
Di sekolah aku teringat kejadian sebelum berangkat tadi. Aku cerna kembali ucapan demi ucapan Cita, yang menarik hatiku, Cita menuduh aku yang merebut bang Ardi darinnya. Dan juga ucapannya lagi ia tak terima ditinggalkan suamiku dulu. Sedikit menggelitik, suamiku yang tak setampan opa opa korea mampu menghipnotis seorang Cita Rahayu, hingga sudah bertahun tahun bahkan sudah memiliki keluarga masing masing, tiba tiba ia masih saja mengejar suamiku.
Masih menjadi teka teki bagiku. Apakah suamiku benar benar selingkuh atau hanya ini jebakan Cita semata.
Jika bukti ku turuti maka mengatakan suamiku benar benar selingkuh. Mulai dari foto yang sensitif. Tak sesuai dengan pengakuan suamiku. Jika Cita pingsan. Kenapa di dalam foto hanya mereka berdua? Entahlah. Ku buang pikiranku tentang masalahku.
Kembali ku buka aplikasi novel onlineku disela sela waktu kosong jam mengajarku.
Aku kembali melanjutkan ceritaku. Ini novel ketiga ku. Dari dua novel sudah hampir setahun belum ada yang menghasilkan. Sekarang aku tak lagi berharap novel ini untuk menghasilkan cuan. Aku menulis hanya sebatas untuk mengeluarkan emosi dan hobi yang meronta ronta untuk disalurkan. Kecuali nanti aku benar benar bercerai. Maka aku berharap penghasilan dari novelku mampu untuk membantu aku menyambung hidup tanpa suami.
Tak munafik, dulu disaat ekonomi kami susah memang, menulis salah satu tumpuan untuk menambah penghasilan. Tapi aku tak berhasil disini. Namun tak juga putus asa. Kini ekonomi yang sudah jauh lebih baik dari usaha suamiku. Membuat aku menulis hanya untuk menyalurkan hobi, sudah menjadi kebiasaan jika satu malam saja aku tak menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan, maka akan terasa ada yang kurang.
Aku tak pernah lagi mencek email ku tentang info aplikasi novel online. Bahkan aku tak pernah mencek lagi isi rekeningku, rekening itu khusus untuk menerima pendapatan dari novelku. Karena memang aku tak mengharapkan itu semua dari novel lagi.
Aku lanjutkan novel ketiga ku yang sudah hampir tamat, kebetulan isinya yang tentang kesedihan. Jadi sangat tepat sekali aku tulis saat suasana hatiku yang lagi bersedih. Jadi penjiwaannya dapat. Hingga kalimat demi kalimat dengan mudahnya muncul dipikiran.
***
Hubungan kami yang tak hangat seperti dulu. Hanya dilalui dengan banyak diam. Namun aku tak mau semua ini mengganggu usahaku. Aku yang sadar diri tak akan bisa menghidupi kedua anakku tanpa suami. Untuk itu aku masih saja membuat kue untuk mengisi toko oleh oleh Jhasril, dalam keheningan aku membuat kue, suami yang melihat aku mengaduk kue, tanpa kuminta ia selalu membantu. Akupun yang butuh bantuan tak melarangnya. Hanya saja dalam kondisi yang berbeda. Hubungan kami sangat dingin sekali.
"Ndri ibuk mau bertanya." Ucap ibuk suatu sore saat aku sedang di dapur.
Darahku berdesir, bagaimana kalau ibuk bertanya tentang rumah tanggaku.
"Tanya apa buk, tanya saja!" Ucapku sambil jantung berdebar.
"Kenapa ibuk menangkap perubahan sikap antara kalian berdua? Apa yang terjadi?" Ibuk menyelidik.
__ADS_1
Benar saja yang aku takutkan terjadi. Ibuk menangkap sinyal yang tak bagus dari hubungan kami.
"Biasa saja buk, mungkin karena capek saja. Kami gak ada masalah kok." Sambil tersenyum dipaksakan agar ibuk tak lagi curiga.
Ibuk menatap manik mataku lekat, sesaat mataku dan mata ibuk beradu. Ibuk merangkul tanganku dan membawaku duduk di kursi makan.
"Ndri jangan bohong, sorot matamu mengatakan kalian sekarang sedang ada masalah, ibuk orang tuamu. Orang yang membawamu dalam kandungan selama sembilan bulan sepuluh hari. Seoarang ibu akan tau perasaan apa yang sedang anaknya rasakan. Ceritalah!" Ucap ibuk lembut.
