Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
9 - Teman Masa Kecil


__ADS_3

Cuaca sejak pagi hari sudah tidak bersahabat, hujan deras mengguyur ibukota. Dinginnya udara membuat seorang gadis cantik masih bergelut dengan hangatnya selimut yang membungkus tubuhnya. Emang paling nyaman kalau sudah berada dibalik selimut jadi mau apa-apa malas, bawaannya pengen tidur.


Awass... Jangan komplen karena tempat author sedang hujan😎


"Kakak...kenapa dibuka gordennya? silau tau, masih ngantuk juga." Gerutu Shika.


"Silau darimana? makanya buka mata liat diluar hujan deras, gelap."


"Tetap aja terang, kak. Matahari cuma diumpetin hujan tapi sinarnya tuh terang, aku masih merem aja silau."


"Buruan bangun, mandi. Kak Dika udah nungguin buat sarapan. Anak gadis kok malas bangun pagi." Omel Ray menarik selimut adiknya.


"Iya.. iyaaa... Udah kalahin emak-emak komplek kakak bawelnya. Yang jadi istri kakak kudu ditraining dulu nanti biar kuat mentalnya."


"Apa kamu bilang?"


"Engga ada, peace..." Shika mengangkat jari tengah dan telunjuk kearah kakaknya, Ray hanya bisa geleng- eleng liat tingkah adiknya.


Shika langsung berlari ke kamar mandi membersihkan, jangan sampai datang panggilan kedua dari Ray.


"Mana, Fe? belum bangun?" tanya Dika yang melihat Ray turun sendirian.


"Udah, kak. Lagi mandi." Dika mengangguk.


Tidak lama kemudian Shika turun dengan penampilan rapi dan sangat cantik dengan polesan make up natural.


"Pagi kakak-kakakku yang ganteng." Sapanya sambil mencium pipi kedua kakaknya.


"Tumben senang amat pagi ini?" tanya Dika.


"Jangan-jangan kamu kesambet tadi dikamar mandi?" sambung Ray.


"Apaan sih kak? merusak mood orang aja!" Ia menatap kedua kakaknya lalu berkata "Fe, udah mutusin untuk terjun langsung urus butik dan resto seperti saran kakak. Walaupun Fe kurang paham bisnis, kakak bakalan bantuin Fe, iyakan?"


"Kakak pasti bantu kamu, pelan-pelan aja dulu."


"Tapi Fe akan mulai dari butik dulu kak, untuk resto biar dikelola sama mba Luna sambil perlahan Fe belajar. Gimana menurut kak Dika dan kak Ray?"

__ADS_1


"Jika itu yang terbaik, Kakak akan dukung apapun keputusan kamu. Kakak juga engga mau kamu terlalu memporsir tubuh dan pikiran kamu. Kesehatan kamu jauh lebih penting, kalau untuk materi kakak masih sanggup biayain hidup kamu, tapi kakak hanya ingin kamu memiliki tanggung jawab dengan apa yang sudah kamu bangun." Jelas Dika.


"Kami sangat menyayangimu Feshika lebih dari apapun didunia ini dan kamu adalah harta paling berharga yang kami miliki."


Mata Shika berkaca-kaca mendengar ucapan kedua kakaknya, pagi ini ia benar-benar sangat bersyukur karena sedari dulu sejak kedua orang tuanya meninggal ia tidak pernah kekurangan cinta dan kasih sayang dari kedua kakaknya.


*****


Siang hari disebuah perusahaan besar dan ternama, seorang pria dengan setelan jas warna hitam berada dalam ruangan yang luas nan mewah dengan gagahnya ia berdiri menghadap keluar jendela kedua tangan ia masukan kedalam saku celana. Memandangi rintikan hujan yang turun membasahi bumi, memejamkan mata memorinya mengantarkan pada sosok gadis kecil yang sangat menyukai hujan.


Dika yang baru saja selesai rapat dengan para relasi bisnisnya, berjalan dengan langkah lebar kembali keruang kerjanya diikuti asisten pribadinya.


"Maaf, pak. Di--"


"Temui saya diruangan." potong Dika cepat saat melewati meja sekretarisnya, membuat sang sekretaris yang bernama Mita menelan saliva nya dengan sudah payah, belum sempat mengatakan sesuatu tapi atasannya sudah keburu membuka pintu ruangannya.


Bian sang asisten yang melihat perubahan wajah Mita jadi pucat mengerutkan alisnya. Belum sempat Bian bertanya, sudah terdengar suara atasannya.


