sesak di dada akibat pesan pertamanya. Kini kembali pesan kedua menghujam jantung. Aku benar benar tak kuasa menahan gejolak emosi di jiwa. Andai orang orang yang terlibat di foto yang dikirim tersebut berada dihadapanku, mungkin sudah sedari tadi ku obrak abrik tubuhnya, apalagi bagian wajah. Benar benar membuat aku syok dan kesal setengah mati.


[Terimakasih ya bang. Semoga hari ini kamu merasa bahagia, dan terima kasih untuk ini. Foto.]


Chat menampilkan foto bukti transfer dengan nominal yang cukup besar menurutku.


Aku keluarkan semua gejolak emosi di dalam hati. Agar sedikit lebih tenang.


Dalam tangisan kembali ku teringat dari pertemuan pertama hingga seditik sebelum semua ini terjadi.


Dua belas tahun yang lalu, pertemuan yang sangat menarik menurutku. Kami yang tak saling kenal. Bukan sesama teman sekolah ataupun kuliah, apalagi teman dari kecil. Melainkan pertemuan kami berawal dari nomor ponsel. Tapi bukan juga karena salah nomor, ataupun berawal dari mengacak acak nomor, seperti yang kebanyakan terjadi pada masa itu, tetapi entah kenapa suamiku tertarik dengan nomor ponsel ku yang berada di ponsel temannya, yang mana dengan temannya itu aku memang saling kenal.


Menurut pengakuaanya dahulu. Ia yang saat itu berstatus jomblo. Dengan berseloroh meminta dicarikan pacar dengan temannya. Dan temannya menyuruh mencari sendiri nomor yang diinginkan diponselnya. Kondisi ponsel saat itu yang hanya bisa untuk menelfon dan SMS. Tak sama seperti sekarang, yang sudah banyak jenis aplikasinya, bahkan bisa lihat foto juga. Bahkan bisa menelfon melihatkan gambar, yang dikenal dengan vidio call. Sementara dahulu boro boro untuk vidio call, untuk mengetahui foto saja tak bisa. Namun suami tertarik kepada nomorku. Entah apa alasannya. Hingga ia langsung menghubungi. Itulah kenapa aku katakan menarik. Tapi itu dulu, tidak lagi untuk saat ini.


Belum lagi kesusahan yang kami alami selama berumah tangga. Semua kembali berputar dipikiran, membuat hati kembali masih sakit seperti tersayat sayat.


Beberapa menit mengikuti perasaan. Setelahnya ku hapus dengan kasar air mata di pipi. Ku buka jilbab dan ku cuci wajah. Berniat membuang kesedihan yang baru saja aku dapati.


Setelah sedikit lebih tenang. Kembali ku pakai jilbab. Aku bercermin menatap wajah ini.


Ku langkahkan kaki keluar kamar mandi. Sambil melihat kiri kanan agar tak ada orang yang melihat wajahku yang menyisakan sisa tangisan beberapa waktu lalu.


Kustabilkan emosi dan melenggang menuju tempat duduk.


Ku hela napas panjang. Dan kembali ku keluarkan benda yang menjadi penghubung terjadinya permasalahan ini.


Tak ada lagi pesan apapun dari nomor tersebut. Aku pun tak meresponnya sama sekali. Aku ingin lihat langsung sepulang sekolah nanti reaksi suami bagaimana.


Hari ini memang suami meminta izin untuk pertemuan alumninya semasa sekolahnya. Dulu saja yang kehidupan kami tak seperti ini, tak ada teman teman yang mengundang untuk alumni. Entahlah, aku tak bisa berpikir positif untuk saat ini.

__ADS_1


***


Seperti biasa suami menjemput ke sekolah, tak ada yang beda dengan suami. Tak terlihat kebahagian yang luar biasa di wajahnya, juga tak terlihat adanya kecemasan. Yang ada hanya penampilan suami lain dari biasanya, karena ia yang dari acara alumninya langsung menjemputku ke sekolah. Pakaian yang ia pakai sama persis dengan pakaiannya saat di foto yang dikirim nomor tak dikenal tadi. Hatiku semakin sakit mengingat semua itu.


Aku dan Rey langsung menaiki motor tanpa banyak basa basi. Diperjalanan juga aku tak menyinggung tentang pesan yang dikirim seseorang itu. Hanya saja hatiku seperti membeku, tak lagi menghangat saat berada di samping suami. Bayangan foto foto tadi terekam jelas di benakku.


