Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
47 - Kecil - Kecil Triliuner


__ADS_3

Pandangan Shika beralih pada kedua Putranya yang bersandar manis ditubuh sang Daddy, sepertinya tempat ternyaman mereka adalah tubuh Awan.


"Karena untuk membuka seluruh akses kepemilikan aset dan kekayaaan keluarga Ardhinata perlu Ken dan Zie. Seperti Fe bilang tadi dia mencari keturunan Ardhinata bukan twins. Bagaimana pun kerasnya mereka memanipulasi data, tidak akan pernah berhasil. Karena kuncinya ada pada twins, jika salah satu dari mereka tidak hadir maka sistemnya tidak akan bekerja. Kak Kev sudah memgatur semuanya, saat sering kali dulu perusahaan mengalami goncangan."


Shika kembali menghela nafasnya, kemudian lanjut berkata. "Setiap cabang perusahaan saling terhubung, titik akses kontrolnya hanya ada di dua tempat. Di Dubai dan disini sebagai titik pusat." Jelas Shika.


"Tolong jaga rahasia ini, jika tidak bisa lakukan untuk Fe paling tidak lakukan untuk kedua anak-anak Fe." Shika meminta dengan memohon, tanpa bisa dicegah air matanya menetes.


Tes


Ia teringat bagaimana mendiang suaminya dulu jatuh bangun mengamankan semua aset dan kekayaaan keluarganya agar tidak jatuh ketangan orang yang salah. Karena itu berdampak pada seluruh karyawannya yang pasti akan kehilangan pekerjaan mereka.


"Kami janji Fe, akan menjaga rahasia ini." Ucap Ray, dianggukin oleh Arya dan Awan.


Shika berdiri dari duduknya, melangkah menuju tempat bermain yang berada di sudut lemari tadi, ketiga pria itu saling pandangan dengan banyak pertanyaan didalam kepala mereka. Pastinya pertanyaan yang sama, tak urung mereka pun ikut berdiri mengikuti langkah Shika.


Shika berdiri didepan miniatur pesawat dan miniatur rumah itu, dengan gerakan tangannya diatas miniatur rumah. Salah satu dinding bergeser menampakkan sebuah ruangan tertutup yang dilapisi kaca gelap. Awan, Ray dan Arya tertegun melihat apa yang ada didepan mata mereka, tidak menyangka dibalik dinding itu terdapat sebuah ruang rahasia.


"Didalam sana, terdapat semua data-data penting perusahaan. Control transaction dari semua pihak juga bisa di akses dari dalam sana, jadi tidak akan ada penyalahgunaan wewenang. Karena itulah Direksi dan dan para pemegang saham tidak dapat menggantikan pimpinan begitu saja. Semua terkendali dari sini, walaupun Fe yang menjalankan perusahaan saat ini. Dan sekarang Fe serahkan semuanya pada Bang Afnan, itu hanya bersifat sementara. Karena pemilik sebenarnya adalah mereka." Shika melihat kedua anaknya yang begitu tenang bermain dengan mainan mereka.


"Wah, kecil-kecil udah jadi Triliuner. Gue jadiin menantu juga nih, lumayan besanan dengan keluarga kaya raya." Ujar Arya.


Plakkk


"Lo kata anak gue penyuka pisang. Ingat! anak lo pisang juga, bisa-bisanya Randy punya Bapak sarap kaya lo! apes nian anak itu." Awan memukul punggung Arya seraya berkata dengan sarkastik.


"Nanti gue produksi lagi anak cewek, menantu kaya kagak boleh disia-siain." Kekeuh Arya.


"Heh, Rojalii... tujuh puluh turunan tujuh puluh tanjakan harta lo juga kagak bakal abis!" seru Awan.

__ADS_1


"Amit-amit gue besanan ama lo, bisa-bisa tua belum waktunya gue!" imbuh Awan berkata lirih seraya mengetuk-ngetuk meja disampingnya.


"Daddy kenapa?" tanya Zie tiba-tiba dengan wajah bingung melihat Awan ketuk-ketuk meja. Ternyata mereka sedari tadi melihat perdebatan Daddy nya dengan Arya.


"Ha, oh ini.. Daddy sedang mengecek seberapa keras meja ini sayang." Awan mencoba mengalihkan perhatian anak-anaknya.


"Ohh..." twins pun hanya ber'oh' saja kemudian sibuk kembali dengan mainan puzzle mereka. Sedangkan keempat orang dewasa itu mengerutkan kening mereka masing-masing, melihat kecuekan dua bocah tampan itu.


