
Mungkin jaraklah yang selama ini memisahkan kita, namun tidak dengan hati kita. Kamu membuatku jatuh cinta berkali-berkali. Kamu adalah alasanku tersenyum.
Kamu adalah semangatku menjalani hari-hari yang sulit, kamu adalah pelita yang menerangi kegelapan hatiku. Segala yang kulakukan adalah tentangmu dan hanya untukmu. Kamu nafasku, kamu nyawaku.
*****
Semalaman Kevin berperang dengan hatinya, mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya. Setelah memantapkan niatnya, disinilah Kevin saat ini berada dirumah sahabatnya yang tidak lain adalah kediaman Anggara.
Biasanya Kevin terlihat santai berhadapan dengan ketiga lelaki didepannya saat ini, tapi malam ini ia begitu gugup. Jantungnya berpacu dengan begitu cepat keringat dingin membasahi pelipisnya, bibirnya terasa kaku untuk berucap.
"Mau sampai kapan kita diam hanya saling lirik-melirik." Akhirnya Dika membuka suara setelah hampir setengah jam tidak ada satu orang pun diantara mereka yang mengeluarkan suara.
Kevin menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu membuang perlahan, "Aku meminta kalian kumpul malam ini. Karena aku... aku mau menyampaikan niatku untuk meminta Resta pada kalian menjadi istriku." Ucap Kevin mantap tanpa ada keraguan sedikitpun dari setiap kata yang terucap.
Ketiga lelaki itu tersentak dengan apa yang di sampaikan oleh Kevin. Mereka saling pandang dan terdiam kembali, larut dengan pikiran masing-masing.
"Ekhem...kenapa lo tegang banget gitu, Vin? santai aja, jangan terlalu formal. Kayak sama siapa aja, kita udah dari kecil sama-sama." Ujar Dika kembali mencairkan suasana, ia bisa melihat betapa gugupnya Kevin saat berbicara tadi.
"Lo hadapi klien bisa sangat tenang, kenapa sama kita yang udah seperti keluarga lo malah tegang gitu!" Ledek Afnan ikut menghangatkan suasana. Afnan sangat tau seperti apa perasaan Kevin saat ini, karena ia pernah berada diposisi Kevin beberapa tahun lalu.
"Ck, lebih mudah hadapi klien dari pada kalian. Masalahnya, ini masa depan gue. Kagak tau apa jantung gue rasanya mau keluar dari tempatnya." Ucap Kevin sebal, mereka tergelak tawa. Suasana yang tadi sangat tegang perlahan berubah menjadi lebih tenang seperti biasanya.
__ADS_1
"Ya tinggal ngomong gitu aja lo susah amat sih, Vin. Kalau gini, jadinya lebih nyantai engga kayak lagi rapat Direksi kita." Seru Dika disela tawanya.
"Jadi.... Lo serius mau melamar, Fe? apa dia udah tau, niat lo?" tanya Afnan.
Kevin mengeleng pelan, "Belum."
"Kenapa lo engga tanya Fe dulu?" tambah Dika.
"Gue mau minta ijin kalian terlebih dulu, baru gue ngomong sama Resta."
"Ya kalau kita sih, terserah Fe. Apapun keputusannya selama itu baik, kita pasti setuju." Ujar Dika.
"Gue panggilkan, Fe. Lo tanya langsung sama dia, gimana?" usul Dika.
"Engga usah, ka. Gue siapkan dulu tempat lamarannya, lo dengar sendiri. Adik lo ini belum apa-apa udah bawel."
Ray sejak tadi hanya diam menyimak setiap kata yang mereka ucap, raganya berada disana tapi pikirannya berkelana jauh. Ray memikirkan bagaimana perasaan Awan mengetahui Kevin sudah melamar adiknya, walaupun masih sebatas pembicaraan diantara mereka belum diketahui oleh adiknya.
Karena Ray sangat yakin, kalau Fe adiknya akan menerima lamaran Kevin. Secara Adiknya juga menyimpan rasa untuk Kevin. Ingatannya kembali berputar saat tanpa sengaja ia mendengar percakapan antar Awan dan adiknya di Villa beberapa waktu lalu.
Aku engga pernah meminta kepada siapa rasa itu harus tumbuh, tapi saat kak Kevin datang seolah separuh jiwaku yang pernah hilang kini kembali. Aku pernah merasakan cinta selama lima tahun, tapi...aku engga tau, apa itu bisa dinamakan cinta.
__ADS_1
Saat bersama kak Kevin aku merasakan hal yang berbeda yang tidak pernah aku rasakan. Setiap bersamanya, entah mengapa jantung ini selalu berdebar. Hingga akhirnya aku menyadari, kalau AKU MENCINTAINYA.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sejak Kevin pulang dari dua jam yang lalu. Ray masih duduk termenung disamping kolam ikan, apakah ia harus senang atau sedih. Bingung dengan hatinya, apa yang harus dikatakan pada Awan.
Sebagai seorang kakak, Afnan sangat mengerti bagaimana suasana hati adiknya. Walaupun jarak usia mereka hanya berbeda dua tahun, tapi Ia tau di satu sisi Ray sedang tidak dalam keadaan baik.
Sifat Ray tidak jauh berbeda dengan Feshika, tidak bisa melihat orang lain bersedih. Lebih memilih ia yang menanggung semua rasa sakit dan luka. Mereka terlihat seperti kembar tapi beda usia, hanya saja Ray mampu menutupi semua itu didepan orang lain tapi tidak padanya, Dika dan Fe.
"Kamu ikuti saja alur takdir ini, Ray." Ujar Afnan menepuk bahu Ray, lalu duduk disampingnya ikut melihat kearah kolam ikan.
"Entahlah bang, aku kasian sama Awan. Pasti hatinya sangat terluka, aku engga tega bang. Bahkan bertemu dia aja aku engga sanggup p bang." Lirih Ray dengan suara bergetar.
Afnan bisa melihat raut kesedihan dari sorot mata Ray. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, semua keputusan ada pada Feshika.
Afnan menarik lalu membuang nafasnya, melempar jauh pandangannya pada langit malam yang gelap hanya ditemani sinar bintang yang bercahaya.
Menerawang kembali pada jalan hidupnya, harus merelakan dan mengikhlaskan orang yang dicintai untuk selamanya. Bukan hanya satu tapi dua nyawa yang harus pergi meninggalkannya disaat bersamaan.
Sudah jalan takdirnya seperti itu, ia harus menerima dengan lapang dada. Karena hidup terus berjalan, pandanglah ke depan. Sesekali lihat kebelakang, jangan terus menatap sesuatu yang tidak akan pernah kembali.
Merelakan dan mengikhlaskan itu sangat berat, bahkan sulit. Terkadang kita mampu merelakan tetapi belum tentu sanggup untuk ikhlas.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