
"Bund, bunda kenapa?" Ardi langsung turun dari motor mendekati Indri dan membawanya ke dalam pangkuannya.
Bang Jaja dan istrinya yang menyaksikan juga berhamburan ke arah Indri.
"Di, angkat ke dalam dulu!" Bang Jaja memberikan saran.
"Iya bang." Ia pun segera mengangkat Indri ke dalam rumah bang Jaja dan membaringkan di ruang tamu.
"Bund. Bunda bangun bund...!" Sambil menepuk nepuk pipi Indri. Berharap Indri segera membuka matanya.
"Coba olesi ini Di." Ucap istri bang ajaja sambil menyodorkan minyak kayu putih.
"Olesi ke ujung ujuang jari kaki dan telapaknya juga."
"Iya kak."
Ardi terpikir akan memanggil bidan setempat. Tapi kembali ia urungkan niatnya. Karena ia teringat tak memiliki uang lagi.
Ia menitikkan air mata. Namun dengan cepat ia usap. Aku memang bukan laki laki yang bisa membahagiakan pasangan. Untuk membawa berobat istri saja aku tak punya uang. Ia membatin sendiri.
"Di, sebelumnya istrimu sudah mengeluh sakit?" Bang Jaja buka suara bertanya.
"Tadi sih pas saya jemput katanya memang gak enak badan bang."
"Apa gak sebaiknya panggil bidan saja? Dekat kok rumah bidan dari sini." Bang Jaja kembali memberikan ide.
Ardi terdiam. Air matanya jatuh ke dalam. Ia juga tak mau orang mengetahui keadaannya. Keadaannya yang tak berdaya membahagiakan istrinya. Jangankan membahagiakan dengan kemewahan. Emas dan liburan, untuk berobat saja ia tak mampu saat ini.
"Gak usah bang, kita tunggu sebentar lagi aja." Jawabnya menolak dengan halus.
Sebenarnya dalam hati ia sudah ingin sekali membawa ke bidan atau memanggil bidan. Tapi itu tak mungkin. Ia hanya bisa berdoa dalam hati sambil memijat mijat istrinya.
Tak berapa lama pingsan. Indri perlahan membuka matanya.
"Yah, ini dimana? Kenapa kepala bunda pusing sekali?"
"Alhamdulillah... bunda udah sadar. Apa yang buda rasakan sekarang?"
"Pusing yah."
Memang terlihat sekali pancaran wajahnya menampilkan pucat pasi. Tangan gemetaran.
"Ini Di, kasih air teh anget ke istrimu." Ucap istri bang Jaja menyodorkan segelas teh hangat.
__ADS_1
Ardipun segera menerima. "Makasih kak." Dan langsung mengangkat sedikit kepala Indri agar ia bisa minum.
"Udah mendingan yah. Bunda duduk aja." Sambil perlahan menghabiskan teh angatnya.
Setelah hampir setengah jam duduk. Indri sudah merasa lebih baik.
Merekapun pulang. Diperjalanan pulang.
"Bund maafin ayah ya. Ayah gak punya uang buat bawa bunda ke bidan."
"Iya yah, gak apa apa. Bunda ngerti kok. Kita pulang saja dulu. Nanti ayah coba datangin kak Indah. Mana tau dia sudah punya uang buat ganti uang kita."
"Owh iya bund."
Merekapun diam membisu sampai ke rumah.
***
"Kamu kenapa kok pucat sekali Ndri?" Ibuk terlihat cemas.
"Aku kurang enak badan buk." Dan langsung masuk ke kamar. Tanpa menghiraukan Rey dan Aihzan yang bermain di teras.
"Terus sudah berobat?" Ibuk ikut ke kamar.
"Kok belum? Pergilah berobat!" Titah ibuk.
Aku hanya diam dan bang Ardipun salah tingkah.
"Ardi kenapa kamu gak ajak Indri berobat?"
"Owh anu buk. A..a..."
Indri langsung memotong ucapan Ardi.
"Aku gak apa apa buk, mungkin kelelahan saja. Aku istirahat saja dulu."
Ibukpun keluar. Tanpa Ardi dan Indri ketahui ternyata ibunya menguping dibalik tirai. Mendengarkan pembicaraan Ardi yang kembali meminta maaf karena tak punya uang.
Tiba tiba....
"Jadi kalian tak punya uang sama sekali?"
Kami pun terdiam.
