Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
68 - Belum Ada Ide


__ADS_3

Awan dan Shika memutuskan untuk bermalam di rumah Dika, karena twin udah tidur. Kini pasangan suami istri itu sedang bersantai diruang keluarga.


"Kakak udah siapin nama untuk anak kita?" tanya Shika menatap suaminya.


"Belum tau jenis kelaminnya sayang, jadi belum ada ide untuk namannya." Sebelah tangan Awan mengusap lembut rambut Shika.


"Kenapa? kamu udah ada pilihan namanya?"


Shika menggeleng, "Mau Daddy nya aja yang kasih nama."


"Kok gitu? Mommy nya juga boleh sumbang nama, yang ada disini anak kita. Kamu boleh kasih nama mereka." Awan mengelus perut istrinya.


Lagi-lagi Shika menggeleng, "Kak aja yang kasih nama."


"Baiklah, kalau itu mau kamu." Awan mencubit gemas hidung istrinya, Awan menatap lekat wajah Shika sambil tersenyum.


"Kamu makin cantik aja, sayang."


"Pujian apa ledekan?" Shika melototkan matanya kemudian memicing.


Awan terkekeh, "Pujian dong sayang, masak ledekan."


"Ya kali aja, siapa tau kan. Badan istrinya udah kayak drum gini, awas aja kakak berani lirik yang lain. Fe cakar-cakar wajah kakak biar ngga tampan lagi." Ancam Shika.

__ADS_1


"Duuh, istri siapa sih ini? Galak banget." Awan menekan-nekan pipi Shika.


"Istri tetangga nyasar ke sini." Jawab Shika asal.


"Wow, kalau kamu istrinya tetangga semontok ini ngga bakalan nolak!" Shika terbelalak, Shika bangun dari tidurnya dengan susah payah, mengambil bantal sofa menimpuk-nimpuk Awan.


"Boong banget kakak, katanya cinta, sayang. Taunya kalau ada istri tetangga montok kayak ini mau juga, dasar suami nyebelin!" Awan senyum-senyum lihat istrinya yang cemberut.


"Sayang udah dong, nanti kamu kelelahan susah tidurnya. Sini peluk lagi." Awan merentangkan tangannya.


"Biarin, biar kakak juga ngga bisa tidur. Siapa suruh ganjen!"


"Ganjennya dimana? coba bilang," Shika mengingat-ingat lagi kata-kata Awan tadi.


"Nah, bener dong kakak. Kan kamu istrinya tetangga bukan orang lagi." Awan menaikan sebelah alisnya, Shika menjatuhkan diri dalam pelukan suaminya setelah paham ucapan suaminya itu.


“Woi.. Woi.. Woi.. Masih ada orang disini, malah uwu-uwuan kalian!” Ray datang mengganggu sang adik yang sedang bermanja-manja pada suaminya.


“Apaan sih Kak, ganggu aja. Kakak juga kalau mau tuh sama Mba Aleta. Rugi kalau di anggurin!”


“Wan lu ngga risih, ditempelin mulu sama tu anak. Udah kayak ketempelan jin aja lo.” Ray sudah duduk di sofa dekat mereka, tidak lama Dika datang di ikuti Bunda Santi, Zoya dan Aleta di belakang membawa minuman dan beberapa cemilan.


“Ya, mau gimana? Resiko dari perbuatan gue.” Awan menunjuk perut Shika dengan ujung matanya. Awan membenarkan posisi duduknya yang tadi setengah berbaring kini duduk, Awan mengganjal punggung Shika dengan sebuah bantal agar istrinya itu bisa duduk dengan nyaman.

__ADS_1


“Dek, ngeGym yuk?” ajak Ray.


“Kakak ledekin Fe, mentang-mentang perut Fe buncit sekarang!” Shika memplototi Ray dengan bibir cemberut.


“Rayendra!” tegur Dika, yang pusing melihat kedua adiknya.


Hening


“Bunda besok akan ikut Dika ke London.” Ucap Bunda Santi memulai pembicaraan.


“Kok mendadak Bun?” tanya Shika sedih.


“Ngga mendadak sayang, Bunda sudah bicara jauh hari dengan Dika dan Abangmu. Disana Bunda bisa menemami Sofi, kasian Mita harus menemani Sofi dia juga harus memperhatikan anaknya. Walaupun Mita tidak keberatan merawat Sofi, dengan adanya Bunda di sana yang menemani Sofi setidaknya mengurangi kesibukan Mita biar dia lebih fokus pada Adit. Kamu tau sendiri nak, di sana negara bebas.” Jelas Bunda Santi.


“Nanti, Fe lahiran gimana?”


Bunda Santi bangkit dari duduknya, menghampiri Shika membelai lembut Putri satu-satunya keluarga Anggara itu.


“Mendekati kamu lahiran Bunda pasti pulang, Bunda mana mau ketinggalan launching produk dari Narendra. Bunda juga mau liat hasilnya seperti apa, entah pupuk apa yang di kasih suamimu ini bisa buat badan kamu sampai semekar ini.” Canda Bunda Santi, ia tidak ingin Shika merasa sedih.


“Bunda tanya aja nih sama tersangkanya langsung,” Shika membalas candaan bunda santi.” Mereka tergelak, sedangkan Awan menggaruk keningnya yang tidak gatal.


Cukup lama mereka mengobrol, hingga Awan pamit untuk mengantar Shika yang mulai mengantuk.

__ADS_1


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2