Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
35 - Menuju Halal


__ADS_3

Selesai membersihkan diri Shika membantu Mama Jihan menata makanan yang dibawanya diteras belakang, Mama Jihan memilih duduk lesehan agar kedua cucunya lebih nyaman saat makan. Tak lama Awan menyusul bersama twins dalam gendongannya.


"Ma, Papa belum pulang?" tanya Awan tidak melihat sang Ayah sejak ia pulang.


"Lagi diruang kerjanya, sebentar lagi nyusul." Sahut Mama Jihan sambil terus mengatur hidangan diatas meja.


"Ada apa cari, Papa?" Awan memutar badannya kebelakang saat mendengar suara orang yang dicarinya.


"Cari aja, Pa. Memang ngga boleh ya, anak cariin Papa nya." Awan cemberut.


Twins hanya melihat dan mendengar saja Daddy dan Oyu dengan wajah polos mereka.


"Kamu ini, udah jadi orang tua masih aja kayak bocil ngga malu sama anak." Tegur sang Papa.


"Selama Awan masih anak Papa, kenapa harus malu."


"Iya ya.. terserah kamu aja."


Papa Yudha geleng-geleng kepala, ia pasrah saja. Tidak akan habis kalau debat dengan Putranya, pasti akan ada jawabannya.


"Udah-udah, sekarang kita makan. Liat cucu-cucu kita udah pada lapar."


Twins yang awalnya duduk disamping Mommynya kini berpindah duduk ke sisi kiri Awan, karena seperti biasanya jika makan ikan bakar mereka akan disuapin oleh Awan.


"Zie sama Ken mau kemana?" tanya Shika bingung.


"Duduk samping Daddy, Mom." Sahut Zie.


"Mau disuapin sama Daddy." Sambung Ken.


"Ken sama adik Zie, Mommy suapin aja ya. Biar Daddy bisa makan."


"Kak, biar Shika aja yang suapin anak-anak. Kakak makan aja." Imbuh Shika sambil melihat Awan.


"No, Mom. Zie sama Kak Ken mau disuapin Daddy, benalkan Kak Ken?" jawab Zie seraya bertanya pada sang Kakak mencari dukungan.


"Iya, kalau disuapin Daddy enak." Jelas Ken menimpali.


"Sama aja, sayang." Shika berusaha membujuk kedua anaknya.


"No... No.. No... beda rasanya, Mom. Pokoknya disuapin Daddy." Kekeh Ken tidak mau disuapin oleh Shika.


"Iya, tidak boleh plotes." Sahut Zie menimpali.


"Udah, ngga apa Ka. Mereka udah biasa Kakak suapin kalau lagi makan ikan bakar gini. Kakak bisa makan nanti, yang penting sekarang anak-anak dulu."

__ADS_1


"Kalau gitu... Kakak, Shika suapin juga biar kita sama-sama makan"


"Hah, kamu yakin? Kakak bisa makan nanti, ka."


"Tidak boleh plotes seperti kata adik Zie tadi." Seru Shika mengikuti gaya bicara Zie.


"Siniin piring, Kakak."


"Pakai piring kamu aja, biar ngga repot kamunya harus dua piring."


Shika diam tampak berpikir maksud Awan, "Satu piring berdua?" tanya Shika memastikan.


Awan mengangguk, "Iya, bolehkan?"


"Okey..."


Akhirnya mereka makan saling menyuapin, kedua orang tua yang sudah tidak lagi muda itu saling pandang melihat kebersamaan anak-anak dan cucu-cucu mereka. Mama Jihan sampai meneteskan air mata, ia berharap semoga ini awal kebahagiaan untuk Putranya dan Shika membuka hati membalas cinta anak semata wayangnya.


Tidak ada yang di inginkan oleh kedua orang tua itu selain rumah tangga anaknya yang harmonis penuh cinta dan saling melengkapi satu sama lain.


Mereka makan dengan tenang, hingga semua makanan dimeja habis tak tersisa. Sesekali Papa Yudha menggoda sang anak yang berhasil membuat wajah Shika merona merah seperti tomat karena malu.


Malam pun kian larut, para penghuni rumah telah kembali ke pembaringan masing-masing menjemput mimpi untuk menyongsong esok hari yang lebih baik.


Detik berganti menit, malam berganti pagi, hari berganti minggu. Kini hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, karena keinginan Awan yang ingin ijab qabulnya hanya dihadiri oleh keluarga besar kedua belah pihak dan sahabat terdekat. Maka rumah keluarga Dika disulap dengan dekorasi sederhana tapi mewah dan elegan dihiasi berbagai macam bunga dengan warna pastel.


