Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
65 - Ipar Durhaka


__ADS_3

Ketika bangun dari tidurnya, Shika tidak menemukan Awan disisinya. Ia mencari dikamar mandi, walk in closet sampai di balkon juga tidak ada tanda-tanda suaminya. Shika yang tidak bisa jauh-jauh dari suaminya langsung saja menangis sambil berjalan keluar dari kamarnya. Efek hormon kehamilannya membuat Shika menjadi sangat sensitif, sebentar saja ditinggal oleh Awan maka ia akan merasa sedih.


ART dikediaman Awan dibuat kebingungan oleh Momil, sang Nyonya rumah menangis sesegukan di dekat kolam renang sambil duduk bersila. Pandangannya menatap kolam renang itu dengan begitu sedih, salah satu ART senior memberanikan diri mendekati sang Nyonya.


“Nyonya kita pindah duduk dikursi ya?” bujuk sang ART.


“Ngga mau, hiks.. aku maunya Kak Awan!” Shika berkata dengan suara yang hampir hilang karena sudah terlalu lama menangis.


“Tapi ini lantainya dingin, Nyonya. Kasian dedek bayinya, nanti kedinginan.” Ujar ART itu dengan lembut.


“Makanya kalian cari suami aku sampai ketemu, kenapa kalian tidak menjaganya biar ngga hilang.” Omel Shika kembali menangis kencang, ART senior menghela nafas dalam-dalam lalu membuang perlahan. Ia melihat ke belakang pada rekannya, mereka hanya mengangkat bahu dan menggeleng tidak tau harus berbuat apa. Semua ART bahkan tukang kebun sudah mencari kesetiap sudut rumah tapi sang Tuan tidak kelihatan batang hidungnya.


Zie dan Ken yang telah mandi dan berpakaian rapi, menuruni tangga diikuti oleh Mbak yang mengurusi keperluan mereka. Sesampainya di ruang makan mereka melihat para ART yang berkumpul didepan pintu yang berbatasan dengan kolam renang.


“Mbak ada apa itu, kenapa ramai sekali?” tanya Ken.


“Mbak juga tidak tau Tuan Muda, sejak tadi Mbak dikamar Tuan Muda.” Ken mengangguk-anggukan kepalanya.


Dari arah atas tangga, Awan menuruni anak tangga sedikit tergesa-gesa. Sulis yang melihat Tuannya berjalan kearah mereka ia langsung menggeser menjauh kebelakang, tubuhnya membungkuk sekilas.


“Hai jagoan Daddy, udah ganteng aja.” Sapa Awan mengacak rambut kedua Putranya itu.


“Lis, kamu liat Nyonya?” Melihat ruang makan juga tidak ada istrinya.


“Tidak Tuan, saya baru saja turun dengan twin.” Sahut sulis.


Salah satu ART dari mereka yang berkumpul disana, melihat kebelakang ketika mendengar suara Awan.


“Akhirnya Tuan datang juga, kami semua mencari Tuan!” alis Awan berkerut. “Nyonya Tuan!” ART itu menunjuk ke arah kolam, pikiran Awan langy melayang kemana-mana. Takut istri kenapa-napa, apalagi ARTnya menunjuk arah kolam.


“Nyonya kenapa?” tanya Awan sambil berjalan melewati para ART yang hanya membungkukkan badan. Kemudian mereka langsung berpencar kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.

__ADS_1


“Sayang..” Mendengar suara suaminya Shika memutar kepalanya kesamping, Shika menjulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Awan. ART yang bersama Shika tadi meninggalkan sang majikan kembali kedalam.


“Kakak kenapa tinggalin kami, hiks..?” isak Shika dalam dekapan suaminya.


“Kakak diruang gym sayang, kenapa kamu ngga nyusul kesana?” Awan mengusap punggung Shika yang naik turun memberikan ketenangan pada istrinya.


“Udah, tapi ngga ada Kakak disana.” Sahut Shika sembari ndusel-ndusel didada Awan seperti mendapati mainan baru membuat Awan kegelian.


“Sayang, kamu ngapain? Ayo berdiri.” Shika bergeming, ia masih mencium aroma tubuh Awan yang membuat tangisnya seketika berhenti.


“Badan Kakak wangi, Fe suka.”


