Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Pesan Whatsapp


__ADS_3

"Yah, novel ku sudah tamat." Ucapku di suatu sore.


Kami yang sedang menikmati indahnya suasana sore di teras depan. Dengan objek pandangan kolam kolam ikan kecil peliharaan suami.


"Benar bund? Berarti bunda mencapai target selesai dalam tiga hari?" Suami ikut antusias.


"Tercapai yah, habisnya ayah sekarang sibuk bangat sama ikannya, makanya gak ada waktu buat dengar cerita bunda lagi." Ucapku dengan nada dibuat buat seperti merajuk.


"Ya maaf. Bunda kan tau ayah sedang sibuk membibitkan ikan, toh itu saran bunda juga kan?" Terdengar suami membela diri.


Tapi memang benar sih, aku yang menyuruh suami untuk lebih rajin melakukan pembibitan. Kan si agan Singapura mintanya tiap bulan. Jadi biar stok banyak.


Sekarang usaha ikan hias suamiku sudah mulai dikenal. Dan sudah banyak jaringan juga, yang pasti untuk ke Singapura sudah rutin. Di samping itu alhamdulillah, masih ada saja pembeli berdatangan, baik yang datang langsung, maupun pembeli pembeli online. Mulai dari eceran hingga partaian. Suami sudah lebih sibuk sekarang.


"Terus aku mau libur seminggu atau dua minggu untuk menulis, setelah itu baru aku nulis lagi karya kedua." Aku memberi tahu suami.


"Iya dimana bunda senang aja deh bund, ayah gak larang pun juga gak maksa, yang penting bunda nyaman, eh udah punya judul nih, buat karya kedua?"


"Udah donk.... judulnya Mencintai Istri Tuaku." Ucapku membanggakan judul yang akan aku tulis untuk novel kedua.


"Wah, asyik nih kayaknya."


"Hehe, ditungguin ya!"


Karya ku yang pertama dulu suami selalu menjadi pembaca pertama.


"Pasti...."


"Yah, ayah bunda lihat semakin sibuk aja?"

__ADS_1


"Iya nih bund, alhamdulillah, kan yang kita mau emang ini bund."


"Iya yah, tapi gimana sama janji kita ke Jhasril?" Ucapku.


"Owh iya ya bund. Menurut bunda gimana?" Malah balik bertanya.


"Ya, kalau bunda karena kita sudah berjanji, ya kita harus tepatin yah!"


"Iya benar bund, terus kapan kita mulai?"


"Seperti rencana awal saja yah, kita bikin kuenya hari jumat, sabtu dan minggu saja, nah untuk pengiriman ke Singapura ayah usahain jangan di hari itu, misal nih, selasa, jadi siang seninnya ayah bisa ngurusin surat karantina, dan malamnya bisa packing, selasa tinggal antar deh, kalau gak rabu atau kamis, ya biar gak keganggu gitu yah!" Akupun memberikan ide agar waktu pengiriman dan membuat kue tidak dempet.


"Ide bagus bund, bunda emang pintar." Ucap suami sambil menjawil dagu ini.


"Ih.... pas begini aja dibilang pintar." Ucapku


"Gaklah, istri ayah tercinta ini selalu pintar, setiap hari." Ucapnya merangkul bahu ini.


"Gak ada bund, udahlah ayah udah ikhlasin aja. Lagian baguslah dia kalau gak bayar, jadinya kan gak berani minjam lagi."


"Ah benar juga yah, tapi hutang tetap hutang lo yah!"


"Iya, tapi kalau yang berhutangnya gak mau bayar, mau gimana bund? Kita tagih, pasti kita yang diomelin." Jawab suami yang sudah paham dengan karakter kak Indah.


"Ah iya yah, biarin saja, kita ikhlasin saja, semoga kita diberi balasan rezeki yang melimpah."


"Amin."


"Owh iya, kalau kita bikin kuenya jumat, berarti besok donk yah."

