
"Anak anak ayah silahkan turun dan pilih mainan apa aja yang kalian sukai!"
"Ye... asyik... beli mainan baru..." teriak Rey sambil melompat lompat setelah turun dari motor.
Kami yang hanya membutuhkan beberapa menit perjalanan saja untuk menuju toko mainan yang cukup besar di kota ini.
Suami ku langsung menurunkan standar motor di saat motor sudah berhenti di parkiran toko mainan. Aku turun dan diikuti anak anak. Begitu juga dengan suami.
Suami melenggang menuju toko sambil menggandeng Rey di tangan kanan dan Aihzan di tangan kiri, meninggalkan ku berjalan sendirian di belakang.
"Waduh udah kayak majikan dan pembokatnya aja." Gumamku. Aku pun mensejajarkan langkah dengan mereka hingga kami sampai di pintu masuk toko.
Aku yang melihat ada kursi kosong lalu segera duduk. Sementara anak anak dengan didampingi ayahnya sudah asyik memilih milih mainan.
Aku membiarkan saja tanpa ikut terjun menemani memilih. Dalam benakku banyak pertanyaan. Apa yang menyebabkan ayah royal seperti ini. Tapi aku lagi malas membahasnya. Takut merusak suasana.
Lelah memilih, akhirnya mereka menuju tempat pembayaran.
Aku tak ikut dan masih setia di kursi tempat duduk pertama kali tadi.
Aku yang biasanya membeli apa saja pasti terjun ikut memilih. Tepatnya memilih yang harganya lebih murah dan terjangkau. Bahkan tak jarang, jika dahulu sesekali kami ada membelikan mainan untuk anak anak. Minta tolong belikan dengan teman suamiku yang berjualan mainan, dengan tujuan biar dapat harga lebih murah. Begitulah aku sebisa mungkin meminimalisir pengeluaran. Sekarang dengan malasnya aku tak mau tau sedikitpun. Sudah berlagak seperti orang kaya saja. Gumamku dalam hati. Aku tak lagi memikirkan tentang berapapun harga yang dibeli.
Semoga saja demikian. Ucapku masih dalam hati sambil tersenyum menyaksikan orang orang yang aku sayang melakukan transaksi di meja pembayaran.
Terlihat di tangan kanan dan kiri anak anakku sudah menggenggam mainan pilihan mereka. Wajahnya begitu bahagia.
Selesai dengan pembayaran kamipun menuju motor, dan motor melaju pulang. Tak lupa membeli makanan dulu untuk ibuk di rumah.
***
Sampai di rumah hari sudah menunjukkan jam lima sore. Beruntung kami sudah melaksanakan sholat ashar waktu menunggu hidangan datang saat di cafe tadi.
Tubuh yang terasa lelah. Sehingga aku berikan haknya untuk beberapa saat. Sekedar meregangkan otot otot sambil merebah di kamar.
__ADS_1
Sebelum masuk ke kamar aku sudah memberikan makanan yang dibeli tadi kepada ibuk.
Anak anak tak kelihatan capek sama sekali. Baru saja turun motor mereka sudah berlari masuk dan membuka mainannya masing masing. Selanjutnya mereka hanyut bermain dengan mainannya. Tanpa mempedulikan kami. Sehingga aku bisa santai merebah. Sementara suami aku lihat tadi sudah terjun kembali melihat lihat peliharaannya. Eh lebih tepatnya pundi pundi rupiahnya. Entahlah. Semoga saja begitu.
"Eh, cucu nenek punya mainan baru?" Ucap ibuk sambil mendekati anak anak.
"Iya nek. Ayah yang belikan. Tadi ayah juga ajak makan nek, tempatnya bagus. Makanannya juga enak enak." Ucap Rey antusias namun mata dan tangannya masih sibuk dengan mainan barunya.
"Wah beneran? Nenek kok gak di ajak?"
"Kan gak muat nek di motor, lagian juga ayah sepertinya tanpa ada rencana. Buktinya aja bunda gak tau kalau ayah bakalan ngajak kami makan sama beliin Rey mainan."
"Owh begitu. Ya gak apa apa, nenek ikut senang kalau Rey senang." Sambil mengusap kepala Rey dengan lembut.
"Nek lihat ini punya adek bagus. Adek suka nek. Coba nenek pegang bulunya lembut nek." Ucap Aihzan sambil menyodorkan bonekanya lengkap dengan gaya imut dan cadelnya.
