
POV Dinda
Aku tak sengaja melihat story whatsapp abang Hanif, abang sebapakku. Difoto yang ditampilkan, terlihat foto abang sekeluarga, beserta kak Indri, dan anak anaknya. Aku tahu kalau wanita yang di story bang Hanif tersebut adalah kak Indri, karena aku sering mengintip profil whatsappnya selama ini.
Kami yang hanya berjumpa sekali, itupun disaat kami masih anak anak, sehingga aku tidak pernah tau seperti apa wajahnya.
Aku kirimpun pertemanan di facebooknya, namun ia tidak pernah memposting posting tentang foto foto pribadi dan keluarganya. Sehingga aku kesulitan mengenal wajahnya.
Suatu ketika paman dari kampung membuat group whatsapp, dan menambahkan aku sebagai anggotanya, langsung aku lihat siapa saja yang menjadi anggota, berniat mencari whatsapp kak Indri, aku scroll secara teliti semua anggota yang ada. Aku perhatikan masing masing profilnya, namun hanya sia sia, aku tak mengenal wajah kak Indri.
Tiba tiba mataku memandang tulisan di sebelah kanannya, yang bertuliskan Indriani Putri. Seketika aku langsung menyentuh foto, darah berdesir, aku begitu kaget, ternyata ada kemiripan yang sangat jelas antara kami.
Aku langsung menyimpan whatsappnya, tanpa berani mengirimkan chat. Pernah aku berniat mengirimkan chatt namun kembali aku urungkan dan aku hapus, karena mengingat chat di mesengger yang tak pernah ia balas, padahal sudah ia baca.
Disaat aku kembali memastikan bahwa yang di story bang Hanif adalah kak Indri. Aku segera mengomentarinya. Berpura pura tidak tahu dan menanyakan siapa yang di foto tersebut.
Tak berselang lama, bang Hanif membalasnya, mengatakan yang difoto tersebut adalah kak Indri dan anak anaknya.
Entah bahagia, entah sedih, takut kalau aku benar benar tak diterima oleh kak Indri.
Namun tekad aku untuk menemuinya sudah bulat, aku ingin menyampaikan dan meluruskan apa yang sudah terjadi selama ini, hingga menjadi kebencian yang mendalam bagi kak Indri.
Segera aku utarakan niatku ke suamiku, sesaat suami seperti tak yakin dan tak mengizinkan untuk aku pergi menemui kak Indri. Karena penolakan penolakan yang dilakukan kak Indri untuk berkomunikasi denganku.
Namun karena bujuk rayu dan keyakinanku ingin memperbaiki hubungan dengan saudaraku, akhirnya suamiku mengizinkan.
Hanya saja ia tidak bisa menemaniku, karena pekerjaannya yang tak bisa ditinggalkan.
Akhirnya pergilah aku berdua saja dengan anakku yang masih berusia dua tahun.
Aku berangkat dari rumah, sekitar jam sembilan pagi, karena tempatku dan bang Hanif yang berbeda kota, membutuhkan waktu yang cukup lama diperjalanan.
Hingga aku sampai di rumah bang Hanif pas diwaktu magrib.
Semakin dekat, dan aku sekarang sudah berada di depan pintu rumah bang Hanif, aku mulai ragu, takut kalau aku menerima penolakan, bahkan bayangan diusirpun terlintas di benakku.
__ADS_1
Namun demi persaudaraan aku buang jauh jauh pikiran jelek yang mengganggu ku.
Dengan bismillah aku mantapkan hati, beberapa detik setelah pintu ku ketuk dan ucapan salam ku, terdengar langkah dari dalam diiringi jawab salam, dan pintupun dibuka.
Alangkah kagetnya aku, perasaan campur aduk, bahagia, ketakutan pun seketika menghampiri.
Ternyata yang membukakan pintu langsung adalah kak Indri sendiri, pintu tersebut menjadi saksi bisu pertemuan pertama kami setelah puluhan tahun yang lalu kami pernah berjumpa.
Namun pertemuan kami bukan pertemuan seperti orang orang, yang biasanya orang orang langsung berpelukan menumpahkan kerinduan, namun pertemuan kami tanpa sentuhan, yang ada kebencian yang semakin mendominasi.
Melihat respon dari kak Indri yang langsung menuding aku dengan kasarnya. Tanpa berbasa basi ia langsung mebanting pintu dan berlalu.
Aku berniat merangkul tangannya, melarang ia untuk berlalu, namun tanganku yang sedang menggendong Syehan membuat aku kesusahan untuk menggerakkannya.
Sehingga ia berlalu menyisakan punggungnya yang hilang diperbatasan ruang tamu antara ruang keluarga.
Aku bingung harus bagaimana. Namun tak berapa lama bang Hanif datang dengan kekagetan yang luar biasa saat melihat aku menggendong Syehan anakku berdiri di depan pintu dengan raut wajah cemas dan ketakutan.
