
Jawaban yang paling aku benci, harus aku ucapkan kembali.
"Gimana Ndri, lulus?"
Tanya salah satu teman.
Dengan lemas aku menggeleng, tanpa memberika penjelasan apapun.
"Yang sabar, mungkin belum rezekinya, mungkin Allah sedang mempersiapkan rezeki rezeki lain untukmu" ucap temanku menghibur dan menguatkan hati ini.
Sementara di belakang ruangan sana terlihat teman teman memberi selamat kepada teman teman yang lulus.
Bukan munafik dan juga bukan syirik, tapi jujur hati ku begitu larut dalam kesedihan ini. Rasanya tak sanggup diposisi ini.
Aku seolah olah tak pantas lagi untuk berdiri disini, merasa minder sendiri, bahkan aku merasa tak pantas lagi menyandang status sebagai guru.
Karena hasil yang belum sesuai dengan yang aku harapkan.
Untuk tidak membuat hati terlalu lama larut dalam suasana ini, aku mencoba menghindar dari teman teman.
Aku lebih banyak sendiri dan menyibukkan diri sendiri dengan kegiatan apapun yang bisa aku lakukan.
Terkadang disaat jam mengajarku kosong aku manfaatkan dan selalu menyibukkan diri, walaupun hanya sekedar berselancar di dunia maya pun aku lakukan, agar aku tak lagi melihat sesuatu yang dapat membuat hati ini bersedih.
Aku teringat kebeberapa tahun yang lalu.
Dahulu disaat aku masih sekolah, aku tidak pernah berpikir dan berkeinginan untuk menjadi seorang yang menggantungkan harapan untuk sukses menjadi seorang pegawai negeri.
Jangankan untuk itu, untuk menjadi seorang sarjana saja tidak pernah terlintas dipikiranku. Karena aku sangat tau diri. Aku yang dibesarkan tidak dengan hasil keringat orang tua sendiri membuat aku tak menuntut banyak. Dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat menengah atas saja, sudah sangat bersyukur.
Banyak orang orang yang dibesarkan oleh orang tua sendiri, jangankan untuk sampai ke tingkat sekolah menengah atas, bahkan tak jarang banyak yang putus sekolah di tengah jalan.
__ADS_1
Oleh karena itu tak banyak harapan ku untuk sampai mengenyam status sebagai mahasiswa.
Aku berniat tamat sekolah menengah atas, aku ingin merantau, karena pada saat itu banyak orang orang di kampungku yang merantau ke kota X, dan hampir seluruhnya sukses disana terbukti ia selalu mengirimi orang tuanya dengan nominal uang yang cukup besar.
Aku yang saat itu masih SMA, tergiur juga untuk kesana, setelah aku lulus sekolah nanti.
Aku ingin secepatnya bisa memiliki uang sendiri, hasil dari keringat sendiri, agar aku bisa membantu dan membalas budi orang orang yang telah ikut andil dalam kehidupanku selama ini, dan juga untuk membahagiakan orang tua dan diri sendiri, karena tak munafik, selama ini banyak keinginan keinginan yang dengan rapi aku kubur dalam hati.
Ya memang selama ini aku lebih banyak menyimpan keinginan keinginan untuk mendapatkan dan memiliki sesuatu. Bukan karena nenek dan kakekku pelit atau tak mampu memenuhinya.
Tapi karena aku yang cukup tau diri. Aku berpikir dari aku kecil aku sudah menggantungkan hidup kepada mereka selama ini. Untuk itu sebisa mungkin aku membantu untuk mereka tak banyak mengeluarkan uang untuk hal hal yang tidak terlalu dibutuhkan. Cukup yang wajib dan mendesak saja.
Aku hanya akan mengutarakan niatku apabila yang aku inginkan adalah suatu tuntutan yang wajib untuk kelangsungan sekolah. Dan aku akan menyimpan dengan rapi keinginan yang hanya sebatas keinginan sebagai pelengkap dalam hidup ini.
Termasuk pun untuk pakaian aku tak pernah berharap banyak, bahkan tak menutup kemungkinan aku sering memakai kembali baju baju yang sudah tak terpakai lagi oleh saudara saudara yang lain.
