Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
33 - Mulai Nyaman


__ADS_3

Malam telah tiba, sang rembulan menampakkan diri dengan sinarnya yang begitu terang. Menerangi dua insan yang sedang duduk bersama di sebuah taman yang berada di belakang rumah kediamaan Anggara.


Mereka larut dengan pikiran masing-masing, entah apa yang sedang mereka pikirkan hingga waktu dibiarkan bergulir begitu saja tanpa ada yang ingin melenyapkan keheningan malam ini. Awan mulai membuka suaranya setelah keduanya saling diam untuk beberapa lama.


"Ka.."


"Iya.."


"Kamu tau, dimana pertama kali Kakak bertemu twins?"


Shika menggeleng, "Ngga.."


"Kalau tempat pertama kita ketemu?" tanya Awan menoleh pada Shika yang duduk disampingnya.


"Ditaman dekat restoran." Jawab Shika setelah berpikir sejenak.


"Ternyata kamu masih ingat, saat itu kamu terlihat sangat sedih dan terluka." Ucap Awan sembari mengenang awal perjumpaan mereka.


Awan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembus dengan perlahan.


"Seperti itu juga pertemuan Kakak dengan twins, serasa de javu. Tapi saat itu Kakak hanya melihat Zie yang duduk seorang diri dibangku yang sama denganmu dulu." Pikiran Awan jauh melayang memutar kembali memori dikepalanya.


"Hati Kakak seperti terpanggil untuk mendekat pada Zie, saat itu Zie hanya menunduk. Hingga Kakak berdiri didepannya baru ia menegakkan kepalanya dan melihat kearah Kakak, tatapan matanya persis seperti kamu, Ka. Tatapan kesedihan, awalnya Kakak kaget ketika Zie panggil Daddy tapi saat Zie berada dalam gendongan Kakak dan ia menangis hati Kakak seperti tercubit." Awan kembali menghela nafasnya.


"Sampai Ray dan Ken datang, semakin membuat Kakak bingung saat melihat Ken. Kakak seperti berdiri didepan sebuah cermin, tidak ada perbedaan diantara mereka dan Ken juga memanggil Kakak Daddy." Awan tersenyum mengingat semua itu.


"Malam harinya setelah pertemuan itu twins demam tinggi, menurut mba Zoya setelah bangun tidur sore itu Zie nangis-nangis nyariin Kakak sampai akhirnya mereka demam. Saat itu juga Kakak merasa sangat gelisah, entah kebetulan atau apa Kakak pun teringat terus pada twin hingga Kakak datang lagi kesini dan melihat Ken terbaring sementara Zie dalam gendongan Kak Dika. Lalu Kakak mengambil Zie dari Kak Dika dan menggendongnya, mendekapnya berharap panasnya turun hingga akhirnya Zie tertidur dengan suhu panas tubuhnya yang juga turun. Kakak juga tidak mengerti, hati Kakak sakit melihat mereka seperti itu. Mungkin sudah takdirnya begini, bahkan tidak bisa jauh seperti ada ikatan batin diantara kami."


"Sejak saat itu, Kakak selalu memberikan semua yang bisa Kakak berikan untuk mereka. Terkadang mereka sampai ikut kerumah sakit, padahal itu tempat yang tidak baik untuk mereka. Selagi itu bisa membuat mereka bahagia, Kakak membiarkannya. Karena jika mereka senang maka imun mereka pasti kuat."


"Maaf, Kakak jadi cerita panjang lebar."


Shika tersenyum, "Setidaknya aku tau kisah pertemuan Kakak dengan twins, kalau Kakak ngga cerita suatu saat pasti akan Shika tanyakkan." Mereka saling melempar senyuman.


"Kakak ingat, disini juga aku pernah marah-marah sama Kakak."

__ADS_1


"Iya, kamu galak banget waktu itu."


"Sejak pertama ketemu, rasanya aku sangat membencimu. Kakak selalu membuatku kesal dan darah tinggi."


Jarak yang terbentang diantara mereka perlahan terkikis, mereka saling tertawa, menyindir bahkan tak barang saling menggoda mengenang saat awal kedekatan tanpa mereka sadari dua pasang mata sedari tadi terus mengawasi dari lantai atas rumah itu.


