Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Berlayar dengan Air Mata


__ADS_3

Tibalah hari yang ditunggu tunggu.


Sesuai rencanaku, aku sekeluarga akan berlibur ke pulau Jawa. Aku berangkat menggunakan bus, dan nanti untuk mencapai tujuan ke pulau Jawa, bus yang aku tumpangi harus melakukan penyeberangan.


Shubuh aku sudah bangun dan mulai melakukan apa saja yang bisa aku lakukan sambil menunggu duo bocil bangun, aku berniat sambil menunggu nya untuk aku mandi terlebih dahulu, setelah itu barulah aku nanti mengurus mereka.


Benar saja setelah aku mandi dan berpakain rapi, mereka satu persatu mulai bangun, sisulung yang lebih dulu bangun, dan aku segera memandikannya, baru saja ia selesai mandi dan berpakaian, si bungsu pun ikut bangun.


Seakan bagaikan mesin yang sudah di stel sebelumnnya. Mereka bangun diwaktu yang tepat. Selesai pekerjan yang satu disambut pekerjaan berikutnya. Aku membatin, sambil memandikan si bungsu.


Beberapa menit berlalu, si bungsu lengkap dengan baju terbaiknya, karena akan melakukan perjalanan jauh, aku sengaja memilihkan baju terbaik untuk buah hatiku.


Ibuk dan suamiku pun sudah rapi. Kami memang berkunjung sekeluarga.


Sambil menunggu paman masih saudara kandung bapakku untuk mengantar kami ke terminal bus. Kami sempatkan untuk sarapan terlebih dahulu.


Bagai seperti sudah terkomando, semua serentak mengambil sarapan masing masing, sunyi, hening, yang terdengar hanya dentingan sendok dan piring seakan menjadi musik yang menghibur di pagi hari.


Selesai sarapan paman pun datang, dan kami segera menaikkan barang bawaan ke dalam mobil.


Tepat jam setengah delapan kami sampai di terminal bus. Selesai menurunkan barang bawaan, suami langsung melapor ke loket dan kami pun dipandu untuk menaiki bus yang akan segera membawa kami bertemu dengan keluarga yang begitu dirindukan.


***


Antrian bus terlihat begitu panjang memenuhi pelabuhan, bus yang aku tumpangi adalah salah satu bus yang mengantri untuk diseberangkan ke pelabuhan Merak. Desiran air samar samar terdengar memenuhi gendang telinga, hembusan angin seakan bersahut sahutan dengan deru air yang mengikuti aliran pelabuhan. Sambil duduk di dalam bus, sambil celingak celinguk ke luar melalui jendela kaca bus, kami para penompang mempertanyakan kenapa bus tidak juga kunjung berjalan memasuki kapal. Padahal sudah lebih satu jam kami disini.


Ya, sekarang aku sudah sampai di pelabuhan Bakauheni, pelabuhan Bakauhuni adalah salah satu penyeberangan yang terletak di Kecamatan Bakauhuni, Kabupaten Lampung Selatan. Pelabuhan Bakauhuni menghubungkan Sumatera dengan Jawa via perhubungan laut.


Gelisah dan gerah sudah seperti di level puncak. Satu jam duduk manis di dalam bus yang hanya bisa dengan posisi duduk sambil selonjoran. tanpa bisa meregangkan otot otot yang terasa sudah lelah dan kaku.

__ADS_1


Sudah lelah rasanya mata ini memandang birunya air, yang berkejar kejaran di laut.


Senja berganti dengan malam, kini suasana yang ditangkap indera penglihatan sudah berganti, tadi mata yang dihiasi oleh birunya air laut, sekarang warna itu seakan ditelan mentari yang perlahan menghilang dari penglihatan. Yang ada sekarang hanya hembusan angin dingin menusuk ketulang. Tadi yang butuh AC, seakan sekarang tak ingin benda itu lagi. Kiri kanan gelap, hanya ada beberapa lampu yang samar samar membantu indera penglihatan. Di tengah laut terlihat kelap kelip lampu kapal feri yang sedang berlayar membawa penompang lain.


Anak anak sudah mulai gelisah, sedari tadi roda mobil tak kunjung berputar membelah jalan. Jangankan anak anak aku saja yang dewasa sudah mulai gelisah.


