Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Viral


__ADS_3

Sesampainya kami di rumah. Tubuh yang sudah lelah sepulang dari cafe. Anak anak pun juga sudah tidur. Akhirnya kami pun ikut tertidur, yang sebelumnya kami sudah melaksanakan sholat isya. Tak ada lagi aku sempat melihat ponsel walau hanya untuk sekedar berselancar di media sosial. Lelah begitu menyerang. Hingga ponsel terabaikan.


Keesokan harinya. Aku bangun dengan segar dan semangat sekali. Karena tak ada lagi masalah yang mengganggu pikiran. Seperti biasa suami mengantarkan aku dan Rey ke sekolah.


Sesampainya di sekolah sudah ada beberapa teman yang datang.


"Cie pasangan teromantis bulan ini." Ledek teman teman sambil senyum senyum.


Aku yang gak tau maksud pembicaraannya. Seperti orang kebingungan. Menatap teman teman secara bergantian.


"Apa? Maksudnya gimana? Aku gak ngerti." Ucapku dengan wajah yang penuh kebingungan.


"Ya elah Indri! Baru saja semalam sudah lupa." Tukasnya lagi.


Aku teringat kejadian di cafe semalam. Tapi tak kepikiran kalau orang lain bakalan tau. Karena beranggapan orang gak bakalan tau itulah, aku masih saja bertanya maksudnya apa.


"Aku gak ngerti deh Han." Jawab ku.


Hana adalah salah satu honorer yang sama dengan ku. Kami juga seumuran.


"Ah kamu ini Indri. Nih sini kamu lihat ini!" Katanya sambil mengutak atik ponselnya.


Aku sejenak memperhatikan ponsel Hana.


Mata ku melotot. Tak percaya. Kejadian semalam muncul di ponsel Hana.


"Hana! Kamu dapat ini dari mana?" Tanyaku penasaran.


"Aduh Indri. Karena sibuk romantisan jadi gak sempat ya mantengin sosial media. Ini sudah heboh dan viral di IG Ndri. Nih kamu lihat captionnya nih!" Balas Hana lagi. Sambil menggulir ponselnya mencari postingan tentang kejadian semalam dan menyerahkan ponselnya padaku.


[So sweet. Kekuatan cinta pasangan ini begitu kuat. Kehadiran pelakor dan pebinor pun tak mampu menggoyahkan kekuatan cintanya. Salut buat keromantisan si abang. Semoga kelak hubunganku dengan pasangan juga seperti itu. Pengunjung dapat bingkisan silverqueen. Lambang kasih sayang. Hmp... Benar benar romantis.]


Dilengkapi dengan vidio suamiku yang sedang menyanyi di panggung. Dari awal hingga aku menaiki panggung. foto seseakun IG tersebut dengan pasangannya tak lupa lengkap dengan bingkisan dari suami yang berisi silverqueen.


Aku kaget luar biasa. Malu juga. Ternyata ada seseorang yang memvidiokan kejadian semalam. Tapi di sisi lain. Aku bangga juga. Toh yang dilakukan suami tak salah juga. Dan untungnya seseakun IG tersebut tak menampilkan vidio kebusukan Cita dan Ronal. Juga tak memasukkan kericuhan yang terjadi di cafe. Aku masih bersyukur. Dengan demikian Cita dan Ronal tak menanggung malu lebih dalam lagi.


Pagi itu suasana riuh membahas kejadian semalam. Semua teman teman memperbincangkan aku. Tak jarang juga mereka langsung memberikan berbagai pertanyaan seputar kejadian semalam termasuk mempertanyakan pelakor dan pebinor.

__ADS_1


Sudah seperti saksi dan wartawan saja. Bathinku.


***


Seminggu setelah kejadian di cafe hubungan kami kembali menghangat.


Kami sibuk dengan aktivitas masing masing. Permintaan ikan hias semakin melonjak. Membuat suami harus memiliki lebih banyak anakan. Agar selalu bisa mengirim sesuai permintaan. Karena pembibitan semakin banyak. Suami sudah keteteran mengurusnya sendirian. Hingga suami memperkerjakan seseorang untuk membantunya.


Sementara permintaan kue untuk toko oleh oleh Jhasril juga meminta lebih dari biasanya.


Suatu sore Jhasril sengaja datang ke rumahku.


"Kak, bang. Bisakah mengisi toko dua kali dalam seminggu? Kebetulan penjualan bagus bangat sekarang." Terang Jhasril.


Aku dan suami saling pandang. Bersitatap seakan menanyakan harus menjawab apa terhadap permintaan Jhasril.


