
"Udah ah peluk pelukannya. Sudah jam 11 malam nih, barangnya udah beres semua belum?" Abang ku angkat bicara.
Kamipun mengurai pelukan. Aku memandang suami ku.
"Yah, bagaimana dengan semua barang kita? Apakah sudah ada yang dipacking? Oleh oleh juga?" Tanyaku.
Karena aku yang ketiduran tadi, tak terpikirkan bahwa besok kami akan segera pulang kampung.
"Belum bund, kan dari tadi ayah jagain anak anak, karena bunda tersayang ini sedang ngambek di kamar." Jawab suami sambil menjawil dagu ini, dan merangkul bahuku. Menandakan suamiku juga bahagia dengan apa yang sudah terjadi hari ini.
"Ya.. gmna nih.. ? Seru ku.
"Ya gak gimana gimana... mari kita mulai packingnya mumpung anak anak sudah tidur!" Ajaknya.
Kami semua berjalan menuju ruang keluarga.
" Ya sudah, silahkan packing packing dulu, om pulang dulu, karena hari sudah larut malam, besok om kesini lagi." Om pun izin pamit.
Kami semua mengucapkan terimakasih kepada om sembari menyalami tangannya.
Setelahnya kami bergegas mebereskan untuk kepulangan besok.
"Jadi kak Indri dan semua besok mau pulang kampung lagi?" Tanya Dinda.
"Iya Dind, kamu datang diwaktu yang tepat, walaupun hari terakhir, setidaknya masih bisa kita bertemu dan masalah kita terselesaikan sudah."
Ucapku dengan tersenyum.
Dinda pun tersenyum bahagia, namun seketika raut wajahnya berubah sedih.
"Ya.. kita bertemunya sebentar donk.. aku masih belum puas bertemu dengan kakak ku ini.." ucap Dinda sambil kembali merangkul aku ke dalam pelukannya.
"Tapi setidaknya, kita sudah bertemu walaupun semalam. Ini adalah pertemuan yang paling berharga bagi kita Dind." Balasku.
"Iya kak. Tapi setelah ini entah kapan kita bertemu lagi ya kak," balasnya sedih.
"Tenang Dind... sekarang sudah canggih, kita bisa sering bertemu disini," ucapku sambil mengacungkan benda pipih persegi panjang itu.
Semuapun tertawa..
"Cie cie cie.. senangnya.. adek adek abang yang sebentar lagi bakalan ngerumpi dan ngegosip sambil vidio call." Seloroh bang Hanif dengan usilnya.
__ADS_1
Aku dan Dinda serentak melempar pandang dan memukul bahu bang Hanif karena kesal.
Semua tertawa. Melihat tingkah kami bertiga.
Hari yang sudah menunjukkan jam satu dini hari, sebagian dari kami sudah tidur dari tadi.
Seperti ibuk dan kak Dwi yang sudah dari tadi mengarungi alam mimpinya.
Sekarang tinggal kami berempat. Terlihat suami dan bang Hanif masih sibuk mengikat barang dan oleh oleh yang akan kami bawa pulang.
Sementara aku dan Dinda masih saja bercerita tentang banyak hal.
Seperti Dinda kembali menceritakan tentang Bapak yang sebenarnya juga sangat merindukan ku.
Ingin membahagiakan aku, menebus semua rasa sakit yang pernah ditorehkannya dihati ini.
Bahkan Dinda tak hentinya berbicara.
Sampai pada akhirnya Dinda mengeluarkan kotak merah kecil dari dalam tas tenteng yang ia bawa. Kotak tersebut dilapisi dengan kain bahan beludru warna merah, dari bentuknya kotak tersebut seperti kotak perhiasan.
"Ini titipan Bapak untuk kakak. Bapak mempersiapkan ini beberapa bulan sebelum ia meninggal. Waktu itu Bapak dapat sedikit rezeki berlebih dari biasanya. Maka dia belikanlah ini untuk kak Indri. Dia berniat ingin memberikan lewat bang Hanif di saat hari pernikahan bang Hanif." Jelas Dinda panjang lebar.
"Bapak berniat akan menitipkannya sama bang Hanif saat bang Hanif pulang kampung untuk acara pernikahannya," namun takdir berkata lain, Bapak dipanggil sebelum sempat memberikan ini untuk kak Indri." Ucapnya dengan berurai air mata dan langsung menyodorkan kotak tersebut ke arahku.
