Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Kecemasan Luar Biasa mengalahkan Akal Sehat


__ADS_3

Aku panik.


Aku kembali bolak balik masuk aplikasi whatsapp namun masih sama. Yang ada hanya group whatsapp saja.


Tanpa komando butiran bening mengalir begitu saja. Aku yang baru saja merasakan bahagia bisa menulis mencapai seribu kata, seketika sirna.


Malam sunyi yang hanya ditemani dengan nyanyian jangkrik. Semua orang sudah tengah tidur dengan pulasnya. Aku masih terjaga demi sebuah harapan.


Aku yang hanya ditemani oleh putaran jam yang selalu berputar memutari waktu, dan suara kipas angin yang setia berputar untuk memberikan udara yang sejuk dan dingin untuk para tuannya.


Aku terus terisak. Ternyata isakan ku didengar oleh suami. Ia lantas bangun.


"Kenapa?" Tanyanya sambil mengucek ngucek mata yang masih menyisakan kantuk yang luar biasa.


Tentu saja ia masih mengantuk, tengah malam adalah waktu paling sempurna untuk menikmati istrihat dari lelahnya setelah bekerja disiang hari.


"Akukan tadi sudah mencoba untuk menulis, mencapai seribu kata sesuai yang diarahkan author baik hati itu. Nah aku bisa mencapainya" Jawabku lesu.


"Ya terus? Kenapa menangis?" Tanyanya bingung.


Tentu saja. Harusnya aku bahagia bisa mencapai target seribu kata.


"Tapi tiba tiba semua yang sudah aku tulis, hilang." Aku kembali meneteskan air mata.


Aku sedih dan juga sangat kesal, karena keteledoran sendiri, akhirnya masih menyisakan kecewa.


Aku masih saja menangis dalam diam. Malam ini begitu sepi dan hening, gerimispun turun membasahi bumi. Malam seakan akan ikut merasakan kesedihan yang aku rasakan.


Suamiku terdiam, seperti sejenak berpikir, bagaimana cara menghibur ku.


"Memangnya bunda tadi mengetiknya dimana?" Ia kembali memecah keheningan malam, setelah sejenak membiarkan aku menumpahkan kesedihan.


"Diwhatsapp." Jawabku singkat. Aku sedikit kesal, karena aku sudah dari tadi menjelaskannya bahwa aku menulis di whatsapp dan sekarang semua chatt di whatsapp hilang.


Ia lantas diam. Mungkin kesal juga karena aku menjawab dengan ketus.


Lantas ia berdiri, dan keluar meninggalkan aku di kamar yang masih diselimuti deraian air mata.


Semenit, dua menit hingga lima menit, ia tak kunjung kembali ke kamar.


Aku yang sudah semakin kesal di kamar sendirian. Merasa seperti suamiku tak ikut merasakan apa yang aku rasakan.


Aku mengomel sendiri, aku malas untuk mengulang mengetik lagi, aku paling malas melakukan pekerjaan yang sama untuk kedua kalinya. Aku putus asa.


Dalam kegundahan hati. Tiba tiba suamiku masuk ke kamar sambil memegang benda canggih berbentuk persegi panjang, dengan raut wajah tersenyum bahagia.


Bibirku terangkat untuk mengomel, karena ia yang seakan tidak menghargai perasaanku yang sedang kecewa ini.

__ADS_1


Ia lantas mendekat. Dan mengarahkan hp nya ke wajah ini.


Seketika aku terlonjak bahagia.


Semua cerita yang sudah aku tulis tadi ada di hp suami. Pesan dariku.


Seketika aku menepuk jidat pertanda kesal karena kebodohanku sendiri.


Sebenarnya dari tadi aku tidak perlu menangis dan banyak drama sampai sampai kesal kesuami sendiri.


Seharusnya hilangpun di hp ku, aku tinggal melihat di hp suami, karena aku sudah terlebih dahulu mengirim ke whatsappnya, itu aku lakukan agar kalau tiba tiba kejadian seperti ini terjadi.


Akupun cengengesan, malu karena sudah berlinangan air mata dari tadi.


Entah karena terlalu bahagia bisa mencapai seribu kata, entah kenapa sehingga tak terpikirkan oleh ku kalau tulisan itu sudah aku kirim ke whatsapp suamiku.


"Makanya, jangan panikan, jangan suka kesal, belajarlah berpikir yang tenang dalam menghadapi masalah!" Ucap suami sambil mengusap lembut kepala ini.


Suamiku memang sangat sabar dan tenang dalam menghadapi masalah. Bertolak belakang dengan ku yang emosional dan grasak grusuk.


Memang benar kata orang, pasangan suami istri itu saling melengkapi. Suamiku memiliki kesabaran yang luar biasa untuk menghadapiku yang emosional dan keras kepala ini.


"Aku semakin malu, dan segera mengulurkan tangan pertanda minta maaf karena tadi sudah sempat kesal kepadanya."


Suamipun menjabat tanganku.


"Ini ayah teruskan ke bunda ya, tapi janji untuk tidur lagi, lihat tuh udah jam berapa!" Ucap suami sambil menunjukk kearah jam dinding di kamarku.


Pesan dari suami masuk.


Akupun tersenyum malu.


