Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Sekelabat Masa Lalu memenuhi Benakku


__ADS_3

Aku lantas memainkan jemari menuju aplikasi novel yang lain. Tak ada pemberitahuan apa apa disana. Adem ayem saja. Sepertinya pembacaku disana tak peduli saja karya ku mau lanjut ataupun berhenti di tengah jalan. Sedih sih. Tapi inilah kenyataannya. Namun kesedihan seakan akan sirna, disaat aku lihat jumlah pembaca. Aku begitu tercengang, cukup banyak tambahan pembacaku dari sebelum aku libur sebulan ini. Ya walaupun belum banyak. Tapi lumayanlah untuk menambah semangat menulis.


Lalu aku menuju aplikasi satu lagi. Di sana yang paling menarik perhatianku adalah notifikasi kotak masuk. Langsung ku tekan simbol amplop. Ternyata pesan dari aplikasi.


[Hai, author Awal Seorang Penulis Terkenal lebih dari dua bulan anda hiatus novel tak lagi direkomendasikan.]


Hiatus adalah berhenti menulis dalam jangka waktu yang lama.


Aku tiba tiba seperti mendapat semangat untuk melanjutkan tulisanku.


"Oke aku harus selesaikan sepuluh BAB dalam tiga hari ini, agar karya ku selalu berlayar, aku gak suka karya ku terbengkalai. Dari tiga aplikasi masih ada dua aplikasi yang memberikan harapan.


Di saat anak anak tidur siang, yang biasanya aku juga akan ikut tidur bersama mereka. Sekarang tak ku lakukan lagi.


Aku manfaatkan waktu untuk menyelesaikan ceritaku. Aku hanya punya waktu, minggu, senin dan selasa. Lewat dari itu karya ku disalah satu aplikasi terancam. Aku akan menamatkan ceritaku di sepuluh BAB lagi. Sekaraang ceritaku baru di BAB 58. Aku berencana di BAB 68 ceritaku sudah menemukan ending, yang pastinya happy ending.


***


Malam seusai melaksanakan makan malam bersama. Suamiku langsung mengambil alat dan bahan untuk packing. Tak lupa ikan ikannya ia angkut ke teras.


"Ayah mau ngapain yah?"


"Eh bunda.... udah nulisnya bund?" Suami malah balik bertanya.


"Belum yah, baru dua BAB dari tadi. Ini ayah mau apakan ikan ikan ini?" Aku ulangi pertanyaan yang sama.


"Eh ayah belum cerita ke bunda ya. Habisnya.... bunda sibuk aja tadi." Ucapnya malah menyalahkanku.


"Ya akukan mengejar menyelesaikan ceritaku yah." Ucapku mulai kesal.


"Iya. Ayah ngerti kok. Ini... alhamdulillah bund, ada pesanan lagi."


"Ke Singapura lagi yah?" Ucapku semangat. Aku semangat sekali jika ada pesanan ke luar negeri.


"Ah gak bun. Yang kemaren dikirim aja belum sampai."


Memang yang kemaren belum sampai. Sudah tiga hari juga ikan ikan itu diperjalanan.

__ADS_1


"Hehe iya ya, terus ini pesanan kemana yah?" Ucapku nyengir malu.


"Gak jauh bund, masih menggunakan perjalanan darat, makanya ayah gak minta surat karantina. Itulah bund, kita gak tau rumus rezeki itu bagaimana. Kemaren lebih sebulan yang lalu kita dibuat kecewa oleh seseorang yang tak kunjung menjemput pesanannya, hingga mengakibatkan uang kita terbenam. Nah, sekarang seakan Allah membalas kekecewaan kita bund. Ada seseorang membeli ikan itu dengan harga yang cukup fantastis. Kita bisa mendapatkan laba dua kali lipat dari modal. Karena ikan di daerahnya sedang susah." Ucap suami sambil semangat dan senyum bahagia terukir dibibirnya.


Terlihat suami sangat bahgia luar biasa.


"Wah benar yah, syukurlah kalau begitu yah. Berapa ekor yah?"


"Seratus lima puluh bund. Jadi ayah kirim yang seratus di ambil dari teman kemaren, dan ikan kita lima puluh, cuma ikan kita size nya kecil dari punya teman, tetap dengan harga yang sama, dan ayah tambahin bonus beberapa ekor."


"Yaudah yah, bunda gak bisa bantu ya, soalnya bunda mau nulis minimal satu BAB lagi malam ini."


