
Pengunjung bersorak sorai. Seakan ikut bahagia.
"So sweet." Terdengar teriakan dari pengunjung.
"Lagi nyanyinya bos!" Berbagai sorakan terlontar dari belakang.
"Yang dimeja sepuluh maju donk! Agar lebih so sweet!" Ucap pengunjung lainnya.
Suami yang saat sekolah pernah bergabung dengan anggota band sekolahnya. Hingga tak membuatnya kesulitan menyanyikan lagu tadi.
Usia kami yang sudah tergolong tak muda lagi. Sudah kepala tiga. Membuat ada sedikit malu juga. Tapi yang pastinya aku bahagia. Suami mengungkapkan penolakannya kepada mantannya yang selalu mengejar dan menjebak dan berharap kami berpisah.
Saat suami menyanyi di atas panggung tadi. Ronal datang menemui ku ke meja nomor sepuluh.
Berusaha mempengaruhiku. Mengatakan itu hanya bagian untuk menutupi perselingkuhannya saja. Mengajak agar aku mau meninggalkan suami dan kembali kepadanya.
Hingga ia mengatakan bahwa di sini juga adanya Cita. Aku yang mulai geram dengan tingkah Ronal. Sesaat setelah suami mengakhiri lagunya di panggung.
Aku melenggang menuju panggung. Meninggalkan Ronal tanpa sepatah katapun.
Semua mata yang ada di cafe tersebut tertuju kepadaku yang sedang menyusuri jalan menuju panggung.
Sekilas ku lihat Ronal termenung. Karena aku tak menghiraukan hasutannya. Raut kesal terpancar di wajahnya
Sesampai di panggung. Aku meminta kepada salah satu pemain musik untuk memutar vidio yang ada di ponselku.
"Bang. Bisa bantu untuk memutar vidio ini?" Tanyaku sambil mendekatkan ponsel ke arahnya.
Suami terlihat bingung dengan apa yang aku lakukan.
Tentu saja ia bingung. Karena aku sama sekali belum menceritakan kepadanya.
Sesaat setelah si abang tersebut menghubungkan ke ponselku.
Pengunjung terlihat penasaran dengan apa yang ingin ku lakukan. Terlihat mereka semua diam. Menantikan apa yang sedang ku lakukan di atas panggung.
Di saat semua diam. Vidio yang aku putar dipanggung terdengar begitu jelasnya dalam keheningan.
[🎙️Gimana? Kamu berhasil mengambil foto aku dan Indri?]
[🎙️Nih coba aja kamu lihat. Jika tak sesuai keinginan kan bisa kamu edit. Kamukan jagonya kalau ngedit ngedit.]
__ADS_1
[🎙️Lumayanlah. Disini kami terlihat bergandengan. Segera kamu kirim ke Ardi itu sekarang! Aku sudah gak sabaran melihat pertengkaran Ardi dan Indri. Dengan segera Indri akan kembali kepelukan seorang Ronal, dan Ardi, tuh ambil sama loh Cita! Hahahaha]
[🎙️Jika saja Ardi tak memiliki kantong tebal seperti sekarang ini. Aku ogah ngelakuin ini. Ini aku lakuin hanya demi uangnya. Dan bantuin kamu mendapatkan Indri. Kamu harus bayar mahal atas bantuan ku ini!]
[🎙️Enak aja pakai bayar. Mahal lagi. Dasar ya. Kita tuh di sini impas. Simbiosis mutualisme. Lo paham kan?]
[🎙️Tapi lebih menang lo. Lo mendapatkan orang yang benar lo cintai. Nah gue. Yadahlah. Lumayan buat mesin ATM. Secara, gue sekarang sudah berpisah dari suami. Otomatis gue butuh seseorang untuk meringankan biaya hidup gue sama anak semata wayang.]
Terdengar tawa kemenangan dari vidio singkat tersebut.
[🎙️Yuk kita pergi dari sini. Sebelum ketahuan Indri. Nanti bisa gagal rencana buat aku dapatinnya lagi.]
Semua pengunjung terpana kaget mendengar percakapan beberapa menit dari vidio tersebut.
Diputar dengan menyambungkannya ke layar besar. Membuat puluhan pasang mata menikmati setiap gerak yang ditayangkan.
"Wah ada pelakor dan pebinor."
"Jangan terpengaruh sama jebakan murahan! Tetaplah setia!"
Berbagai komentar terdengar dari mulut pengunjung.
