Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Peringatan : 10 BAB dalam 3 Hari?


__ADS_3

"Apaan sih yah? Teriak teriak. Udah malam ini." Ucapku sedikit kesal karena ulah suami.


"Ini bund." Masih sambil menunjuk nunjuk ke arah ponselnya, dan mengarahkannya kepadaku.


Aku mengambil alih ponsel. Sekarang ponsel berada digenggamanku. Aku memposisikan diri duduk dan menyender ke kepala tempat tidur. Segera ku teliti yang tertera di layar ponsel. Terlihat disana chatt pribadi suamiku dengan pembeli dari Singapura.


[Ok. Ku tunggu bos, semoga selamat sampai di sini, dan hasilnya memuaskan.]


Itu chat pertama yang belum sempat dibalas suamiku. Setelahnya sudah ada pesan masuk lagi. Ternyata sebuah foto. Aku sentuh foto, sesaat aku lihat, dan yang paling menarik perhatianku adalah tampilan angka angka 10.797.300. Ternyata ini bukti transferan.


"Ayah? Ini serius? Ini gak mimpikan?" Ucapku tak kalah kaget dari suami. Seketika aku mencubit pipi.


"Aduh. Sakit. Ayah ini beneran? Orangnya sudah transfer lunas untuk barang yang masih ditangan kita?" Ucapku tak percaya namun ada binar binar bahagia.


"Iya bun. Ayah juga gak percaya. Tunggu ayah cek BRIMO ayah dulu." Sambil mengotak atik ponselnya menuju menu BRIMO.


"Gimana yah?" Desakku tak sabaran.


"Belum bund. Masih loading. Sabar bund."


"Penasaran yah." Ucapku nyengir.


"Benaran bund. Saldo ayah sepuluh jutaan." Ucap suami terlihat sangat bahagia.


"Beneran yah? Alhamdulillah..." ucapku benar benar bersyukur.


"Iya bund, alhamdulillah bangat. Sini bund, ponselnya, ayah balas chatt si agannya dulu." Sambil mengarahkan tangannya ke arah ponsel yang berada di tanganku.


Aku pun memberikan ponsel. Dan masih diliputi perasaan yang teramat bahagia.


[Amin, semoga selamat.] Suami membalas pesan pertamanya.


[Eh gan? Udah ditransfer? Kan barangnya masih besok dikirim?] Menanggapi pesan bukti transferan.

__ADS_1


Tak menunggu lama. Pesan suami langsung centang biru. Dan terlihat ia sedang mengetik.


[Gak apa apa bos. Kan besok bakalan dikirim juga. Kalau pesanannya gak nyampai juga disini dalam waktu lima belas hari, si bosnya tinggal transfer balik kesini.] Balasnya dengan membubuhkan emoticon nyengir.


[Pasti gan. Besok dikirim. Terimakasih sudah mempercayai pesanan sama saya gan. Semoga barang saya gak mengecewakan si agan nantinya. Yang terpenting semoga jadi langganan.] Balas suami dengan membubuhkan emoticon tempelan tangan seperti mengucapkan terima kasih.


[Kalau barangnya berkualitas, pasti akan ada orderan orderan berikutnya bos.]


[Ok. Semoga pesanannya cepat datang.]


Dibaca dan tak ada lagi balasannya.


"Ayah. Berarti kita sudah bisa bikin kue untuk ke tempat Jhasril yah?" Aku bersemangat sekali.


"Jangan dulu bund. Bunda masih baru sembuh. Dan juga, pesanan kita belum sampai di tangan pembeli. Ayah mau gunain uang ini kalau pesanan sudah sampai di tangan pembeli. Takut nanti ada kendala, dan kita diharuskan mengembalikan uang. Sementara uangnya sudah habis terpakai. Kan berabe juga bund. Kita mau kembaliin pakai apa nantinya? Ayah gak mau ambil resiko bund." Ucapnya memberikan alasan.


Benar juga, aku juga setuju dengan pendapat suami.


"Yadah tidur lagi bund, udah larut malam."


"Iya yah, dan mudah mudahan paketnya cepat nyampai disana, biar cepat juga cincin ku kembali." Ucapku berdesis namun masih terdengar jelas oleh suami. Buktinya ia langsung menyahut.


"Iya bunda sayang... ayah pasti tepatin janji kok, jangan cemas. Ayah ganti doble malahan." Ucapnya sambil menyelimuti tubuh ini.


