
"Bund, bunda gak bisa seperti ini. Bunda harus dengarin penjelasan ayah. Jika perlu kita temui Cita Rahayu itu. Ayah gak mau rumah tangga kita berantakan apalagi sampai terjadinya perceraian bund." Racau suamiku.
"Tapi aku sudah tak butuh penjelasan darimu lagi, karena bukti semuanya sudah ada di sini." Ucapku lantang sambil mengangkat ponselku mengudara tepat di depan wajah suami.
"Tapi itu bukti gak benar bund. Itu jebakan. Ayah sama sekali gak membalas pesan itu. Kalau bunda gak percaya bisa bunda cek ponsel ayah. Ini silahkan bunda cek sendiri!" Balas suami juga dengan lantang, sambil mengarahkan ponselnya ke arahku.
"Gak perlu dicek atau apalah namanya, bisa jadi kamu sudah hapus riwayat balasanmu. Sudahlah aku tak akan percaya lagi dengan segala bentuk pembelaanmu. Sudah terbukti di screenshot chat kalian kamu mengatakan akan bersandiwara agar aku tak curiga. Jadi penjelasan apa lagi yang mau kamu berikan ha?" Aku membentaknya berapi api.
"Tapi demi Allah. Ayah gak ada ngirim pesan itu bund. Percayalah!" Suami menatap manik mataku.
Sesaat aku terpana. Bimbang. Namun dengan cepat ku tepis perasaan itu.
"Oke kalau kamu memang gak balas pesannya. Dan itu hanya manipulasi, jebakan. Atau apalah namanya, terserah. Tapi bagaimana dengan foto ini?" Aku kembali tersulut emosi saat memandangi foto itu.
Difoto itu terlihat suami merangkul, menggend*ng, memel*k, bahkan jarak mereka hanya menyisakan beberapa centi saja.
"Bunda oke. Ayah jelaskan tentang foto ini. Itu benar ayah. Tapi ayah melakukan itu karena ia tiba tiba pingsan, dan posisi Cita itu di dekat ayah. Secara spontan ayah menangkap tubuhnya yang hendak ambruk ke lantai. Dan teman teman miminta ayah mengangkat dan mengantarkannya ke kamar tamu rumah Noni, karena memang kami mengadakan pertemuan reunian di situ. Dan itu tidak ayah sendiri semua teman teman mengikuti ke kamar saat ayah mengantar Cita ke kamar. Tapi kenapa tiba tiba di sana semua teman yang ikut masuk ke kamar itu tak terlihat? Dan siapa juga yang sudah memoto adegan itu. Hingga fitnah terjadi seperti ini." Suami menjelaskan tentang foto itu.
__ADS_1
Tapi aku masih tak percaya.
"Hello.... Ayah aku gak bodoh ya! Mana mungkin tangan orang pingsan bisa berpegangan di pinggang dan bahumu? Bukankah orang pingsan jika digend*ng atau diangkat tangannya akan terkulai ke bawah? Dan juga kenapa posisi wajah kalian begitu dekat? Apa harus sedekat itu? Pembelaan murahan apa yang kamu lakukan ha?" Ucapku menatap tajam ke arah suami.
Suami kembali meneliti foto yang berada di ponselku. Ia teliti satu per satu foto tersebut.
"Iya, berarti pingsannya juga jebakan untuk ayah bund." Masih membela dan yakin ini semua jebakan.
"Oke itu jebakan. Terus struk bukti transferan ini apakah juga jebakan?" Aku rampas ponsel dengan kasar dari tanganya dan kembali mengulik ponsel, mencari struk bukti transferan yang dikirim nomor tak dikenal itu juga.
"Ini benar bund. Ayah memang mengirim uang ke rekening dia, karena dia meminjam uang, katanya ia lagi kesulitan ekonomi. Karena baru saja ditinggal sua...."
