Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Kesetiaan seorang istri


__ADS_3

"Bund, sudah tiga minggu kita bikin kue, tapi masih belum memuaskan, bahkan masih ada yang belum terjual dari minggu ke minggu, seperti di warung bu Aty. Sudah tiga minggu belum ada juga yang laku." Ucap suami dengan lesunya.


"Ya gimana lagi yah, yang sabar aja. Mungkin belum rezeki kita di warungnya buk Aty. Tapi di empat warung lainkan ada penjualan kita, ya.. walaupun tetap menyisakan beberapa bungkus saja" Akupun menghibur suami.


"Iya bund, besok kan waktunya diganti lagi disana, mudah mudahan besok ada perkembangan dari minggu minggu sebelumnya, bund. Berarti disana ada tiga ratus bungkus kue kita ya bund" Ucap suami penuh harap.


"Semoga yah! Iya, semoga aja besok ayah pulang dari warung bu Aty tak lagi menenteng sisa kue, yang ada pulang dengan tangan kosong, tapi ada lembaran cuan di dalam kantong pemberian dari bu Aty." Ucapku yang juga sebenarnya berharap kue kue ini habis setiap kali suami menggantinya dari minggu ke minggu.


"Aamiin, ya Rabb." Ucap suami sama berharapnya denganku.


Kue kering yang kami bikin memang tahan lama, kami akan mengganti kembali kue tersebut setelah seminggu kami titipkan disuatu warung. Namun di warung bu Aty ia tak mengizinkan kami membawa yang sebelumnya, walaupun tak terjual. Ia meminta kami tetap menitipkan yang baru tanpa membawa yang lama, bu Aty beralasan karena kue tahan lama, jadi tidak usah diganti dulu. Mungkin Juga bu Aty kasihan kepada kami, karena kami memang tak ada tempat kenalan lagi untuk menitipkan kue kue ini, sehingga suami setuju saja dengan ide bu Aty.


Selama ini kami ada mengisi lima warung, dan aku juga membawa ke sekolah, di sekolah nanti aku letakkan saja di atas meja, maka teman teman yang menginginkan akan mengambil dengan sendirinya, untuk harga sudah aku tinggalkan catatatnnya di atas meja. Sementara aku sudah berkelana dari kelas ke kelas untuk melaksanakan tugas pokokku.


"Ndri kue nya enak ya, bikin nagih, manisnnya pas." Ucap buk Mira saat jam istirahat berlangsung.


"Ia, enak, kalau udah makan sekali bawaannya pengen makan terus." Timpal buk Noni.


"Wah, alhamdulillah buk, terimaksih atas pujiannya, aku jadi malu." Ucapku sambil tersipu.


Kami yang tak memiliki alat lengkap untuk membuat kue, seperti oven, mixer, sehingga kami hanya membuat kue kue yang hanya prosesnya melalui penggorengan saja, disamping tahan lama, juga enak, dan disukai semua kalangan, dan enak dijadikan teman bersantai mendampingi teh atau kopi disore hari.

__ADS_1


Untuk dibawa ke sekolah aku membungkusnya sengaja berbeda untuk di warung warung lainnya. Kalau di warung hanya bungkusan seharga dua ribu rupiah, sementara untuk ke sekolah aku bungkus isi seperempat.


Kue kue kering kami juga tak satu macam, ada tiga kadang empat macam, sehingga kalau di sekolah yang awalnya aku hanya membawa dua kilogram seharinya, sekarang alhamdulillah sudah mencapai empat kilo gram setiap harinya.


Entah karena kasian entah memang teman teman yang memang membutuhkan cemilan untuk bersantai di rumah, jadi setiap hari kue yang aku bawa ke sekolah selalu habis. Ya walaupun keuntungannya tidak besar, tapi paling tidak, mampu memenuhi kebutuhan dapur dan jajan untuk anak anak setiap hari.


Gaji bulananku sengaja aku pergunakan untuk memenuhi pengeluaran bulanan, seperti uang bulanan Rey, bayar listrik, dan kami masih mempunyai cicilan bank. Dan juga untuk membeli beras.


