
"Baik. Kita ke kantor polisi aja sekarang. Tapi sebelumnya, silahkan dengarkan ini terlebih dahulu." Ucapku menantang bang Doni.
Akupun mengambil benda pipih dari dalam tas, dengan santai aku buka kunci hp, dan aku pun memutar rekaman, sebelumnya tak lupa aku besarkan volume media hp.
🎙️Doni
[Memang sekarang jualan lagi susah, jadinya sulit mengendalikan keuangan, terimakasih sudah mengizinkan bang disini, bang janji hanya sampai sebulan ke depan, barang bang yang hanya tinggal seribu dua ratus tiga belas pasang aja lagi, semoga habis dan kalau tidak habis dan tinggal sedikit biar bang coba bawa ke toko di rumah saja lagi. Tapi kalau masih banyak bang coba jual disini saja, nanti bang bayar kontrakannya, ya kalau gak akan penuh setidaknya sebagian lah. Dan kalau ada bang tidak kesini, sementara kamu buka, jual saja, kan semua sudah ada bandrolnya, nah ambil aja sepuluh ribu dari sepasang yang terjual olehmu.]
🎙️ Bang Ardi.
[Ya semoga rezekinya disini, dan habis bang, ya untuk tetap disini mah aman. Orang ini masih luas kok.]
Mendengar rekaman ini terlihat bang Doni kaget dan wajahnya terlihat memucat. Sementara suami juga tak kalah kagetnya, mungkin ia bertanya tanya kenapa ada rekaman itu sama aku.
Barang dagangan bang Doni yang hanya stelan harian anak anak, yang harganya rata rata hampir sama, dan juga karena stelan jadi mudah untuk menghitung jumlahnya.
Aku yang dari awal memang kurang mempercayai bang Doni yang dibilang baik oleh suami. Sehingga waktu hari pertama pindahan barang barang dagangannya, terpikir oleh ku untuk merekam pembicaraan mereka, untuk jaga jaga kalau terjadi sesuatu nantinya. Karena aku minta suami untuk meminta catatan barangnya, tetapi suami gak mau, dengan alasan mempercayai bang Doni, dan juga kata suami karena yang akan mengelolah tetap bang Doni, jadi untuk apa kita minta catatannya. Suami benar benar beranggapan bang Doni baik, dan tak akan pernah terjadi hal seperti ini. Karena itulah aku tak pernah memberitahukan kepada suami tentang rekaman itu, aku takut suami marah dan menyuruhku menghapusnya.
Disaat bang Doni tak lagi datang ke toko kami, aku semakin percaya dengan dugaanku. Dan ternyata sekarang dugaan ku terbukti.
"Nah bagaimana bang? Ini semua suara bang Doni dan bang Ardi kan? Jadi gak bisa membantah lagi." Ucapku merasa menang.
"Ya barang memang benar semua seribu dua ratus tiga belas pasang, sementara yang terjual selama saya gak datang hanya lima puluh dua pasang. Terus kenapa barang hanya tinggal delapan ratus tujuh puluh satu pasang? Ucap bang Doni yang masih menekankan kesalahan kepada suami.
__ADS_1
"Hey bang, memangnya selama sebulan bang jualan, tidak ada barang yang terjual?" Tanya bang Ardi.
"Ya.... Ada siih.... tapi tak seberapa, karena aku yang hanya berjualan lima hari seminggu. Itupun penjualan hampir sepi setiap harinya." Ia masih memberi alasan.
"Yakin itu? Emang bang punya bukti penjualan selama sebulan itu?" Suami balik bertanya.
"Ya, gak ada". Jawabnya.
"Kalau begitu gimana kami bisa percaya? Dan kami juga tidak berkewajiban membayarnya." Jelas suami lagi.
Sesaat semua terdiam.
"Jadi bagaimana? Bang tetap menuntut kami untuk membayar tujuh juta? Yang ada kami yang harusnya menagih uang kontrakan, karena direkaman jelas jelas bang mengatakan kalau lebih sebulan akan membayar kontrakan walaupun sebagian." Akupun semakin emosi dan memukul meja.