"Iya, tapi bunda harus percaya kali ini sama ayah. Ayah yang pernah merasa kesusahan ekonomi, merasa kasihan dan langsung meminjamkannya. Cuma itu alasan ayah meminjamkannya bund. Hanya sebatas ingin membantu. Tapi ayah tau disini ayah ngaku salah, karena tidak izin sama bunda. Ayah minta maaf bund. Percayalah ayah tak pernah melakukan hal yang bunda tuduhkan. Ayah masih memegang janji setia bund." Suami mengiba.
Namun aku tak peduli dan tak percaya sama sekali.
"Dengan nominal sebanyak itu? Kamu meminjamkan kepada orang lain, kepada mantanmu lagi. Kenapa bisa kamu tak memberitahuku? Jika kamu meminjamkan kepada keluarga atau saudara lainmu, mungkin aku bisa terima tanpa kamu memberitahuku terlebih dahulu. Tapi ini kepada mantanmu? Coba jika semua itu aku yang melakukan? Aku meminjamkan kepada mantanku tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Apa kamu bisa terima?" Tudingku kasar.
__ADS_1
"Tapi ia mendesak bund, katanya butuh saat itu juga. Ayah berniat sesampai di rumah baru akan memberi tahukan kepada bunda."
"Didesak? Kamu kan bisa whatsapp aku terlebih dahulu. Ini zaman now bos Ardi terhormat." Aku semakin kesal
"Iya itu lah salah ayah bund, ayah minta maaf." Ucapnya sambil meraih tanganku.
"Aku tak sudi lagi disentuh oleh pengkhianat sepertimu. Silahkan keluar dari sini!" Aku elakkan tanganku yang hampir diraihnya dan kembali mendorongnya agar keluar.
"Aku gak akan keluar selangkahpun dari rumah ini sebelum ada surat kuning diantara kita. Jika surat itu sudah ada tanpa paksaan aku akan keluar dari rumah ini, dan tanpa membawa apapun. Aku gak butuh pakain dua tas besar ini. Aku hanya akan keluar dengan pakain ditubuh saja, karena semua kesuksesan yang aku dapatkan adalah jerih payah kita berdua, maka semua itu akan aku serahkan untuk anak anak. Namun aku tak akan pernah biarkan itu terjadi. Apalagi perceraian terjadi karena ulah fitnah dari mereka mereka itu." Ucapnya panjang lebar.
"Untuk apa kamu masih disini. Aku sudah tak sudi disentuh olehmu." Ucapku tegas.
"Jika itu masalahnya, aku janji gak akan menyentuh sampai semua bukti aku dapatkan. Tapi aku pastikan aku akan tetap di sini, menjaga bunda dan anak anak dan tetap setia untuk mengantarkan bunda kemana mana. Karena aku mau memastikan sendiri orang yang paling aku cintai baik baik saja. Jadi berhenti mengusir ku karena kita masih sah suami istri. Selama perceraian belum terjadi bunda masih tanggung jawabku. Aku akan tetap tidur di kamar ini biarpun di lantai." Ucapnya tegas. Setelahnya ia simpan tas disisi lemari, dan ia ambil bantal lalu ia tidur di lantai yang hanya beralaskan karpet.
Aku terpaku masih berdiri di tempat semula. Aku sangat bimbang, percaya suami atau bukti kiriman dari nomor tak dikenal itu. Ku hela napas panjang. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menunaikan sholat isya. Sementara suami sudah tertidur, terdengar dengkuran halus pertanda ia sudah berada di alam mimpinya.
***
__ADS_1
Pagi pagi setelah kami bersiap untuk berangkat sekolah. Aku menerima keputusan suami untuk ia tetap disini, tetap mengantarkanku ke sekolah. Karena ibukku yang tak mengetahui permasalahan kami, jadi aku juga harus bersandiwara di depan ibuk, agar ia tak kepikiran, karena ibukku yang sudah tua, tak mungkin aku bebankan dengan permasalahanku. Biarlah aku mengalah sedikit, sambil aku mencari tau kebenaran atas permasalahan ini. Aku juga tak mau gegabah. Di saat kami semua sudah menaiki motor, tiba tiba....