***
Kini siang sudah berganti malam. Kami sedang berkumpul di ruang tengah. Rey dan Aihzan masih tak lepas dari mainannya. Bagai terhipnotis mereka begitu asyik bermain.
Aku yang sudah kembali segar dan terbebas dari letih yang mendera dari tadi.
"Yah, ayah tadi ko.."
Belum selesai aku berbicara untuk menanyakan kenapa belanja begitu banyak disiang tadi. Suami sudah langsung menyambar.
"Eh bund, tunggu deh." Ucapnya sambil berdiri dan berlalu menuju ke pintu kamar ibuk.
Ibuk memang tadi ke kamarnya untuk sholat isya.
"Buk..." suami memanggil dari luar.
Tanpa jawaban. Ibuk menyembul dari dalam dan membawa kotak besar masih di dalam kantong plastik hitam. Sesaat kotak tersebut berpindah ke tangan suami. Mereka berduapun mendekat ke arahku.
__ADS_1
Ibuk langsung duduk di dekat anak anak yang sedang sibuk dengan mainannya, sementara suami langsung duduk disampingku. Setelah duduk sempurna ia dengan pelan mengeluarkan kotak besar itu dari dalam kantong. Baru saja kantong hitam terlepas dari kotak besar, aku sudah bisa menebak kalau isi di dalam kotak tersebut adalah kue. Karena terlihat dari gambar dan merk toko di kotaknya.
"Wow. Kue?" Ucapku dengan nada yang sangat bahagia. Berharap isi di dalamnya adalah black forest kesuakaannku.
Namun aku gak mau begitu saja menerima. Aku harus menanyakan berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam benak ini, atas perlakuan suami sehari ini. Aku butuh penjelasannya dari suami, sebelum mengeksekusi kesukaanku yang sudah di depan mata.
"Tunggu yah! Ayah jelaskaan dulu penyebab dari perlakuan ayah sehari ini!" Ucapku dengan sigap menahan tangannya yang hendak membuka penutup kotak kue.
Suami langsung berhenti. Mengurungkan niatnya untuk membuka kotak kue. Sehingga aku tak juga tau kue apa yang sedang menunggu untuk dieksekusi di dalam sana. "Hmp... biarlah bersabar dengan yang sudah di depan mata." Batinku.
"Baik, ayah jelasin alasannya biar istri kesayangan ayah ini, yang setianya tiada tara, pertama kiriman ikan kita yang ke Singapura sudah sampai di tangan pembeli."
Belum sempat suami menjelaskan sampai selesai. Aku sudah menyela.
"Sungguh yah? Gimana ikan ikannya? Aman semua sampai disana?" Rentetan pertanyaan langsung kulontarkan sekaligus.
"Bunda sabar dulu. Itu baru yang pertama. Katanya mau jelasin semua..."
"Iya.. ayo!" Ketus
"Kedua, pesanan yang seratus lima puluh, yang ayah bilang dengan harga yang fantastis semalam uangnya juga sudah ditransfer. Udah itu alasannya. Terus kabarnya si avatar cooper sampai di Singapura selamat aman dan terkendali." Jawabnya menjelaskan dengan lebay menurutku.
Belum sempat aku menjawab. Suami sudah bicara lagi.
"Dan kue ini...." ucapnya menjeda kalimat.
"Kue ini tumbal agar bunda gak marah karena yang siang tadi?" Jawabku langsung menebak.
"Ya gak gitu juga. Emang bunda gak ingat sekarang tanggal berapa?"
Seketika aku mengingat ingat. Setelahnya aku tersenyum sendiri.
"Kue ulang tahun buat bunda ya?" Ucapku yakin dan hati ini semakin senang, sudah pasti isinya black forest kesukaanku.
__ADS_1
Tanpa aba aba aku langsung meraih dan membuka kotaknya. Benar saja isinya kue kesukaanku. Secepat kilat aku sudah selesai memisahkan kue dengan kotaknya. Beranjak mengambil pisau dan bersiap untuk memotong santapan kesukaan. Namun sepertinya niat itu ku urungkan. Menikamatinya kembali harus aku jeda karena terikan suami.
"Bunda? Apa sekarang ayah sedang bermimpi?" Ucapnya menatap layar ponsel yang berdering menandakan ada pesan whatsapp masuk saat aku beranjak mengambil pisau tadi.