Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Buah Kesabaran yang Sangat Manis


__ADS_3

Aku kaget seakan tak percaya dengan pengakuan Ronal. Bagaimana bisa ia divonis tak bisa punya anak. Menikah saja belum.


Melihat aku yang kaget. Ronal kembali bersuara.


"Dulu lima tahun yang lalu aku sakit hernia. Dan dioperasi. Karena penyakitku itulah efeknya setelah operasi kemungkinan besar aku tak bisa punya anak. Itulah salah satu yang mendorong aku untuk kembali merebut Indri saat bertemu dengan Cita.


Aku orang yang paling suka dan senang dengan anak anak. Bagaimana bisa aku divonis tak bisa memiliki anak. Maka dari itu aku tak masalah menikah dengan janda yang jelas sudah memiliki anak. Dan aku akan menyayanginya sepenuh hatiku." Jelas Ronal panjang lebar.


"Jika demikian kenapa gak anak Cita saja?" Tanyaku reflek.


Ronal terdiam sejenak. Akupun merasa bersalah telah mengusulkan anak Cita tadi.


"Maaf Nal. Aku bukan bermaksud..." Ucap Ardi yang langsung dipotong oleh Ronal.


"Maka dari itu aku mempertanyakan bagaimana sifat Cita menurutmu." Jelas Ronal yang langsung memotong pembicaraanku.


"Sejatinya kita manusia terlahir dengan dua sisi. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Akankah mengikuti sisi baik ataupun sisi buruk. Untuk itu di samping diri sendiri. Keluarga dan lingkunganlah yang akan mengarahkan. Sesorang yang diarahkan dengan baik maka sisi positiflah yang dominan. Dan begitu juga sebaliknya." Jawabku.


Ronal kembali terdiam. Berpikir sejenak.


"Kamu benar Di. Tergantung bagaimana peran orang orang terdekatnya." Jawab Ronal lagi.


"Iya. Terus apa rencanamu?" Tanya Ardi lagi.


Belum sempat Ronal menjawab. Terdengar pintu dibuka dari dalam, beriringan dengan tangisan anak Cita. Kamipun menoleh ke arah pintu. Ternyata yang keluar adalah Cita. Sementara Indri masih di dalam berusaha menenangkan anak Cita.


"Nal, Kasih nangis dan memanggil papa lagi." Ucap Cita sambil berdiri di arah pintu dan menghadap tepat ke kami yang sedang duduk bersisian di kursi tunggu di depan ruangan.


Tanpa menjawab Ronal berlalu ke ruangan dan langsung mendekat ke arah Kasih.


Melihat Ronal masuk dan menuju ke ranjang Kasih, Indripun bergeser memberikan tempat untuk Ronal.


Dengan cekatan Ronal langsung menggendong Kasih, karena tangan Kasih yang masih di infus menyulitkan pergerakan Ronal. Seperti mengerti dengan keadaan lantas Cita mencopot tabung infus dari gantungannya dan memeganginya sambil berdiri didekat Ronal. Dan mengikuti pergerakan Ronal agar pasangan infus tidak terganggu.


Sepanjang yang disampaikan Ronal tadi. Yang berniat akan menyayangi anak yang bukan darah dagingnya dengan setulus hatinya. Memang benar dari sikap, pandangan mata dan bahasa tubuhnya ia benar benar menyayangi Kasih anak Cita. Terpancar dimanik hitamnya sebuah ketulusan.

__ADS_1


Setelah Kasih tertidur kembali. Hari yang sudah jam sembilan akhirnya kami izin pulang. Namun sebelum pulang suamiku sudah seperti akrab bangat dengan Ronal.


"Bagaimana malam ini Nal? Kamu ikut menemanin di sini, atau akan balik pulang?" Tanya Ardi.


Sekilas Ronal melihat ke arah Cita. Namun yang dilihat hanya diam. Sepertinya ia sedang banyak pikiran. Tentu saja ia kemikirkan anaknya yang lagi terbaring sakit.


"Jika Cita mengizinkan aku bersedia menemanin selama Kasih dirawat. Kasian Cita nanti jika Kasih memanggil manggil papanya lagi." Jawab Ronal dan mengarahkan pandangannya ke arah Cita, bagai meminta jawaban Cita atas niatnya yang akan menemani.


Tanpa suara Cita hanya mengangguk pertanda ia setuju jika Ronal menemaninya.


"Baik Nal. Kalau gitu kami pamit dulu. Kuatkan pilihanmu dan jangan gegabah!" Ucap Ardi sambil memukul lembut bahu Ronal.


"Terima kasih Di. Terima kasih Ndri." Ucap Ronal yang diikuti oleh Cita.


