Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Kesiangan


__ADS_3

"Indri... Indri.." ibuk memanggil dari luar kamar.


"Indri.. Indri... Bangun.. sudah shubuh lho." Ibuk berteriak teriak dari luar sambil menggedor gedor pintu.


Mendengar teriakan ibuk dari luar. Dinda dan anak anak terbangun.


Sesuai permintaan Dinda semalam, kami memang tidur satu kamar, aku, Dinda, Aihzan dan Syehan. Rey tidur di depan televisi dengan Hasbih, semenjak kedatangan kami kesini mereka memang selalu tidur di depan televisi.


Dinda yang sudah terbangun berusaha membangunkan aku, Dinda menggoyang gayangkan tubuh ini, sambil memanggil manggilku.


"Kak, kak Indri bangun, tuh ibuk udah manggil manggil dari luar, sepertinya kita kesiangan kak" ucap Dinda sembari ia duduk, dan mengusap usap punggung Aihzan dan Syehan yang juga ikut terbangun karena teriakan ibuk.


Aku membuka mata dengan malas, karena mata yang masih dikuasai kantuk yang begitu berat.


Rasanya kantuk tidak mengizinkan mata ini untuk terbuka. Ia masih meminta haknya untuk tetap terpejam dan berbaring di kasur empuk ini.


Namun semakin keras panggilan ibuk dari luar, seakan akan membuat mata ikut takut olehnya, akhirnya aku paksakan mata terbuka, dan setelahnya aku singkirkan selimut yang menutupi tubuh ini, dan aku pun langsung berdiri dengan keadaan tubuh yang masih sempoyongan.


Aku segera membuka pintu.


Dan ternyata di depan sudah ada bang Hanif, suamiku, dan kak Dwi juga, aku kaget.


"Lah kenapa semua berkumpul disini? Ada apa?" tanyaku penasaran.


"Ini ibuk kenapa teriak teriak? tanya bang Hanif.


Kak Dwi dan suamiku juga ikut bertanya.


"Iya buk, kenapa?"


"Ada apa ibuk teriak teriak?"


Ternyata mereka dikagetkan dengan teriakan ibuk yang membangunkan aku.


"Ibuk kenapa teriak teriak.. orang pintu gak di kunci kok," kataku yang masih diselimuti kantuk.


"Ya elah, kirain tadi ada apaan, sampai ibuk teriak teriak begitu" ucap bang Hanif sambil mengucek ngucek matanya yang masih memperlihatkan kantuk yang luar biasa.

__ADS_1


Sementara suamiku dan kak Dwi hanya saling pandang melihat keributan yang terjadi.


Memang karena kami berempat yang tidurnya terlalu larut, sehingga membuat kami semua ketiduran, kecuali ibuk dan kak Dwi yang sudah bangun terlebih dulu.


Kami yang baru bangun, eh lebih tepatnya dibangunkan ibuk, setelah jam menunjukkan jam enam pagi. Berarti kami hanya tidur sekitar tiga jam, sebelum tidur semalam aku sempat melihat jam menunjukkan jam tiga dini hari.


Setelahnya yang lainnya kembali kembali ke tempat semula dengan serentak, seolah olah dikomandoi untuk segera kembali ke tempat.


Suamiku dan abang kembali berbaring di depan televisi. Sementara kak Dwi kembali ke dapur melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena teriakan ibuk tadi.


Ibuk cengengesan karena malu, dan segera membela diri, dengan berdalih.


"Eh, ibuk kira Ardi tidur di dalam, makanya ibuk gak berani buka pintu, ibuk pikir Dinda tidur di kamar depan," ucapnya.


Aku ber oh ria, dan segera membalikkan badan berniat untuk kembali tidur, sama seperti bang Hanif dan suamiku.


Namun sebelum itu terjadi ibuk sudah lebih dulu mencekal tubuh ini.


"Eh eh eh... mau tidur lagi... kamu lupa kita hari ini mau berangkat pulang. Mau kamu ditinggal pesawat nanti, dan bolos bekerja esoknya?" Jawab ibuk sewot.


Seketika aku menepuk jidat.


Dan aku segera mengajak Aihzan untuk segera mandi.


Sementara Dinda sudah lebih dulu masuk kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Sembari menunggu Dinda keluar kamar mandi. Aku keluar kamar untuk kembali membangunkan suamiku, untuk menyuruhnya sholat dan mandi.


