Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula


__ADS_3

Segera aku keluar, dan menemukan suamiku sudah di depan gerbang, namun kali ini suamiku terlihat murung dan seperti ada sesuatu yang terjadi dengannya.


Aku segera mendekat. Dan menanyakan apa yang membuat ia murung seperti sekarang.


"Kenapa? Seperti ada yang dipikirkan," tanyaku penasaran.


"Gak ada, ayo naik!"


Suami seperti menyembunyikan sesuatu.


Namun aku tak lagi menanyakan, karena lelah yang menyerang, aku segera naik, dan kendaraan pun berlalu meninggalkan gerbang sekolah yang di trotoar masih dipenuhi oleh anak anak yang sedang menunggu jemputan dan angkot yang akan membawa mereka kembali pulang setalah hampir delapan jam mereka pergunakan waktunya disini untuk menuntut ilmu.


Kenderaan yang akan membawa kami ke rumah yang tercinta pun melaju dengan kecepatan sedang.


Jalanan yang ramai oleh pengendara yang lalu lalang, menuju tujuan masing masing. Sekarang memang sudah sore dan waktunya para pekerja untuk pulang. Sehingga jalanan sedikit padat oleh kenderaan yang melintasi disana.


Terlihat kenderaan saling menyelip kenderaan lain, karena mereka yang tidak sabar ingin secepatnya sampai di rumah masing masing, dari lelahnya setelah bekerja seharian ini.


Namun suamiku tetap santai melajukan kenderaannya, tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Akhirnya perjalanan ini kami lalui dengan membisu sepanjang jalan.


Dibenakku berkecamuk banyak pertanyaan.


Apa yang tengah dipikirkannya, apa yang sudah terjadi sehingga membuatnya seperti ini.


Namun aku tak berani bertanya lagi. Karena kami yang masih dalam perjalanan, aku tetap diam dan sibuk dengan pikiran masing masing.


Mungkin suamiku butuh waktu untuk nanti ia akan bercerita kepadaku.


Tak berapa lama akhirnya kami sampai juga di rumah, motor pun berhenti, aku dan Rey segera turun, sementara suamiku segera memarkirkan motor di pojok teras.


Dan kamipun melangkah masuk, aku yang disambut Aihzan penuh antusias, karena dari pagi aku tinggalkan, dan baru bertemu setelah sore menjelang.


Biasanya setiap kami baru sampai dirumah ia akan berucap seperti ini.

__ADS_1


"Ye ye.. ayah pulang, ye ye bunda pulang, ye ye bang Rey pulang." Sambil melompat dengan girangnya.


Setelahnya ia berlari ke dalam rumah, sambil berteriak "kabur..."


Itu artinya aalah satu dari kami harus mengejarnya sampai dapat dan langsung menggendongnya.


Aku langsung mengejar dan ku gendong putri cantikku, setelah aku menangkapnya. Ku kesampingkan pikiran yang mengganjal tentang suamiku.


Aihzan yang dalam gendongan langsung memeluk tubuhku, ungkapan rindu yang ia bendung selama beberapa jam kebelakang.


Rey dan Aihzan salah satu penguat dan alasan untuk aku selalu tegar dan berusaha mendapatkan kesuksesan yang aku impikan selama ini.


Apapun akan aku lakukan untuk kebahagian duo bocil ini, yang selalu menemani hari hariku.


Setelah merasa puas digendong, ia akan minta turun dan memberi kami kesempatan untuk berganti pakaian.


Begitulah putri cantikku. Ia seakan mengerti tentang kesibukan orang tuanya.


Tapi ia akan marah dan menangis sejadi jadinya kalau kami tak mengejarnya disaat ia bilang kabur.


Semenjak itu aku tak menghiraukan apa apa lagi sebelum aku mengejar dan menggendongnya.


***


Seusai sholat magrib, kami semua makan malam. Setelahnya dilanjutkan dengan bermain dan bersantai dengan anak anak. Bersenda gurau adalah hal yang selalu kami lakukan dengan anak.