"Ka, selama ini kalian menetap di London pastinya Kevin harus ke Dubai atau kesini dulu, kalau mau mengecek sesuatu." tanya Arya


"Engga Kak Arya, mendiang Kak Kev memantau semuanya dari laptopnya yang tersambung khusus dari sini. Dengan kata lain, laptopnya udah diset seperti yang ada didalam sana. Tapi hanya untuk mengotrol tidak bisa untuk transaksi apapun, namun saat kecelakaan itu laptopnya hancur."


Shika memanggil Ken dan Zie untuk mendekat padanya, kedua balita tampan nan menggemaskan itu patuh seperti sudah tau apa yang harus mereka lakukan. Ken menempelkan telapak tangannya pada sebuah layar untuk mencocokan sidik jarinya, hingga terdengar suara 'Accepted'. Kemudian layar kembali menampilkan pemindai wajah dan iris mata. Zie pun berdiri dan menerima pindaian tersebut, setelah memindai cukup lama hingga kembali terdengar suara 'Complete Access' pintu kaca itu terbuka dengan sendirinya. Itu menunjukkan bahwa data yang diterima oleh sistem keamanan semuanya benar.


Ken dan Zie melangkah lebih dulu kedalam ruang yang terbuat dari kaca itu, lampu ruangan itu menyala dengan sendirinya ketika mendapat sensor dari suhu tubuh twins bersamaan dengan ucapan selamat datang menyambut kedatangan Ken dan Zie.


"Ini canggih banget, bro!" Arya merasa takjub ketika sudah berada dalam ruangan itu.


"Dek,," panggil Ray pelan tanpa menoleh pada adiknya yang berdiri disampingnya.


Shika tersenyum, kemudian berkata. "Itu memindai jantung twins, Kak. Jika normal berarti twins dalam keadaan aman, jika alarm dari alat pemindai itu berbunyi berarti twins dalam bahaya. Alarm itu langsung terhubung dengan ponsel Fe, Kak. Tapi sekarang juga terhubung dengan ponsel Kak Awan." Jelas Feshika.


"Serius, sayang?" tanya Awan yang masih belum percaya.


Shika mengangguk, "Iya, Kak. Maaf, ngga ijin otak-atik ponsel Kakak." Ucap Shika dengan rasa bersalah.


"Engga apa, kamu kan istri Kakak. Lagian di ponsel Kakak ngga ada yang aneh-aneh." Awan tersenyum sembari mengacak gemas rambut istrinya. Entahlah, semakin hari semakin cinta aja dia dengan wanita ini. Sosok yang terkadang lembut, manja, keras kepala, dingin terkadang bar-bar, komplit pokoknya. Semua ada pada Shika, pikiran Awan.


Setelah pemindaian berhasil, muncul layar-layar besar didepan mereka menampilkan segala aktivitas disemua perusahaan milik Kevin, juga grafik saham, dan laporan lainnya terpampang jelas disana.

__ADS_1


"Karena keadaan twins aman, maka layar-layar ini akan muncul dengan sendirinya. Jika sebaliknya, maka tidak akan terjadi apa-apa." Imbuh Shika lagi.


"Gue kehabisan kata-kata, Wan! ini diluar pemikiran gue," mata Ray terus menatap ke layar-layar besar itu silih berganti.


"Siapa juga yang nyuruh lo buat mikir!" sela Arya.


"Mom, look at that!" seru Ken tiba-tiba, menunjuk sebuah tulisan yang berkedip-kedip dengan warna merah. Perhatian keempat orang dewasa itu langsung tertuju pada layar dan melihat apa yang ditunjuk oleh Ken.


"Ini?" Shika memejamkan matanya sejenak, membuang nafas dengan kasar.


"Sayang, ada apa?" khawatir Awan melihat ketegangan diwajah sang Istri.


"Ada yang mencoba meretas masuk perusahaan yang ada di sini."


"Apa? kamu serius?"


"Iya, Kakak perhatikan layar ini dengan yang ada didepan Zie." Tunjuk Shika pada kedua layar itu.


"Jika ada yang mencoba meretas atau melakukan kecurangan pada perusahaan. Maka sistem akan membaca dengan tulisan berwarna merah." Jelas Shika.


"Zie..." Seru Shika.


"Okey, Mom." Sahut Zie dengan santai.


Awan, Ray dan Arya terbelalak matanya hampir keluar dengan mulut menganga melihat apa yang dilakukan bocah itu. Jari mungilnya bermain-main dengan layar yang ada didepannya dengan lincah. Mata ketiga pria jtu sampai tak berkedip, hingga sampai beberapa saat kemudian suara Zie membuyarkan keterkejutan mereka.


"Done, Mom." Seru Zie tersenyum sambil membuat huruf O dengan jempol dan jari telunjuknya.


"Good Boy." Balas sang Mommy.

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2