__ADS_1
"Siang malam kalian mencari. Bahkan orang sudah tidur kalian masih saja bekerja. Orang belum bangun kalian sudah bangun lebih dulu untuk bekerja. Sampai sampai saya tak tega melihat Indri yang kurang istirahat. Paginya harus mengajar lagi. Nah sekarang untuk berobat yang mungkin hanya butuh uang lima puluh ribu. Kamu tidak mampu Ardi? Suami macam apa kamu? Indri itu selama ini membantu kamu bekerja lo." Ucap ibuk berapi api. Dan sudah pasti bang Ardi sangat tersinggung oleh ucapannya.
"Buk aku minta maaf. Aku belum bisa membahgiakan Indri. Uang kami kepakai sama orang buk." Bang Ardi pun membela diri.
Indri hanya terdiam. Ia tak tau mau membela siapa. Suami ataukah orang tuanya sendiri.
"Buk aku gak apa apa, hanya butuh istirahat saja kok. Dan gak perlu berobat." Ucapku sambil merebah.
"Bund ayah ke warung kak Indah dulu ya." Bang Ardi minta izin, agar masalah ini tak berlanjut.
"Buk aku pamit ya. Titip anak anak dan Indri sebentar." Namun ibu hanya diam.
Ardipun beralalu. Ia menghindari omelan omelan ibuk, agar hatinya tak sakit lebih dalam. Ia sadar ia memang tak bisa membahagiakan istrinya, tapi selama ini ia sudah berusaha. Namun rezeki belum berpihak kepadanya.
***
Sesampai di warung kak Indah bukannya ia mendapatkan uangnya yang dipakai kak Indah, ia malah diomeli dan diceramahi kak Indah.
"Baru dua hari yang lalu kamu kesini. Sekaramg sudah kesini lagi? Mana ada saya uang? Kalaupun sudah ada. Sudah saya bayar dari kemaren uangmu. Baru aja uangnya kepakai segitu. Hidupmu masih susah juga kok.udah sok sok an nagih hutang. Apalagi kamu banyak uangnya. Jangankan meminjam. Mungkin saudaramu saja sudah tak kau akui lagi." Ucap kak Indah tanpa bersalah sedikit pun.
Ardi jadi tambah bingung. Di rumah diceramahin mertua. Disini juga diceramahin lagi. Jelas jelas ia meminta uang sendiri.
"Itupun karena aku kepepet kalau masih ada uang lain yang bisa aku pergunakan mungkin aku gak bakalan sudi menagih kesini kak." Ucapnya tak kalah ketus.
"Omong kosong kamu gak punya uang Ardi. Istrimu kan kerja dan punya gaji tiap bulannya. Jadi orang jangan pelit, apalagi sama saudara sendiri." Indah masih saja menyalahkan Ardi.
Ia yang tak mau lagi berdebat dengan Indah. Mau seperti apapun debatnya, percuma saja.
Ia putuskan untuk kembali pulang.
Lima puluh meter menuju rumah. Tiba tiba motornya mati mendadak. Ternyata kehabisan bensin. Ia yang tak punya uang di kantong. Lalu mendorong motornya menuju pulang.
Sampai di rumah. Karena motornya tak hidup. Tak ada orang yang menyadarinya sudah tiba di rumah.
"Kamu masih saja diam menerima Ardi seperti itu. Setelah mengantarkan mu sekolah. Ia hanya santai santai dengan ikan ikan peliharaannya. Tak ada sedikitpun niatnya untuk mencari kerja. Nanti kamu sepulang sekolah malah di ajak lagi bekerja sampai larut malam. Dan pagi pagi sekali sudah bangun kembali untuk kembali mengajar. Tak hanya sampai disitu, Ardi menyuruhmu jualan juga di sekolah. Apa dia gak punya otak. Seperti memeras tenaga istri saja." Ucap ibuk mengomel.
Ardi masih saja mendengarkan pembicaraan dari luar.
"Buk. Bang Ardi itu bukan main main atau bersantai santai buk. Dia memelihara ikan tersebut untuk ia jual." Indri membela Ardi.
Ibuk yang memang sudah tua. Tak pernah tau kalau ikan ikan hias itu bisa menghasilkan uang nantinya. Dan kami yang juga tak pernah memberikan penjelasan kepadanya sebelum menjalani usaha ini. Apalgi selama berbulan bulan bang Ardi membudidayakan ikan ikan itu, namun belum juga menghasilkan uang sepersen pun.
Nyaris, tapi masih saja menyisakan kekecewaan.
__ADS_1