
Seorang gadis berlari menuju rumah sakit begitu ia mendapatkan kabar Ibunya mengalami kecelakaan saat baru pulang dari pasar. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang menatap aneh terhadapnya, yang ada dipikirannya saat ini hanya Ibunya. Bertepatan dengan langkah kakinya menginjak lantai rumah sakit tepatnya ruang IGD Dokter pun keluar.
"Dokter, bagaimana Ibu saya?" tanya gadis bertubuh kecil itu dengan nafas terengah-engah, mata yang sembab dan keringat yang bercucuran diwajahnya.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan lebih menyayangi Ibu anda, nona." Bak disambar petir disiang bolong mendengar ucapan sang Dokter. Seketika bibirnya kelu tubuhnya seperti raga tak bernyawa. Ia berusaha tegar, menahan segala sesak didadanya.
"B-boleh saya liat ibu saya, Dok?"
"Silahkan." Ia melangkah dengan tertatih menuju brangkar tempat jasad Ibunya dibaringkan yang sudah tertutup kain putih. Tangis nya pecah saat ia membuka kain penutup itu.
"Maafkan Ghina, bu. Belum sempat membahagiakan Ibu." Ucapnya dengan suara serak.
"Keluarga Ibu Surti?" Seorang perawat datang dengan membawa sebuah map ditangannya.
Ia menyeka air matanya, saat perawat mendekat. "Saya anaknya, suster."
"Tolong selesaikan biaya administrasi, untuk kepulangan jenazah Ibu Surti." Ucap perawat itu sambil menyodorkan map yang dibawanya tadi.
"Baik suster."
Gadis itu dengan mata sembab menuju loket administrasi rumah sakit.
*****
Disaat yang sama Shika baru saja sampai dirumah sakit, setelah memakirkan mobilnya ia melangkah kedalam gedung rumah sakit menuju ruang praktek Ray dengan bekal makan siang ditangan kanannya. Saat ia hendak mendekati lift samar-samar ia mendengar suara tangisan, bulu kuduknya seketika meremang.
"E-engga mungkin kan, mba kunkun siang-siang begini muncul? aduuh... Mana sepi lagi, pada kemana sih orang-orang. Ini rumah sakit segede gaban tapi engga terlihat manusia satu pun." Ia menyapu sekelilingnya kosong.
Karena kadar kepo Shika sangat tinggi, ia melangkah mencari sumber suara. Shika menajamkan pendengarannya hingga kemudian menangkap darimana suara isak tangis itu. Ia melihat sosok perempuan dengan rambut tergerai membelakangi nya sedang duduk dibangku taman.
"K-kan bener mba kunkun!" matanya mulai memerah, tangannya dingin. Shika terjengkit tiba-tiba ponselnya bergetar, ia melihat Ray yang memanggil.
"Ha-halo kak."
"Kamu dimana? kenapa sua--"
"A-ada mba kunkun ditaman rumah sakit, kak?" suaranya serak matanya terus menatap sosok itu.
__ADS_1
"Jangan kemana-mana, tunggu disitu." Tegas Ray sangat panik, bagaimana tidak suara adiknya terdengar sangat ketakutan.
"Ada apa Ray?"
"Fe nangis dibawah, gue kesana dulu."
"Gue ikut!" tanpa menunggu jawaban Ray, Arya langsung mengikuti langkah Ray yang setengah berlari menuju lift.
Ray yang baru keluar dari lift langsung melihat Shika yang menutupi wajah nya dengan kedua tangan sambil jongkok disudut tembok yang berbatasan dengan taman, Ray menepuk bahu adiknya.
"Aaakkkhhh... Jangan ganggu Shika mba kunkun! huuss husss."
"Fe, ini kakak!" Shika mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara yang ia kenal, melihat sosok Ray berdiri disampingnya ia segera berhambur kedalam pelukan sang kakak. Ia menenggelamkan wajahnya didada sang kakak.
"Kak, itu disana!" tunjuknya kearah sosok yang masih duduk ditaman itu, mata Ray dan Arya melihat arah yang ditunjuk oleh shika.
Ray ingin melihat sosok yang dilihatnya, "Kak, jangan." Shika menggeleng.
"Tenang, ada kakak." mereka mendekati sosok itu, Shika memeluk erat lengan Ray, ketika mendengar sosok itu bersuara.