“Kakak keringatan lhoh! Kita balik kamar ya, kita mandi dulu. Bentar lagi Ray datang jemput twin.” Rayu Awan yang risih karena bajunya sudah basah dengan keringat.


“Ngga mau, Kakak ngga boleh mandi. Mau kayak gini terus!” Shika semakin menenggelamkan wajahnya didada bidang Awan, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Awan yang bercampur keringat. Awan menarik nafas panjang kemudian menghempaskan dengan kasar.


*****


“Morning Pa.” Balas Ken dan Zie kompak menoleh sebentar melihat Ray, kemudian kembali fokus menonton.


“Udah siap berangkat ketempat nenek?” tanya Ray.


“Siap Pa?” seru twin semangat sambil mengangguk.


“Itu Nyonya napa? Ampe nemplok gitu, tidur?” Ray melihat Shika yang duduk diatas pangkuan Awan dengan wajahnya ia umpetin dileher Awan.


“Kelakuan ponaan lo ini, Daddy nya ngga dibolehin mandi. Asli udah gerah banget gue, Ray. Mana nyenyak banget lagi tidurnya!” Ray tergelak.


“Sssttt... Suara lo kayak basoka, kecilin!” Awan memplototi sahabatnya itu.


“Sorry.. Sorry, makanya lo jangan bucinnya kebangetan. Sekarang lo rasain sendiri kan?”

__ADS_1


“Apa hubungannya, ck. Kagak nyambung lo!”


“Eh, jangan salah lo. Kata orang-orang, kalau suaminya terlalu bucin sama istri kayak elo kejadiannnya. Anak lo maunya deket lo terus, ya akhirnya mau tidak mau istri lo yang akan nempel mulu sama lo karena bawaan sijanin.”


“Masa sih?” Ray mengangguk dengan sangat yakin. “Lo percaya mitos kayak gitu?” Ray mengangkat bahunya.


“Gue ngga masalah sih, mereka mau dekat gue. Malahan gue dengan senang hati melakukan apapun yang diinginkan anak dan istri gue, yang jadi masalah sekarang gue pengen mandi!” Ray terkekeh melihat Awan sangat pasrah.


“Kalau begitu selamat menikmati masa ngidam istri lo, gue jalan dulu biar ngga kejebak macet. Lo tau sendiri kan weekend.” Ray berdiri dari duduknya, kemudian mengajak twin. Twin berpamitan pada Awan tak lupa mengecup pipi sang Daddy, tapi tidak dengan Mommy nya karena sedang tidur.


“Daaahh Daddy..” Twin melambaikan tangan mereka.


“Daa sayang! Salam buat Nenek ya..” Ken menempelkan ujung ibu jari dan telunjuk tangannya kearah Awan.


“Hati -hati lo,” pesan Awan. “Aleta sama Qilla ngga jadi ikut?” tanya Awan baru menyadari istri dan anak sahabatnya itu tidak terlihat.


“Ikut, dimobil lagi nyuapin Qilla makan? Anak itu susah banget dibanguni, sama kayak bini lo. Noh, lo liat aja kita udah cuap-cuap sampai Zimbabwe dia tetap aja molor.”


“Adik lo kan..?”


“Bini lo..!”


“Udah sana pergi-pergi, bikin sumpek aja muka lo?” usir Awan mengibas-ngibaskan tangannya.


Ray mendelik, “Dasar adik ipar durhaka lo!” Ray meninggalkan Awan dan Shika yang masih terlelap.


Sepeninggalan Ray dan twin, Awan perlahan mengangkat Shika. Ia akan menidurkan istrinya dikamar, Awan khawatir jika terlalu lama tidur dengan posisi seperti itu badan istrinya akan sakit.


Awan meletakkan tubuh Shika dengan sangat hati-hati dan pelan, Awan berharap semoga belahan jiwanya itu tidak terbangun. Awan bergegas lari kedalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya secepat mungkin sebelum sang Ratu terbangun.


“Selesai! Udah kayak tentara mau apel pagi, berpacu dengan waktu.” Gumam Awan didepan cermin, seumur-umur baru ini dia mandi kilat. Awan meninggalkan walk in closet, kembali ke kamarnya. Kemudian naik keatas tempat tidur dan memeluk istrinya kembali.

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2