Bahkan aku pernah di bilang gembel oleh anak saudara jauh nenek ku yang saat itu ia pulang ke kampung. Aku memang baru pertama kali bertemu dengannya, usianya lebih kecil dari aku beberapa tahun, karena ia terlahir dari orang yang berada sehingg ia dengan mudahnya menilai dan merendahkan orang lain.
Aku yang waktu itu sedang menggelar tikar untuk persiapan berbuka bersama. Dia yang lagi berdiri di ambang pintu kamar, mungkin karena melihat tampilanku tak sebersih dan senecis dia yang menggunakan pakaian pakaian dengan harga yang terbilang mahal.
"Mama.. itu gembel ya? Kok ada di rumah ini,? Ucapnya tanpa merasa bersalah.
Aku yang sedang sibuk dengan aktivitas, mendengar ucapannya, segera ku sapu sekitar dengan pandangan ini mencari siapa yang dia katakan gembel. Namun aku tak menemukan seorangpun seperti yang dibilangnya kecuali hanya ada aku disini yang memang berpenampilan tak seperti tampilan mereka.
"Ssst..." ucap mamanya sembari menempelkan jari telunjukknya di depan bibirnya.
"Itu cucu nenek yang punya rumah ini," sambungnya lagi.
Seketika aku sadar, ternyata akulah orang yang ia sebut gembel.
Namun aku tetap menyelesaikan aktivitasku menggelar tikar, setelah semua tikar menutupi lantai, aku berlalu ke kamar dan mengurung diri disana.
__ADS_1
Aku segera berdiri di depan cermin, mematut diri ini. Aku yang waktu itu memakai atasan kaos oblong dan bawahan rok bahan selutut. Sejelek itukah penampilan ku hingga ada yang menilai bahwa aku adalah seorang gembel.
Aku menghapus air mata yang membasahi pipi ini.
Aku tak pantas mengeluarkan air mata untuk penghinaan ini. Namun aku punya banyak kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tak serendah yang ia ucapkan. Aku semakin bertekad untuk menggenggam kesuksesan nantinya.
Akhirnya waktu yang aku tunggu tunggu pun tiba.
Namun keinginanku untuk segera bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, seakan akan tertunda, karena pada saat aku lulus SMA, saudara saudara Bapakku menyuruh aku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Karena aku yang sudah menata rencana untuk bekerja, dengan sopan aku utarakan niatku, untuk tidak lagi melanjutkan pendidikan menyandang status mahasiswa.
Aku ceritakan apa langkah aku selanjutnya setelah tamat sekolah, namun saudara saudara Bapakku tak menerima apapun alasanku.
Yang ada malah mereka marah karena aku mengatakan aku akan merantau ke kota X. Aku tak menyangka mereka akan semarah itu. katanya saat itu, apabila aku tetap tidak mau melanjutkan pendidikan dan memilih merantau ke kota X, dengan begitu mereka tak mau lagi bertanggung jawab atas diriku. Apa yang terjadi dengan ku setelah ini, mereka sudah tak mau tau lagi. Begitu marahnya mereka dengan keinginanku itu.
Aku waktu itu merasa bimbang, antara ingin secepatnya berpenghasilan sendiri dan membalas budi, namun di satu sisi akupun juga tak mau menentang orang orang yang sudah seperti orang tua kandungku sendiri. Aku ingin berbakti kepada mereka.
Akhirnya, dengan berat hati dan keihklasan yang dipaksakan, agar aku tak membuat mereka kecewa aku terima keputusan mereka yang mengharuskan aku kuliah.
Lamunan ku disadarkan oleh bunyi bel, pertanda pergantian jam belajar.
Aku segera bersiap siap untuk masuk ke kelas.
***
Jam sekolahpun sudah berakhir, seperti biasanya aku dan Rey dijemput suami.
Ternyata suamiku sudah menunggu di depan. Ia memberitahukan lewat whatsapp.
Segera aku keluar, dan menemukan suamiku di depan, namun kali ini suamiku terlihat murung dan seperti ada sesuatu yang terjadi dengannya.
__ADS_1