Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Pucuk Dicinta Ulampun Tiba


__ADS_3

Masih dalam suasana libur sekolah, aku masih bermalas malasan berbaring di kamarku, seakan seperti gadis belia yang tidak mempunyai pekerjaan rumah yang meronta ronta untuk segera dikerjakan.


Sembari berbaring dengan posisi anak gadisku yang berusia tiga tahu disebalah kiri, dan anak laki laki ku di sebelah kanan, mereka berdua menjadikan lengan kiri kananku ini sebagai bantal, yang begitu nyaman bagi mereka, hampir sebelum dan setiap bangun tidur mereka selalu merebah disana.


Aku begitu bahagia memiliki keluarga kecil ini, aku juga tidak ingin putra dan putriku merasakan apa yang aku rasakan sedari kecil.


Besar tanpa sentuhan dari orang tua yang lengkap benar benar mengganggu tumbuh kembangku. Aku tumbuh menjadi anak yang pemalu, di usia remaja aku sulit untuk bersosialisasi dengan teman, dan setelah dewasa aku merasa aku tidak memiliki kepercayan diri, aku rasa itu semua terjadi karena aku yang tidak dibesarkan oleh sosok orang tua yang lengkap.


Aku pernah membaca sebuah artikel yang nangkring disosial media yang sering aku selami bahwa anak anak yang dibesarkan tanpa figur orang tua lengkap, apalagi anak wanita dibesarkan tanpa figur seorang ayah, maka akan mempengaruhi kepercayaan dirinya..


Entah secara kebetulan, entah karena aku merasakan memang demikian, sehingga aku membenarkan seratus persen artikel tersebut.


Untuk itu aku benar benar tidak ingin putra dan putriku merasakan hal yang sama.


Sehingga aku betul betul ingin membahagiakan mereka. Kebahagiannya adalah harapan terbesarku.


Aku ihklas harus membayar mahal untuk menebus kebahagian mereka.


Di saat dua buah hatiku merengek meminjam hp untuk mereka menonton youtobe kids.


"Bunda.. boleh kami pinjam hp, sebentar saja." Rengek keduanya.


Aku memang memberi sedikit celah kepada anak anakku untuk diizinkan main hp. Karena sangat sulit menutup rapat untuk mereka tidak bermain hp sama sekali.


Entah karena kesibukan kita, agar pekerjaan kita berlangsung dengan mulus, sehingga si hp dengan sesaat sudah berpindah tangan kepada duo bocil ini.


Mereka yang sibuk dengan tontonannya, aku yang meresa butuh menikmati libur libur bekerja ini, tetap melanjutkan merebah di kamar sambil berselancar di dunia maya dengan hp ku yanag satu lagi.

__ADS_1


Aku tekan aplikasi berwarna biru ku, yang berlogo huruf F.


Berselancar disana menurutku sedikit membantu menyegarkan pikiran, karena berbagai hal yang berseliweran diberandaku, mulai dari teman dumay yang selalu update kegiatan hari harinya, update masakan apa aja yang mereka buat hari itu, update kemana saja perjalanannya, saling berpacu memposting foto anak dan suami, update kemesraannya dengan pasangan masing masing, seakan berlomba lomba memamerkan kehidupan masing masing, bahkan tak jarang sindir menyindir pun mereka lakukan disana.


Disaat jempol asyik scroll, aku membaca sebuah postingan seseakun di sebuah komunitas menulis.


"Apakah bisa kisah pribadi kita dituliskan ke dalam sebuah novel?" Begitulah postingannya.


Aku yang lagi semangat semangatnya dengan dunia menulis, tertarik dengan postingan tersebut.


Segera jemari ini menari nari di kolom komentar. Seakan hati ikut berlomba dengan jari untuk memberikan jawaban.


"Bisa donk, aku juga lagi memulai dan belajar menulis kisah pribadiku." Aku segera mengirim komentar.


Setelah komentar terkirim, aku iseng iseng baca baca komentar orang lain dipostingan itu, satu komentar membuat aku tertarik.


"Bisa bangat sayang. Kalau ada yang ingin belajar nulis dari awal, silahkan inbox aku!" Itulah komentar seseakun dipostingan tersebut.


Aku yang sedang berniat untuk menulis Allah mendatangkan seseorang untuk membantu aku dalam mendalami menulis novel online.


Memang aku yakin bangat terhadap skenario Allah. Aku yakin semua ini adalah gerakan dari Allah. Sesuai dengan konsep usaha berdagang, "berdagang aja dulu, usaha aja dulu, promosi in aja dulu daganganmu, maka Allah nanti yang mendatangkan pembeli dari arah yang tak pernah kita duga duga."