__ADS_1


"Eh iya ya. Besok sepulang nganterin bunda ayah beli dulu bahan bahannya. Rencana kita mau bikin kue apa dulu besok bund? Biar jelas juga apa yang mau dibeli. Sebaiknya kita catat saja bahan bahannya." Ucap suami memberikan ide.


"Benar yah."


Kamipun akhirnya sibuk diskusi tentang rencana membuat kue besok. Dan mencatat bahan apa saja yang akan dibeli.


***


Sekarang sudah hampir lima bulan kami membuat kue lagi untuk dititipkan di toko oleh olehnya Jhasril. Aku tak pernah lagi membawanya ke sekolah, jika ada teman yang berminat, aku arahkan saja untuk datang ke toko tempat oleh oleh Jhasril.


Seperti doa suami kemaren, "sekarang satu pintu rezeki kita sudah terbuka, semoga membuka pintu pintu rezeki yang lainnya." Seperti diijabah oleh Allah, sekarang usaha kue kami juga memberikan hasil yang lumayan. Dari minggu ke minggu kue selalu habis. Bahkan dari pihak toko, Jhasril menginginkan kami memproduksi lebih dari sebelumnya, cuma karena kami keterbatasan waktu dan tenaga, akhirnya belum menyanggupi keinginan Jhasril.


Sekarang kehidupan kami berputar seratus delapan puluh derjat. Dulu kami yang serba kekurangan, penghasilan yang dapat sehari, dan akan habis dalam waktu sehari itu juga. Kadang juga kami harus berhemat dengan ekstra, kadang juga tak jarang kami mesti kekurangan.


Tak ada yang namanya pergi jalan jalan, makan di cafe, untuk memenuhi kebutuhan sampingan anak, selalu dijanjikan, sekarang itu semua berbanding terbalik. Ya, ekonomi kami sudah bisa dibilang sukses.


Bibit bibit ikan semakin banyak, tak ada pohon atau bunga bunga di halaman, yang ada kolam kolam kecil tempat pembesaran bibit bibit ikan, karena sekarang hampir seluruh halaman dijadikan kolam kecil oleh suami.


Kami pun sangat bahagia, tak ada yang berubah dari pribadi kami, hidup bahagia, damai, saling menyayangi. Kami juga tak lupa dengan asal kami, sebagian rezeki sering kami bagi dengan orang lain yang membutuhkan.


Hingga suatu hari mampu membolak balikkan dunia kami yang jauh dari kata pertikaian selama ini. Semua berawal dari pesan whatsapp yang masuk ke ponselku.


Aku yang sedang menuju kantor, selepas mengajar. Berjalan dengan membawa tentengan buku buku di tangan bagian kiri. Tiba tiba ponsel berdering pertanda pesan whatsapp masuk. Segera ku rogoh kantong baju, dan menekan aplikasi hijauku.


Ternyata pesan dari nomor yang tak ku kenal. Aku penasaran, untuk mengakhiri penasaranku, segera ku tekan nomor tak dikenal hingga menampilkan ruang chatting, namun tak ada chatt kata kata, yang ia kirim hanya sebuah foto. Semakin penasaran, segera ku sentuh gambar untuk mendownload, selah beberapa detik. Tubuh seakan tak bertulang, sekujur tubuh terasa lemah dan hawa panas menelusup ke seluruh tubuh. Air matapun tak bisa kutahan. Segera ku berjalan lebih cepat agar tak ada orang yang menyaksikan butiran bening ini mengalir indah di pipi. Tanpa menghiraukan di sekeliling, aku melangkah menuju kamar mandi. Menutup pintu dengan rapat. Disana kutumpahkan segala kesedihan dan kekecewaan atas apa yang barusan aku lihat dari kiriman seseorang yang tak ku kenal.


"Ayah tega kamu yah!"


Aku masih saja tak kuasa menahan tangis. Semua janji janji manisnya seakan menari nari di kepala. Kini janji suci sudah ternodai.

__ADS_1


Aku meraung meratapi nasib. Emosi begitu menguasai diri.


__ADS_2