Mampus kau Mita, tamatlah riwayatmu. Umpatnya dalam hati.


"Siapa kau?" tanya Dika saat membuka pintu ruangannya melihat seorang lelaki sedang berdiri membelakanginya. Sontak suara itu menariknya kembali dari ingatan masa lalu.


"K-kau..." Ucap Dika terbata-bata.


"Heiii.. Kenapa kau melihatku seperti melihat hantu?"


"Kenapa kau disini, hah?" hardik Dika setelah berhasil menetralkan rasa terkejutnya karena kehadiran lelaki itu secara tiba-tiba diperusahaannya.


"Seharusnya kau senang, aku disini. Apa kau tidak ingin memeluk teman masa kecilmu ini?"


"Tentu saja dengan senang hati aku akan melakukannya!" Dengan langkah santai Dika berjalan kearah sofa dimana laki-laki tadi berdiri.


Bughh


Bugh


Dua pukulan telak tiba-tiba dilayangkan Dika pada sosok itu, tanpa bisa menghindar sosok itu tersungkur diatas sofa. Darah segar mengalir disudut bibirnya.

__ADS_1


"Bre ngsek, kenapa kau memukulku?" menatap tajam lelaki dihadapannya.


"Seharusnya aku melakukannya 12 tahun lalu. Kau yang bre ngsek." Teriak Dika, emosinya tersulut.


"Apa salahku?"


Menarik kuat kerah kemeja laki-laki itu. "Kau tanya apa salahmu, hah? apa perlu ku hajar lagi biar otakmu terbuka?"


Bian yang sedari tadi hanya menyimak, mendekati atasannya berusaha melerai. "Tuan, tolong kendalikan diri anda."


"Oke.. oke.. Aku minta maaf, aku salah. Bisakah kita bicara dengan kepala dingin. Akan kujelaskan semuanya. Tolong lepaskan tanganmu, kau membuatku sulit bernafas." Ucap lelaki itu.


Menghempaskan lelaki itu dengan kasar, tampak ia mengatur nafasnya dan menahan rasa nyeri diwajahnya.


"Katakan, kenapa kau kembali?" tanya Dika dengan tenang. Ia telah mendudukan dirinya dan bersandar pada sofa depan lelaki itu.


Lelaki itu menghela nafas dengan pelan, "Aku akan mengurus perusahaanku yang disini." Dika mengerutkan keningnya.


"Sejak kapan? bukannya kau sangat ingin jadi seorang pilot? sampai-sampai kau mengambil sekolah penerbangan ke Oxford. Sekarang kau ingin mengurus perusahaan? yang benar saja! Jangan kau pikir aku tidak tau isi kepalamu!" Sarkas Dika.


"Katakan, sebelum aku menghajarmu lagi." Imbuhnya.


"Salah satunya itu, dan juga......" Lelaki itu menggantung kata-katanya menatap dalam Dika.


"Gadis kecilmu! kau kembali karena gadis kecilmu itu. Benarkan?" tebak Dika tepat sasaran. Lelaki itu menghirup pasokan oksigen sebanyak-banyaknya lalu mengangguk lemah.


"Sudah kuduga, mengurus perusahaan hanya kedokmu saja. Semoga saja gadis kecilmu itu tidak mengingatmu."


"Kenapa kau kejam sekali?"


"Kau bilang aku kejam? Kau yang sangat kejam Kevin Ardhinata! kau membuat dia bergantung padamu, kau bahkan mengingkari janjimu padanya. Kau menghilang bak ditelan Bumi! apa kau tau? selama hampir setahun kau menghilangkan senyum diwajahnya, tidak ada lagi gadis kecil yang ceria, kau merubah dia menjadi anak pendiam. Kau bahkan hampir merengut kebahagiaannya kalau saja Bunda tidak datang tepat waktu dan sekarang...?? seenaknya kau kembali! Apa kau pikir aku mengijinkanmu bertemu dengannya? tidak akan pernah."


"Aku ingin minta maaf padanya, kumohon ijinkan aku bertemu dengannya. Ijinkan aku menepati janjiku." Lirihnya.


Terbesit rasa bersalah dan penyesalan dalam hatinya. Ia tidak menduga jika kepergiaannya dulu membuat gadis kecilnya begitu menderita.


Aku ingin menggenggam sedikit waktu saja yang sempat ku buang. Waktu yang kukira luang kini menghujamku pada titik penyesalan.

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2