Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Mantan Siswa memberikan jalan untuk usaha


__ADS_3

"Bund, bunda...." segera menghampiri Indri yang terbaring dalam keadaan menggigil.


Ternyata Indri panas tinggi, hingga menggigil. Seluruh tubuhnya gemetaran. Sekujur tubuh panas.


Ardi cemas sekali melihat keadaan Indri. Hari yang menunjukkan jam empat shubuh. Membuat ia bingung akan melakukan apa. Tanpa pikir panjang Ardi langsung mengambil air dan segera mengompres Indri. Untuk sedikit membantu meredakan panas tinggi Indri.


Di samping tetap mengompres Ardi berusaha memanggil manggil dan memijat mijat Indri.


Setengah jam akhirnya Indri mulai mendingan dan bisa berbaring.


Ibukpun sudah bangun. Ardi langsung menyampaikan keadaan Indri kepada ibuknya. Tanpa memikirkan rasa malu lagi. Tanpa memikirkan harga dirinya lagi. Ardi meminjam uang kepada mertuanya untuk mengobati Indri.


Setelah menerima uang. Ardi segera mengajak Indri ke bidan terdekat.


Setelah diperiksa dan diberi obat. Mereka kembali pulang.


Indri memilih kembali istirahat setelah meminum obatnya.


Ardi menghubungi teman di sekolah Indri. Menyampaikan keadaan Indri agar diberikan izin untuk tak mengajar hari ini. Berhubung sekarang hari jumat. Indri yang hanya mengajar satu kelas saja. Jadi tak terlalu merepotkan untuk meminta bantuan kepada temannya.


***


Hari berlalu, sekarang sudah sampailah waktunya Ardi mengirimkan pesanan ke Singapura. Sehari sebelumnya ia sudah mempuasakan ikan ikannya.


Dan juga tak lupa pergi ke Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) untuk meminta surat karantina, agar kiriman aman sampai di Singapura.


Kini Indri sudah mulai membaik. Ia juga sudah kembali mengajar.


Ardi yang sibuk packing pesanannya, ditemani Indri. Sesekali Indri membantu, apa saja yang bisa ia bantu.


"Eh bund, ayah lupa. Kemaren waktu bunda sakit ada seseorang menelfon. Dia mengaku salah satu siswa bunda, waktu bunda Praktek Lapangan dulu. Namanya Jhasril kalau gak salah. Bunda ingat?" Menoleh ke Indri.


"Owh iya. Bunda ingat yah, dia itu yang dulu datang waktu pernikahan kita. Ayah ingat?"


"Yang mana ya bund?" Ekspresi berpikir.


"Itu.. yang sore. Datang berdua sama temannya. Dia datang sehari sebelum pesta, karena pas pesta tak bisa hadir. Kita juga pernah loh yah, ke Panti Asuhan tempat ia tinggal dulu." Akupun menjelaskan.

__ADS_1


"Owh itu, iya ayah ingat, yang kita makannya bareng sama orang yang masang tenda dan pelaminan?"


"Iya, terus ada apa dia nelfon yah?"


"Dia mengajak kita mengisi toko oleh olehnya bund. Dia tau kalau kita ada usaha bikin kue. Ia tau dari warung bu Aty, yang tak sengaja ia berteduh disana karena kehujanan. Ia coba kue kue kita dan katanya enak. Makanya ia ajak kita untuk bersedia mengisi disana."


"Terus ayah setuju?"


"Ayah terserah bunda. Cuma menurut ayah, kita ambil saja. Tapi kita hentiin di warung lain. Dan ke sekolah bunda gak usah setiap hari lagi. Jadi kita bikinnya bisa sekali seminggu atau dua kali seminggu. Dengan demikian kita gak terlalu kerepotan."


"Bunda setuju juga yah. Kalau seperti itu. Jadinya kita gak terpaksa harus bikin setiap hari. cuma ya sekali bikin mungkin dengan jumlah yang cukup banyak. kita manfaatin saja hari jumat, sabtu, dan minggu yah." Ucapku memeberi ide.


"Tapi kita gak punya modal yah."


"Itulah bund. Tapi kan besok ayah ngirim pesanan nih ke Singapura. Mudah mudahan si agannya transfer tepat waktu."


