
Di dalam pikiranku berkecamuk berbagai dugaan. Jangan jangan uang yang dikantongnya tadi, dipinjam sama kak Indah. Suamiku dan kak Indah masih memeiliki hubungan. Mereka sepupu sebapak. Kak Indah biasanya pintar banget merayu dan mengeluarkan air mata buayanya untuk membujuk orang orang memberikannya pinjaman. Aku yang tau dengan sikap suami yang tak tegaan kepada orang lain. Apalgi kepada saudara sendiri. Aku tak mau dikuasai dugaan dan bersoodzon ke suami.
"Terus uang yang tadi buat rencana beli kue kemana yah? Apa jangan jangan kak Indah meminjam uang lagi sama ayah? Dan ayah berikan?" Aku mulai dikuasai emosi.
"Gak gitu bund, bunda jangan soudzon dulu, dosa bund. Kak Indah gak ada minjam uang. Tap..."
"Tapi apa yah? Atau jangan jangan ayah kasih ke bu Nani? Yah ayah ngerti gak sih, kita juga lagi dalam kondisi sulit?" Aku kembali ketus.
"Bund. Dengarkan ayah dulu. Jangan nyerocos terus. Tadi motor tiba tiba mati dan gak mau hidup bund. Terus ayah dorong, sampai ke bengkel. Ternyata pompa injeksi, aki dan olinya harus diganti. Kan memang sudah lama gak diganti. Jadinya ayah ganti saja bund, dan biaya semuanya empat ratus enam puluh ribu, dan ayah beli air mineral satu, sisa lah uangnya tiga puluh lima ribu, nah itu tadi buat bayar Rey berobat." Suamipun menjelaskan rincian yang ia pergunakan atas uang lima ratus ribunya.
"Benaran yah? Astagfirullah.... maafin bunda ya yah sudah menuduh yang gak gak. Bunda malu yah."
"Ya makanya bund. Dengerin penjelasan ayah dulu. Jangan nyerocos aja kayak bajaj." Ucap suami sambil merangkul bahu ini.
"Iya ayah.... terus gimana yah? Bunda juga cuma punya uang dua puluh ribu. Kue kue kita hari ini di sekolah belum banyak yang laku. Dan ini uang yang tadi ayah bawa untuk jajan Rey di sekolah." Akupun menyerahkan uang dua puluh ribu.
"Ya gak apa apa bund. Jadikan aja ini jajan untuk Aihzan dulu. Hari ini kita gak ush bikin kue aja. Bunda libur aja jualan di sekolahan besok."
"Terus kue kue ini yah?" Akupun kembali terpikir dengan kue yang sudah dibungkus rentengan dua ribu untuk dititipkan di warung warung. Sementara warung yang lainnya baru kemaren diganti.
"Gimana kalau ini saja kita packing lagi ke kantong besar isi sepuluh satu kantongnya. Nanti bunda coba jual di sekolah aja. Mana tau nanti terjual dan habis bund." Suami memberi ide.
"Boleh juga yah. Tapi ayah yang bungkus nanti ya!"
"Siip."
Suami berlalu keluar rumah mengantarkan Aihzan jajan. Sementara aku mengambil air kompresan dan segera mengompres Rey yang sedang tertidur di kamar.
***
Haripun sudah malam, kamipun sudah selesai melaksanakan sholat isya dan makan malam. Anak anakpun sudah tertidur. Panas Rey pun sudah mulai turun.
Suami lanjut mengerjakan tugasnya, packing kue pastinya.
Aku sebelum melanjutkan tulisanku di aplikasi online. Sejenak aku berselancar di media sosial yang berlogo F,
Saat tengah asyik baca baca, dan scroll. Aku melihat postingan suami dikomentari seseakun.
[Ikan laga yang cendolannya ada bang?]
Begitulah isi komentarnya.
Aku langsung memeberi tahu suami. Dan suami menyuruh aku membalas komentar seseakun tersebut.
__ADS_1
[Mau berapa ekor gan? Dikirim kemana?]
[Seratus bang. Masih sekitaran sini bang, aku tau posisi bang. Kalau cocok dengan harga. Aku langsung angkut.]
Sebelum membalas komentar seseakun tersebut suami langsung menelfon temannya yang juga peternak ikan hias.