Aku menyapu ruangan cafe. Tak sengaja mataku melihat Cita berada di pinggir cafe. Dengan wajah memerah. Kesal. Sudah pasti. Kecewa. Apa lagi. Bahkan sakit hati dan bisa jadi menyimpan beribu benci padaku.
Cita terlihat semakin malu. Berusaha menutup wajahnya dengan tasnya.
Sementara Ronal. Terlihat menyisiri jalan menuju pintu keluar cafe. Namun sebelum ia keluar sempurna. Sepasang mata pengunjung menyadari kehadirannya.
"Pebinornya juga ada disini." Teriaknya dari arah belakang.
Kami yang menyaksikan keriuhan ini. Hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Para pengunjung cafe yang berbahagia. Terima kasih sudah berpihak diposisi saya. Sekarang biarkan saja dalang dari jebakan murahan ini, ke luar dari cafe ini. Agar mereka tak menanggung malu lebih lama lagi." Ucap suami dari panggung.
"Ush.. dasar! Bisanya mengganggu keluarga orang saja."
"Hanya wanita murahan yang menggoda suami orang!"
"Laki laki juga. Bisa bisanya terlibat dan berniat merebut istri orang. Dasar pebinor!"
Berbagai hujatan terlontar dari mulut pengunjung.
__ADS_1
Ronal dan Cita yang tak kuat menanggung malu dan hujatan akhirmya mereka berlari keluar menjauh dari cafe. Diiringi sorak sorai pengunjung yang masih saja menghujat dan melemparnya dengan benda apa saja yang ada disekitar pengunjung.
"Kepada pengunjung yang saya hormati, saya berterima kasih sekali atas dukungannya kepada saya dan istri." Suami mengambil alih kericuhan yang terjadi sambil merangkul bahu ku.
Pengunjung kembali tenang dan duduk ke posisi semula. Setelah tadi hiruk pikuk, bahkan ada yang mengejar Ronal dan Cita hanya sekedar untuk melemparnya dengan berbagai benda. Tapi masih ada yang ngoceh di belakang.
"Semoga langgeng sampai kakek nenek."
"Jempol untuk kesetiaannya."
"Semoga kami nanti juga memiliki kekuatan cinta seperti pasangan yang di depan." Ucap seorang remaja yang berada tepat di depan panggung.
Terlihat pasangannya tersipu malu.
"Semoga yang ada di sini berbahagia selalu dengan pasangannya. Mohon maaf atas keriuhan yang terjadi. Kami mohon kembali lagi ke tempat duduk. Dan silahkan nikmati bingkisan yang diantarkan waitress, silahkan dicicipi, itu bentuk ungkapan kebahagian saya hari ini." Ucap suami dan mengarahkan microfon ke arah seseorang di atas panggung.
Terlihat beberapa witress memberikan bingkisan ke masing masing meja. Aku bahagia sekali atas perlakuan suami malam ini.
"Terimakasih. Wow silverqueen. Lambang kasih sayang. Benar benar Romantis si abangnya." Terdengar ocehan seorang pemuda dari pinggir kanan panggung.
Setelahnya kami melenggang menuju meja sepuluh, tak lupa suami menggandemg tangan ku.
Perjalanan kami menuju meja nomor sepuluh diiringi tepuk tangan dari para pengunjung.
Sesampai di tempat duduk.
"Ayah. Aku malu tau." Ucapku dengan nada dibuat buat maja.
"Malu? Tapi mau? Kan?" Suami semakin meledek.
Pipiku memerah. Disatu sisi aku memang bahagia. Tapi ada secuil malu juga disaksikan berpasang pasang mata seperti yang tadi.
Aku tak lagi merespon ucapan suami.
"Lebih malu mana bunda ketimbang Cita dan Ronal tadi?" Suami kembali bertanya.
"Iya sih. Tapi kasian mereka juga yah."
"Eh bunda! Kasian Ronal? Bunda gak kasian sama ayah selama beberapa hari kebelakang yang didiamin? Tidur di lantai. Makan dan minum tak lagi disediakan. Dicuekin. Aduh! Yang disayang malah kasian sama Ronal." Suami seperti nada merajuk.
"Ya gak gitu juga yah!" Aku berusaha memperbaiki kondisi.
__ADS_1
"Ya sudah! Jangan bahas mereka lagi. Bunda senang kan?" Ucapnya mengedipkan mata sambil mendekat ke arahku.
Belum sempat aku menjawab. Tiba tiba datang seorang waitress.