Bang Hanif mendekat dan menghampiri, ia sambil celingak celinguk ke arah dalam, mempertanyakan kenapa aku datang tanpa memberikan kabar.
Sepertinya bang Hanif berniat menyuruhku untuk kembali pulang, namun sebelum itu terjadi ibuk sudah terlebih dahulu mengetahui kehadiranku.
Ibuk menanyakan tentang tamu yang masih dibiarkan berdiri di ambang pintu.
Sehingga tanpa meminta izin kepada bang Hanif, aku langsung memperkenalkan diri kepada ibuk.
Ibuk terlihat begitu kagetnya. Disaat itu juga aku semakin ketakutan, takut kalau kalau ibuk juga tidak menerima kehadiranku, sementara kak Indri memang sudah mentah mentah menolak kehadiranku, terlihat dari tatapannya dengan penuh kemarahan dan segera berlalu meninggalkan aku.
Namun aku kaget bukan kepalang, ternyata dugaan ku salah. Ibuk menerima jabatan tanganku, dan mempersilahkan untuk masuk. Aku bahagia bangat disaat itu.
Namun seketika aku kembali dirundung kecewa, setelahnya ibuk berlalu menuju ruang belakang tanpa sepatah kata lagi.
Dengan ragu bang Hanif mempersilahkan aku duduk. Dan di balik pintu muncul kak Dwi istri bang hanif, dengan raut wajah yang tak bisa di gambarkan. Ya, tentu saja kak Dwi juga kaget dan sepertinya ragu menerima kehadiranku.
Aku maklum, mungkin pikirannya memikirkan hal yang sama dengan bang Hanif, yaitu memikirkan perasaan ibuk. Aku sangat paham dengan situasi itu, kalaupun aku diposisi mereka juga pasti akan memikirkan perasaan ibuk.
__ADS_1
Kak Indri masih mengurung diri di kamar, ibuk terduduk lesu di ruang keluarga. Tiba tiba suami kak Indri bersuara, ia mengatakan kalau biarkan kak Indri menyendiri dan menangkan dirinya dulu.
Semua setuju dan tak lagi mengetuk pintu memaksa kak Indri keluar.
Kami semua segera menunaikan sholat magrib terlebih dahulu.
Selesai sholat, semuanya kembali berkumpul di ruang keluarga, penuh dengan keheningan, sambil memperhatikan anak anak yang sibuk bermain satu sama lainnya, anakku juga sudah akrab bermain dengan Aihzan.
Kak Dwi mulai buka suara, untuk mencairkan suasana. Kak Dwi mengajak untuk makan malam. Kami semua makan malam bersama, masih dengan keheningan dan pikiran masing masing.
Setelah makan malam, aku membantu ibuk dan kak Dwi membereskan semuanya. Setelah itu kami kembali duduk di ruang keluarga.
***
Selesai sholat isya bang Hanif menelfon om untuk membantu menyelesaikan masalah. Kebetulan rumah om dengan bang Hanif tidak terlalu jauh, hanya dibatasi oleh beberapa rumah saja.
Setelah kedatangan om, kami berkumpul di ruang tamu. Sementara ibuk sepertinya masih enggan berkumpul dengan ku, ia memilih tetap di ruang keluarga, beralasan menemani anak anak yang sedang asyik bermain.
Aku memulai percakapan, aku ungkapkan seluruhnya tentang Bapak yang tidak pernah melupakan keluarga yang pernah ia tinggalkan, penyesalan penyesalan Bapak tak luput juga aku ceritakan.
Aku menyampaikan maaf Bapak kepada ibuk, namun ibuk hanya terdiam dan menangis.
Tiba tiba apa yang aku inginkan terucap dari mulut indah ibuk. Ia dengan tegas mengatakan sudah memafkan Bapak. Betapa senangnya hatiku, tinggal memikirkan bagaimana membujuk kak indri.
Namun tanpa kami duga, ternyata kak Indri sudah dari lama menguping pembicaraan kami.
Mendengar ibuk yang sudah memaafkan Bapak, kak Indri langsung menampakkan diri, ia berlari memeluk ibuknya.
Kami semua membiarkan kak Indri menumpahkan entah perasaan apa, yang jelas ia memeluk ibuk sambil menangis.
Mungkin merasa puas memeluk ibuk, tanpa aku duga ia mendekat kepadaku.
Perasaanku campur aduk, aku takut mau apa kak Indri ke arahku, aku takut ia akan menumpahkan segalan kekesalannya pada ku.
Namun lagi lagi dugaan ku salah. Ia merangkul tubuh ini, sesaat aku membatu. Merasa tak percaya, namun tetap membalas pelukannya, saat itu, aku coba mencubit tangan sebelah kiri, seketika rasa sakit yang ku dapatkan, dalam hati aku berucap alhamdulillah ya allah. Aku kembali meneteskan air mata, namun kali ini air mata bahagia.
__ADS_1