Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Sebuah Pertanyaan


__ADS_3

Tepat jam satu siang kami keluar dari Bandara Internasional Minangkabau, adang Sumatera Barat. Setelah menaikkan seluruh barang bawaan ke atas troli, suami segera mendorong menyisiri jalan menuju travel. Ya kami masih akan melakukan perjalanan lagi agar sampai di rumah. Kami membutuhkan waktu sekitar tiga jam lagi untuk sampai di rumah.


***


Akhirnya setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, kami sampai di rumah yang sudah hampir sepuluh hari kami tingalkan, kami sampai menjelang magrib.


Setelah melaksanakan sholat isya, jam pun sudah menunjukkan jam setengah sembilam malam. Duo bocil ku sudah tertidur pulas karena kelelahan setelah mengalami perjalanan yang panjang.


Akupun berniat untuk tidur. Aku pun mulai merebahkan diri. Namun karena selama di perjalanan, aku yang kurang berkesempatan melihat benda pipih yang canggih milikku ini, hingga saat ini aku mencoba untuk melihatnya apakah ada informasi informasi tentang pekerjaanku yang akan kembali dimulai besok.


Aku segera menekan aplikasi berwarna hijau. Dan memeriksa satu persatu pesan yang masuk.


Merasa puas, akupun segera mengunci benda pipih tersebut, sebelumnya tak lupa aku stel alarm di angka lima, agar aku tak kesiangan nantinya.


Setelahnya aku meletakkan benda tersebut di atas nakas, dan berdoa, sesaat menikmati empuknya kasur, akupun berlalu mengarungi mimpi yang indah.


***


Alarm yang ku stel tadi malam sebelum tidur, tepat di jam yang ditentukan, sudah berbunyi memekakkan gendang telinga, andai tak secepatnya aku matikan, maka akan membangunkan seisi rumah ini.


Dengan perlahan aku duduk dan menjangkau hp yang tergeletak di atas nakas. Segera aku usap tombol matikan. Setelahnya aku segera duduk dan beranjak berniat ke kamar mandi.


Aku berusaha jalan sepelan mungkin, agar Aihzan tak bangun, karena kalau ia sempat bangun sebelum aku sholat dan mandi, alamat akan terlambat pergi bekerja.


Suara ayam tetangga berkokok bersahut sahutan. Aku takut sekali Aihzan bangun karena itu.


Aku percepat ritual mandi. Beberapa menit berlalu, akupun selesai. Namun tak ku temui lagi suami ku, mungkin ia sudah pergi ke masjid. Karena memang dia selalu sholat berjamaah di masjid, yang tak jauh dari rumahku. Biasanya ia akan bersih bersih dan mengambil wudhu di kamar mandi di luar.


Aku yang sudah selesai mandi langsung berpakaian lengkap seragam yang sudah tiga minggu tak pernah aku sentuh, karena libur.


Aku berdiri di depan cermin, sambil memperhatikan pakaian yang sudah sejak sepuluh terakhir ini menjadi bagian hidupku.


Baju dinas kebesaran yang selalu menghiasi tubuh ini setiap hari senin dan selasa.


Aku begitu bahagia, bisa bekerja dengan menggunakan baju ini.

__ADS_1


Tiba tiba hasil yang masih menyisakan kekecewaan kembali teringat.


Ini hari pertama sekolah, setelah pengumuman hasil yang mengecewakan itu keluar. Otomatis sudah pasti nanti di sekolah orang akan membahas siapa yang lulus dan siapa yang tidak lulus.


Aku kembali terdiam dan terpaku. Serasa tak sanggup menghadapi hari ini. Sudah pasti luka lama itu akan kembali berdarah.


Aku terduduk di atas kasur sambil memutar ujung baju.


Tuhan beri aku kekuatan untuk menghadapi ini. Bathinku.


Akhirnya entah berapa lama aku termenung, teriakan Aihzan membuyarkan semuanya. Teriakannnya memaksakan aku untuk melupakan semua yang berkecamuk dipikiran ini.


"Bunda.... bunda dimana? Kesinilah," teriakan Aihzan begitu memekakkan telinga.


Begitulah ia setiap hari apabila setiap kali ia bangun dan aku tak berada disisinya. Aihzan benar benar sulit untuk jauh dariku.


