
Sambil menunggu balasan dari Ronal aku melihat aplikasi novelku, segera ku tamatkan novel yang ketigaku. Dua jam berlalu, sekarang jam sudah menunjukkan jam dua belas malam.
Alhamdulillah novelku selesai. Aku tersenyum bahagia. Satu pekerjaanku selesai. Masalah yang menghadang membuat aku memilih untuk hiatus dulu untuk beberapa bulan ke depan. Aku memilih hiatus menulis, namun tetap akan promosikan tulisanku disetiap group sosial media. Agar pembaca lebih banyak lagi. Agar cuan terus mengalir.
Ku lihat lihat jumlah pembaca masing masing novel. Senyum terkembang dibibir, aku merasa puas dengan pencapaian ini. View novelku yang pertama cukup banyak. Rasanya ada kepuasan sendiri mendapatkan ini. Tapi aku gak paham bagaimana cara mendapatkan penghasilan tersebut.
Aku teringat dengan aplikasi novel yang lain. Segera ku menuju aplikasi tersebut, aku ingin melihat view novel diaplikasi tersebut. Karena pendapatan diaplikasi itu dari jumlah pembaca kita. Banyak pembaca maka pendapatan akan semakin besar, dan langsung di kirim ke rekening kita.
Segera ku lihat view novelku, aku merasakan bangga luar biasa, disana view ku tergolong banyak.
Segera ku lihat pendapatan yang ku capai. Lagi lagi aku senang luar biasa. Hampir setahun aku menulis hari ini aku mendapatkan jerih payah jemariku selama ini. Tertera disana penghasilanku mencapai enam jutaan. Aku bahagia luar biasa, sepertinya semangat menulisku kembali bangkit. Dengan pencapaian ini seakan akan aku lupa dengan masalah yang sedang menghampiri.
Jika dibandingkan dengan penghasilan suamiku, memang tak seberapa, tapi aku begitu merasakan bangga yang luar biasa.
Aku gak sabar untuk pagi segera datang. Karena aku ingin mencek langsung direkeningku. Aku yang tak memiliki, mobilbanking, menyulitkan untuk mencek saldoku.
Sambil senyum senyum. Ku keluar dari aplikasi itu, dan menuju aplikasi satu lagi, aku berharap di aplikasi itu juga demikian. Namun nihil, view novelku disana lebih rendah dari aplikasi dua sebelumnya.
Aku tertunduk lesu. Namun sesaat kembali ku tersenyum, dan berdoa semoga novelku semakin banyak pembacanya.
Setelah selesai dengan aplikasi novel. Aku berniat untuk tidur kembali, tapi sebelum merebah aku kembali melihat whatsapp sesaat, berharap sudah ada balasan dadi Ronal. Namun ternyata semua nihil. Tak ada balasan apapun dari Ronal.
Persentase percayaku sama suami sedikit bertambah, walaupun belum sepenuhnya.
***
Sebelum berangkat ke sekolah, aku meminta suami mampir terlebih dahulu ke ATM, berniat mencek kebenaran saldoku. Tanpa banyak tanya suami pun mengikuti.
__ADS_1
Aku masuk dengan Rey, sementara suami menunggu di motor.
Setelah beberapa saat aku seakan tak percaya, nominal saldo di rekeningku tercatat dengan nominal yang luar biasa banyaknya, tak sesuai dengan jumlah pencapaian di salah satu aplikasi yang ku lihat semalam. Bahagia luar biasa, tapi juga pikiran digerogoti banyak pertanyaan.
Saldo dari mana sebanyak itu? Mungkinkah suami yang mentransfer? Tapi rasanya tak mungkin, rekening ini sengaja aku buat khusus untuk menulis, bahkan rasanya suami tak pernah tau nomor rekeningku ini, dan bukunya aku yang menyimpan, aku tak pernah memberitahukan suami tentang nomor rekening ini, karena hanya khusus untuk menulis novel.
"Apa jangan jangan dua aplikasi ku sudah berpenghasilan?" Gumamku dalam hati.
Tanpa berniat mengambil, karena semua kebutuhan masih dipenuhi suami. Setelah ATM ku keluar dari mesin aku kembali menuju suami. Dan kami berlalu melanjutkan perjalanan ke sekolah.