***


Hari ini adalah hari minggu. Hari bersantai bagi Indri. Pagi pagi sambil menikmati sarapan di teras samping, sambil melihat Ardi tengah sibuk memeberi makan ikan ikannya.


Ardi yang kebiasaannya tak mementingkan sarapan. Ia hanya butuh segelas kopi dan sebatang rokok menemani paginya. Setelahnya ia akan sibuk dengan kegiatan hari harinya.


Tinggallah Indri dan anak anak duduk di kursi teras sambil menikmati sarapan masing masing.


Selang beberapa menit. Semua sarapan habis tak bersisa. Kini cacing diperut mereka seakan bersorak sorai gembira karena nutrisinya telah terpenuhi.

__ADS_1


Rey dan Aihzan yang tengah asyik dengan mainan masing masing. Kini Indri mengambil benda pipihnya, berniat menggenggam dunia sejenak untuk membuang rasa jenuhnya.


Tak berapa lama menyelam di sosial media berlogo F, kemudian ia teringat dengan tulisannya yang sempat terbengkalai karena sakit. Ia ingat sudah hampir tiga minggu ia tak lagi pernah membuka aplikasi aplikasi onlinenya, yang padahal sebelum ia sakit, aplikasi aplikasi tersebut bagaikan bagian hidupnya.


Ia buka aplikasi novel online berwarna hijaunya. Ia aktifkan email khusus untuk aplikasi novel. Memang ia memiliki dua akun email di satu ponsel. Yang satunya email untuk aplikasi novel online, dan email yang satunya lagi untuk data data berhubungan dengan pekerjaannya di dunia nyata.


Sesaat setelah email aplikasi novel onlinenya diaktifkan, bertubi tubi notifikasi masuk. Ia penasaran dengan yang masih saja berdenting seolah olah berdesak desakan masuk ke kotak emailnya.


Perlahan ia buka satu persatu. Ternyata dari editor novelnya yang memberi tahukan peringatan karena tak lagi update selama hampir sebulan.


[Hai, Indriani Putri, jika akhir bulan ini kamu tak lagi update minimal setiap harinya satu BAB, maka novelmu gagal untuk direkomendasikan. Masih ada sisa waktu tiga hari lagi sebelum bulan ini berlalu, silhkan update minimal sepuluh BAB dalam tiga hari ini, maka sistem akan merekomendasikan novelmu di halaman beranda aplikasi!]


Itulah bunyi peringatan yang masuk ke emailnya.


"Ya ampun novel pertamaku terancam. Jika aku tak menyelesaikannya sepuluh BAB dalam waktu tiga hari uni, maka novelku tak akan mendapatkan apa apa di aplikasi ini." Gumamnya.


Secepat kilat ia memainkan jemari di layar ponsel, langsung menuju menu whatsapp.


[Pagi kak, kak maf sebelumnya, aku ingin menyampaikan alasan kenapa aku tak pernah update cerita selama benerapa minggu kebelakang ini. Itu semua karena aku sakit, dan diharuskan untuk banyak istirahat, kesalahanku aku lupa mengabari kakak. Kak akan aku usahakan agar bisa update cerita sepuluh BAB dalam tiga hari ini, asalkan ceritaku bisa lanjut dan direkomendasiin di aplikasi ini.]


Pesan ku kirim ke pada salah satu editorku. Namun karena hari minggu, aku hanya dapat balasan otomatis.


[Terima kasih sudah hubungi kami. Kami hari ini sedang berada di hari libur. Kami akan segera membalas pesan dalam waktu jam kerja ya! Jam kerja Senin - Jumat 09.00 - 18.00.]


"Aduh. Lupa inikan hari minggu." Gerutuku sambil menepuk jidat.


"Kenapa bund?" Ucap suami mengagetkanku yang langsung duduk di kursi sebelah dan meraih gelas kopinya yang masih tersisa.


"Ah ayah bikin kaget aja. Gak tau orang lagi panik apa?" Ucapku ketus.


"Panik kenapa?" Ucapnya sambil menatap manik hitam ini.


"Aku dapat peringatan agar menyelesaikan dan update sepuluh BAB dalam tiga hari ini, kalau tidak novelku tak bisa lagi lanjutkan di aplikasi tersebut." Ucapku dengan perasaan yang campur aduk, sedih, kecewa, tapi aku masih ingin mengusahakan agar bisa merangkai kata menjadi sebuah tulisan, untuk menyelamatkan nasib karyaku.

__ADS_1


__ADS_2