
Ardi bergegas turun dari motornya, lalu menemui indah yang lagi duduk memainkan hp dengan jemarinya.
"Assalamualaikum kak!"
Indah menoleh dan terlihat kaget.
"Wa walaikumsalam." Ucapnya gugup.
"Gimana kue ku kak? Habis?"
"Ya, seperti yang kamu lihat, kuemu habis, dari dua hari yang lalu malahan. Tapi uangnya masih terpakai oleh ku." Ucapnya tanpa bersalah.
Ini sudah minggu ketiga dan kak Indah masih mengaku kalau uangnya sudah terpakai.
"Yaaa kak. Kok terpakai terus sih kak, diuang itu kan gak seberapa yang aku harapin, kalau sudah sampai tiga minggu uangnya kakak pakai, itu sudah memakan modalku kak." Ardi mulai protes.
"Ya gimana lagi Di, aku juga lagi kesulitan keuangan sekarang, suamiku gak kerja, jadinya udah terpakai untuk kebutuhan sehari hari." Ia kembali memelas berharap masih diberi kesempatan.
"Ya udah, terus kapan kakak mau janji bayar?"
"Kalau sudah ada uang pasti aku bayar." Ucapnya yakin.
"Ya sudahlah kak, aku tunggu niat baik kakak untuk membayarnya ya! Tapi maaf kak, aku gak bisa dulu nitip kue disini, karena aku juga lagi butuh uang kak."
"Yaelah kamu segitunya Di, ketimbang uang segitu dipelitin amat." Kak Indah mulai nyerocos.
"Kak, uang segitu kata kakak? Itu uang empat ratus delapan puluh ribu, besar untuk kami kak."
Ardi terbawa emosi oleh perkataan Indah yang mengatakan hanya uang segitu dipelitkan.
"Ya nanti kalau aku ada uang pasti aku ganti." Ucapnya ketus.
"Iya kak, aku tunggu."
Ardipun bergegas menaiki motornya dan tangannya masih setia memegangi kue yang awalnya akan dititipkan di warung Indah.
Sementara Indah masih saja mengomel.
***
Ardipun melajukan motornya menuju warung bu Nani. Sesampai disana ia masih menyisakan kecewa.
"Assalamualaikum bu." Ucapnya sambil tersenyum.
"Walaikum salam." Jawab bu Nani dengan lembut.
"Lah kok warungnya belum dibuka semua bu?" Ardi mempertanyakan pintu warung bu Nani yang belum terbuka semuanya. Biasanya jam segini bu Nani sudah rapi dan standby di warungnya.
"Begini nak, anak ibu yang kemaren ibu ceritain masih sakit, sepertinya ibuk mau pulang kampung saja, otomatis ibu tidak jualan lagi nak. Ibu mau mengobati anak ibu di kampung saja." Ucap bu Nani dengan nada lesu.
__ADS_1
Belum jadi suami menjawab pembicaraannya, ia kembali bersuara.
"Dan ibu minta maf nak, kue kamu habis, akan tetapi uangnya sudah terpakai sama ibu, yang minggu dulu juga masih ada terpakai sama ibu dua ratus ribu. Jadi semua uang kamu yang terpakai sama ibu tiga ratus enam puluh ribu nak, ibu mohon beri ibu waktu untuk membayarnya." Lirihnya.
Ardi kaget mendengar penuturan bu Nani, dari warung Indah tadi, harapan satu satunya adalah warung bu Nani, namun harapannya masih saja berakhir dengan kekecewaan.
Tapi ia juga tak bisa egois, memaksakan untuk orang orang tersebut membayarnya sekarang juga. Melihat kondisi mereka, terutama bu Nani ia sangat sedih sekali. Ditambah bu Nani hanya pendatang disini. Biaya kontrakan, biaya pengobatan anaknya, belum lagi biaya sehari hari yang harus ia penuhi.
Akhirnya bu Nani memilih pulang kampung saja. Dengan begitu sedikit mengganggu kepada usaha kue Ardi, jadinya ia harus mencari warung baru untuk menitipkam kuenya.
Ardi mengusap wajahnya frustasi memikirkan hal yang baru saja ia alami.
"Nak Ardi, ibu minta maaf." Bu Nani kembali bersuara, merasa bersalah.
"Nanti sesampai ibu di kampung, ibu akan usahakan kirim nak, minta ibu nomor telfon nak Ardi, nanti kalau uangnya sudah ada ibu telfon, dan nak Ardi kirimkan saja nomor rekening nak Ardi, atau sekarang saja nak Ardi catat nomor rekening nak Ardi." Ia segera berlalu mengambil secarik kertas dan pulpen.
Mendengar permintaan maaf bu Nani. Ardi makin tersentuh hatinya. Dipikirannya terlintas, andaikan kondisi ini terjadi padanya.
"Bu, ibu gak usah bayar bu, aku ikhlas uang ku terpakai untuk pengobatan anak ibu, semoga anak ibu lekas sembuh. Dan terima kasih sudah menerima titipan kueku selama ini bu." Ucapnya sambil mendorong kertas dan pulpen yang diulurkan bu Nani.
"Tapi nak Ardi. Ini uangnya banyak, bahkan nak Ardi belum tentu mendapatkan keuntungan sebesar ini selama menitipkan kue disini nak." Ucap bu Nani, seolah menolak dan semakin merasa bersalah.
"Gak apa apa bu, aku ikhlas. Kalau begitu, aku permisi ya bu."