"Dimana aku harus cari uang sebanyak itu, sedangkan jenazah ibu harus segera dibawa pulang. Kenapa aku jadi anak tidak berguna!" sosok itu menangis pilu, terselip rasa putus asa dari setiap kata-katanya.
Diperhatikannya lagi sosok yang duduk ditaman itu dengan seksama mata shika menelisik sampai kebawah.
"Kakinya menyentuh tanah, berarti bukan mba kunkun?" ia menatap kakaknya, Ray hanya mengangguk pelan. Ia berjalan mendekati sosok itu dengan posisi yang masih berjarak ia menegur sosok itu.
"Maaf, permisi. Apa yang kamu lakukan disini" Tanya Shika hati-hati, sesekali matanya melirik Ray.
Sosok itu menyeka air matanya dengan kasar lalu berbalik.
"Kamu kenapa nangis?"
Sosok itu kembali terisak, ia menundukkan kepalanya. "Ibu saya meninggal, tapi saya belum bisa bawa pulang jenazahnya karena belum ada uang mbak. Saya baru aja dipecat dari tempat kerja."
Hati Shika sedih mendengarnya, matanya berkaca-kaca ia tidak bisa melihat orang menangis pasti akan ikut menangis. Sungguh lembut hatimu Shika.
"Kak.." Panggil Shika melihat kakaknya, Ray sangat paham apa keinginan adiknya hanya mengangguk.
__ADS_1
Shika kembali menatap sosok itu, "Apa kamu bisa bantu saya?"
"Ba-bantu apa mba?"
Shika tersenyum, "Antar saya ke bagian administrasi, saya akan bayarkan semua biaya pengobatan ibu mba." Ucap Shika dengan sangat tulus.
"T-tapi mba..!"
"Sudah tidak ada tapi-tapi. Ibu kamu harus segera dikebumikan."
Mereka berempat berjalan menuju bagian administrasi, Shika melunasi semua biaya pengobatan dan pemulangan jenazah Ibu Surti.
"Mba, makasih banyak, saya janji akan membayar kembali semua biaya yang mba keluarkan."
"Sudah jangan dipikirkan, saya ikhlas kok. tolong panggil Shika aja dan mba..?"
"Ghina, nama saya Ghina." Ucapnya dengan senyum merekah, ia tidak menyangka masih ada orang sebaik Shika didunia ini. Menolong tanpa pamrih. Tanpa mereka sadari senyuman gadis itu menarik perhatian seorang lelaki yang sedang menatapnya.
Shika tersenyum, ia menggenggam tangan gadis itu. "Mba jangan tersinggung.. saya ikhlas kok bantuin. Jika mba berkenan mba bisa kerja di butik tempat saya kerja."
"Apa tidak merepotkan mba eh maksud saya Shika."
"Tidak, sama sekali tidak. Malahan Shika senang bisa bantuin mba." Ujar Shika sembari mengambil alamat butik dari dalam tasnya memberikan pada Ghina.
Kamu sangat baik, Shika. Entah bagaimana aku harus membalasnya. Kata hati Ghina.
Kamu luar biasa Fe, engga ada yang berubah. Kata hati Ray.
Ray sangat bangga terhadap adiknya, hatinya selalu menghangat setiap kali melihat adiknya membantu sesama tanpa peduli dari mana mereka berasal.
"Oh, Iya.. hampir lupa. Mba Ghina kenalin ini kakak aku, kak Ray dan kak Arya, pasti mba dari tadi penasaran kan??? kenapa dua bodyguard ini ngikutin kita." Ucap Shika terkekeh.
Hatimu begitu tulus Shika, kau bahkan memperkenalkan aku sebagai kakakmu. Kakak senang bisa mengenal dan menjadi bagian dari hidupmu. Kata hati Arya.
Setelah semuanya selesai Ghina berpamitan kepada mereka bertiga, ia membawa pulang jenazah Ibunya dengan ambulan kerumah duka untuk segera dikebumikan. Disatu sisi ia sangat kehilangan disisi lain ia merasa hatinya begitu tenang, masih ada diluar sana yang tidak memandang dirinya sebelah mata karena berasal dari keluar kurang mampu. Ia harus jadi manusia yang lebih bersyukur lagi dan menerima dengan ikhlas segala takdir yang telah ditetapkan untuknya.
Tidak ada penderitaan yang abadi, tidak ada kebahagiaan yang abadi. Kecuali bagi yang pandai bersyukur, selamanya ia akan merasakan kebahagiaan.
__ADS_1
❄❄❄❄❄❄❄