"Lebih baik aku tanyakan nanti ke teman teman sesama menulis. Sudah pasti ini semua adalah hasil menulis." Aku kembali membatin, sambil menuju motor suami dan tetap merahasiakan ini dari suami.
Aku masih diam kepada suami, sementara suami seperti biasa, banyak tanya seperti tak terjadi apa apa.
Akhirnya kami sampai di sekolah, setelah menanda tangani absen, aku mengantar Rey ke sekolahnya, sepulang dari mengantar Rey, teman teman sesama honor bercerita sangat antusias dan heboh sekali, diwajahnya terpancar binar bahagia, aku yang baru bergabung, bertanya tanya.
"Ada apa? Kenapa heboh dan terlihat bahagia sekali?" Tanyaku juga penasaran dengan apa yang terjadi.
Aku masih belum mengerti maksud mereka semua.
"Maksudnya apa? Aku gak ngerti." Aku kembali bersuara.
"Indri, selama ini apa yang kamu tunggu tunggu? Nah yang kamu tunggu tunggu itu akan segera terkabulkan." Jawab temanku lagi.
Alu semakin bingung dan penasaran.
"Bicara yang jelas saja, aku gak paham!" Penasaran yang bersarang dipikiranku membuatku sedikit emosi.
__ADS_1
"Akan ada pengangkatan honorer Indri!" Temanku menjawab lagi, sambil mengungkapkan ekspresi bahagianya.
"Ha? Benar?" Ucapku seakan akan tak percaya, sekaligus juga bahagia.
"Iya, makanya sekarang juga kita harus lengkapi bahan untuk pendataan, ingat! Segera! Karena hanya sehari ini saja. Berkas kita jarus masuk ke dinas, menyertakan bahan aslinya juga. Setelah di cek dinas berkas berkas kita jemput lagi, untuk di scan dan kembali antarkan ke dinas." Temanku menjelaskan panjang lebar.
Akhirnya setelah semua paham, kami bubar, bubar untuk menyiapkan berkas yang akan di kirim ke dinas.
Setelah kami mengumpulkan semua berkas yang diminta, hari itu juga semua bahan kami antarkan ke dinas, menunggu di cek di dinas. Karena banyaknya berkas honorer yang akan dicek, sehingga tak selesai sehari, kami diminta untuk menjeputnya lagi esok hari.
Disela sela pengurusan berkas, aku sempatkan bertanya ke teman, dari penjelasan teman benar, saldo di ATM ku adalah pendapatanku selama menulis, ternyata aku yang tak memperhatikan perkembangan, rating, jumlah pembaca selama ini. Aku yang fokus kepada menulis saja.
Aku bahagia sekali, novelku yang sudah mulai menghasilkan, sekarang cita cita ku seakan akan sudah di depan mata. Aku tak henti hentinya berdoa agar semua yang diberitakan benar, akan diadakan pengangkatan honorer.
Aku larut dalam kebahagianku, hingga aku lupa akan segala masalah perselingkuhan suamiku. Aku lupa jika kami tak saling sapa seperti biasanya.
Saat pulang sekolah suami tetap menjemput seperti biasanya.
Kami bertemu di gerbang sekolah.
"Ayah! Aku senang bangat hari ini, pertama novelku sudah menghasilkan, kedua akan diadakan pengangkatan honorer dan tadi kami semua di sekolah sudah melengkapi berkas berkas yang diminta." Ucapku saat menaiki motor, wajahku menampilkan bahagia yang luar biasa. Dengan sangat bahagia aku menyampaikannya kepada suami, tanpa aku sadari tanganku melingkar di pinggang suami.
"Wah benar bunda? Pantasan bunda tadi mampir di ATM, syukurlah bund, akhirnya jerih payah bunda menulis dapat balasan, dan semoga proses pengangkatan honorer berjalan lancar." Jawab suami sambil mengelus tanganku yang melingkar di tangannya.
Seketika aku tersadar, dan langsung menarik tanganku dengan kasar. Suami menatap ke arah kaca spion dan pandangan kami beradu.
Pipiku memerah, aku malu luar biasa. Kebahagian hari ini membuatku lupa, jika sedamg mode diam.
__ADS_1
"Sudahlah bund! Percaya sama ayah. Ayah gak pernah selingkuh!" Ucap suami lagi.
Aku yang sudah sedikit mempercayai suami, namun belum mendapatkan bukti yang akurat, tetap kembali bersikap dingin kepada suami.