
Sambil mengayunkan langkah aku masih berpikir ada apa aku dipanggil ke ruangan wakil kurikulum?
Aku melewati beberapa pintu kelas sebelum menuju kelas yang sesuai dengan jadwalku hari ini. Anak anak berjejer di depan kelas sambil bersenda gurau, ada yang masih mengunyah sesuatu, mungkin saja ia tak sempat sarapan sebelum berangkat tadi, dan yang laki laki ada yang berkejar kejaran satu sama lainnya.
Begitu banyak pola tingkah anak anak ini.
Ya aku memang mengajar di sekolah menengah pertama, diusia yang dari anak anak menginjak remaja, memang masih belum sepenuhnya terlepas dari tingkah anak anak.
Masih ada yang setia dengan sikap seperti anak anak, seperti masih senang berkejar kejaran, masih suka mengadukan suatu masalah kepada guru. Ya pokoknya masih saja tingkah polanya sama seperti anak anak.
Akhirnya aku sampai di kelas, aku disambut antusias anak anak, melihat aku yang sudah berdiri di depan pintu, semua seakan berhenti dengan aktivitas masing masing dan segera untuk duduk ke tempat masing masing.
Setelah ucapan salam dan mereka serempak menjawab. Ketua kelas menyiapkan anggota kelas untuk bersiap siap menerima pembelajaran dan dilanjutkan dengan mereka berdoa.
Selesai mengkondisikan kelas, aku segera menyapanya dan mengabsen siapa yang tidak hadir hari ini.
"Pagi ananda semuanya!"
"Pagi juga buk!" Balas mereka serempak.
"Adakah yang tidak hadir hari ini?" Aku berniat mengetahui siapa saja yang tidak hadir.
"Nihil buk" ucap mereka lagi secara bersamaan.
"Alhamdulillah berarti hari ini kita semua diberi kesehatan dan bisa menikmati hari ini dengan bahagia. Nah mari kita mulai pembelajaran hari ini!" Ajakku.
Semua terlihat sibuk mengeluarkan buku dan bersiap menerima pembelajaran hari ini.
Aku yang masih dipenuhi kecemasan karena panggilan tadi, membuat konsentrasiku sedikit buyar, namun aku berusaha menetralisir hati, agar tak mengganggu kinerja hari ini.
***
Bunyi bel terdengar diseluruh penjuru ruangan kelas menandakan jam pelajaran keempat telah berakhir, semua siswa dan guru berkesempatan untuk istirahat sejenak.
Dua puluh menit adalah waktu yang sangat berharga untuk siswa dan juga guru, walaupun hanya bisa untuk sekedar mengganjal perut dengan cemilan kue kue, untuk melanjutkan proses belajar mengajar dijam jam berikutnya. Atau hanya menikmti duduk bersama sambil bercengkrama dengan guru lainnya.
__ADS_1
Aku yang sebelumnya sudah membuat janji dengan Bapak wakil kurikulum, segera menuju ruang wakil kurikulum.
Dada ini kembali berdetak lebih kencang. Raut wajah menggambarkan ketakutan, terlihat sedikit pucat, kadang aku berpikir ingin cepat sampai di ruangan yang menurutku bagaikan ruang panas. Karena aku yang selalu panas dingin setiap kali di panggil keruangan ruangan pejabat sekolah.
Dan juga kadang aku seperti ingin mengulur waktu untuk sampai di ruangan tersebut. Karena ketakutan ku kalau kalau hal buruk yang akan disampaikan oleh Bapak wakil kurikulum itu.
Begitu takutnya aku dipanggil panggil ke ruangan itu.
Pernah aku dulu pagi pagi sekali baru sampai di ruangan kantor majelis guru. Ternyata kepala sekolah sudah datang lebih dulu.
Saat sapaan pertama kali, kepala sekolah langsung meminta aku datang ke ruangannya. Dan ia berlalu menuju ruangannya, pertanda agar aku segera mengikutinya.
Bergegas aku menaruh tas di atas meja dan segera melangkah ke ruangan kepala sekolah sambil menggandeng Rey yang setia menemani ku kemana mana.
Baru saja aku mengucapkan salam dan melangkahkan kaki masuk ruangan.
Kepala sekolah langsung bertanya, apakah aku sakit.
Ya, seperti itu lah aku setiap kali memasuki ruang kepala sekolah maupun para wakil, tubuh gemetar dan wajah memucat bagaikan orang yang lagi sakit.
Tibalah aku di ruang wakil kurikulum. Terlihat pak wakil sedang duduk di balik mejanya.
"Assalamualaikum, pak!" Sambil mengetuk pintu.
"Walaikum salam, silahkan masuk!" Sambil berdiri dan mempersilahkan aku duduk di kursi di depan meja kerjanya.
