Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Cita cita dan Hobi


__ADS_3

"Yah, kita gimana lagi, ayah masih belum ada kerjaan, sementara kita benar benar sudah tidak punya uang lagi. Aku tetakhir kemaren bayar uang bulanan sekolah Rey." Ucap ku selesai sholat isya dan bersiap untuk tidur.


"Itulah bund, ayah juga bingung. Oh iya ini bund, persenan dari bang Doni tadi." Ucap suami sambil mengambil lima lembar uang ratusan dan satu lembar uang dua puluh ribu.


"Ya, apa yang bisa kita lakuin dengan uang yang hanya segini yah?" Ucapku masih saja tak bersemangat.


"Bund, sebenarnya ayah punya rencana."


"Rencana apa yah?" Jawabku dengan sedikit penasaran.


"Bagaimana kalau uang ini kita jadikan saja modal jualan kue kering,"


"Terus kita mau jual dimana yah?"


"Ya kita titip titip saja di warung orang dulu bund, dan kalau bunda bersedia bunda bisa bawa ke sekolah bunda, dulu juga bunda pernah bawa kue kue ke sekolah kan?" Ucap suami sedikit ragu.


Mungkin ragu aku akan tersinggung karena ia memberi ide aku untuk bawa jualan ke sekolah. Aku sejenak berpikir. Sebenarnya malas juga bawa dagangan ke sekolah, sudah bawa anak ke sekolah, bawa dagangan juga, ya tapi mau gimana, mana tau rezekinya aku disana. Akhirnya aku setuju dengan ide suami.


"Boleh deh yah, tapi ayah harus bantuin bunda bikin kuenya ya!"


"Ya jelas dong bunda sayang.... jangankan bantu bikin kue yang untuk usaha kita aja, selama inikan ayah sering bantuin bunda kerjain pekerjaan rumah juga." Ucapnya dengan lirikan mengejek.


"Hehe iya juga sih yah," aku tersipu malu.


Memang selama kami berumah tangga, suami saling membantu kalau lagi ada di rumah, kadang membantu memandikan anak anak, kadang kalau anak anak lagi banyak tingkah dan gak mau mandi sama ayahnya, maka ayahnya lah yang akan ambil posisi melakukan pekerjaan rumah, seperti menyapu.


"Terus bund, ayah masih punya rencana lagi?" Tapi...." ucap suami terhenti.


"Rencana apa yah? Kok gak jadi dilanjutin?"

__ADS_1


"Ayah pengen coba juga ternak ikan hias, selain menyalurkan hobi, mana tau ada rezeki kita juga disina, lagian juga karena ayah yang belum punya pekerjaan tetap, jadi banyak waktu yang hanya terbuang sia sia. Makanya ayah kepikiran untuk itu. Tapi kita butuh modal bund, sementara uang kita sudah tak ada lagi, kecuali yang itu." Sambil menunjuk deretan uang persenan tadi, yang sudah direncanakan untuk modal jualan kue kering.


"Ayah, yakin dengan usaha itu?"


"Ya harus diyakinin bund, karena setiap usaha, harus dilandaskan dengan keyakinan, kalau tidak semua akan sia sia."


Akupun sejenak berpikir. Benar juga, setiap usaha pasti akan menuai hasil, sukses tidaknya tergantung ke rezeki masing masing, yang penting kita berusaha, berdoa dan yakin saja dulu.


"Yah, kita kan masih punya cincin pernikahan ini." Sembari aku menunjuk cincin yang melingkar manis dijariku.


"Tapi bund...." ucapnya ragu.


"Memangnya untuk usaha itu, ayah butuh modal berapa?"


"Sebenarnya modalnya gak banyak, untuk lokasi kita sudah punya, kita bisa manfaatkan halaman rumah ini saja, nah kita tinggal beli untuk perlengkapannya saja."


"Tapi bund, itukan cincin pernikahan kita, sebaiknya itu tidak usah kita korbankan." Suamikupun menolaknya.


"Ayah.... ini tidak akan berfungsi apa apa, kalau masih saja melingkar disini, sementara kita sedang mengalami kesulitan, bukankah kesetian kita sudah menjadi bukti melebihi apapun, dibanding cincin ini tetap melingkar disini? Gunakan saja, mudah mudahan dengan usaha ayah nanti bisa menggantikan lebih dari ini yah." Aku masih saja meyakinkan suami.