"Iya, gak apa apa bund, kalaupun bunda bantu nanti banyak yang ayah ulang. Buang buang kantong dan kerja dua kali ayah." Ucapnya cengengesan.


"Ye... yaudah besok besok jangan minta minta tolong ya..." ucapku kesal juga dibilang gak bisa.


Memang benar aku gak bisa membungkus ikan ikan ke dalam kantongnya. Yang layu lah, pokoknya selalu saja suami kengulang.


"Bunda bantu doa aja dan temanin ayah ayah merintis usaha sampai sukses." Ucapnya meskipun aku sudah berlalu, namun masih bisa ku dengar ucapannya.


***


"Yah kok Aihzan ikut? Memang ibuk kemana?"


"Aihzan minta ikut tadi bund, karena ia lihat pas ayah mau berangkat jemput bunda tadi."


"Owh."


Aku ber oh ria, karena memang kebiasaan, jika Aihzan melihat ayahnya naik motor, maka dia akan minta ikut. Akupun naik. Dan motor melaju.


Tiba tiba dipertigaan suami mengarahkan ke jalan yang bukan sama sekali menuju rumah.


"Eh, ayah kemana?" Akupun bertanya karena penasaran.


"Bunda diam dan duduk manis saja di belakang." Ucapnya tak menjawab pertanyaanku.


Aku kesal donk, udah capek pulang sekolah maunya langsung pulang biar bisa rebahan, eh ini dibawa entah kemana, ditanya malah gak jawab.

__ADS_1


Aku diam, malas berdebat. Suamipun diam.


"Rey sama Aihzan lapar?" Tiba tiba suami bersuara.


"Iya yah," jawabnya serentak dan terpancar rona bahagia di raut wajahnya.


Bau baunya si ayah akan mengajak makan di luar. Gumamku dalam hati. Udah di transfer kali sama yang mesan semalam. Aku masih saja membathin. Tak mau ikut pada pembicaraan mereka. Karena masih kecewa suami tak mau memberi tau dari awal tadi.


"Oke... kita makan ya. Kita makan di luar hari ini. Lunch istilah orang orang." Ucap suami ketawa melirik spion hingga pandangan kami beradu. Namun aku membuang muka, karena masih kesal.


"Makan dimana kita bund?" Suami meminta pendapatku.


"Au ah, gelap." Jawab ku semakin ketus.


"Waduuh... orang siang begini, si bunda bilang gelap nak." Ucap suami masih melucu.


Namun aku tetap tak merespon.


Tiba tiba suami berhenti disebuah cafe, cafe ternama di kota ku. Sekelabat masa lalu memenuhi benakku. Tempat ini adalah tempat yang paling sering kami kunjungi untuk mengisi perut dan sekedar menyantai melepas lelah di saat masa pacaran dulu. Suami mampu membawa ku kesini dulu karena pada saat itu usaha kue mamanya sedang jaya jayanya.


Kamipun masuk dan mengambil tempat duduk. Entah kenapa kami sama sama menuju meja kosong, dimana meja tersebut lah yang sering kami huni dulu.


Aku tersenyum bahagia, perlahan kesalpun sirna. Bagai mengulang masa lalu. Aku mengenang semuanya, dan hati kembali berbunga bunga, bagaikan orang yang sedang pacaran, namun ini bonusnya ada duo bocil. Akupun tersenyum sambil melirik suami juga tersenyum.


Selesai menyantap makanan. Kami masih setia disini.


"Anak ayah yang ganteng dan cantik ini mau beli mainan?" Tawar suami lagi.


"Iya yah, adek mau beli boneka." Jawab si cantikku.


"Aku mau beli mobil mobilan yah," timpal si ganteng ku gak mau kalah.


"Oke kita beli sekarang ya!"


"Hore.. beli mainan. Asyik Rey punya mainan baru. Gak kayak dulu. Mainannya jelek semua. Habisnya hanya dikasih teman ayah yang jualan mainan. Yang udah rusaknya dikasih Rey." Ucapanya girang sampai tanpa ia sadari Rey berdiri dan melompat lompat.


Seketika hatiku perih. Mendengar ucapan Rey.

__ADS_1


"Aku gak tau sekarang apakah ekonomi keluargaku akan membaik atau masih stagnan seperti dulu. Yang jelas semoga kami selalu bisa membahagiakan buah hati kami." Sebuah doa ku selipkan dalam hatiku.


__ADS_2