Aku kesampingkan pikiran yang mengganggu, bahkan pekerjaan rumah yang menuntut untuk dikerjakan pun tak kuhiraukan. Aku sibuk melayaninya bermain, hp ku pun kusingkirkan, aku hanya ingin anak anak bahagia bermain dengan orang tuanya tanpa ganguan apapun.


Setelah waktu isya masuk, kami segera melaksanakan sholat bersama dan setelahnya anak anak akan tidur.


Di saat anak anak sudah tidur. Kami akan sibuk dengan kegiatan masing masing lagi. Saat saat ini sangat berharga untuk ku mengerjakan pekerjaan rumah yang tertunda karena kesibukan siang tadi.


"Bund, sini duduk dulu!" Panggil suami.

__ADS_1


Seketika aku teringat dengan kejadian tadi. Aku segera mendekat.


"Ada apa yah?" Jawabku sambil duduk disisinya.


"Tadi ayah kan ke rumah mamah, dan berniat setelahnya akan ke dapur kue." Terangnya.


Ya kami memang menyebut usaha kue mama dengan sebutan dapur kue.


"Terus?" Jawabku penasaran namun tetap tenang.


"Ternyata selama kita tinggal pergi ke rumah bang Hanif, usaha kue semakin merosot, dan bahkan mama sudah kehabisan modal untuk menutupi kekurangan. Ditambah kita yang tak membuat banyak kue lagi karena kekurangan modal, membuat pelanggan lebih memilih ke tempat lain, yang pilihan barangnya banyak. Dan juga tudak jauh jaraknya dari dapur kue kita, ada usaha dapur kue baru. Akhirnya dengan terpaksa mama menutup usaha tersebut. Dengan begitu aku sudah kehilangan pekerjaan." Ucapnya lesu.


Aku pun sangat kaget dengan kenyataan ini. Itu artinya sekarang suamiku sudah tak punya pekerjaan lagi. Bagaimana kami bisa memenuhi kebutuhan anak anak kalau hanya mengandalkan uang dari gajiku saja?


Untuk biaya hari hari saja susah. Kamipun bisa berlibur kemaren ke rumah abangku, itu semua dibiayai oleh abangku yang ingin kami semua berkumpul. Karena ia tidak bisa libur dan pulamg ke kampumg untuk melepas rindu dengan kami keluarga. Abangku yang sudah cukup mapan diperantauan.


Karena pekerjaan ku sebagai guru yang ada liburnya. Dan suamiku juga pekerjaannya yang tak terikat. Maka ia meminta kami untuk datang kesana dan mengirim uang untuk ongkos dan segala keperluan kami untuk perjalanan ke sana.


Awalnya sumiku tak setuju untuk ikut, mungkin merasa gak enak hati juga. Akhirnya karena bujuk rayu bang Hanif yang ingin kami semua berkumpul, ia mau juga.


"Bund, maaf kan ayah, untuk saat ini ayah masih belum bisa membahagiakan, dan seceoatnya ayah akan mencari pekerjaan, ayah janji akan mencari dan berusaha mendapatkan penghasilan." Ucapnya sembari memegang tangan ini.


Aku juga tak ingin egois, toh ini semua juga bukan kehendaknya.


Ia juga pasti sedang merasakan kecewa atas hal ini.


"Iya, yang sabar saja, semoga ada jalannya setelah ini, mungkin sekarang Allah sedang memberikan kita ujian" aku mencoba memberikannya pengertian dan kesabaran.


Dalam hati aku berucap, ya allah cobaan apa lagi ini? Baru saja aku merasakan kecewa karena aku yang belum mampu untuk mendapatkan impianku. Sudah datang lagi kekecewaan berikutnya. Bagai sudah jatuh tertimpa tangga pula.


Tiba tiba aku teringat dengan niatku untuk menulis novel online.


Aku memang selama di rumah bang Hanif sengaja membebaskan diri dari semua pekerjaan. Aku memang betul betul menikmati libur.

__ADS_1


Dan sebelumnya aku sudah membuat janji akan belajar dengan author dari pulau Bangka setelah liburan berakhir.


Akupun segera mengambil benda pipih persegi panjang, untuk menghubungi author itu melalu aplikasi warna hijau.


__ADS_2