Kami semuapun sibuk dengan kesibukan masing masing. Mandi, sholat, dan memandikan bocil bocil.


***


Hari sudah menunjukkan jam tujuh lewat lima belas menit.


Kami semua sudah selesai melaksanakan sholat dan semua juga sudah wangi karena sudah selesai dengan ritual mandi.


Kami segera sarapan bersama. Kak Dwi memang sudah membeli sarapan sejak tadi. Karena disini memang banyak orang orang yang berjualan dengan menjajakan sarapan pagi, mulai dari nasi uduk, bubur kacang hijau, bubur ayam, bubur ketan hitam, dan banyak juga yang lainnya.

__ADS_1


Banyak sekali pilihannya. Kita tinggal memilih mana yang sesuai dengan selera kita. Hanya dengan satu lembar uang lima ribu. Kita sudah bisa mendapatkan seporsi sarapan untuk mengganjal perut hingga siang menjelang.


Terlihat di atas meja makan banyak pilihan sarapan yang teronggok. Seperti sudah tak sabar lagi untuk menunggu terpilih dan segera disantap.


Kamipun karena sudah merasa lapar. Peliharaan di dalam perut juga sudah meronta ronta untuk segera diisi. Akupun mengambil seporsi bubur kacang hijau dicampur dengan ketan hitam. Oh nikmatnya. Dua perpaduan rasa ini memang salah satu menu kesuakaanku.


Tak lupa para bunda mengambilkan dan mempersiapkan untuk bocil bocilnya seporsi sarapan kesuakan mereka masing masing.


Yang lain pun ikut mengambil kesuakaan masing masing. Dan semua sarapan dengan diam tak bersuara, kecuali suara dentingan sendok beradu dengan piring.


Kami yang pulang menggunakan transportasi udara dan akan melakukan penerbangan jam sebelas nanti.


Ya karena tidak mendapat tiket bus lagi kami terpaksa menggunakan transportasi udara.


Jarak yang cukup jauh antara rumah abangku dengan Bandara Soekarno Hatta, yang memakan waktu sekitar dua jam menggunakan mobil dengan kecepatan sedang.


Untuk menghindari terlambat sampai ditujuan kami berniat berangkat sekitar jam delapanan dari rumah.


Selesai semuanya sarapan.


Aku pamit dan bersalaman dengan bang Hanif, dan kak Dwi. Sementara suami sudah memulai mengeluarkan semua barang bawaan kami ke depan teras, agar disaat grab datang, semua barang sudah siap untuk dimasukkan ke dalam mobil.


"Terimakasih atas sambutan selama kami disini ya bang, dan maaf apabila ada sikap dan perbuatan kami yang tidak pada tempatnya." Ucapku seraya menyalami bang Hanif dan kak Dwi.


Kamipun saling berpelukan, dan bersalaman.


"Sama sama, kami juga minta maaf kalau ada yang kurang mengenakkan selama disini." Ucap kak Dwi dan bang Hanif secara bersamaan.


"Kak, hati hati di jalan, semoga kita bertemu dilain waktu dengan waktu yang cukup panjang, tidak seperti sekarang ini, ini pertemuan yang sangat singkat sekali, dan semoga kita bisa bertemu dan berkumpul dengan keenam saudara nantinya," ucap Dinda sengan wajah ditekuk dan menggambarkan sedihnya akan berpisah.


Kamipun saling peluk dan menguatkan masing masingnya.


Hari sudah menunjukkan hampir jam delapan, yang lainpun berpamitan, dan di ambang pintu terlihat om dan istrinya yang ingin melepas keberangkatan kami.


Karena sudah mendekati jam delapan, bang Hanif pun memesan grab, selang beberapa menit, grab pun datang dan drivernya segera membantu menaikkan semua barang bawaan kami.


Kami semua bersalaman secara bergantian, terlihat anak anak yang juga melakukan perpisahan, tampak mereka yang juga saling bersalaman diiringi dengan berpelukan dan di akhiri dengan ucapan perpisahan. Kamipun saling memeluk dan mencium anak anak.

__ADS_1


Setelahnya satu persatu kami memasuki mobil. Setelah semua masuk, driver pun menyalakan mesin mobilnya pertanda mobil akan segera melaju.


Lambaian tangan meiringi kepergian kami.


__ADS_2