
Satu setengah tahun yang lalu Kevin mengalami sebuah kecelakaan, hingga ia dilarikan kerumah sakit dalam keadaan terluka parah membuat kondisinya sangat kritis.
"Eugh.."
Terdengar leguhan dari mulut Kevin, Ia memperoleh kesadarannya setelah dua hari tidak sadarkan diri pasca kecelakaan mobil yang dialaminya. Perlahan Kevin membuka matanya, menyipitkan sedikit matanya menyesuaikan cahaya mampu diruangan itu. Kepalanya terasa pusing dan berdenyut, badannya remuk redam.
"Kak.." Shika berbinar, mendapati sang Suami tersadar.
"Alhamdulillah, lo akhirnya siuman!"
Dika dan Ray saat ini juga berada disana, setelah mendapatkan kabar kecelakaan Suaminya ia langsung menghubungi sang Kakak. Ray menekan sebuah tombol untuk memanggil Dokter, agar memeriksa kondisi adik iparnya.
Tak lama Dokter datang bersama seorang suster, mengecek kondisi Kevin. Setelah memastikan kondisi Kevin Dokter meninggalkan ruangan itu. Kevin harus menjalani pengecekan menyeluruh, apalagi bagian kepalanya.
"Sayang...!" lirih Kevin walau dengan suara lemah.
"Kak Kev jangan banyak bicara dulu, istirahat aja. Aku akan disini jagain Kakak," sekuat hati ia menahan agar air matanya tidak jatuh di depan Suaminya.
"Twins--"
"Sssttt.... Kakak tenang, twins bersama omanya." Shika meletakkan jari tangannya dibibir Kevin.
"Lo jangan mikir apa-apa dulu, semuanya udah diurus Bang Afnan. Lo fokus aja kesembuhan lo." Ray ikut menenangkan Kevin.
Kondisi Kevin dari hari kehari semakin memburuk, wajah pucatnya selalu tersenyum, entah apa yang ada dalam pikirannya. Seluruh keluarga di minta oleh Kevin berkumpul di dalam ruang perawatannya, Kevin sendiri duduk setengah berbaring diatas brangkarnya.
"Dika, tolong lo berikan surat ini pada Awan." Kevin menyodorkan sebuah amplop putih yang diambilnya dibalik bantal pada Dika. Kevin kembali mengeluarkan darah dari mulutnya.
Ray meneteskan air mata, ia membuang pandangannya sembarang arah. Tak hanya Ray, orang tua Kevin juga tak sanggup membendung tangisan mereka, melihat putra satu-satunya lemah tak berdaya. Sang mama terisak dalam pelukan Suaminya.
"Lo tau sendirikan, sampai sekarang kita ngga tau dia dimana apa masih hidup atau ngga. Terakhir kali kita tau dia koma." Ucap Dika.
__ADS_1
Kevin tersenyum samar, lalu berkata. "Suatu saat dia akan datang, dan serahkan surat itu padanya." Kevin kembali tersenyum diantara rasa sakit yang menyiksa tubuhnya, ia sangat yakin dengan apa yang diucapnya.
"Gue juga menyerahkan kedua putra gue pada Awan, maaf... kalian jangan salah paham. Kalian tetap Papi, Papa dan Ayahnya twins sampai kapanpun tidak ada yang bisa memungkirinya. Twins juga butuh seorang Daddy, gue harap kalian bisa mengerti." Jelas Kevin menatap satu persatu orang yang ada disana dengan senyum yang lemah.
Lalu pandangannya beralih pada sosok perempuan yang telah memberikannya tiga orang anak, yang selalu setia berada disisinya selama ini.
Perlahan tangannya terulur menghapus air mata yang terus mengalir, matanya sayu terlihat bengkak. Sudah berapa banyak air matanya yang terbuang. Dengan susah payah Kevin menarik nafasnya lalu membawa tubuh Shika kedalam dekapannya.
"Berjanjilah pada Kakak, setelah Kakak pergi nanti tolong lanjutkan hidupmu. Mungkin takdir Kakak bersamamu dan anak-anak kita hanya sampai disini," Kevin terdiam sejenak, kembali menarik nafasnya, kemudian melanjutkan ucapannya.
"Terimalah Awan sebagai Daddy untuk kedua putra kita." Mendekap erat tubuh Shika, kemudian perlahan melerai pelukan menatap jauh kedalam mata sang istri dengan lembut dan penuh cinta lalu mencium dalam tangan itu dengan mata terpejam. Sang bulir kristal terlepas tanpa bisa dicegah.
