
Aku adalah manta Ardi. Kami pacaran saat masa sekolah menengah atas. Aku sedikit menaruh dendam kepada Ardi. Karena ia yang memutuskanku secara sepihak. Tanpa adanya permasalahan diantara kami. Saat itu aku yang datang ke rumahnya. Bukannya disambut sebagai seorang kekasih ia malah meninggalkanku di rumahnya tanpa sepatah katapun.
Saat itu aku yang belum dipersilahkan masuk ditinggal pergi olehnya dengan alasan mau pergi membeli air mineral. Aku tunggu di depan rumahnya hingga waktu yang cukup lama ia tak juga kunjung kembali. Akhirnya akupun kembali pulang.
Bagai kambing congek. Aku dicuekin. Malu? Jelas saja. Tapi menurutku benci dan kesallah yang lebih dominan.
Sesampai di rumah aku sengaja tak menghubunginya. Aku mencoba mengujinya. Apakah ia merasa bersalah atas perlakuannya siang tadi. Atau hanya diam seperti tak terjadi apa apa saja.
Akhinya pil pahit harus aku telan lagi. Sampai malam. Bahkan haripun sudah berganti. Klarifikasi darinya tak kunjung ada.
Sampai di sekolah aku langsung menemuinya. Ia yang sedang sarapan di kantin sekolah bersama dengan anggota bandnya.
Melihat kehadiranku. Teman yang lainnya seakan memberikan ruang. Mereka mengerti dan satu persatu menghindar. Berpindah ke meja yang lainnya. Yang cukup berjarak dengan meja mereka semula.
Setelah semua pergi. Hanya menyisakan Ardi.
Dengan kesal aku bersuara. Menanyakan kenapa ia meninggalkan aku saat datang le rumahnya kemaren. Dan kenapa tak ada menghubungiku setelahnya. Sampai saat di kantin itu. Bertubi tubi pertanyaan aku lemparkan dalam satu tarikan napas.
Orang yang ditanya malah tak langsung menjawab. Jangankan memberikan jawaban. Responpun tidak. Apalagi menoleh ke arahku. Ia anggap kedatanganku dan ocehan pertanyaan ku tadi hanya angin lalu saja.
Kesal yang sudah berdesak desakan untuk dikeluarkan. Akhirnya aku pun tak mampu menahan gejolak perasaan. Kecewa. Sakit hati. Sedih. Kesal. Bercampur aduk dalam diri.
Akupun membentaknya. Hingga semua pengunjung kantin saat itu menoleh ke arahku. Akupun tak tau lagi rasa apa yang aku rasakan saat itu. Wajah yang sudah memerah. Karena malu dipelototin oleh berpasang mata.
Dan aku lebih malu lagi. Setelah Ardi bersuara. Dengan tenangnya. Dengan entengnya ia berucap kita sudah tak memiliki hubungan apapun lagi. Jadi berhenti meminta penjelasan apapun padaku. Kita putus. Tegasnya saat itu.
__ADS_1
Setelah mengucapkan dua kata yang mampu membuat hatiku menjerit. Mungkin diputuskan tak seberap meninggalkan bekas di hati. Biasa. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi yang lebih membuat hati tergores luka. Aku diputuskan disaat berpasang pasang mata tertuju kepadaku.
Sementara Ardi berlalu meninggalkan ku dengan seribu rasa dihati. Linangan air mata tak mampu lagi aku bendung.
Ku kepalkan tangan bukti dari gejolak emosi yang aku rasakan.
Sejak saat itu, aku tak ada lagi berkomunikasi dengan Ardi. Hingga akhirnya kami menamatkan pendidikan di sana. Di hati terselip dendam dari goresan halus yang ia torehkan di hatiku.
Namun jikapun ia meninggalkan sakit di hati. Rasa cinta berubah jadi benci. Tapi tak munafik di lubuk hati sana masih terukir namanya. Walau samar. Maka dari itu aku masih saja mengikuti perkembangannya.
Informasi yang ku tahu. Ardi melanjutkan pendidikannya di luar kota. Dan informasi tentang kekasihnyapun sampai ke telingaku. Kekasihnya setelah ku itulah dia Indri. Hingga ke wanita yang bernama Indri. Yang sekarang mengisi hati Ardi, menjadikan aku juga menyimpan dendam padanya.