Akhirnya aku bersuara.


"Bukannya kami gak mau Jhas. Hanya saja Jhasril kan bisa lihat sekarang. Untuk usaha bang Ardi saja sudah memakai jasa orang. Belum lagi kakak yang mengajar." Akupun menjelaskan keadaan kami.


"Iya juga sih kak. Aku paham. Tapi karena permintaan yang cukup bagus. Jadi aku berusaha agar stok ada terus. Biar pembeli gak kecewa. Atau kakak masih berkeinginan memperluas usaha? Jika iya bisa saja kakak menggunakan jasa orang untuk melanjutkan usaha kuenya." Jhasril tak mau diam sampai penolakan secara halus yang sudah kami utarakan.


Aku kembali menoleh ke arah suami. Pertanda meminta pendapat darinya. Sesaat setelah kami saling toleh


"Boleh juga tuh bund. Tapi kami belum bisa putuskan sekarang ya Jhas. Kami diskusikan dan pikirkan dulu."


Akhirnya Jhasril setuju. Suami dan Jhasril kembali hanyut dalam percakapannya sambil menikmati teh hangat. Samar samar ku dengar mereka membahas tentang vidio di cafe tempo hari. Ternyata Jhasril mengetahuinya juga. Bathinku.


Sementara aku bermain menemani anak anak.


***


Di tempat lain.


Cita dan Ronal sedang menikmati sorenya di sebuah cafe. Mereka hanya berdua.


"Cita ayolah kita ke rumah Indri! Kita harus minta maaf kepada mereka. Bagaimanapun kita di buat malu sama mereka. Tetap kita yang salah Cita. Kita yang terlebih dahulu menyalakan api perselisihan." Bujuk Ronal.

__ADS_1


Namun Cita tetap dengan pendiriannya.


"Kamu saja yang datang. Aku benar benar sakit hati kepada mereka. Belum lagi dendam ku terbalaskan. Ia malah membuat aku malu bukan main. Jadi jangan harap aku akan baikan dengan mereka. Apalagi aku yang harus datang ke rumahnya untuk minta maaf. Cuih! Kamu salah orang Ronal jika masih saja memaksa aku untuk datang menemui mereka." Ucap Cita ketus masih dengan pendiriannya.


"Cita kamu wanita. Tak baik menaruh dendam begitu lama." Ronalpun mengingatkan Cita.


"Stop Ronal! Jika kamu masih memaksaku lebih baik aku pulang." Ancam Cita.


Ia langsung berdiri. Menenteng tasnya yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Dan melenggang berjalan menuju pintu dengan langkah yang cukup lebar.


Seketika Ronal panik. Merasa bersalah sudah memaksa Cita. Ia lantas berlari menuju kasir. Meninggalkan uang kertas lima puluh ribu. mereka yang hanya memesan minum. Sudah pasti harganya tak akan lebih dari lima puluh ribu. Tanpa menunggu kembalian. Ronal melangkah mengejar Cita. Dan tak menghiraukan kasir yang berniat memberikan uang kembaliannya.


Dari kejauhan Ronal melihat Cita hendak menaiki jasa Gojek. Ia semakin mempercepat langkahnya. Dan setengah berteriak.


"Mas tunggu mas!"


"Jalan Mas!" titah Cita setelah ia menaiki motor.


Melihat Ronal yang berlari. Si mas gojek tak kunjung melajukan motornya. Hingga Ronal berada di hadapannya.


"Cita biar aku yang mengantarmu pulang. Tadi aku yang menjemput. Tak bagus kelihatannya jika sekarang kamu pulang sendirian." Bujuk Ronal.


"Mas maaf ya. Gak jadi mas. Biar dia pulang sama aku saja." ucap Ronal sambil menunjuk ke arah Cita.


"Baik mas." Driver gojek pun menyetujui Ronal.


"Mbak silahkan turun mbak. Kasihan si masnya di tinggal sendiri." Ucap driver gojek dengan lembut.


Tanpa komentar Cita pun turun.


Sebelum driver gojek berlalu.


"Makasih ya Mas!" Ucap Ronal sambil menyelipkan selembar uang ke kantong jaket driver.


Melihat Ronal yang menyelipkan uang. Driver pun mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi.


Akhirnya Ronal mengantarkan Cita pulang. Setelah itu ia melajukan mobilnya ke arah rumah Ardi.

__ADS_1


***


Di rumah Ardi dan Indri sedang asyik asyiknya mengobrol. Terlihat sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Aku yang tak mengenali mobil tersebut bertanya tanya dalam hati siapakah pemilik mobil tersebut.


__ADS_2