Segera aku mendekat dan menggendongnya, sambil menenangkan tangisannya.


Akhirnya ia diam juga asalkan tetap di gendong. Tak berapa lama, ayahnya pulang, ia berlalu kegendongan ayahnya, dan mereka pergi untuk jalan pagi sebentar.


Sementara aku, segera aku menunaikan sholat shubuh dua rakaat.


Dulu sebelum dia sekolah, dia memang sudah setiap hari ikut sekolah denganku.


Ia yang sejak kecil aku tinggal sekolah, dan setelah ia berusia empat tahun tak mau lagi ditinggal, berbagai cara aku lakukan agar ia mau tinggal, namun itu semua tak berhasil.


Akhirnya aku bawa lah ia ke sekolah dengan segala dramanya setiap hari, baik pagi hari sebelum berangkat, maupun di sekolah yang hampir setiap jam pelajaran aku berada di dalam kelas.


Karena jam mengajarku yang lumayan banyak, membuat aku kurang mempunyai jam kosong.


Perpindahan dari kelas satu ke kelas yang lainnya, hampir setiap hari begitu.


Aku hampir putus asa, dengan keadaan ini, aku bekerja sambil membawa anak. Memang sebenarnya Rey tidak pernah menggangguku dalam proses mengajar. Dan Kepala sekolahpun tak mempermasalahkan karwna Rey yang tidak oernah mengganggu aktivitas mwngajarku. Hanya saja aku harus merelakan hp ku selalu ditangannya. Dan siapkan stok makanan selalu disisinya.


Dua benda itu cukup membantu keberlangsungan aku bekerja tak lagi terganggu.

__ADS_1


Tapi sampai kapan seperti ini? Seakan akan aku meminta bantuan kepada benda canggih ini untuk mengasuh anakku.


Disamping akan merusak matanya, benda tersebut secara perlahan pasti akan merusak pikiran anakku juga.


Aku benar benar bingung dengan kondisi ini.


Hingga bagai Allah tau apa yang aku butuhkan, dan Allah memberikan jalan dengan adanya seseorang membuka yayasan Paud dan Taman Kanak kanak persis di depan sekolah ku.


Dengan segera akupun mendatanginya.


Seusai bertanya tanya tentang metode sekolah tersebut, dan Rey melakukan trial class selama tiga hari akhirnya aku menyekolahkannya di sana.


Aku tak memikirkan biaya darimana akan aku dapat. Aku yakin anak terlahir membawa rezekinya masing masing.


Sejak itu ia mulai bersekolah disana. Namun sampai sekarang, sepertinya aku belum terbebas dengan kata tidak lagi membawa anak ke sekolah, Rey masih saja pulang ke sekolahku, dari sekolahnya.


Dia tak pernah mau pulang sementara aku masih di sekolah. Begitulah setiap harinya Rey masih saja ikut aku bekerja walapun setengah jam kerja ku, karena dari pagi smpai siangnya ia sudah bersekolah, dari siang sampai aku pulang jam tiga maka hp dan laptop secara bergantian itu adalah miliknya, tidak bisa di ganggu gugat.


Apabila tidak didapat dari salah satu yang dua itu, nangis menjadi senjatanya. Dan pada akhirnya dengan terpaksa, tanpa ikhlas aku kembali menyerahkan hp ataupun laptop kepadanya, agar pekerjaanku lancar.


Begeitulah keseharianku, namun aku tak pernah meninggalkan pekerjaanku, karena aku menggantungkan harapan yang begitu besar dipekerjaan ini.


***


Setelah semuanya selesai Rey sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Akupun juga selesai mempersiapkan bekal yang akan dibawa ke sekolah.


Aihzan dan ayahnya pun pulang. Aihzan langsung ikut sarapan dengan aku dan Rey, sementara ayahnya langsung mandi.


Untuk bersiap ke usaha kue orang tuanya. Usaha kue yang kembali ia kembangkan lagi.


Setelah semuanya rapi, kami berangkat, ayahnya terlebih dahulu mengantarkan kami ke sekolah.


Sesampainya di sekolahku, sebelumnya Rey sudah aku antarkan ke sekolahnya.


Jawaban yang paling aku benci, harus ku ucapkan.

__ADS_1


"Gimana Ndri, lulus?"


***


__ADS_2