"Owh iya, kan ayah ngirimnya besok ya. Bunda lupa. Padahal ini yang lagi dikerjain, pesanan buat dikirim ke sana. Semoga deh yah." Ucapku tersenyum malu. Bisa bisanya aku lupa.


"Dan juga bunda perlu tau seesuatu...." ucapnya menggantung.


"Apa yah?" Indri kelihatan tak sabaran.


"Ah beneran yah?" Indri terlihat antusias


"Iya bund, makanya kita ambil aja ini, dan hentikan yang lainnya."


"Iya bunda setuju yah."


"Kalau bunda setuju, silahkan telfon kembali mantan siswa bunda itu. Sepertinya dia sudah berhasil dengan usahanya bund."


Akupun menelfon nomor yang diperlihatkan suami di ponselnya. Segera ku sentuh gagang telfon warna hijau. Tak menunggu lama. Terdengar suara dari sana.


"Assalamualaikum."


"Walaikum salam."


"Ibuk apa kabar? Apa ibuk masih ingat Jasril buk?" Ucapan seseorang dari seberang sana.

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat Jas. Ya masih ingatlah Jas.." jawabku.


"Iya buk, gimana seorang ibuk Indri gak bakalan ingat dengan Jasril? Ibuk yang sering nemuin aku ke panti asuhan, beliin baju, bawain makanan, bahkan ngasih uang jajan. Aku gak akan mungkin lupa dengan semua itu buk." Ucapnya mengingatkan masa lalu.


"Hehe. Iya. Jasril apa kabar ini?"


"Alhamdulillah sehat buk." Nah gimana tawaran Jasril yang tempo hari buk? Ibuk bersedia?"


"Owh iya Jas. Ibuk sama suami coba. Insya allah bisa. Sebenarnya kami sebelum tawaran dari Jasril, sudah kehilangan dua warung tempat menitipkan kue." Ucapku berterus terang.


"Owh ya? Berarti Jhasril datang diwaktu yang tepat buk." Ucapnya sambil ketawa renyah dari seberang sana.


"Iya. Ngomong ngomong toko oleh olehnya dimana Jas?"


Dia pun menyebutkan nama toko dan alamatnya.


"Wow. Keren. Jhasril sekarang sudah berhasil. Selamat ya."


"Ah ibuk bisa saja. Makasih buk."


Jhasril yang aku kenal adalah seorang yatim. Kehidupan ekonominya yang susah sehingga ia ditipkan oleh orang tuanya disebuah panti asuhan.


Di saat aku Praktek lah aku mengenalnya, entah kenapa hatiku merasa simpati kepadanya. Hingga aku sudah menganggapnya seperti adek. Berakhirpun masa praktekku tak membuat kami putus silahturahmi. Bulan baik hari baik aku sering menemuinya.


Setelah aku berjanji akan mengantarkan kue dalam waktu lima belas hari lagi. Akhirnya sambungan telfon di tutup.


Aku memang sengaja menjanjikan lima belas hari lagi, karena aku menunggu bayaran dari pembeli Singapura tersebut. Aku mengambil rentang waktu paket paling lama sampai untuk perjalanan Indonesia Singapura dalam waktu dua minggu.


Aku segera memberikan ponsel suami. Ia yang sudah selesai packing pesanan. Dengan segera ia kirim foto pesanan yang telah dipacking kepada pembeli.


Hari yang sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Berarti di Singapura sudah jam sebelas malam. Namun suami tetap saja mengirim foto pesanan yang sudah di packing ke pembeli.


[Foto. Siap meluncur besok pagi gan."] pesan dikirimnya melalui whatsapp.


Setelah mengirim pesan kami segera beberes bersiap untuk istirahat. Aku yang sudah terserang tipus, jadi kapok tidur larut malam lagi.


Suamipun bersiap tidur. Belum sempurna mata tertidur kembali terbangun oleh bunyi notifikasi whatsapp suami. Ia penasaran siapa yang mengirim whatsapp.

__ADS_1


Setelah ponsel digenggamannya. Membuka kunci layar, dan langsung menuju kemenu whatsapp. Sesaat ia serius menatap layar, membaca pesan whatsapp yang masuk, dan setelahnya suami berteriak.


"Bunda...." suami histeris sambil menunjuk nunjuk layar ponselnya.


__ADS_2