[Bang ada jenis ct, hm gak? Yang udah siap panen?]
[Ada. Berapa ekor?]
[Seratus ada bang?]
[Ada. Jemput aja. Sekarang atau besok?]
Suami seketika melirik jam di dinding. Karena sudah malam.
[Besok aja bang. Tapi pagi ya bang!]
[Ok.]
Suamipun menutup sambungan telfon. Dan segera menyuruh ku membalas komentar seseakun tadi.
[Ada gan. Datang aja besok. Tapi agak siangan ya!]
[Lima ribu. Angkut gan.]
[Ok. Jam berapa bisa diambil bang?]
[Jam sebelas.]
[Siip.]
"Ayah sengaja cariin bund ke teman. Biar kita punya uang. Lumayan bund. Kita dapet persenan dua ribu per ekornya."
"Iya yah, kita sekarang benar benar gak ada megang uang lagi.]
***
Keesokan harinya, seperti biasa suami mengantarkan ku ke sekolah. Sementara Rey tinggal di rumah karena masih demam.
Setelahnya Ardi langsung ke tempat temannya untuk menjemput ikan pesanannya.
Ternyata sesampai disana temannya sudah selesai membungkus seratus ekor ikan.
__ADS_1
"Wah, udah selesai aja bang?"
"Eh iya Di. Tadi aku mulai bungkus habis shubuh. Bingung gak ada kerjaan. Makanya dibungkus daripada tidur lagi.
"Gimana ikan kamu yang kemaren? Udah siap panen?"
"Belum lagi bang. Makanya aku minta ke abang. Soalnya ada yang nanya bang. Aku juga lagi butuh uang sekarang. Makanya cari ke abang. Biar aku dapet uang."
"Owh begitu, ya baguslah. Lain kali kalau masih gak ada di kamu. Ambil aja kesini. Kan kita sama sama untung."
"Pasti bang."
"Oh iya Di yang jenis kamu ternakin itu lagi naik daun sekarang. Lagi di incar pencinta luar negeri. Rajin rajin aja postingnya. Sepertinya langkah kamu tepat membudidayakan ikan ikan jenis avatar saat ini."
"Hehe iya bang, semoga aja rezeki anak istri kali ini. Sekarang aku benar benar lagi terpuruk. Dan aku bahkan gak punya uang sekarang bang."
"Semoga Di. Kamu bawa dulu aja ikan ini." Sambil menyodorkan ikan ikan yang sudah dibungkus.
"Iya bang, aku janji nanti sore pas jemput istriku, langsung aku antar uangnya kesini.
"Iya. Gak apa apa Di. Kayak orang baru kenal aja."
Ardipun segera melajukan motornya menuju pulang.
***
Sudah siang dan waktunya menjemput Indri, tapi pembeli yang semalam berjanji akan menjemput pesanannya tak juga kunjung datang. Ardipun mulai gelisah. Bagaimana kalau ia gak jemput. Mau aku bayar pakai apa uang bang Jaja? Ia membatin.
Ardi menyalakan motornya dan melaju ke sekolah Indri dengan perasaan campur aduk. Takut kalau orang tersebut gak menjemput pesanannya.
Setelah bertemu Indri Ardipun menceritakan kepada Indri.
"Bund, orang yang mesan belum jemput juga bund. Mau kita bayar pakai apa uang teman ayah bund? Ayah udah kirim pesanpun dia belum aktif aktif."
"Mungkin dia ada halangan yah, hingga gak bisa menjemput. Bunda ada uang hasil dari penjualan kue kemaren yah, tapi kue yang hari ini banyak sisanya. Karena beda kemasan mungkin yah. Pakai saja uang ini dulu. Kita gak usah bikin kue nanti yah. Kayaknya bunda kurang enak badan."
"Ya udah bund. Nanti bunda istirahat saja. Kita anterin uangnya sekarang ya bund. Gak enak kelamaan ntar."
"Ayo yah."
Motorpun melaju. Tak berapa menit kami sudah sampai di rumah bang Jaja. Suami langsung menyerahkan uangnya. Dan pamit untuk segera pulang. Namun belum sempat Indri menaiki motor. Ia sudah terlebih dahulu terhuyung dan jatuh terhempas ke tanah.
**
__ADS_1