Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Niat mau ngeprank, malah kena prank


__ADS_3

Bang Ardi mendekat dan mengurungkan niatnya untuk menelfon bidan Marini. Ia menempelkan tubuhku ke dalam dekapannya sambil memukul mukul punggung ini.


Seketika aku membatuk. Dan meringis. Suami membaringkan tubuhku dikursi, tapi masih dipangkuannya. Perlahan ku buka mata. Ternyata ia juga sedang menatap mataku.


Kubuka mata sempurna. Dan kujulurkan lidah...


Sedetik, dua detik, tiga detik. Hingga mendekati semenit.


"Prank....." ucapku langsung berdiri dan berjoget.


Semua pasang mata terpana. Sesaat terdiam. Setelahnya.


"Indri!"


"Bunda!"


Ibuk, suami dan anak anak memanggilku bersamaan, dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Jadi kamu?"


"Bunda bercanda?" Suami mendekat.


Sementara anak anak berhamburan ke dalam pelukanku.


"Gak lucu bund." Ucap suami sambil menghapus butiran bening yang masih tersisa di sudut matanya.


"Iya. Bercandanya keterlaluan. Apa kamu gak kasihan orang sampai panik semua. Anak anak pada nangis." Ibuk pun marah.


Akupun jadi merasa bersalah. Aku punya ide ini karena beralasan. Saat aku memasukkan potongan kue yang kedua ke dalam mulut. Tiba tiba gigiku merasakan benda keras seperti logam. Aku masih terdiam dan mencoba memikirkan, yang keras di dalam mulut sana sebenarnya apa. Tanpa bereaksi mengeluarkannya dihadapan suami. Karena semakin penasaran aku ke kamar sambil memanggil anak anak yang memang sedang bermain di kamar. Setelah anak anak berlarian keluar karena aku katakan di luar ada kue. Aku segera mengeluarkan apa yang menjadi teka teki sejak beberapa menit kebelakang. Aku mengeluarkannya ke telapak tangan. Walaupun sudah dikeluarkan masih tak jelas itu sebenarnya apa. Karena sudah tertutupi oleh kue yang berwarna coklat dan sudah dikunyah. Sehingga menyulitkan aku untuk mengenalinya.


Sejenak ku edarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar. Aku melihat apa yang bisa membantu aku untuk menemukan jawaban dari teka teki ini.


Saat aku menangkap sebuah pandangan terhadap lipatan tisue di atas nakas. "Tisu." Gumamku. Dan langsung mendekati dan mencomotnya beberapa lembar. Segera ku usapkan dengan kasar ke benda misterius itu. Tak berapa lama. Benda ini berhasil kuketahui. Ternyata cincin dibungkus dengan plastik bening, cincin yang sama persis dengan cincin pernikahanku, yang aku serahkan kepada suami untuk dijadikan modal ikan hias dulu. Hanya saja beratnya lebih besar dari punya ku dulu.


Aku langsung tersenyum dan bahagia sekali. Suami menepati janjinya akan menggantinya dua kali lipat. Rona bahagia terpancar di wajahku.

__ADS_1


"Ayah pasti sengaja masukin cincin ke dalam kue." Gumamku.


Tiba tiba keusilan ku seakan menawarkan diri untuk bekerjasama.


"Aku akan balik mengerjai ayah." Ucapku dengan senyum penuh kemenangan.


Segera cincin itu ku masukkan ke dalam kantong celanaku.


Akupun kembali ke ruang tengah, tempat dimana orang orang menikmati kue. Mereka terlihat sangat menikmati sekali. Tentu saja. Wong orang kami jarang makan yang enak enak.


Akupun kembali mengambil potongan kue dan memasukkan ke dalam mulut. Menikmatinya bargantian. Potongan demi potongan secara tertib masuk ke mulutku.


Entah pada potongan keberapa mulailah aku berakting, seolah olah keselek. Hingga membuat seisi rumah panik. Sementara aku tak kuasa menahan tawa.


"Entah bunda ini. Tega dengarin Rey dan Aihzan sampai menangis seperti itu ayah juga nangis, dan dimarahin juga sama ibuk." Cecar suami seperti ia tak melakukan apa apa.


Aku lantas mengeluarkan benda misterius tadi dari dalam kantong. Dan mengangkatnya tepat di depan wajah suami.