Shika yang sudah terlihat cantik dengan memakai kebaya berwarna broken white saat ini berada dikamarnya, walaupun ini bukan yang pertama untuknya tapi ia tampak sangat gugup.


"Fe, jangan tegang, santai aja." Nasihat Zoya yang sedari tadi memperhatikan wajah Shika.


"Entahlah, Mba. Rasanya gugup banget!" Shika mere mas - re mas jarinya berusaha menghilangkan rasa gugupnya.


"Berasa kayak pertama ya, Fe?" Goda Aleta.


"Hu um, pengen pipis!" Shika meringis membuat kedua Kakak iparnya tertawa.


Tiba-tiba wajah Shika berubah sendu, matanya mengembun teringat Afnan beserta Istri dan Bunda juga Mami Sofi yang tidak bisa hadir di hari pernikahannya terasa ada yang kurang.


"Lhoh, sayang. Napa nangis?" tanya Zoya panik.


"Bang Afnan sama yang lain, ngga hadir!" lirih Shika.


Zoya memeluk adik iparnya, ia sangat tau seperti apa kedekatan mereka, bahkan jika orang tidak tau akan berpikir mereka sepasang kekasih.


"Nanti selesai acara kita hubungi mereka, sekarang berikan dulu rasa sedihnya sama Mba, biar Mba simpan nanti kita ambil lagi." Ujar Zoya disertai guyonan.

__ADS_1


"Makanan kali, Mba. Bisa disimpan!" Shika terkekeh, ada-ada aja Kakak iparnya itu.


"Nah, gitu dong senyum. Sekarang kita turun ya, semuanya udah menunggu."


Zoya dan Aleta mendampingi Feshika menuju tempat ijab qabul akan dilangsungkan. Semua mata menatap takjub pada mempelai wanita yang sedang menuruni anak tangga itu.


Kecantikan Ibu 3 orang anak itu tak luntur diusianya yang telah menginjak 31 tahun. Termasuk sang mempelai pria yang tampak tak berkedip sekalipun menatap bidadari hatinya, tanpa ia sadar wanitanya telah duduk didekatnya.


"Bagaimana saudara Awan, kita mulai sekarang? biar cepat halal, bisa dipandang terus." Guyon pak penghulu yang sejak tadi memperhatikan pengantin pria tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Shika, membuat yang hadir disana tertawa.


"Nafas bro, nafas..!" seru Ray yang duduk tak jauh dari Awan.


"Sudah siap saudara Awan?" tanya pak penghulu lagi.


"Siap."


"Silahkan saudara Dika," pak penghulu mengarahkan Dika untuk mengambil tempat.


"Santai, Wan. Ucap Dika sesaat setelah menjabat tangan Awan yang sangat dingin.


"Fokus, okey?" Awan mengangguk.


"BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM."


"SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ENGKAU SAUDARA AWAN DAFFIN NARENDRA BIN YUDHA NARENDRA DENGAN ADIK KANDUNG SAYA YANG BERNAMA FESHIKA CLEARESTA ANGGARA BINTI ADNAN ANGGARA DENGAN MASKAWIN UANG 900 JUTA RUPIAH DAN 9 GRAM LOGAM MULIA TUNAI."


Dika menyentak tangannya agar Awan segera menjawab.


"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA FESHIKA CLEARESTA ANGGARA BINTI ADNAN ANGGARA DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT TUNAI."


Lantang dan jelas dengan sekali tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu itu.


"SAAAAH....."


"Alhamdulillah..."


Berganti sudah status keduanya, selesai membaca doa dan menandatangani berkas-berkas yang diperlukan. Awan memasang cincin dijari wanita yang sudah resmi menjadi Istrinya, Shika mencium dengan takzim punggung tangan Suaminya. Begitu juga Awan yang mencium lembut dan dalam kening Shika.


"Kakak sangat MENCINTAIMU FESHIKA CLEARESTA ANGGARA." Bisik Awan pelan tepat didepan wajah sang Istri. Ciee cieee... Istri, ekhem. ekhem.


Air mata Shika menetes kata pertama yang diucapkan oleh Awan setelah mereka resmi sebagai suami Istri berhasil membuat hatinya bergetar.


❄❄❄❄❄❄❄

__ADS_1


__ADS_2