"Berjanjilah sayang, penuhi permintaan terakhir Suamimu ini. Buktikan betapa besar cintamu pada Kakak." Menatap Istrinya dengan wajah memelas dan tatapan memohon.
Isakan Shika begitu menyayat hati, mata teduh itu kini begitu sendu. Ia begitu sangat mencintai Kevin, Shika sangat tau arti dari permintaan Suaminya itu.
*****
Hai Broo...
Sang Pendonor Berhati Malaikat
Saat lo baca surat ini, gue udah bersama Putri kesayangan gue yang bernama Kenza Awanka Ardhinata. Nama tengahnya gue ambil dari nama lo, pasti lo setuju tanpa gue minta ijin.
Diusianya yang baru 3 tahun, Putri gue divonis penyakit yang sama seperti gue dulu, Wan. Kenza engga seberuntung gue yang bisa mendapatkan donor yang cocok, bahkan gue Ayah kandungnya sendiri engga bisa jadi pendonor.
Diusianya yang masih sangat kecil ia hidup dengan bantuan obat-obatan, belum lagi harus merasakan sakitnya kemoterapi. Tubuh kecilnya begitu tersiksa dari hari kehari.
Saat twins lahir besar harapan untuk kesembuhan Kenza, tapi kondisi Kenza semakin menurun. Setelah bertahan hampir dua tahun ia lebih memilih pergi sebelum operasi itu dilakukan.
Gue udah tepati janji gue untuk engga nyerah, gue juga udah berjuang semampu gue. Lo bahkan rela mempertaruhkan nyawa lo dimeja operasi. Gue kehabisan kata-kata buat lo, apapun yang ada didunia ini tidak akan mampu untuk membayar apa yang udah lo korbankan.
__ADS_1
Gue tau sampai saat lo baca surat ini, lo masih sendiri. Lo pasti bertanya kenapa gue bisa tau, setelah lo sadar dari koma dan menjalani masa pemulihan selama setahun. Lo memilih bersembunyi di Amsterdam, bekerja disalah satu rumah sakit disana sambil mengelola salah satu anak perusahaan.
Waldorf Astoria Amsterdam, lo ingat tempat ini? pasti lo ingat, tanpa sengaja asisten gue melihat lo diantara para tamu undangan yang hadir disana waktu.
Padahal selama bertahun-tahun, kami semua tidak berhenti mencari keberadaan lo. Gue yakin, lo punya alasan kuat kenapa melakukan itu semua. Makanya gue tidak menemui dan mengatakan pada yang lain tentang keberadaan lo, gue hargai keinginan lo saat itu.
Awan, tolong bahagiakan Resta. Hm.. sepertinya tanpa gue minta pun lo pasti akan lanjutkan perjuangan cinta lo. Gue ikhlas lo gantikan, berikan apa yang belum bisa gue berikan untuknya, lo mampu bahagiakan dia. Gue engga sanggup melihat kesedihan dimatanya, gue udah engga ada harapan lagi setelah kecelakaan itu. Gue muntah darah, bahkan darah terus keluar dari mulut gue, kondisi gue semakin lemah.
Gue udah engga kuat lagi, gue serahkan dua jagoan gue sama lo, gue yakin lo bisa jagain mereka dan memberikan sayang dan cinta lo lebih baik dari yang gue bisa. Kenzo Daffin A dan Kenzie Daffin A, tolong jadikan mereka anak lo tanpa orang tau latar belakangnya.
Gue juga udah pastikan, kata pertama yang diucap oleh kedua jagoan gue adalah Daddy saat kalian bertemu. Benarkan gue, mereka panggil lo Daddy? 🙂
Saat ini lo pasti sedang bersama twins, lo pasti ngga bisa jauh-jauh dari mereka, begitu pun dengan mereka. Karena darah lo juga mengalir ditubuh mereka secara ngga langsung.
Selamat menikmati status baru lo sebagai Daddy, Dokter Awan Daffin Narendra.
Daddy Triple K
Kevin Ardhinata
*****
Air mata Awan sudah menganak sungai, dadanya begitu sesak. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, menundukkan kepalanya menangis sesegukan.
"Lo seperti cenayang, Vin. Bisa tau yang akan terjadi." Awan terkekeh disela tangisannya.
"Istirahatlah dengan tenang, Vin. Gue pasti penuhi permintaan lo, tapi bukan menggantikan." Gumam Awan, menatap kedua putranya yang sedang tertidur dengan pose Ken kedua tangannya diatas kepala sedangkan Zie sebelah kakinya diatas perut sang Kakak.
Terima kasih, Vin.
❄❄❄❄❄❄❄
__ADS_1