Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Pilihanku jatuh kepada Menulis


__ADS_3

Bibir ini bergetar mengucap panggilan yang sudah 30 tahun silam tak pernah aku ucapakan...


"Bapak..."


Aku langsung berdiri, berniat merangkul sosok yang begitu aku impikan, disaat tangan terayun ingin memeluk tubuh yang sudah lama bahkan tak pernah aku sentuh sama sekali. Seketika bayangan hilang, sosok tersebut sirna bagai kilat menyambar.


Bibir tak mampu lagi untuk berucap, kaku, berat, air mata bercucuran tanpa suara, tangan yang sudah terayun bagai patung, tak mampu bergerak untuk turun ataupun melanjutkan pelukan dengan sempurna.


Ternyata aku hanya berhalusinasi saja. Ternyata hanya khayalan seolah-olah menjadi nyata, mungkinkah ini semua bukti bahwa aku sangat-sangat merindukanmu "Bapak".


Aku kembali terduduk keposisi semula, menata hati, menguatkan diri, bahwa ini hanya bayang-bayang semata. Menyadarkan hati bahwa cinta pertamaku sudah tenang di alam sana. Tinggal doa yang harus aku kirim setiap harinya, agar hati ini tetap merasa bahwa aku punya bapak walau sudah berbeda dunia.


Aku coba mengikuti kekecewaan hati, kesedihan yang aku rasakan begitu mendalam, aku ikuti bagai air mengikuti aliran sungai, mengikuti alur jeritan hati ini, tak lagi air mata ini aku larang untuk membasahi pipi. Sampai semua kegundahan hati terasa luruh seiring butiran bening membasahi bumi


Setelah kegelisahan ini sedikit terobati, kata orang, memang menangis tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi setidaknya menangis bisa melampiaskan emosi yang tertahan akibat kekecewaan hati.


Aku kembali menata hati.


POV INDRI


Dipagi yang cerah aku kembali mengukir asa. Di suasana libur bekerja aku manfaatkan untuk memanjakan mata dengan pemandangan pegunungan yang dipenuhi dengan hamparan sawah nan luas. Ya di desa tempat tinggalku masih tergolong udaranya masih segar. Masih dipenuhi dengan persawahan, dikelingi pegunungan, dan hamparan tanamam menambah kesan elok dan segar untuk memanjakan mata yang selama ini berkutat dengan sibuknya pekerjaan.


Di pagi yang penuh dengan embun yang membasahi ilalang sepanjang jalan ini begitu memanjakan diri. Ya aku sekarang sedang melakukan aktivitas lari pagi bersama keluarga kecilku.

__ADS_1


Ocehan mereka sepanjang jalan seakan bagai nyanyian musik yang merdu pengobat hati yang lelah bekerja.


Kami begitu menikmati suasana pagi ini, karena pagi ini adalah hari pertama libur akhir tahun ajaran, dan seminggu lagi kami berencana berangkat untuk berlibur ke rumah saudara laki lakiku satu satunya. Saudara se ayah dan seibu yang amat aku sayang. Sakitnya seakan akan aku rasakan, begitulah bentuk kasih dan sayangku kepada saudara serahim dan sesusuanku.


Suasana masih sangat pagi, ditambah hari libur, jadi suasana jalanan juga belum ramai, sehingga kami bisa beriringan berjalan di jalannan yang dikiri kanannya dipenuhi hamparan sawah yang luas, sambil bercengkrama membahas apa yang dilihat selama diperjalanan.


Putra dan putri ku begitu bahagia dengan kegiatan pagi ini, bagiku sebenarnya kebahagian mereka seperti ini, adalah obat penawar lelah selama menjalani kesibukan hari- hari.


Seusai kami melakukan jalan jalan pagi, sambil nyantai menikmati sarapan pagi di teras depan rumah, sementara putra dan putriku asyik dengan sarapannya masing-masing. Mereka memang sudah terbiasa makan sendiri, sehingga tidak membuat kami kerepotan saat makan bersama.