Aku segera inbox akun tersebut.


"Hallo kakak.. aku tertarik ingin belajar menulis dengan kakak." Chat pertamaku


"Iya sayang, apa kamu udah serius?" Begitulah jawabannya.

__ADS_1


Aku berpikir panjang dengan jawaban si kakak itu, jawabnnya kok langsung nanya udah serius? gak bla bla ini itu dulu.


Aku kembali bertanya kepada diri sendiri, apa ini tidak hanya keinginan sesaat? Tidak hanya pelampiasan kekecewaan yang baru saja aku hadapi, apakah nanti seiring berjalannya waktu aku juga tak lagi berambisi seperti ini untuk menulis?


Aku bermonolog dengan bathinku.


Segera ku sampaikan ini ke suamiku.


"Yah, ini ada author yang mau mengajarkan aku menulis, tetapi jawabannya begitu." Sambil aku mengarahkan benda pipih yang menampilkan chatt kami kehadapan suami."


Dengan santai suami menjawab "keberhasilan akan mudah dicapai di saat hati kita yakin untuk memulai, wajar saja orang itu bertanya seperti itu." Jawab suami sambil tersenyum penuh penguatan.


Aku tertegun dengan jawabannya, benar sekali.


Seketika, aku segera membalas chatt kakak tersebut, "Insya allah sudah kak, aku pengen bangat bisa menulis dan karya ku mampu nangkring di aplikasi novel online."


Sejenak, setelah keputusan untuk aku akan belajar dengan si author tersebut, dan dia dengan senang hati langsung menyanggupi untuk memberikan ilmu dalam menulis novel dan bahkan ia akan mengajarkan aku samapai karyaku sukses memenuhi aplikasi aplikasi novel.


Dengan keputusan ini aku teringat dialog aku dan saudara perempuan dari bapakku, yang biasa aku panggil dengan sebutan "tante."


Disaat itu, dimalam yang diselimuti gelap pekat itu, dimana cahaya cahaya lampu menyinari disetiap ruangan rumah. Aku dan tanteku sedang menonton televisi di ruang keluarga, sambil menonton tante lagi bercerita serius dengan ibuku, bercerita tentang saudara laki lakiku, agar ia mau merantau ke tempat paman (masih saudara kandung dari bapakku). Karena ada pekerjaan yang sudah menunggu disana, paman sudah mencarikan pekerjaan untuk abangku. Namun entah apa alasannya, abangku bersikukuh untuk tidak kesana, posisi waktu itu abang ku juga diperantauan, di kota A, dan diharapkan mau ke kota B ke tempat paman.


Ibukku memaksakan untuk si abang kesana karena disana pekerjaan yang sudah menunggu abangku adalah pekerjaan yang menjanjikan, kami yang dibesarkan oleh keluarga bapak, tentu ibukku ingin kami mampu membalas budi, walaupun keluarga bapak tidak mengharapkan itu, mereka mau membiayai sekolah kami kerena mereka merasa disaat bapakku sendiri tidak mampu menafkahi dan menyekolahkan kami, maka jatuhlah tanggung jawab tersebut kepada orang tua dan saudaranya. Begitu mulia hati mereka. Aku benar benar tidak sanggup untuk membuat mereka kecewa sedikitpun.


Karena itu aku juga berharap abangku mau merantau kesana dan bekerja di tempat yang sudah dicarikan oleh paman ku, sehingga dengan penghasilannya ia mampu membalas budi. Aku waktu itu masih di posisi pendidikan tingkat SMP. Untuk itu aku memberanikan diri membujuk abangku untuk mau berangkat. Aku yang sambil menonton mulai memencet tombol hp, aku berniat ingin mengirimkan SMS kepada abangku. Aku masih ingat di saat itu hp masih hp jadul, hp yang hanya bisa sms dan buat nelfon. Aku mulai merangkai kata kata, dan sebelum mengirimkan ke abangku, aku lihatkan dulu kepada tanteku.


Disaat itu, yang sampai saat ini masih aku ingat komentar tante,

__ADS_1


"wah, rangkaian kata katamu sangat bagus, nanti kalau tante ada uang, kamu kuliah dan ambil jurusan sastra, sepertinya bakat menulis ada didirimu."


Aku tersenyum sekilas mengingat itu semua, mungkin inilah buah ucapan tanteku waktu itu.. sebentar lagi aku menyandang status penulis, walaupun baru rencana.


__ADS_2