Aku terharu, ternyata selama ini aku salah besar menilai Bapak. Aku sudah berdosa kepada Bapak. Aku kembali meneteskan air mata.
Tiba tiba suami menguatkan aku. Dia merangkul bahu ini.
"Bunda yang sabar ya, setidaknya bunda sekarang sudah bisa menerima dan memaafkan semua yang terjadi dahulu. Sekarang tugas bunda sebagai seorang anak adalah mengirimkan doa untuk Bapak. Sekarang Bapak sudah tenang disana melihat bunda dan Dinda sudah berbaikan, bahkan sebentar lagi, akan saling berbagi gosip, ya kan bang Hanif?" goda suamiku.
Mendengar itu akupun langsung mencubit perutnya.
"Aduh duh..." jerit suamiku.
Namun aku tak menghentikan cubitan itu sampai ia minta ampun.
"Ampun bund.. ayah janji gak godain bunda lagi," ucapnya sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf V.
Akupun melepas cubitan dan kami semua tertawa bahagia.
Melihat aku yang tak kunjung menerima kotak pemberian dari Bapak. Abangku menyuruh untuk aku segera menerimanya.
__ADS_1
"Terimalah, Bapak memang sudah meniatkan jauh sebelum ia meninggal. Bahkan sebelum Bapak berhasil membeli hadiah tersebut. Bapak sudah menyampaikan niatnya itu kepada abang." Ungkap bang Hanif panjang lebar, seraya menatapku mengisyaratkan untuk menerima kotak tersebut.
Aku tak langsung menerima kotak tersebut. Tapi aku menanyakan kepada Dinda apakah Bapak memberikana hal yang sama kepadanya dan tiga adik adik yang lainnya.
"Kak jangankan untuk membelikan kami yang ramai ini, untuk memenuhi kebutuhan sehari hari saja susah. Tapi entah kenapa disaat niat Bapak terucap, seperti Allah memberikan jalannya. Hingga Bapak bisa membelikan ini. Yang sebelumnya Bapak sudah meminta izin kepada kami kalau ia akan membelikan barang ini untuk kakak. Karena kami merasa kak Indri tak pernah merasakan lagi hasil tetesan keringat Bapak, maka dari itu kami semua setuju." Jelas Dinda.
Aku lantas menerima kotak tersebut dan membukanya, ternyata isinya kalung berliontin hati.
Aku sangat kaget, bahagia dan terharu menerima barang yang diberikan oleh Bapak melalui Dinda.
Dinda meraihnya dan memasangkan di leher ini.
"Aku sudah berniat mau memberikan ini dari dulu, namun kak Indri yang selalu menghindariku, membuat aku mencari waktu yang tepat." Terang Dinda.
Mendengar penjelasan Dinda aku jadi salah tingkah, karena memang selama ini karena kebencian aku menutup rapat untuk tidak berkomunikasi dengan Dinda
Aku hanya kembali memeluknya, bentuk ungkapan maaf ku yang telah membencinya selama ini. Dan tak lupa aku ucapkan terimakasih karena ia telah menjaga barang yang dipersiapkan Bapak untukku bertahun tahun lamanya.
Kami terlihat begitu akrabnya.
Aku teringat kalau aku yang belum menunaikan sholat, segera mengambil wudhu dan menunaikannya.
Seusai sholat tak lupa aku panjatkan doa, karena Allah sudah menggerakkan hatiku untuk saling memaafkan. Aku bersyukur sekali karena Allah tidak membuat hatiku penuh dendam sampai mati.
Tak terasa hari sudah semakin larut, dan semua barang juga sudah siap dipacking.
Kamipun berniat untuk tidur lagi. Karena kantuk yang sudah tak tertahankan lagi.
"Kak untuk malam ini kita tidur bareng ya. Untuk bang Ardi mohon pengertianya ya! Aku minjam kak Indrinya semalam ini, " ucap Dinda sambil cengengesan.
"Seep... tapi benaran tidur ya.. jangan ngerumpi... " jawab suamiku dan ia berlalu pergi ke ruang tamu.
Kami yang mendengar ocehan suamiku hanya memasang wajah jutek.
***
Pembaca yang baik hati, setelah part ini, akan menceritakan jatuh bangun Indri dalam meraih mimpinya hingga menjadi seorang penulis yang terkenal...
Pentengin terus ya...
Dan jika berkenan... Kasih vote, like dan koment,
__ADS_1
Terimakasih para reader tersayang..