
Setelah kepergian Ronal kami kembali masuk ke dalam rumah.
"Yah. Ngapain ayah suruh Ronal whatsappin dimana anak Cita dirawat?" Tanyaku karena penasaran kepada pesan suami kepada Ronal tadi.
"Ya buat jenguk lah bund. Bunda jangan mikir apa apa dulu. Dari kejadian ini ayah dapat menyimpulkan ternyata Cita menaruh dendam yang besar sama ayah. Ayah rasa ayah harus mengakhiri itu. Agar hidup lebih damai lagi bund." Jelas suami.
"Benar juga yah. Gak ada salahnya juga kita memulai untuk berbaikan terlebih dahulu." Nanti jika sudah ada kabar dari Ronal kita pergi ya yah!" Membenarkan ucapan suami.
"Iya bund."
Aku pun hendak ke belakang sambil membereskan gelas dan kue yang tadi dihidangkan di atas meja. Namun aku teringat sesuatu dan mengurungkan niatku untuk kebelakang. Ku taruh lagi gelas dan piring kue di atas meja. Dan kembali duduk di depan suami.
"Oh iya yah, kenapa ya sikap Ronal jadi aneh setelah pertanyaan dari Rey tadi. Ia seperti merasakan kesedihan sekali. Seperti ia pernah ditinggal anaknya. Tetapi waktu dia mencegat bunda kemaren itu. Dia mengatakan dia belum menikah bahkan tak pernah punya pacar. Nah bagaimana bisa ia sensitif sekali dolitanya soal anaknya oleh Rey?" Aku sampaikan apa yang aku rasakan terhadap sikap Ronal tadi.
"Iya ayah juga merasakn seperti itu bund. Makanya tadi ayah pancing. Tapi dianya belum siap buat cerita."
"Bisa jadi yah. Eh iya sepertinya Ronal dan Cita hubungannya dekat sekarang ya yah. Anaknya sakit aja sampai telfon Ronal. Dan Ronal bela belain langsung datang." Aku mulai curiga.
"Iya. Tau deh. Mungkin karena pernah satu misi mereka jadi sering bertemu dan akhirnya punya hubungan spesial." Ucap suami diiringi kekehan dan berdiri keluar.
Aku juga berlalu ke belakang.
Setelah magrib. Kami semua sudah menunaikan sholat magrib. Dan berniat akan makan malam bersama. Tiba tiba ponsel berdering.
Aku segera meraih ponsel. Terlihat di sana tertulis nama Ronal.
"Yah Ronal nelfon. Ayah aja deh yang terima!" Ucapku sambil memberikan ponselku ke suami.
Suami segera menyentuh gagang telfon berwarna hijau.
[Assalamualaikum Ronal.]
Sejenak suami terdiam. Mungkin mendengarkan pembiacaraan dari sana.
[Ah baik. Insya allah saya dan Indri nanti ke sana. Kamu masih di sanakan malam ini?]
Suami kembali diam sejenak.
[Oke. Assalamuaikum]
Setelah panggilan telfon berakhir. Suami meletakkan ponselku di atas meja.
__ADS_1
"Kata Ronal anak Cita di rawat di Rumah Sakit Kasih Bunda di ruangan anggrek no lima bund. Setelah makan ini nanti kita ke sana ya!" Suami menyampaikan apa yang ia bicarakan dengan Ronal di telfon tadi.
"Oke yah. Nah yuk kita makan dulu sekarang."
Kamipun makan bersama.
Sesaat setelah rasa kenyang lepas. Kamipun berangkat menuju Rumah Sakit. Hari yang sudah malam akhirnya kami tak mengajak anak anak. Beruntung anak anak baru saja punya mainan baru yang dibelikan Ronal tadi. Hingga ia mau ditinggal. Hanya saja harus ada ayam kriuk di saat pulang nanti.
Tak berapa lama kami sampai di Rumah Sakit. Setelah memarkir motor kami langsung menuju ruang anggrek nomor lima.
Setelah kami di depan pintu. Suamipun mengetuknya. Tak berapa lama pintu dibukakan dari dalam. Dari balik pintu terlihat Ronal menyambut kami dengan senyum.
Kami segera masuk dan aku meletakkan bingkisan di atas meja.
Di sisi ranjang terlihat Cita duduk menatap anaknya yang terbaring lemas di ranjang. Tangannya di infus. Selimut yang hanya menutup bagian kakinya saja.