Dan segera meletakkan hp di nakas, selanjutnya berlalu tidur mengikuti suami yang sudah lebih dulu merebah dariku beberapa menit. Terdengar dengkuran halusnya pertanda ia sudah kembali mengarungi mimpi indahnya.


***


Adzan bersahut sahutan antara masjid masjid, kokokan ayam jantan tetangga pertanda hari sudah subuh. Alarm hp pun seakan akan tak mau kalah ikut membangunkan mata mata yang masih setia terpejam.


Dengan malas malasan aku segera menyingkap selimut dan segera duduk mengambil benda pipih ini, berniat untuk secepatnya mematikan bunyi alarm sebelum duo bocil terbangun olehnya.


Aku yang sudah mematikan alarm, beranjak berdiri untuk membangunkan suami.


"Yah, bangun yah, udah shubuh!" Sambil berbisik dan menggoyang goyangkan tubuhnya.


Suamipun terbangun, dan duduk sejenak, setelahnya mengambil handuk dan meletakkan di pundaknya, terus berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Aku yang juga ingin segera menunaikan sholat shubuh, segera menuju kamar mandi di luar. Aku tak mau membuang waktu hanya untuk menunggu suami selesai menggunakan kamar mandi. Bisa bisa Aihzan bangun nantinya, dan membuat aku kesulitan bergerak dan mengerjakan aktivitas di pagi ini.

__ADS_1


Selang beberapa menit akupun selesai. Dan suami ternyata sudah selesai terlebih dahulu, dan segera menuju masjid. Memang setiap shubuh suami mengusahakan untuk bisa sholat berjamaah di masjid.


Aihzan yang masih tidur, dengan segera ku tunaikan sholat dan setelahnya bersiap dengan seragam sekolah.


Dan tak lupa mempersiapkan bekal dan barang yang harus di bawa ke sekolah.


Tengah sibuk mengerjakan semuanya. Aihzan terbangun dan di waktu bersamaan ayahnya juga pulang dari masjid.


Ayahnya langsung mengambil alih Aihzan dan membawanya berlalu mengarungi indahnya suasana pagi hari, yang dihiasi dengan kicauan burung yang sibuk berterbangan kesana kemari.


Selanjutnya aku membangunkan Rey dan mempersiapkan ia dengan segala perlengkapan sekolah.


Setengah jam setelahnya, semua sudah berkumpul, dan sudah rapi dengan pakaian masing masing, kamipun segera sarapan.


***


Jam yang menunjukkan sudah jam tujuh, kami segera berangkat, Rey segera menyalami neneknya dan Aihzan, segara bergantian pun Aihzan menyalami aku dan ayahnya, pertanda beberapa saat lagi ia akan ditinggalkan untuk beberapa jam ke depan.


Aku cium pucuk kepala anakku, sambil berpesan.


"Jangan rewel sama nenek ya nak, dan tunggu bunda pulang!" Itulah selalu pesan yang aku sematkan kepada anak gadisku setiap kali aku meninggalkannya.


Ya selama aku bekerja, Aihzan dijaga oleh neneknya. Aku sangat bersyukur masih memiliki orang tua, tapi aku sedih sudah sebesar ini aku masih saja memanfaatkan tenaga orang tua untuk mengasuh anakku.


Kadang aku merasa bersalah sendiri setiap kali terpikirkan ini. Namun ibuk selalu memberikan pengertian selagi ibuk mampu, ibuk tidak keberatan dengan ini, toh hanya menjaga dan menemani main saja. Ucap ibu waktu itu.


***


Lima belas menit diperjalanan akupun sampai di sekolah. Aku tekan pinjerprint, dan segera menandatangani absen manual, setelahnya aku berlalu mengantarkan Rey ke sekolahnya.


Sebenarnya Rey masuk jam delapan, namun karena aku yang hampir setiap hari mengajar di jam pertama. Memaksa aku untuk mengantarkan Rey lebih awal, untung gurunya memaklumi kondisiku dan setuju untuk Rey datang sebelum waktunya.


Di depan pintu sebelum aku masuk ruang kantor aku berpapasan dengan wakil kurikulum.


"Pagi Pak!" Sapaku.


"Iya, ah iy Ndri, kamu ngajar pagi ini?" Tanyanya balik.


"Iya Pak," Jawabku.


"Kosongnya jam berapa?" Tanya nya lagi.


"Jam kelima pak, setelah istirahat," jelasku lagi.


Aku mulai cemas disini, kenapa aku ditanyaain sampai jam jam kosong. Aku memang tipikal orang yang cemasan kalau sudah dipanggil atau dihubungi oleh pejabat pejabat di sekolah tempat aku mengabdikan diri hingga hampir sepuluh tahun ini. Aku takut kalau kalau ada kesalahan ku.


"Owh kalau begitu, nanti temui Bapak di ruangan setelah istirahat ya!" Ucap bapak tersebut dengan tegas.

__ADS_1


Seketika rona wajahku berubah, cemas, ketakutan yang luar biasa. Aku menduga duga apa yang akan disampaikan oleh wakil kurikulum ini.


Bel berbunyi membuat aku melupakan sejenak panggilan Bapak tadi, aku segera megambil perlengkapan mengajar dan berlalu menyisiri jalan menuju kelas. Sambil mengayunkan langkah aku masih berpikir ada apa aku dipanggil ke ruangan wakil kurikulum?


__ADS_2