
Setelah mobil terparkir sempurna. Tak berapa lama terlihat seseorang turun.
Seorang lelaki. Menggunakan celana panjang. Atasan kaos oblong dilengkapi dengan jaket.
"Ronal!" Lirih kami hampir bersamaan.
Ronal berjalan mendekat ke arah teras tempat kami duduk.
"Assalamualaikum." Ucapnya setelah berada tepat di depan kami.
"Wa walaikum salam." Jawab kami masih bersamaan. Namun dengan terbata bata.
Aku tak percaya orang yang berada di depan ku saat ini adalah orang yang berniat merusak rumah tanggaku. Dialah mantanku.
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam otakku. Untuk apa dia ke sini? Masihkan akan merusak hubungan rumah tangga kami? Ataukah membuat perhitungan karena kejadian di cafe tempo hari? Entahlah. Berbagai rasa berkumpul di jiwa. Takut. Penasaran.
"Silahkan masuk!" Suami mempersilahkan Ronal masuk.
Kamipun beriring masuk ke dalam rumah.
"Silahkan duduk Ronal!" Ucap suami sambil menjatuhkan bobotnya di atas sofa.
Setelah mereka duduk. Aku ke belakang berniat mengambilkan minum dan sedikit cemilan ringan. Aku tinggalkan mereka berdua.
Sejujurnya aku takut sekali. Takut Ronal akan berbuat sesuatu. Takut suami akan cemburu.
Beberapa menit di belakang menyiapkan minum dan cemilan. Aku kembali ke depan sambil membawa nampan di tangan.
Karena kehadiranku merekapun berhenti bercerita sesaat.
Terlihat suami sudah bercengkrama dengan Ronal. Syukurlah sepertinya aman. Bathinku.
"Silahkan diminum dan dicicipi kuennya!" Ucapku sambil menghidangkan minum dan cemilan di atas meja.
Setelahnya aku duduk bersisian dengan suami.
Ronalpun kembali bersuara.
"Ndri! Ardi! Aku datang ke sini untuk meminta maaf atas apa yang sudah aku lakukan terhadap kalian. Aku sadar aku salah."
Aku terdiam. Suamipun begitu.
Tak berapa lama terlihat suami menghela napas panjang.
"Jika kamu benar benar menyadari kesalahan mu. Tak ada juga alasan kami menolak kata maaf mu." Jawab suami dengan tenangnya.
Sesaat aku melirik kepada suami. Suami mengangkat alisnya. Memberikan isyarat bagaimana menurutku.
"Aku benar benar berjanji dan minta maaf Di. Aku gak tau kenapa aku bisa mempunyai pikiran untuk merebut Indri. Padahal sejak aku mengetahui Indri sudah menikah. Aku berniat akan melepasnya dan gak akan mengganggunya lagi. Sejujurnya sejak perpisahan tiga belas tahun yang lalu. Aku memutuskan hubungan dengan Indri dengan niat akan kembali." Ronal menjeda kata katanya.
Ia menghela napas.
Suami terlihat kaget juga dengan pengakuan Ronal. Begitupun dengan aku.
__ADS_1
Tanpa respon kami.
Ronal melanjutkan penjelasannya.
"Tak ada seorang pun yang tahu dengan niatku itu, termasuk Indri. Tapi setelah aku tau Indri sudah menikah. Dengan jiwa besar ku kubur perasaanku. Tapi entah setan apa yang merasuki. Sehingga niat untuk kembali merebut Indri terlintas di benakku." Ronal kembali menjeda ucapannya.
Sepertinya ia mengumpulkan kekuatan untuk mengakui semuanya.
Kami masih memberikan kesempatan berbicara kepada Ronal.
Tak berapa lama ia kembali melanjutkan ceritanya.
"Saat aku sudah memutuskan untuk bekerja di kotaku kembali. Secara sembunyi sembunyi aku datang ke sini. Hanya sekedar untuk ingin tau kabar Indri. Tak lebih. Tapi dari kejauhan aku melihat seorang wanita yang sedang memperhatikan kalian yang tengah bersantai di teras dari ujung jalan sana." Ucapnya menunjuk jalan yang dimaksud.
Aku dan suami saling tatap. Semakin kaget dengan pengakuan Ronal.
"Memangnya siapa wanita itu?" Suami lantas bertanya.
Kali ini sepertinya ia tak sabaran menunggu Ronal melanjutkan ceritanya dengan sendirinya.
"Cita!" Jawab Ronal singkat.
Kami kembali terkejut dengan pengakuan Ronal.
Tanpa menunggu kami merespon. Ronal kembali bersuara.
"Merasa aneh dengan gerak geriknya. Akupun menemuinya. Dan mengajaknya ke suatu cafe. Dengan ancaman jika ia tak mau. Maka aku akan melaporkan ke pada kalian jika ia telah mengintip kalian.
