
"Bu kue kue saya kemana bu?"
"Oh nak Ardi sudah datang, syukurlah ibu sudah menunggu dari kemaren." Tak menjawab pertanyaan Ardi.
"Iya bu, saya mau ganti kue kue, tapi kuenya kemana bu?" Mengulang pertanyaan yang sama.
"Ya habis terjual lah nak, nak Ardi ini gimana? Masa iya kuenya habis bu Aty buang?" Ucapnya sambil senyum senyum.
"Jadi semua kue saya habis bu?" Antusias.
"Iya nak, alhamdulillah habis, ada ibu ibu di perumahan depan, awalnya dia membeli tiga puluh bungkus saja, untuk jamuan ada keluarganya yang datang. Nah karena enak, dia kembali kesini dan memborongnya, katanya untuk dijadikan oleh oleh yang akan dibawa keluarganya itu." Terang bu Aty.
"Masya Allah, alhamdulillah, syukurlah bu."
"Iya nak, percayalah selagi kita masih mau berusaha, pasti Allah akan memberikan jalannya nak, jangan putus asa, nah sekarang ada berapa lagi nih kuenya?
"Ah iya bu, terima kasih ya bu, ini kue sekarang ada seratus bungkus lagi bu, dan ini untuk bu Aty buat menemani jagai warung." sambil menyerahkan kue ke tangan bu Aty.
"Ah nak Ardi, jadi ibu dapat rezeki juga nih, terima kasih ya, semoga kuenya nanti laris manis. Nah, ini uang penjualan kemaren, dari tiga ratus bungkus, jadi uangnya empat ratus delapan puluh ribu ya." Ucap bu Aty sambil tersenyum ramah dan menyerahkan uang.
"Amin, sama sama bu." kalau gitu aku balik dulu ya bu." Menerima uangnya, dan segera menuju motor.
Suamipun melajukan motornya dengan perasaan yang luar biasa senangnya, ia langsung menuju ke toko tempat biasa ia membeli bahan bahan kue, karena ia yang selalu membeli bahan bahan kue, ia sudah hafal apa saja yang akan ia beli. Setelah merasa lengkap, ia langsung melaju pulang. Hendak mengurusi ikan ikannya, sambil menunggu Indri pulang.
"Aku sudah gak sabar nunggu bunda pulang untuk menyampaikan kabar bahagia ini." Gumamnya dalam hati.
***
Haripun sudah menunjukkan jam setengah tiga. Ia segera membersihkan diri dan beranjak untuk menjemput Indri ke sekolah.
Mengantar jemput Indri ke sekolah sudah menjadi rutinitas hari hari bagi Ardi. Hingga tanpa komando, bila sudah waktunya ia akan melajukan motornya menuju sekolah Indri, dan gerbang sekolah menjadi saksi bisu pertemuan mereka hampir setiap harinya.
Dari kejauhan Ardi sudah melihat Indri berjalan bergandengan tangan dengan Rey mendekatinya.
"Sudah lama menunggu yah?"
"Gak juga, kalaupun lama tidak jadi masalah, orang nungguin istri setia dan anak ganteng ini gak berasa apa apa meskipun lama buanget." Sambil tertawa bahagia.
"Eleh, gayanya, si ayah kayaknya bahagia bangat tu Rey, ada apa gerangan yang membuat ayahmu sebahagia ini Rey?" Akupun mulai menyelidik.
Yang ditanya hanya senyum senyum sambil naik ke atas motor.
__ADS_1
Aku pun segera naik, dan bang Ardi mulai menghidupkan motor dan melaju membelah jalan menuju pulang.
"Bund, bunda tau gak, tadi ayah ke warung bu Aty, dan ternyata...." ucapnya menggantung kalimatnya.
"Ternyata apa yah? Kue kita masih gak laku disana?" Ucapku menebak hal jelek.
"Iya bund...." suami menjawab dengan lesu.
"Ya sab..." belum selesai aku melanjutkan pembiacaraan, suami sudah langsung menyambar.
"Tapi boong." Ucapnya sambil semangatnya, sampai sampai pengendara disekitar kami semua melihat ke arah kami.
Suamipun malu, dan memperlihatkan senyum manisnya ke pengendara yang tadi melihat ke arah kami, setelahnya ia langsung menggas motor dengan kecepatan tinggi, ia memilih menjauh karena malu. Setelah sedikit jauh, suamipun kembali memelankan laju motornya.