Membayangkan suamiku tadi bersama wanita itu, sesuai dengan bagaimana yang terlihat di foto kiriman nomor tak dikenal tadi. Dan bahkan pikiranku sudah ternodai oleh pikiran yang terlalu jelek. Hingga aku merasa jijik berada di samping suamiku.


"Bund. Kok tumben diam saja?" Ucap suami memecah keheningan di perjalanan.


Akupun tak menyahut. Rasanya bibirpun enggan, seperti menggambarkan begitu sakitnya beban yang ditorehkan oleh suami.


"Mungkin bunda lapar yah. Soalnya dari tadi Rey gak ada lihat bunda makan, atau pun makan cemilan, biasanya bunda selalu makan siang di sekolah yah." Rey bersuara. Menduga duga apa yang menyebabkan aku tak bersuara.


"Benar begitu bund? Apa kita makan saja dulu sebelum pulang?" Tawar suami.


Dulu tawaran suami seperti itu, begitu menyenangkan hatiku. Namun tidak untuk sekarang. Bahkan setelah semuanya terbukti aku tak sudi lagi berada di sampingnya.


"Bunda...?" Suami kembali memanggil sambil melirik di kaca spion. Pandangan kami beradu. Namun secepat kilat ku alihkan pandangan.


"Bunda kenapa bund?" Sambil memegang tanganku dengan tangan kirinya.


Kembali ku tepis tangannya dengan kasar.


"Bawa motor aja yang benar! Dan langsung pulang!" Hanya itu yang mampu kukeluarkan untuk saat ini.


Ku curi pandang dikaca spion. Suami terlihat terkejut dengan tingkahku. Diapun memelankan motor.


"Bunda kenapa? Ada masalah? Gak biasanya seperti ini." Suami masih gigih membujukku.


Akupun diam.

__ADS_1


"Rey, Rey tau bunda kenapa?" Suami mencari informasi melalui Rey.


"Gak tau yah, dari Rey pulang sekolah tadi bunda hanya ngajar di kelas delapan satu, setelah itu duduk di kantor, katanya memeriksa tugas siswa dan sesekali main hp." Rey menjelaskan semua yang ia lihat tentang kegiatanku mulai dari ia pulang sekolahnya.


Akhirnya kami sampai di rumah. Rey langsung bermain dengan Aihzan dan nenek, setelah aku menyapa Aihzan, aku berlalu masuk ke dalam kamar.


Sesaat di kamar ku hempaskan tubuh di atas kasur. Tak berapa lama pintu dibuka. Ternyata suami mengikuti ku ke dalam. Mungkin saja ia penasaran atas perubahan sikapku.


"Bund. Bunda kenapa?" Ucapnya sambil duduk di sisi ranjang dan meraba kepala ini.


Aku masih tetap diam dan tak bergerak sedikitpun.


"Bund kenapa?" Berusaha merangkul bahu ini dan menatap wajah yang sudah dibasahi air mata.


Akupun tak bisa menahan. Tenaganya jauh kuat dibanding tenagaku. Hinga suami tau butiran bening yang sedari tadi ku sembunyikan.


"Bunda kenapa menangis? Apa yang terjadi? Sini cerita sama ayah." Suami merangkulku kepelukannya.


Mungkin berniat memberikan ketenangan. Ingin ku tepis pelukannya. Namun lagi lagi aku tak mampu.


Bagaimana bisa aku tenang dalam pelukan sesorang yang sudah membagi perlakuan yang sama kepada wanita lain beberapa waktu yang lalu. Bahkan belum lama. Belum sampai sehari. Masih hitungan jam. Dulu memang jika mengalami kesedihan. Pelukan ini mampu membuat hati kembali menghangat. Namun tidak untuk saat ini.


Kuluapkan segala emosi. Hingga aku bisa terbebas dari pelukannya. Dengan kasar ku dorong suami hingga pelukan terlepas.


Masih kulihat tak ada perubahan wajah suami. Tak ada sedikitpun tergambar seperti ia menyembunyikan sesuatu ataupun ketakutan akan sesuatu. Yang ada ia betul betul kaget dengan sikapku yang mendorongnya.


"Bunda kenapa bunda bund?" Masih bertanya hal yang sama dan dengan wajah yang terlihat kaget luar biasa.


"Bagaimana bisa kamu tak mengetahui apa penyebab aku seperti ini ha?" Ucapku dengan penuh gejolak emosi hingga membentaknya.


"Ya apa yang terjadi bund? Tolong bunda cerita. Biar ayah tau."

__ADS_1


"Kamu berlagak bodoh atau memang sudah bodoh beneran sekarang ha?" Aku masih saja membentak.


__ADS_2