"Sepertinya Fe mulai nyaman lagi bersama Awan, Mas." Ucap Zoya pada Suaminya.


"Awan sangat mencintai adik kita, Zoya. Dia lelaki baik, kita doakan yang terbaik aja untuk mereka."


"Sampai sekarang ia masih betah dengan kesendiriannya, demi menjaga cintanya pada pujaan hati."


"Mau belajar jadi pujangga kamu, hm."


"Tidak, Mas. Cukup belajar jadi Istri yang baik aja, udah yuk mending kita tidur. Ngga baik liatin orang pacaran."


"Ya udah, yuk kita buat adik untuk Xena."


"Itu maunya, Mas,"


"Ohh, jelaaass... harus nurut, kalau tidak dosa."


*****


Keesokan harinya Awan mengajak Shika ke sebuah mall terbesar dikota itu, selain untuk mengambil cincin yang sudah dipesannya Awan juga ingin menghabiskan waktu berdua Shika.


Sementara kedua bocah tampan nan menggemaskan itu lebih memilih tinggal bersama Oji dan Oyu nya, mereka senang bersama kedua nenek dan kakek itu semua keinginan mereka selalu dituruti.


"Kakak ngga pa-pa cuma nikah aja ngga ada resepsinya?" tanya Shika.


"Kenapa? kamu mau dibikinin resepsi?" tanya balik Awan menoleh sebentar pada Shika kemudian kembali fokus menyetir.


"Ngga, bukan gitu Kak!" sanggah Shika.


"Inikan yang pertama untuk Kakak, pastinya semua laki-laki termasuk Kakak menginginkannya sekali dalam seumur hidup. Jangan hanya karena aku, Kak!" imbuh Shika lagi.

__ADS_1


"Kalau Kakak yang penting sah di mata Agama dan Hukum udah cukup, kalau resepsi itu kan hanya formalitas aja agar orang-orang tau kita udah nikah. Mungkin juga sebagian orang untuk menjalin silaturrahmi. Tanpa resepsi pun orang-orang, teman-teman Kakak serta kolega Papa udah pada tau kalau Kakak udah nikah dan punya anak, dua lagi." Jelas Awan sembari tersenyum.


"Bukan karena Kakak pelit, kan?" ledek Shika.


"Eh, udah berani ledekin Kakak ya! kalau kamu ingin resepsi, Kakak akan buatkan."


Shika menggeleng cepat sambil tersenyum, "Aku ikut Kakak aja, yang mana membuat Kakak nyaman."


"Kita akan foto prewed tapi setelah nikah nanti, kamu mau kan? kalau kamu keberatan kita batalin." tanya Awan ragu.


"Aku ngga keberatan, aku mau kok." Balas Shika tersenyum manis.


Akhirnya senyum itu hadir kembali, andai kamu tau aku sangat merindukan senyum mu itu. Batin Awan tersenyum.


Aku akan belajar menerima semua ini, kata hati Shika.


Sampai di mall, Awan langsung membawa Shika menuju ke toko perhiasan. Setelah melihat cincin yang dipesan sesuai dengan hasil yang di inginkan Awan segera melakukan pembayaran.


"Ka, ada yang kamu suka?" tanya Awan pada Shika yang sedang melihat-lihat perhiasan yang dipajang disana.


"Ngga, Kak. Kakak tau aku ngga suka pakai perhiasan." Awan hanya mengangguk.


"Kak, kita mau kemana lagi?" tanya Shika setelah mereka keluar dari toko perhiasan, Awan menggenggam tangan Shika. Mereka berjalan berdampingan sambil mencari tempat makan.


"Kita makan, terus kita keliling mall ini sampai bosan." Ucap Awan asal.


"Hahaha.. yang benar aja, Kak. Bukannya bosan tapi kaki kita yang bengkak." Shika tertawa lepas dan itu membuat hati Awan senang.


"Asal kamu senang, apapun itu Kakak lakukan."


Kamu emang ngga pernah berubah, Kak. Masih sama seperti dulu.


Shika terus memandang wajah lelaki yang berjalan disampingnya, Awan yang merasa diperhatikan pun menoleh.


"Hei, napa malah liatin Kakak? Kakak emang tampan, ngga usah di liatin terus."

__ADS_1


"Ck, kumat deh, narsisnya!"


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2