"Jadi gimana yah? Di warung bu Aty tadi?" Aku kembali membahasa hal yang tadi.
"Kira kira bunda, bagaimana?"
"Gak tau yah, kalau aku sih berharap habis semua."
"Alhamdulillah harapan bunda hari ini terwujud, kue kue kita habis disana bund,"
"Benerana yah?" Masih tak percaya.
"Eleh gaya ayah, yadeh bunda percaya, alhamdulillah ya yah, berkat kesabaran kita, makin semangat ini bikin kuenya nanti."
"Iya bund, harus selalu semangat, biar hasilnya gak mengecewakan, ayah tadi juga sudah beli bahan bahannya bund."
"Wah memang cekatan nih, suami idaman, tanpa disuruh sudah dikerjakan."
"Ah iya donk.... ayah sudah memikirkan itu sebelum bunda mengatakannya, makanya ayah lebih dulu selangkah dari bunda." Ucapnya kembali membanggakan diri.
"Iya deeh suami idaman...."
"Hahahha... bunda juga istri idaman, setia juga."
"Sepertinya ayah dan bunda bahagia bangat hari ini? Rey ikut senang." Rey pun bersuara, yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan ayah dan bundanya.
"Alhamdlillah Rey, semua kue kue kita di warung Bu Aty habis terjual." Suamikupun menjelaskan.
"Wah, alhamdulillah yah, berarti ayah dan bunda sekarang udah banyak donk uangnya? Berarti udah bisa juga belikan Rey pensil warna donk yah? Bund?"
__ADS_1
Kami seketika ingat selalu menjanjikan akan membelikan pensil warna bila sudah punya uang lebih.
"Gimana yah? Ada uangnya? Kalau ada kita belikan saja." Ucapku sambil berbisik kesuami.
"Ada bund, ayah rasa cukup hanya untuk membelikan pensil warna dan buku mewarnai saja."
"Ya udah kita mampir dulu ke toko buku sebelum pulang yah."
"Rey beneran mau beli pensil warna?" Ayahnya kembali memastikan keinginan Rey.
"Kalau memang sudah ada uang ayah dan bunda, iya yah, Rey sudah lama kepengen punya pensil warna dan buku mewarnainya. Kan yang di sekolah gak boleh dibawa pulang."
Di sekolahnya Rey memang sudah disediakan perlengkapan belajar bagi masing masing siswa. Tapi hanya boleh dipergunakan di sekolah saja.
"Yasudah kita mampir di toko buku di depan ya!"
"Ye, Rey senang bangat yah, bund." ucap Rey memperlihatkan wajah bahagianya.
"Sebentar lagi Rey punya pensil warna dan buku mewarnai yang sudah dari lama Rey impikan." Ucapku.
"Iya bund, terimaksih ya ayah, terima kasih ya bunda."
***
Sama seperti malam malam sebelumnya, kami masih terjaga hingga larut malam, suami yang sedang asyiknya menggoreng, sementara aku kembali berkutat melanjutkan tulisan.
Tanpa disadari, sekarang tulisan ku sudah mencapai hampir lima puluh BAB, hampir tamat juga. Sejak aku mulai menulis di aplikasi hingga sekarang, yang mewajibkan seribu kata per BABnya, yang awalnya aku merasa tak akan sanggup, namun ketakutan itu semua sirna. Kalau kita sudah punya ide, menulis bagaikan air mengalir saja, bagaikan ada ilmu megicnya, tak terasa sudah seribu kata saja.
Aku kembali mencoba promo di komunitas menulis disalah satu sosial mediaku, karena tulisanku diaplikasi masih sepi pembaca.
Ya sekarang sosial mediaku tak lagi dipenuhi oleh postingan postingan para tetangga, namun semua berandaku sudah dipenuhi oleh komunitas menulis dan komunitas ikan hias.
Sosial media suamipun seperti itu, kami sengaja, agar di antara kami bisa saling memberikan komentar disetiap postingan promo di masing masing komunitas. Agar postingan gak tenggelam begitu saja.
Suami yang juga sudah mulai mempromosikan ikan ikannya, yang sudah hampir mau panen. Tak sengaja mataku melihat komentar dari seseakun.
Tiba tiba.... akupun berteriak, hingga suami yang tengah asyik menggoreng ikut kaget.
***
Mohon like, dan tinggalkan jejak ya kk.
__ADS_1
Author baru ini sangat butuh dukungan agar lebih semangat.