Aku yang tak melanjutkan pendidikanku. Dan sudah sibuk dengan kehidupanku. Hingga akhirnya aku menikah dengan seorang laki laki.
Diperjalan mengarungi bahtera rumah tangga dengan laki laki pilihanku. Aku mendapat informasi kalau perekonomian Ardi merosot. Usaha kue orang tuanya bangkrut. Aku sempat bahgia saat itu. Jahat memang aku. Tapi menurutku lebih jahat lagi Ardi. Mendengar kabar itu sepertinya dendamku terbalaskan. Senyum terkembang dibibirku.
Rumah tanggaku akhirnya hancur ditangan seorang pelakor. Suamiku terjebak pesona pelakor hingga memilih meninggalkan ku dan seorang anak yang jantik jelita. Yang masih berusia satu setangah tahun. Pernikahanku memang sudah terbilang lama. Tapi kami lama diberikan amanah. Suami tak memikirkan persaanku. Bahkan tak memikirkan apa jadinya efek perkembangan mental gadis kecilku karena perbuatannya.
Aku kembali merasakan kecewa yang kedua kalinya dari orang yang benar benar aku cintai.
Hatiku semakin rusak. Hingga dendam tumbuh dengan pesatnya.
Baru saja perpisahan kami resmi. Aku mendapat informasi dari teman menyampaikan kalau sekarang Ardi sudah sukses dengan usahanya.
Mendengar kabar itu. Hatiku sedikit kecewa. Hatiku sakit terhadap kebahagian yang Ardi dapatkan. Mendapatkan istri yang begitu setia menemani Ardi dalam keterpurukan. Di samping ia juga wanita karier. Tak sama sepertiku yang hanya ibu rumah tangga.
__ADS_1
Dendam yang dulu mulai mereda seakan kembali membesar.
Aku intip sosial media Ardi. Benar saja. Postingannya semua tentang usahanya.
Semakin penasaran hingga aku sengaja datang untuk memastikan kabar yang baru ku dengar. Aku datang dengan berbagai perlindungan diri. Agar mereka tak mengenaliku. Aku gunakan masker. Ku pakai celana jeans dan atasan switer. Tak lupa juga topi dan kaca mata hitam. Agar penyamaranku lebih sempurna.
Di sana aku justru mendapatkan kenyataan pahit lagi.
Aku melihat usahanya sangat maju sekali. Dan yang paling memilukan hati. Aku melihat adagen kemesraan Ardi dan Indri. Mereka bersantai menikmani sore di teras depannya. Dengan anak anaknya. Bersenda gurau. Mereka bahagia sekali.
Melihat pemandangan itu hatiku bertambah perih. Perasaan yang bernama dendam semakin membesar.
Tanpa aku sadari ternyata ada seseorang yang memperhatikan gerak gerikku selama memperhatikan Ardi dan Indri.
Ia laki laki yang berpenampilan hampir sama denganku. Menggunakan masker. Kaca mata dan topi bertengger di kepalanya. Ia mempertanyakan sedang apa aku di sana. Jika aku ingin berada di zona aman, lelaki misterius itu meminta aku mengikutinya. Kalau tidak ia mengancam akan melaporkan aku kepada Ardi dan Indri.
Tak punya pilihan akhirnya aku mengikuti laju mobilnya dengan menggunakan sepeda motor maticku.
Hingga ia menghentikan laju motornya di parkiran sebuah cafe yang tak jauh dari rumah Ardi dan Indri.
Ada sedikit rasa takut ku terhadap lelaki itu. Tapi aku tak punya pilihan dari pada ia melaporkan penyelidikan ku kepada Ardi dan Indri. Maka itu akan membuat aku semakin malu. Akhirnya aku mengikuti titah laki laki yang sama sekali tak ku kenali. Toh orang ramai. Gak mungkin juga ia berbuat jahat. Kecuali ia mengajak aku ke tempat yang sepi.
Sesampai di dalam cafe. Aku duduk berhadapan dengan lelaki misterius itu.
Ia menyodorkan tangannya ke arahku. Memperkenalkan namanya. Aku pun menyambut salamnya dan memperkenalkan namaku juga.
__ADS_1
Setelah bicara banyak. Ternyata kami memiliki misi yang sama. Sejak saat itu kami bekerja sama untuk satu tujuan.