Melihat kehadiran kami Cita hanya diam. Mungkin karena hatinya masih diselimuti dendam.
"Bagaimana keadaannya Ronal?" Suami memecah kesunyian.
"Demam tinggi Di. Sempat kejang juga. Sekarang baru bisa tidur." Jelas Ronal.
Berbagai pertanyaan kembali bergelayut di benakku. Ada apa ini?
Setelah banyak berbincang. Sementara Cita lebih banyak diamnya.
Tiba tiba.
"Di bisa ikut aku ke luar sebentar?" Tawar Ronal.
Suamikupun mengangguk. Dan mereka melangkah ke luar.
Kini menyisakan kami berdua dengan Cita. Bingung. Tentu saja aku bingung. Aku gak tau mau berbicara apa. Sedari tadi Cita hanya diam dan menunduk.
Aku menggeser duduk ke arah Cita. Dan mengelus bahunya. "Cita yang sabar ya! Semoga si adek lekas sembuh!" Doa ku selipkan dipenghujung ucapanku.
Ia menatap ku lekat. Manik hitam kami sempat beradu.
Aku sedikit takut. Jika Cita tak terima kehadiranku. Pandangan pun ku elakkan.
"Terima kasih ya Ndri. Ronal benar kamu wanita yang baik. Maafkan aku yang sudah berusaha merusak hubungan rumah tangga kalian." Ucap Cita sambil meraih tanganku.
__ADS_1
Terlihat rembesan air mata di sudut matanya. Sepertinya ia sedang bersedih sekali.
"Iya Cita. Kami sudah memaafkanmu. Jika kami belum memaafkanmu. Tak mungkin kami sekarang akan berada di sini." Jawabku sambil mengulas senyum.
Mendengar itu Cita pun tersenyum dan memeluk tubuhku.
Sementara di luar ruangan rawat. Tepatnya di depan ruangan anak Cita dirawat.
Suami sedang berbincang dengan Ronal.
"Ada apa kamu ajak aku ke luar?"
"Ardi, aku mau bertanya. Kamu yang sudah lama mengenal Cita. Menurutmu dia bagaimana." Pertanyaan Ronal lontarkan tanpa basa basi.
"Maksudmu bagaimana ya? Akukan sudah lama tak berkomunikasi dengan Cita. Tapi yang aku tau. Cita orang yang dibesarkan oleh orang tua dengan ekonomi lemah. Dan sifatnya cukup baik. Memangnya kenapa?" Aku balik bertanya. Karena jujur aku penasaran dengan pertanyaan yang Ronal lontarkan padaku tentang Cita.
Hanya itu yang bisa aku jelaskan pada Ronal. Aku tak berniat menjelaskan apa alasan aku memutuskan dia dulu. Toh orang pasti ada perubahan. Semoga saja sifat Cita sudah berubah. Bathinku.
"Dari pertama aku bertemu dengan anaknya. Anaknya memanggil aku dengan sebutan papa." Ucap Ronal menundukkan kepalanya ke bawah. Terlihat bersedih sekali.
Aku yang sedikit kaget.
"Benarkah begitu? Apa dia sakit sekarang karena kangen dengan papanya?"
"Nah itu dia. Cita juga berpikiran seperti itu. Cita sudah menghubungi mantan suaminya. Tapi dia sudah pindah ke luar kota. Dan gak mungkin datang ke sini. Sementara dari tadi anak Cita mamanggil manggil papa dan gak mau lepas dari gendongan dan pelukanku. Ia mengira aku adalah papanya." Terang Ronal. Dengan raut wajah masih memancarkan kesedihan.
Aku pun mengangguk. Dan teringat kesedihan Ronal karena pertanyaan Rey tadi. Akupun beranikan diri untuk bertanya.
"Boleh aku tau kenapa kamu sepertinya sensitif sekali bila berkaitan dengan anak Nal? Tadi juga kamu terlihat sedih dengan pertanyaan Rey yang mempertanyakan tentang anak? Ada apa?" Akhirnya pertanyaan ku lontarkan sambil mengangkat alisku ke arah Ronal.
Ronalpun kembali menunduk.
Diam.
Akupun diam menunggu Ronal bersuara. Mau dia menjawab pertanyaanku atau tidak. Yang penting aku menunggu sampai Ronal kembali bersuara.
Setelah sekian saat diselimuti diam.
Akhirmlnya penantianku tak sia sia.
"Aku divonis tidak bisa punya anak Di." Jawab nya nyaris tak terdengar.
__ADS_1