"Terimakasih banyak nak. Semoga Allah membalas kebaikan nak Ardi."
Diperjalan sambil mengenderakan motornya Ardi memikirkan mau dititip dimana kue kue ini lagi, semetara ia tak ada yang kenal lagi dengan orang yang memiliki warung untuk ia titipkan.
Ia masih saja sibuk memikirkan nasib yang ia alami.
"Semua daganganku habis, namun aku tak menerima uang sepersen pun." Ia membatin.
Awalnya Ardi berencana setelah dari warung kak Indah dan bu Nani, dan ia mendapatkan hasil kue yang ia titipkan sebelumnya. Setelahnya ia akan membeli bahan bahan kue, untuk dibuat nanti malam, untuk dibawa ke sekolah Indri. Namun karena tak menerima uang, dan kue yang awalnya akan ia titipkan di warung kak Indah dan bu Nani masih ada. Ia tak jadi membeli bahan kue.
"Toh yang sudah dimasak saja, gak tau mau dititip dimana. Mending aku pulang dulu dan nanti diskusikam dengan bunda." Ardi kembali membatin.
Ia lantas kembali melajukan motornya arah pulang menuju rumahnya.
Namun beberapa menit perjalanan, tiba tiba motornya mati. Ia mencoba menghidupkan hingga berkali kali. Namun masih tak mau hidup. Ia cek bensin, ada. Ia kembali frustasi. Dengan sisa tenaga yang ada ia dorong motornya berniat mencari bengkel terdekat, agar motornya bisa kembali hidup.
Keringat bercucuran, karena lelah mendorong motor. Hampir seratus meter mendorong, dari kejauhan ia melihat sebuah bengkel. Ia kembali bersemangat mendorong motornya. Berharap sampai disana secepatnya. Karena lelah tangan dan kaki tak bisa lagi ia tahan.
Sesampai di bengkel. Ia parkirkan motornya. Karena masih pagi sekitar jam sembilanan, bengkel masih sepi.
"Bang bisa bantu bang, motor saya tiba tiba mati." Ucapnya kepada si abang tukang bengkel sambil mengambil rentengan kue kuenya.
"Owh bisa bang. Biar saya cek dulu." Ucapnya sambil menuju motor Ardi dan langsung memposisikan motor ke tempat ia akan menceknya.
Ardipun mengambil sebotol ai mineral, kebetulan di bengkel tersebut ada warung yang jual makanan dan minuman, setelah mendapatkan sebotol air mineral Ardi mencari tempat duduk, meletakkan rentengan kue disinya duduk, dan langsung meneguk air mineral hingga menyisakan setengahnya. Seketika air mengaliri ke dalam tubuhnya memberikam rasa segar yang luar biasa.
__ADS_1
Sembari menunggu, ia memainkan hp nya. Kembali memposting peliharaanya di sosial media. Berharap kembali dipertemukan dengan pembelinya.
Tiba tiba.
"Bang sepertinya pompa injeksinya harus diganti, dan juga oli dan akinya bang." Tukang bengkel memberitahukan apa yang rusak dari motornya.
Seketika ia teringat, memang sudah lama sekali ia tak mengganti oli dan aki, untuk pompa injeksinya, memang belum pernah sama sekali ia ganti, sejak motor itu berada ditangannya.
"Owh begitu ya bang, kira kira kalau diganti semuanya berapa bang?" Ia memastika terlebih dahulu nominal yang dibutuhkan untuk mengganti yang dikatakan bang bengkel.
Sejenak bang bengkel terdiam dan berpikir. Terlihat menghitung hitung.
"Sekitar empat ratusan bang, paling tinggi limaratus deh bang."
Suami kaget dengan nominal yang disebutkan si abang. Sekarang dikantongnya memang ada uang lima ratus ribu, tetapi itu semua uang hasil kue yang harus ia putarkan kembali. Sejenak ia berpikir.
"Boleh deh bang, diganti saja semua."
Ia berpikir kalau gak diganti sekarang kapan lagi? Sementara ia membutuhkan jasa motor ini untuk mengantarkannya kemana mana.
"Oke bang, tunggu ya bang, palingan satu jam-an selesai."
"Baik bang."
Ardipun kembali duduk sambil menghisap rokok.
Satu jam berlalu.
"Ini bang sudah beres. Silahkan dites dulu." Ucap si abang sambil melepas standar motor dan mengarahkannya ke arah Ardi.
"Oh iya." Ardipun menghidupkan motornya.
Motor pun langsung hidup.
"Udah bang, jadinya berapa bang?"
"Jadi empat ratus enam puluh bang."
Suamipun langsung menyerahkan uang lima ratus ribu.
"Ini bang. Dan tadi air mineral satu." Mengulurkan uang.
"Jadi kembaliannya tiga puluh lima ribu ya bang. Sebentar ya!" Sambil berlalu ke dalam warung mengambil uang kembalian.
"Ini bang. Terima kasih bang." Menyodorkan uang kembalian.
"Iya, sama sama." Ardi menerima uang kembalian, dan langsung menuju motor, tak lupa kembali menenteng rentangan kuenya, dan segera menghidupkan motor, dan melaju meninggalkan bengkel untuk menuju kembali pulang ke rumah.
Bagaimana ya? Sekarang aku tak lagi punya uang. Hanya sisa beberapa puluh ribu saja lagi. Ia kembali membatin ditengah perjalanannya menuju pulang.
__ADS_1