Selama kami menikah, kami memang berusaha sendiri. Tidak pernah menggantungkan meminta modal ke siapapun. Kecuali suami ikut andil membantu usaha kue mama kemaren. Bahkan kami pernah terlilit hutang untuk merintis usaha, namun ujung ujungnya masih menyisakan kecewa.


Beruntung masih ada usaha kue mama, setidaknya masih ada penghasilan dari sana karena suami yang ikut mengelolahnya. Terus sekarang tak ada lagi yang akan kami andalkan, sementara biaya semakin besar, kalau semua digantungkan pada gajiku, itu sudah pasti tak akan terpenuhi. Untuk meminta dan menggantungkan diri kepada orang tua ataupun mertua, itu bukan sama sekali tipe kami.


"Yah, terimalah, bawalah besok ke pasar, dan jadikan ini modal! Mari kita sama sama ulang dari awal." Aku kembali membujuk.


"Bunda ikhlas?"


"Kalau tidak ikhlas, tidak mungkin dia terlepas dari sini yah." Ucapku sambil menunjuk jari manis sebelah kanan yang sudah polos.

__ADS_1


"Baiklah bund, terimakasih ya, bunda masih setia, dan masih menemani ayah walaupun sudah berkali kali mengalami keterpurukan.


Benar kata suami. Entah berapa kali kami mengalami keterpurukan, cobaan, ditipu, terakhir yang hampir terjebak oleh manipulasi Doni. Entahlah. Entah apa rencana Allah dibalik semua ini.


***


Pagi sampai sore aku mengabdikan diri di sekolah, sementara suami selesai mengantarkan kue kue buatan kami ke warung warung untuk dititipkan, setelahnya ia akan berkutat dalam pembudidayaan ikan hiasnya.


Sepulang aku sekolah, sejenak beristirahat, maka kami akan lanjut dengan adonan adonan kue, yang akan memberikan kami sedikit uang untuk dibelanjakan agar memenuhi kehidupan sehari hari. Kadang cukup, kadang berlebih, bahkan tak jarang juga kadang kami kekurangan. Namun itulah seninya kehidupan. Kami menikmati tanpa mengeluh dan mengganggu kepada yang lain.


Aku yang tetap setia melanjutka karyaku di aplikasi aplikasi online, selalu menyisakan waktu satu atau dua jam setiap malamnya untuk tetap berkarya, aku selalu usahain agar bisa setiap hari updete BAB baru, walaupun hanya satu BAB saja.


Kadang karena kesibukan dengan kue sampai larut malam, aku tetap masih menyisakan waktu untuk menulis. Dan paginya sudah harus bangun lebih awal lagi untuk membungkus kue kue yang semalam sudah dimasak. Kami tak langsung membungkusnya semalam, karena masih panas.


Aku tak lagi memikirkan berapa pendapatan yang aku dapatkan dalam menulis. Fokusku, aku berusaha saja dulu. Suatu saat pasti ceritaku akan menemukan penikmatnya, nanti, esok, entahlah.


Semua pekerjaan yang kami lakoni, semua adalah hobi dan cita cita kami. Aku yang sejak menyandang status mahasiswa telah mempatrikan cita citaku menjadi sesorang pendidik.


Sementara suami memang bercita cita mempunyai usaha sendiri. Suami yang sejak dari dulu tak pernah suka bekerja dengan orang lain. Menurutnya biarlah kita menjadi kepala ikan teri, ketimbang menjadi ekor ikan paus, sebesar apapun kita, namun kita tetap dibelakang alias bekerja di bawah perintah orang lain.


Dan kenapa aku katakan hobi? Ya, membuat kue dan menulis adalah hobiku dari kecil, dan suami juga hobi nya dalam memelihara ikan hias.


Ibarat memancing, kami taburkan umpan terbaik saja dulu. Sambil menekuninya, kami tunggu umpan mana yang akan memberikan rezeki nya untuk kami.


"Semoga semua umpan ya bund, dan kita sukses disemuanya." Ucap suami di sela sela mata yang sudah hampir terpejam karena serangan kantuk yang luar biasa.


"Aamiin." Ucapku mengaminkan doa suami.


Aku yang sudah selesai dengan satu Bab tulisan. Segera merebah dan dengkuran halus bersahut sahutan, pertanda kami semua sudah larut di alam mimpi masing masing.

__ADS_1


__ADS_2