
Twin telah dipindahkan keruang rawat inap VVIP di lantai tiga Rumah Sakit tersebut. Papanya pemilik Rumah Sakit itu, tentu semuanya akan menjadi lebih mudah. Horang kaya mah bebas, tidak perlu BPJS hehhehe. Maafkan Author ya tolong jangan tersungging.
“Sebaiknya kalian pulang saja, biar Kakak dan Zoya yang jagain mereka.” Ucap Dika melihat Awan yang sangat kelelahan dan mengantuk.
“Tapi Kak..”
“Kamu sepertinya kurang tidur, lihat kantung matamu.”
Awan menekan-nekan pangkal hidung, ia memang kurang tidur bahkan mungkin baru sedetik ia tertidur.
“Iya Kak, semalam Shika susah tidur. Dia baru tertidur jam dua-an.”
“Pantes aja Tari ketuk kamar lo ampe gempor kagak lo buka-buka.” Sela Ray.
“Bukannya lo yang ketuk?” Awan mengerutkan keningnya.
“Awalnya Tari, pas gue keluar kamar tu anak berdiri depan pintu kamar lo sambil nangis. Kalau gue ngga dibangunin Aleta, mungkin gue juga kagak kebangun.” Jelas Ray.
“Maaf,” ucap Awan tidak enak hati.
“Sekarang kalian pulang saja, istirahat. Twin juga udah tidur, khawatirnya nanti Fe cariin kamu.” Kata Dika mengingatkan Awan akan Shika yang tidak bisa jauh dari suaminya itu.
“Baiklah Kak, kami pulang. Tapi tolong kalau ada apa-apa segera kabarin ya Kak.” Dika menganggukkan kepalanya.
Sampai dirumah Awan sedikit bernafas lega, saat melihat istrinya masih terlelap. Awan yang sudah sangat mengantuk langsung saja merebahkan dirinya disamping sang istri. Memeluk istrinya dari belakang, tidak lama Awan pun terlelap.
__ADS_1
Pagi ini hujan deras mengguyur semesta, suasana dingin membuat sang wanita semakin merapatkan tubuhnya pada sang pria. Pendingin ruangan di dalam kamar telah di matikan tapi hawa dingin masih terasa dan menusuk hingga kedalam tulang. Sang wanita yang sedang mengandung itu mencari kehangatan dalam dekapan pria yang tak lain adalah suaminya.
Shika menarik selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya, Awan yang merasakan pergerakan di sisinya perlahan membuka matanya. Ia melihat sang istri seperti sedang mencari posisi yang nyaman untuk tidur.
“Sayang, kenapa?” tanya Awan dengan suara seraknya, Shika yang posisi tidurnya kepala berada di dada Awan mendongak kala mendengar suara suaminya.
“Dingin, terus ini ngga bisa tidur gerak terus.” Adu Shika menunjuk perutnya, Awan bisa melihat anaknya sedang aktif di dalam sana dari balik gaun tidur tipis yang di kenakan istrinya. Awan menarik sudut bibirnya hingga terbentuk senyuman yang sangat manis, senyuman yang bisa bikin othor diabetes kalau sering-sering melihatnya.
“Morning kesayangan Daddy,” sapa Awan di depan perut Shika, Awan juga menghadiahkan beberapa kecupan saat melihat bagian tubuh dari sang jabang bayi yang menonjol.
“Sayang, kamu menyikut Mommy?” kekeh Awan saat perut istrinya terlihat sedikit runcing diam tidak bergerak sama sekali. Awan mengusap-usap lembut dengan ujung telunjuknya bagian yang menonjol itu namun sang anak tetap diam tidak bergerak.
“Sayang, dia diam.” Ujar Awan melirik istrinya, ia mengulangi lagi mengusap hasilnya tetap sama.
“Mungkin dia maunya Kakak cium.” Ucap Shika, dan benar saja setelah Awan mengecup sang anak kembali bergerak.
Awan terus saja bermain dan berbicara dengan anaknya yang sangat aktif, Shika berkali-kali menarik nafasnya dan membuangnya secara teratur, merasakan ngilu saat anaknya menendang, menyikut atau mungkin bersalto-salto ria di dalam sana.
Awan beralih pada istrinya, mengecup bibir Shika dan sedikit memagutnya.
“Biar adil.”
“Sayang, dia aktif banget ya?” Awan seperti mendapatkan mainan baru, jarinya mengejar-ngejar bagian tubuh anaknya yang menonjol- nonjol.
“Apa twin dulu juga seaktif ini?” Awan menatap wajah istrinya.
__ADS_1
“Ngga Kak, gimana Kakak lihat mereka sekarang begitulah mereka waktu masih di dalam.”
“Maafin Kakak ya, udah buat kamu kesusahan seperti ini.” Awan menggenggam tangan Shika dan mengecupnya berulang kali.
“Hubby sayang, setiap kehamilan itu berbeda-beda. Tidak akan selalu sama, dijalani aja pasti rasanya nikmat.” tangan Shika terulur mengelus rahang suaminya yang sudah mulai di tumbuhi rambut-rambut halus.
“Kamu kalau manggil Kakak seperti itu, manis banget rasanya. Jadi pengen...?” Awan tersenyum sembari menaik turunkan alisnya, alarm tanda bahaya di kepala Shika berbunyi. Dirinya sedang dalam siaga tujuh. Shika menggeserkan tubuhnya, ia ingin turun dari ranjang tapi gerakannya kalah cepat dari sang suami. Alhasil dia tidak bisa meloloskan dirinya dari terkaman suaminya.
"Ka........."
Hujan turun semakin deras, sinyal pun hilang. Semuanya menjadi di luar jangkauan.
❄❄❄❄❄❄❄
Hai hai...pembaca setia Awan maupun yang baru, selamat datang🤗 semoga kalian terhibur.
Jingga mohon maaf yang sebesar-besarnya🙏 kalau slow UP, karena juga ngerjain novel yang lain.
Terima kasih readers yang masih setia menunggu Up nya Novel Ini😘
Novel ini sedang menuju ending🥺
Oh ya, yang ingin tau Visual Awan dan Shika bisa kepoin IG nya Jingga : @diaryofjingga
Jangan Lupa follow ya.. lope You. Nih ya Jingga Kasih pisang sekebon😁
__ADS_1
🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