"Lantas ini apa? Siapa yang ngerjain duluan?" Ucapku dengan lirikan mengejek.


Sementara perasaan ibuk tak bisa digambarkan lagi. Antara sedih, marah, kesal namun masih terlihat secuil kebahagian.


Anak anak masih setia memelukku.


Akupun tak menjawabnya. Hanya meminta ia segera memasangkan dijari manis ku kembali. Persis seperti sebelum cincin ku lepas dulu. Suami memasangkannya dijari manis tangan kananku.


Setelah cincin melingkar dengan indah di jariku. Aku kembali mendekati kue kesuakaanku.


"Sayang di anggurin dari tadi." Ucapku sambil memasukkan kue ke dalam mulut dengan posisi Rey dan Aihzan masih berada di pangkuannku.


Suami terlihat menggusar rambutnya dengan kasar.


"Kita yang rencananya mau ngerjain, taunya kita yang dikerjain setengah mati sama bunda. Apes bangat nasib ku." Ucap suami kesal sambil mendekat dan duduk di arahku. Ia mencomot kue dan langsung menikmatinya.


Sementara ibuk geleng geleng kapala usai menghadapi situasi yang memanikkan tadi.

__ADS_1


Padahal aku disaat akting tadi benar benar sudah tak tahan lagi untuk tertawa dan mengakhiri semua. Mendengar suami dimarahin ibuk. Perasaanku sedih juga mendengar anak anak memanggil manggil namaku. Suami sampai menangis. Namun sekuat tenaga aku tahan untuk beberapa menit ke depan. Hingga aku berakhir membalikkan keadaan. Awalnya aku yang akan dikerjai, menjadi aku yang sukses mengerjai suami sampai menangis nangis malahan.


"Bund. Kok bisa cincinnya berada di dalam kantong bunda?"Ucapnya terlihat penasaran.


Suami masih mempertanyakan tentang cincin juga. Ia terlihat sangat penasaran sekali.


"Sebenarnya tadi, sebelum Rey dan Aihzan ikut bergabung menikmati kue. Bunda sudah menemukan hal aneh di saat mengunyah kue. terus karena penasaran, dan juga ingin memanggil anak anak, bunda langsung ke kamar, dan mengeluarkan di kamar. Ternyata ada cincin.


"Sekalian aja kejahilan ku muncul, buat ngerjain ayah balik." Akupun menjelaskan pada suami.


"Eh terus ibuk kok tau?" Aku penasaran juga.


"Ayah yang bilang ibuk tadi. Karena gak tau kue mau disimpan dimana. Takut ketahuan duluan sama bunda. Makanya kuenya tadi dari dalam kamar ibuk. Karena bunda yang jarang masuk ke kamar ibu, makanya ayah rasa aman disimpan disana. Eh taunya semua gagal juga. Malah ayah dibikin jantungan sama bunda." Ucapnya lagi sambil masih menikmati kue.


"hehe maaf." Ucapku.


Tanpa kami sadari, karena keasyikan mengobrol, anak anak sudah tertidur dipangkuanku. Suami segera memindahkan mereka ke kamar secara bergantian.


Setelahnya kami kembali duduk duduk di ruang tengah, sementara ibuk juga sudah masuk kamar dari tadi. Menyisakan kami berdua yang masih setia memainkan jemari di layar ponsel, aku asyik menyelami media sosial. Sementara suamiku terlihat main game.


"Yah, lihat ini." Sambil mengarahkan ponsel.


Suami langsung menoleh. Sejenak membaca.


"Biar ayah koment." Langsung beralih dari game dan menekan aplikasi berwarna biru.


[Saya ada gan. Lumayan banyak.] Balasan suami.


Tadi aku menemukan seseakun memposting [Lagi cari partaian jenis cendolan, yang punya berikan penampakan!]


Aku yang mengetahui suami juga mimiliki jenis itu, dan gak akan bisa juga dikirim ke Singapura untuk si agan yang sudah meminta suami mengirim setiap bulannya, karena jenis ini tak begitu diminati di kalangan luar negeri.


Terlihat suami masih berbalas koment, dan berlanjut ke chatt whatsapp. Akupun tak lagi mengikuti, karena kantuk sudah menyerang. Aku segera menunaikan sholat isya, dan setelahnya bersiap tidur.


***

__ADS_1


__ADS_2