"Jadi Cita sempat memperhatikan kami secara sembunyi ke sini?" Giliran aku yang angkat suara.
Dari pancaran mata Ronal terlihat keseriusan di sana.
"Setiap kita mempunyai masa lalu dan kekhilafan. Dan sekarang kamu sudah mengakui itu. Itu sudah sangat baik. Dan kami telah memaafkanmu. Bukankan begitu bund?" Suami menatap dan meminta pendapatku.
"Iya benar yah. Berjanjilah dalam hati tidak akan melakukan hal yang sama lagi." Jawabku membenarkan ucapan suami.
"Terima kasih Di, Ndri." Menatap kami secara bergantian.
Kamipun tersenyum.
"Silahkan!" Ucap suami sambil meraih gelas dan menyeruput teh yang sudah mulai dingin.
Ronalpun mengambil sepotong kue di atas meja.
Kami menikmati minum dan cemilan sambil bercengkrama bersenda gurau. Seperti sudah akrab saja.
Tiba tiba anak anak datang.
"Ayah! Bunda!" Ucap mereka bersamaan sambil menyender ke arahku.
"Eh abang dan adek kenalin tu om Ronal. Ayo salaman dulu sama om Ronal!" Titah suami.
Mereka berjalan ke arah Ronal dan mengulurkan tangan ke Ronal. Ronal pun menjabat tangan mereka bergantian.
__ADS_1
"Eh om ada sesuatu buat abang dan adek. Tunggu sebentar!" Sambil berjalan ke luar menuju mobilnya.
Dan kembali dengan tentengan di tangannya.
"Siapa yang suka sama mobilan dan boneka?" Tanyanya sambil mengeluarkan benda tersebut dari kantong plastik.
"Aku suka aku suka." Jawab anak anak sambil melompat lompat.
"Nah ini untuk abang. Ini untuk adek." Sambil menyodorkan mobilan ke abang dan boneka ke si adek.
"Makasih om."
"Om anaknya kok gak di ajak ke sini? Kan kami bisa main bareng." Ucap Rey.
Namun tak ada jawab dari Ronal. Yang ada matanya berembun. Pertanda ia sedang bersedih.
Melihat Ronal yang tidak menjawab pertanyaan Rey.
"Abang sama adek main gih di sana sama nenek!" Ucap suami sambil menunjuk ruang keluarga.
Seperti paham dengan yang dirasakan Ronal.
Ronal masih saja terdiam dan terpaku. Matanya masih menyiratkan kesedihan. Sepertinya ia sensitif sekali dengan pertanyaan Rey barusan.
Melihat Ronal yang tak kunjung bersuara. Padahal sebelumnya ia terlihat bahagia karena sudah mengakui kesalahannya dan mendapatkan maaf dari kami.
Suasana yang tadi sudah mencair sekarang mulai di rundung kabut.
"Kenapa Ronal? Apa ada yang salah dengan pertanyaan Rey?" Suami mencoba memperbaiki kondisi.
Ronal menghela napas panjang. Dan menggelengkan kepalanya.
"Aku... aku..." terlihat ia berpikir menyusun kata kata yang akan di ucapkan. Rona wajahnya masih menggambarkan kesedihan.
Berbagai pertanyaan muncul di benakku. Kenapa ia seperti bersedih dengan pertanyaan Rey. Apakah anaknya ada yang meninggal? Eh bagaimana bisa anaknya pernah meninggal? Bukankah pengakuaanya saat ia mencegatku di depan gerbang sekolah ia mengaku belum menikah. Bahkan pacarpun tak pernah punya semenjak putus hubungan dari ku? Bathinku dalam diam.
Tiba tiba ponsel Ronal berdering.
"Cita." Lirihnya.
Ia segera mengangkat telfon dari Cita.
[Assalamua....] Ucapan salam Ronal terhenti.
Sepertinya ia konsentrasi mendengarkan pembicaraan di seberang sana.
[Baik. Aku ke sana sekarang.] Ia segera memasukkan ponsel ke dalam kantong celananya setelah panggilan di tutup.
"Aku izin pamit dulu Di, Ndri. Anak Cita masuk rumah sakit." jelasnya.
Kami kaget dan ikut prihatin atas sakit yang menimpa anak Cita.
"Baik Ronal. Kamu whatsapp saja nanti, di Rumah Sakit mana anak Cita di rawat dan ruangan apa." Titah suami.
__ADS_1
Setelah mengiyakan pesan suami, Ronalpun keluar rumah menuju mobilnya. Kami pun ikut mengantarkan ke ke luar. Akhirnya mobil Ronal membelah jalan menuju Rumah Sakit.