
Seorang wanita cantik tinggi semampai dengan tampilan sederhana namun tetap modis dan elegan, berjalan dikoridor rumah sakit dengan menggandeng dua bocah tampan yang sangat menggemaskan. Banyak pasang mata yang memandang sosok wanita itu dengan tatapan kagum dan penuh puja.
"Cantik banget tuh, cewek?"
"Eh eh, liat deh itu bukannya anak-anak Dokter Awan ya?"
"Eh benar, itukan twins anaknya Dokter Awan. Terus perempuan itu siapa? Wah jangan-jangan Istrinya."
"Pantesan aja, anak-anaknya cakep gitu. Emaknya aja udah kayak model gitu."
"Padahal udah turun mesin, tapi bodynya.. masih kayak ABG."
"Horang kaya mah, perawatannya ngga main-main."
"Makanya lo punya uang simpan, jangan lo tabung sama mamang cilok."
Ternyata dirumah sakit itu banyak sekali bisikan-bisikan yang tak kasat mata, ngalahin kuburan, ckckck.
Baru saja bokongnya menyentuh sofa sekembalinya dari ruang OK, ia dikejutkan oleh kedatangan Putra-Putranya.
"Daddy..." Kedua balita tampan itu berteriak setelah membuka pintu ruang kerja Awan.
"Hai, sayang." Bocah-bocah tampan itu berlari langsung melompat kedalam pelukan sang Daddy seketika rasa lelahnya menguap entah kemana.
"Kejutan," ucap Ken.
"Daddy suka?" sambung Zie.
"Tentu, Daddy sangat suka." Sahut Awan seraya mencium gemas pipi keduanya.
Pandangannya beralih pada sosok wanita cantik yang masih setia berdiri melihat bagaimana Awan memperlakukan kedua anaknya.
"Maaf, Kak. Anak-anak sedari tadi rewel minta ke sini."
"Engga apa, mereka juga biasanya disini ikut Kakak."
"Kakak ngga sibuk?"
Awan menggeleng sambil tersenyum, "Baru selesai operasi."
Gini rasanya didatangi anak-anak sama istri bahagia banget, lelah pun hilang...eitss! belum jadi istri masih menuju halal. Batin Awan bermonolog.
"Mau makan siang bersama?" tanya Awan pada wanita itu.
Shika mengangguk, "Boleh." Jawaban singkat tapi berhasil membuat jantung Awan berdegup hebat.
Haisss... kenapa seperti ABG gini. Batin Awan.
Mereka pun menuju ke restoran yang terdekat dari rumah sakit, Awan memilih meja dipojokan agar lebih nyaman untuk anak-anaknya dengan pemandangan yang langsung menghadap ke sebuah taman yang terdapat kolam ikan. Tentu saja kedua bocah itu sangat senang.
__ADS_1
"Kak Ken, liat yang besal itu pasti Mommy nya dan yang besal itu Daddy nya." Tunjuk Zie pada dua ikan yang agak besar, mata bulat bening bocah itu terlihat berbinar.
"Iya, sama seperti kita ada Mommy sama Daddy." Sambung Ken, mereka asik berdua berceletoh sambil memandangi kearah kolam ikan tanpa menghiraukan kedua orang tua itu.
Kak Kev, apa ini yang Kakak inginkan. Kedua anak kita tetap mendapatkan sosok Daddy disisi mereka walaupun itu bukan Kakak. Batin Shika.
Shika terus memandangi kedua anaknya, kehadiran Awan bisa mengobati kerinduan dan kekosongan seorang Ayah dihati mereka. Awan selalu ada disaat mereka menginginkannya bahkan kedua balita tampan itu tidak ingin terlalu lama berjauhan dari sang Daddy.
"Ka, kok melamun?" tanya Awan.
"Hah, ngga Kak. Cuma lagi liatin twins aja, mereka terlihat begitu senang."
"Makasih, Kak." Lanjutnya lagi, kini pandangannya beralih pada sosok lelaki yang akan menjadi Suaminya beberapa hari lagi.
"Untuk?"
"Untuk semuanya, Kak."
Mereka saling menatap untuk beberapa saat hingga Awan memecahkan keheningan diantara mereka, "Ka, apa boleh Kakak minta sesuatu dari kamu?"
"Apa?"
"Kakak tau ini berat untuk kamu, tapi liatlah mereka tampak begitu bahagia seperti tidak ada beban apapun." Awan menghela nafasnya melihat sejenak pada twins lalu kembali menatap wanita didepannya.