Bang Ardi pun kaget, dan mengelus pundak ini agar aku lebih tenang.
"Tapikan barang bang tetap ditempat kami. Bang jualan atau tidak itu salah sendiri, dan kenapa melimpahkan kerugian kepada kami?" Ucap suami terlihat mulai emosi.
"Begini saja, kamu tidak usah bayar sebanyak itu, yang aku pertanyakan kenapa barang sisanya sedikit? Sementara yang terjual sama kamu hanya sedikit?" Tanyanya mulai terlihat lembut, namun masih terlihat aura aura licik diwajahnya.
"Bang begini, selama beberapa bulan terakhir ini dapur kue kami juga ada sedikit masalah, hingga aku memang sering tutup, kalaupun buka itu tidak lama, karena kami membuat kue tidak banyak lagi. Nah untuk barang barang bang, saya hanya layani pembeli disaat waktu senggang, tidak fokus, makanya penjualannya sedikit." Suami menjelaskan dengan tenang.
Suami memang wataknya sabar dan tenang, yang bertolak belakang denganku.
__ADS_1
"Jadi kemana perginya barang? Aku selama julan penjualannya juga gak sampai dua rutusan pasang, sementara kemaren dihitung barang tinggal segitu. Sementara kalian menjual selama lima bulan, saya yakin selama lima bulan ini penjualan kalian banyak tapi sudah kalian gunakan uangnya, kan dapur kue kalian lagi bermasalah juga." Ucapnya menuduh.
Mendengar itu semua, kami semakin emosi, mama yang mendengarkan itu pun ikut bicara.
"Maaf nak Doni, bukan mama ikut campur, tapi dengan perkataan nak Doni barusan, mama wajib ikut, karena anak dan menantu mama yang nak Doni tuduh, apakah nak Doni punya bukti atas tuduhannya? Kami memang lagi mengalami masalah dalam berusaha, tapi kami masih punya akal sehat untuk tidak mempergunakan hak yang bukan milik kami. Dan direkaman tadi sudah jelas berapa barang nak Doni awal pindah ke toko Ardi. Bahkan nak Doni yang harusnya membayar sewa kontrakan kekami, sesuai ucapan nak Doni direkaman tadi. Sementara dicatatan nak Doni tak sesuai dengan jumlah yang direkaman. Untuk itu tidak ada lagi alasan kami untuk mempercayai ucapan dan tuduhan nak Doni, dengan tuduhan ini, sepertinya nak Doni tidak mau menyelesaikan secara kekeluargaan, kami siap masalah ini dibawa kejalur hukum." Ucap mama mengenengahi masalah ini.
Bang Doni terdiam.
"Bang dari awal saya berniat membantu, tapi sekarang bang menuduh kami berbuat seperti itu. Kalau tuduhan bang seperti itu, aku juga gak bisa terima bang, mari kita ke kantor polisi saja, sesuai yang diucapkan mama." Suami terlihat marah.
Bang Doni terlihat ragu saat diajak suami ke kantor polisi, jelas saja, bukti kami lebih kuat dibanding dia.
"Tidak usah lagi ke kantor polisi. Sekarang kalian bayar saja seratus pasang. Dan masalah selesai." Ucapnya percaya diri.
"Bang saya akan membayar sesuai dengan yang terjual sama saya, sesuai catatan ini. Itupun saya gak ambil persenannya." Ucap suami sambil menyodorkan kembali catatan penjualannya.
"Iya gak bisa segitu, karena tak sesuai dengan jumlah barang yang tinggal." Ucapnya masih kekeh dengan keputusannya.
"Bang memang benar tak pernah mencata semua penjulana selama sebulan kemaren itu?" Tanyaku memastikan.
Ia tampak berpikir.
"Ti tidak," ucapnya terbata bata.
__ADS_1
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita lihat isi di dalam buku ini!" Ucapku sambil mengeluarkan buku dari dalam tas.
Bang Doni terlihat sangat terkejut, dan wajahnya memancarkan raut wajah cemas yang luar biasanya.