Jantungku semakin dag dig dug.
"Ada apa pak?" Ucapku memulai pembicaraan.
"Ah iya, Bapak dapat laporan dari anak anak."
Belum selesai Bapak wakil kurikulum itu berbicara, aku sudah semakin cemas.
Rasanya jantung ini sudah mau copot saja.
__ADS_1
"La-po-ran apa pak?"tanyaku gemetaran.
"Lah kok kamu gemetaran?" Tanya Bapak tersebut.
Ya Bapak wakil kurikulum itu sudah sebaya orang tuaku, dan aku yang mungkin saja sebaya anaknya, maka ke kami para guru yang usia muda ini ia memanggil nama saja.
"Pak aku takut pak, kalau Bapak memanggil aku kesini karena aku ada salah, terus Bapak barusan menyebut ada laporan dari anak anak, aku semakin cemas pak, kalau kalau laporan itu kabar buruk bagiku, seperti ada kesalahanku dalam mengajar." ucapku jujur dengan apa yang aku rasakan.
"Owh, kamu tenang saja, ini bukan hal buruk kok, melainkan kabar baik." terangnya lagi.
Seketika wajah ku berubah bahagia, darah seakan mengalir kembali kesisi sisi wajah ini, detak jantung yang awalnya tak karuan, seakan sudah kembali stabil. Gemetaran seakan akan hilang seketika.
"Jadi gimana pak? Apa yang dilaporkan anak anak?" aku sedikit penasaran.
"Anak anak melaporkan kalau dia senang dan mengerti belajar denganmu, dan menginginkan kamu saja yang mengajar di kelas sembilan." Jelas Bapak itu serius.
Aku kaget donk dengan ini semua. Disamping itu aku juga sedikit bahagia, bukan berarti aku sombong dan sok sok an, setidaknya penilaian anak anak tersebut adalah hal positif yang ada di dalam diriku. Berarti ada suatu daya tarik aku dalam mengajar yang ia sukai, namun aku juga tak tau itu apa, sepertinya aku mengajar biasa saja.
Dari awal aku memang meminta keseriusan anak anak disaat aku menerangkan, kalau ada satu saja yang berkegiatan di belakang, maka aku akan memberikan teguran dan motivasi, kadang kala juga memberikan hukuman, seperti membuat kata kata motivasi tentang kedisiplinan dan sebagainya seputar pendidikan, akan aku kasih waktu beberapa hari untuk mengerjakan itu. Nah dengan kebiasaan kebiasaan seperti itu yang aku terapkan dari awal semester, hingga siswa semuanya berhenti dari kegiatan lain dan memperhatikan disaat aku menjelaskan materi, sehingga setiap materi yang diberikan mereka pahami dengan baik.
Dan setelah aku menerangkan, aku tak lagi menuntut mereka bagai patung yang selalu menghadap ke depan.
Di saat mereka mengerjakan tugas, aku akan ikut larut dalam suasana mereka, bercanda, bercerita, sudah seperti teman saja, tapi tetap ada batasnya dan saling menghargai.
"Sebenarnya pak, setiap kali aku berpapasan dengan anak anak yang aku ajar di saat kelas delapan. Ia mengatakan hal yang sama padaku." Terangku dengan jujur, karena memang begitu adanya.
"Ini sudah tahun ketiga kalinya setiap siswa kelas delapan yang kamu ajar dulu, yang sudah naik ke kelas sembilan, datang kesini melapor mereka senang dan maunya belajar dengan kamu kembali. Sebenarnya banyak dari kita ini yang disenangi siswa, tapi saya gak habis pikir siswa siswa yang kamu ajar inilah yang berani datang kesini, hingga tiga kali angkatan.
"Pertama kali siswa melapor, tiga tahun kebelakang, tak terlalu saya pikirkan, mungkin saja kebetulan mereka senang belajar denganmu. Namun ini sudah tahun ketiga dan sudah tiga kali juga segerombolan siswa yang melapor yang sama kepada saya. Makanya saya memanggilmu."
"Menurut saya, laporan dari anak anak tersebut, adalah suatu penilaian yang positif untukmu, untuk itu harus kamu pertahankan dan buat gebrakan baru agar siswa semakin menyenangi kita sebagai gurunya." Jelas pak wakil kurikulum menasehati.
"Baik pak, terimaksih atas nasehatnya pak."
Akupun keluar ruangan setelah dipersilahkan. Rona bahagia masih tergambar jelas di wajah ini. Ini bagaikan asupan percaya diri untuk ku yang sempat minder dan putus asa.
__ADS_1
Ternyata di balik kekecewaan masih ada keberhasilan yang tak pernah kita duga, setidaknya dengan pengakuan ini aku sudah berhasil dalam melaksanakan pembelajaran.