Aku tak menjawab ucapan ibuk. Air mata menetes tanpa diminta. Raut kesedihan begitu jelas di wajahku.
Ibuk mengusap punggungku. "Ceritalah nak! Mana tau ibuk bisa bantu." Ucap ibuk lembut.
"Buk bang Ardi se seling-kuh." Ucapku terbata.
Manik mata ibuk mendelik. Seakan tak percaya dengan yang aku bilang barusan.
"Entahlah buk, semua bukti yang dikirim seseorang kepadaku membuat aku yakin. Tetapi bang Ardi masih mengelak dan mengatakan itu jebakan. Ia mengaku tak pernah selingkuh. Tapi jelas dibukti yang dikirim seseorang itu. Bukti itu juga menampilkan bang Ardi akan bersandiwara dulu, agar aku tak lagi curiga dan mempercayai kalau bang Ardi setia padaku. Aku bingung buk!" Aku menangis dalam pelukan ibuk.
"Jangan gegabah dulu. Ingat nak, semakin tinggi perjalanan kita semakin kencang angin kehidupan. Kamu harus tau itu. Belajar lebih teliti lagi menyikapi sesuatu. Ibuk kurang yakin dengan tuduhan itu." Jawab ibuk menasehati. Dan sepertinya ia meyakini kesetian bang Ardi.
Tapi aku tak menjelaskan tentang foto foto, bukti transferan dan hasil screeshot chatingan bang Ardi dengan wanita itu, karena susah juga menjelaskan, karena ibuk sudah tua.
Aku bersyukur ibuk masih mempercayai bang Ardi, setidaknya itu tak akan membuat ibuk kepikiran terlalu dalam. Biarlah aku mencari tau kebenaran ini sendiri. Aku berdoa agar secepatnya masalah ini bisa selesai. Jikapun aku mendapatkan kebenaran bahwa suamiku sudah selingkuh. Maka keputusanku adalah bercerai.
Apapun yang aku dapati nanti itulah yang terbaik untukku. Bathinku.
"Iya buk, semoga saja demikian, dan hubungan kami kembali membaik." Ucapku sambil menyeka air mata disudut mataku.
__ADS_1
Tiba tiba aku teringat untuk menghubungi nomor yang mengirim tentang perselingkuhan suamiku.
Tapi aku sedikit bermain cantik, aku hubungi nomor whatsapp itu dengan nomor lain, bukan dari nomor whatsapp pribadiku. Melainkan dari ponsel satu lagi, ponsel lamaku, yang sekarang sudah rusak, namun masih bisa digunakan untuk anak anak sekedar menonton youtobe kids kesukaan mereka.
Ku ketik nomornya di ponsel itu, ku tekan simbol gagang telfon. Sebelumnya aku sengaja menghapus foto profil whatsapp di ponsel ini, dan ku hapus juga semua yang bisa membocorkan identitasku. Tak terlihat disana ada foto profil, tut tut tut tut.... tak ada jawaban. Hingga ku akhiri panggilan.
Aku kembali sibuk melanjutkan tulisan di aplikasiku. Selang beberapa menit setelah panggilanku tadi. Ponsel tersebut berdering.
Kulihat ternyata notifikasi whatsapp pertanda ada pesan masuk. Segera kubuka. Ternyata dari nomor yang sempat ku panggil tadi.
[Apakah tadi menelfon?]
Aku bingung mau jawab apa. Aku berpikir keras harusnya menjawab apa. Agar aku tau siapa pemilik nomor itu. Akhirnya aku punya ide.
[Iya, kok kamu gak angkat Des? Nanti aku telfon lagi ya, sekarang sedikit sibuk.] Balasku pura pura pesan ku tujukan kepada teman yang bernama Desi.
Pesanku langsung centang dua. Sedetik langsung bewarna biru. Terlihat dia sedang mengetik.
[Wah kamu salah orang ini bukan Des yang dimaksud.] Balasnya lagi.
Aku pun segera membalas.
[Wah salah ya, apa aku salah ketik salah satu digit nomor temenku? Kalau boleh tau ini siapa? Apa suaminya?] Alasanku berusaha mengecoh, berharap ia memberi tahu namanya.
Terlihat ia mengetik kembali setelah pesanku ceklis bewarna biru.
[Saya tidak kenal dengan Des yang kamu maksud, saya Ronal tinggal di kota X, jadi kamu salah orang.] Balasannya.
__ADS_1
Seketika aku kaget. Jadi ini Ronal???