Aku yang tak memiliki apa apa, tak memiliki sawah, sehingga kami harus membeli beras, nah setiap gajian aku sudah membelikannya untuk beras selama sebulan, karena menurut ku yang terpenting itu kita punya beras, gak ada sambal pun kita masih bisa makan walaupun hanya ditemani cabe goreng dan sebungkus kerupuk, masih bisa membuat kita untuk tak kelaparan lagi.


***


Disamping menulis aku diberi tahu oleh author baik hati yang mengajariku, agar aku melakukan promosi tulisan di komunitas menulis di salah satu sosial media. Agar cerita kita banyak diketahui dan dibaca oleh para reader.


Akupun mencoba saran yang diberikan author tersebut, namun entah apa salahnya sehingga postingan promosi ceritaku tak diterima, aku coba ke berbagai group komunitas menulis, namun hasilnya tetap sama, postinganku selalu ditolak.


Ternyata setelah aku bertanya tanya, sosial media ku kena spam, untuk itu selama dua minggu ke depan aku tetap tidak akan bisa promosi. Namun aku tak menyerah begitu saja, aku tetap saja posting bab baru setiap harinya. Walaupun belum banyak pembaca.


Jampun sudah menunjukkan jam dua belas malam, suasana sudah sangat sunyi, mungkin semua mata sudah menikmati istirahatnya, sementara kami masih saja memaksanya untuk tetap setia menemani kami menyelesaikan pekerjan.


"Bund, sudah malam begini, bunda masih belum tidur. Ayah merasa bersalah bund, andai ayah punya pekerjaan, mungkin bunda tidak akan menderita seperti ini."

__ADS_1


"Yah, aku tu udah biasa seperti ini, kan kamu tau, dulu sebelum kita menikah, aku sudah bekerja sampingan juga. Bahkan sejak kuliah aku sudah terbiasa tidur larut malam. Karena harus membantu om di rumah makan, yang kebetulan waktu itu ia baru merintis rumah makan. Sampai aku tamat kuliah dan menjadi honorer, sepulang sekolah aku masih tetap membantu om di rumah makan, sampai larut malam. Jadi jangan dipikirkan itu, kita berdoa saja semoga selalu diberi kesehatan, dan semoga hati ku dan hati mu selalu dijaga untuk tetap setia, sampai kapanpun, dan bagaimanapun keadaan kita."


"Iya bund, aamiin, terimakasih ya bund." Sambil merangkul tubuh ini ke dalam pelukannya.


"Ah iya, ikan hiasnya gimana yah? Sudah banyak yang menetas?" Ucapku sambil mengurai pelukan.


"Ada yang sudah, dan masih ada yang belum bund, yang sudahpun masih kecil kecil, belum bisa untuk dijual, palingan dua bulan lagi baru bisa dijual. Sambil menunggu ikannya besar, ayah mau promosiin di komunitas pencinta ikan hias. Disana anggotanya ramai loh bund, bahkan banyak dari luar negeri juga. Kalau kita bisa menjualnya ke luar negeri, duitnya lumayan loh bund." Ucap suami menjelaskan panjang lebar.


"Wah, pantesan ayah merawatnya dengan serius sekali."


"Iya donk bund, harus dirawat seperti merawat anak sendiri, biar hasilnya gak ngecewaan bund."


"Wah. Hahaha korban iklan nih si ayah duo bocil." Ucapku sambil berlalu ke kamar mandi, berniat untuk membersihkan diri dan segera tidur.


***


Pagi jam tujuh kami sudah berangkat ke sekolah, menggunakan motor satu satunya. Bagian depan sudah dipenuhi oleh kue kue untuk dijual di sekolah, dan juga untuk di warung bu Aty, pengganti kue yang sebelumnya. Sementara Rey sudah terlebih dahulu naik dan duduk di belakang ayahnya. Setelah salam dan memeluk Aihzan putri kecilku, akupun berlalu menaiki jok motor, dan suamipun langsung tancap gas.


Setelah mengantar kami ke sekolah, suamiku langsung menuju warung bu Aty.


Sesampai disana. Matanya melotot seakan tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2