Tiba tiba kernet bus menyampaikan,


"karena banyaknya bus bus yang akan menyeberang, sehingga fasilitas kapal tak mencukupi untuk menampung semua bus yang mengantri."


"untuk itu kita harus bersabar menunggu feri berikutnya sampai disini kembali untuk membawa kita berlayar menuju pulau jawa." begitulah informasi yang diberikan.


Tentu saja, bus bus begitu ramai, ini adalah waktu libur, libur panjang bagi pelajar, dan pendidik.


Banyak orang memanfaatkan libur ini untuk memanjakan diri, entah itu mengunjungi tempat wisata, saudara, seperti salah satu penompang yaitu aku dan keluargaku yang berniat mengunjungi saudara ke pulau Jawa.


"huuu huu, masih lama kah ini? kira kira berapa jam lagi?" sorak sorai penompang seakan menyesalkan dengan apa yang disampaikan kernet bus.


"bunda ayolah jalan, kenapa lama sekali, kapan nih mau ketemu sama om?" rengek anak sulungku.


Aku usap lembut kepala anakku, sambil memberikan kesabaran dan semangat agar betah menunggu.


Sementara anakku yang kecil sudah setia dengan lenganku yang dijadikan bantal, alias si cantik anakku sudah menyelami mimpinya.


Untuk membuang rasa bosan aku kembali memegang benda persegi panjang, yang apabila kita menggenggamnya bagaikan kita menggenggam dunia.


Aku kembali masuk ke dunia maya, dunia yang tanpa terlihat orang orang, namun selalu kita ketahui aktivitasnya, ya karena sebagian besar kegiatan orang orang akan terlihat di postingannnya di beranda..


Orang orang yang kesehariannya berjualan online, maka produk yang ia jual akan menari nari di layar hp, seakan mamamerkan manfaat dan kelebihannya masing masing.

__ADS_1


Aku seketika memikirkan keputusanku untuk menulis.


Merasa berbeda dengan orang lain, dimana orang orang mencari pekerjaan sampingan dengan cara berdagang baik online maupun berdagang di dunia nyata. Nah sementara aku, menulis, adakah orang yang akan membaca ceritaku, adakah orang yang akan like dan coment ceritaku?


Sementara tanpa pembaca, penulis bukan siapa siapa, tanpa pembaca penulis tidak akan menghasilkan apa apa..


Padahal tujuan akhir dari bekerja sampingan adalah untuk menambah pundi pundi rupiah, agar dompet terisi penuh olehnya.


Aku dipenuhi dengan keraguan.


Tiba tiba mobil berjalan maju, sepertinya kami akan segera memasuki kapal.


Segera ku masukkan hp ke dalam tas, dan mengubah posisi duduk agar aku bisa melihat ke jendela, ingin melihat suasana luar, walaupun gelap tak lagi mengizinkan aku melihatnya dengan jelas.


Akhirnnya, lebih dari tiga jam kami disini, bus yang kami tumpangi sudah terparkir di lambung kapal.


Para penompang segera turun, seakan berebut ingin mendahului, karena tidak sabaran menyaksikan indahnya pemandangan di atas kapal di malam hari.


Tak terkecuali aku dan keluargaku, kami juga ikut turun, aku yang menggendong si kecil yang tengah tertidur mulai melangkahkan kaki, dari anak tangga yang satu keberikutnya untuk menuju lantai tiga kapal.


Sesampai di lantai tiga aku begitu takjub dengan indahnya pemandangan. Kapal berada ditengah tengah laut, yeng terlihat disekelingnya hanya hamparan laut yang luas.. yang dihiasi oleh kelap kelip lampu kapal lainnya yang juga lagi melakukan penyeberangan.


Sembari aku masih menikmati indahnya suasana penyeberangan Bakauhuni - Merak di malam hari.


Tiba tiba...


Tanpa aku sadari air mata sudah menganak sungai dipipi. Air mata membanjiri pipi tak lagi mampu aku tahan, isakan tangis seolah gambaran atas kesedihan yang menggerogoti hati dan jiwaku, aku tumpahkan segala rasa yang ada dihati, tanpa memikirkan lagi malu akan orang sekitar.


Bersambung...

__ADS_1


Kenapa ya Indri tiba tiba menangis?


Tunggu jawabannya di part 5 ya...


__ADS_2