"Iya, semoga Kasih cepat sembuh!" Ucap kami nyaris bersamaan.


Kamipun bersalaman setelahnya melangkah menuju pintu.


Aku yang penasaran dengan ucapan suami kepada Ronal tadi. Akhirnya bertanya untuk mengobati penasaranku.


"Ngomong apa bund?" Jawab suami sambil tetap menatap ke arah depan dan kedua tangan berada di stang motor.


"Itu kuatkan pilihan dan jangan gegabah." Jawabku memberitahu maksud yang ku pertanyakan.


"Owh itu. Bunda tau gak kenapa Ronal sensitif dengan pertanyaan Rey tadi sore? Dan kedekatan Ronal dengan anak Cita?" Bukannya menjawab suami malah balik bertanya.


"Ya gak tau yah. Emang kenapa?" Ucapku agak kesal karena rasa penasaranku tak kunjung dapat jawabannya.


"Ronal divonis dokter gak bisa memiliki keturunan bund." Jelas suami.


"Ha sungguh yah?" Aku kaget dengan penjelasan suami.


"Melihat Ronal yang lumayan gagah. Postur tubuhnya yang hampir sempurna. Bagaimana bisa ia divonis dokter gak bisa punya anak?" Jawabku spontan.


"Ya mau gimana bund. Ketentuan Allah kita gak ada yang tau. Katanya dulu Ronal pernah terkena hernia, dan dioperasi, nah sejak operasi itulah dokter menvonisnya. Tapi itukan vonis dokter. Allah yang maha kuasa dengan semuanya bund." Terang suami lagi.

__ADS_1


"Iya benar sih yah. Terus apa hubungan sama perkataan ayah tadi?" Aku masih menuntut jawaban dan penjelasan.


"Nah itu dia. Melihat Kasih yang selalu memanggilnya papa, dan ia yang pengen bangat punya anak. Dan karena vonis dokter atasnya, ia bersedia menyayangi seorang anak walaupun bukan darah dagingnya sendiri. Ia berjanji akan menyayanginya dengan setulus hati. Nah tadi saat di luar..." Perkataanku dipotong Indri.


"Owh iya. Tadi apa yang ayah dan Ronal ceritakan saat di luar?" Tanyaku memotong pembicaraan suami.


"Ya bunda makanya dengarin dulu. Ayah mau jelaskan. Saat di luar tadi. Ia menanyakan tentang Cita. Karena ayah yang sudah lama kenal dengan Cita. Ronal berniat menjadikan dirinya ayah sambung untuk Kasih bund." Jelas suami.


"Ha? Benar yah?" Ucapku kaget dengan apa yang aku dengar.


"Kenapa? Bunda cemburu?" Ucap suami meledek.


"Eh gak gitu yah. Gak nyangka aja misi yang sama menjadikan mereka berjodoh." Ucapku sambil tertawa.


Terdengar suami membalas tawaku.


"Ya tulah bund. Kita gak tau rencana Allah. Semoga saja mereka berjodoh. Dan diberikan jalan untuk bersatu. Sepertinya Ronal orang yang tulus." Jawab suami.


Tak terasa karena asyik mengobrol tentang Ronal dan Cita kamipun sudah sampai di halaman rumah.


***


Keesokan harinya di sekolah. Pas jam istirahat. Kami para honorer di panggil kepala sekolah berkumpul di ruangannya.


Setelah semua kami berkumpul di sana. Kepala sekolah memulai pembicaraan seputar honorer dan pendataan yang sudah kami jalani beberapa bulan yang lalu.


Kamipun mendengarkan dengan seksama.


Dipenghujung pembicaraan.


"Selamat kepada bapak ibuk semuanya, keinginan yang selama ini bapak ibuk tunggu sudah datang. Silahkan siapkan berkas sesuai yang diminta di sini untuk penerbitan Surat Keputusan pengangkatan." Ucap bapak tersebut sambil menyodorkan kertas yang awalnya berada di atas meja kerjanya.


Semua kami terlihat kaget tak percaya. Namun rona bahagia jelas terpancar di wajah.


Hatiku bergemuruh bahagia. Air mata menetes. Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya menghasilkan buah yang sangat manis. Aku yang awalnya duduk lantas berdiri. Dan bersujud di hadapan kepala sekolah dan teman teman yang juga menikmati kebahagiaan yang sama dengan ku.

__ADS_1


"Terimakasih Allah. Terimakasih Ibuk. Bang Ardi Almarhum Bapak, kakek, nenek, paman, tante dan semua yang menyayangiku. Jasa yang tak akan pernah ku lupakan." Doa ku lafaskan. Air mata kebahagian semakin derasnya membasahi pipi.


__ADS_2