Selesai sarapan aku kembali teringat akan rencanaku yang ingin mencari pekerjaan sampingan, aku ingin bekerja bukan berarti suami ku tidak memeliki pekerjaan. Suamiku adalah seorang anak pemilik usaha kue di daerahnya, usahanya dulu sudah cukup maju, namun sekarang usahanya mulai merosot sejak orang tuanya tertipu oleh orang yang dulu mengambil kuenya. Dimana orang itu mengambil kue pertama dengan cara berhutang, ia jual dulu kuenya ke luar kota, baru setelahnya ia bayar dan ambil lagi untuk jual berikutnya, istilahnya ambil depan bayar belakang.


Awal awal semua berjalan lancar, pembayaran mulus, sampai ia membeli mobil pick up untuk ia gunakan menunjang usahanya dalam memasarkan kue kue yang diproduksi oleh usaha kue mertuaku. Hari berlalu minggupun tak bsa dihentikan barang sebentar, sehingga berbulan bulan, namun tanpa diduga dan disangka pembayaran mulai macet, biasanya setiap pengambilan kue, pembayaran yang sebelumnya selalu lunas, sekarang sudah bayar sebagian, tak cukup sampai disitu, yang dari bayar sebagian sekarang tak lagi meninggalkan selembar nominal untuk pembayaran sebelumnya, namun karena mertua ku percaya, masih saja diberikan kue kue untuk tetap ia pasarkan.


Semenjak kejadian itu mertua tertatih tatih kembali membangun usahanya. Dan tidak hanya mertua yang tertimpa, suamiku juga ikut merasakan cipratan penderitaan karena ulah orang yang tidak jujur tersebut, karena memang sebelum kejadian itu suamilah yang mengurus usaha kue tersebut.


Dengan alasan itulah dari dulu aku sangat ingin mencari pekerjaan sampingan agar bisa membantu sedikit perekonomian keluarga. Ditambah sekarang karena sebuah kekecewaan yang aku gantungkan kepada impianku menjadi seorang Pegawai Negeri masih menyisakan kekecewaan, aku semakin berambisi untuk mempunyai pekerjaan sampingan


Sehingga sepintas aku teringat akan aplikasi novel online yang sering aku baca. Terbesit dihatiku untuk ikut menulis disana, melebarkan sayap dalam menulis, karena memang dari zaman sekolah ada secuil bakat dalam bidang tulis menulis baik novel, cerpen, maupun puisi dalam diriku.


Aku langsung membuka salah satu aplikasi online ku, untuk mencari informasi.


Aku langsung menuju notif yang memberitahukan bahwa ada salah satu penulis yang mengirim chat pribadi ke pesanku, aku langsung membuka chattnya, yang kebetulan si penulis tersebut menawarkan karya kepadaku, agar aku membaca karyanya tersebut.

__ADS_1


Selang beberapa menit aku langsung membalasnya dan berjanji untuk membaca karyanya, lantas tak ku sia-siakan kesempatan ini, aku memberanikan diri mencari informasi melalui dia, bagaimana cara kerjanya aplikasi online ini, mulai dari syarat update karya, dan segala macamnya.


Merasa puas dengan jawaban dan penjelasannya aku semakin memantapkan hati untuk memulai menulis. Tak lupa aku mendoakan author baik hati yang sudah ikhlas memberikan ilmunya, semoga ceritanya banyak pembaca.


Tekadku untuk menuli semakin kuat.


Tiba-tiba konsentrasiku saat memantapkan tekad dibuyarkan oleh suami


"Hei, lagi ngapain bund, serius amat?" Tanya suami sambil mendekat duduk ke arahku


Lantas aku mengutarakan niatku


"Yah, bagaimana kalau seandainya, aku mencoba menulis novel di aplikasi online?"


Suami lagsung mendelik dan langsung berucap


"Kalau seandainya bunda senang dan tidak terbebani, kenapa tidak, aku sangat mendukung asalkan bunda tidak merasa terpaksa, karena kegiatan yang dilakukan dengan terpaksa tidak akan membuahkan hasil yang maksimal."


Aku begitu tersentuh dengan jawaban suami..


"Oke... terima kasih sayang...aku pastikan aku akan se enjoy mungkin melakukan kegiatan ini, aku juga pengen seperti author-author yang sudah terkenal di aplikasi online.


Dengan semangat empat lima aku mulai menulis, hari itu aku lagsung buat 1 part cerita.

__ADS_1


__ADS_2