"Tidak ada yang tau bagaimana hati mereka, Ka. Mereka tidak minta untuk ada dalam keadaan seperti ini, dibalik sikap mereka yang ceria Kakak tau ada luka dihati kecil mereka. Jangan biarkan luka itu menjadi besar dengan berjalannya waktu karena keegoisan kita, apalagi kamu sebagai Ibunya. Jadi, Kakak harap kamu bisa bersikap seperti dulu. Jika tidak bisa untuk dirimu sendiri, setidaknya lakukan untuk amanah yang Kevin titipkan padamu yaitu kedua malaikat kecil itu. Kamu paham kan, maksud Kakak?"
Shika mengangguk, tanpa terasa air matanya menetes, kata-kata Awan membuatnya tersadar bahwa selama ini ia hanya memikirkan perasaannya saja. Selama ini ia belum menjadi Ibu yang baik, tidak memahami hati anak-anaknya.
"Tidak, Kak. Aku aja yang terlalu egois tidak berpikir sejauh itu."
"Sudahlah, hapus air matanya sebelum anak-anak melihat."
*****
Drrt
Drrt
"Halo, Ma."
"Sayang, kamu hari ini fitting baju ya sekalian jemput Shika. Mama tunggu kamu sekarang, alamatnya udah Mama kirim."
"Sekarang, Ma?"
"Iya, kan Mama udah bilang sekarang. Gimana sih kamu!"
"Ma, kenapa dadakan banget sih? Ngga ngomong dulu!"
"Udah, buruan kesini jangan banyak protes. Jangan lupa jemput Shika, bye sayang."
__ADS_1
Tut
Baru juga Awan akan melayangkan protes lagi, sambungan telephone sudah dimatikan oleh Mama tercinta. Awan menatap nanar layar ponselnya kemudian melihat Shika yang juga sedang melihat kearahnya.
"Ada apa, Kak?"
"Mama minta kita fitting baju sekarang, kamu bisa?"
"Eemm.. Bisa."
"Kita berangkat sekarang, Mama udah nunggu disana." Ajak Awan.
"Ken - Zie, ayok ikut Daddy kita ketemu Oji." Lanjut Awan lagi pada kedua Putranya yang kembali melihat ikan setelah selesai makan.
"Yeeyy... ketemu Oji," seru keduanya dengan gembira.
Jalanan yang biasanya macet, terlihat begitu lenggang hingga tidak membutuhkan waktu lama mereka sampai kebutik. Betapa bahagianya Mama Jihan melihat calon pengantin itu telah tiba.
"Oji....." Panggil kedua bocah itu begitu melihat sang nenek menghampiri mereka.
"Wah, cucu Oji ikut juga ternyata." mencium keduanya cucunya secara bergantian.
"Iya, Ma. Mereka tadi lagi ke tempat Awan sama Shika." Jelas Awan. Jihan melihat Shika dan Awan secara bergantian, perasaannya sulit untuk dijabarkan seperti apa saat ini.
Semoga kalian selalu bahagia, nak. Doa tulus seorang Ibu untuk Putra dan calon menantunya.
"Cucu Oji udah makan siang?"
"Udah Oji, kami makan sambil liat ikan besal-besal tadi."
"Benarkah? jangan lupa cerita sama Oji nanti ya, sekarang kita masuk kedalam dulu." Kedua bocah itu mengangguk cepat dengan penuh semangat.
"Miss Stefi, kenalin ini anak dan mantu saya. Dua balita tampan ini cucu-cucu saya, sekalian baju untuk mereka juga."
"Cantik banget, tapi masih cantikan eyke sih. Tampan kamu sama eyke aja, yeee.. dijamin servisnya mantul." Miss Stefi mengedipkan sebelah mata dengan genit membuat Awan bergidik ngeri.
Mama apa-apaan, fitting baju ditempat banci kaleng gini. Gerutu Awan dalam hati.
"Miss, anak saya ini harus balik kerja lagi. Lebih baik sekarang langsung kita coba bajunya."
❄❄❄❄❄❄❄
Hari ini kak Jingga kasih Triple Up ya zheyeng... semoga suka☺
Jangan lupa dukung terus ya, makasih sebenua Asia yang sudah Like, komen, vote dan kasih gift tanpa kalian kak Jingga hanya remahan rempeyek yang tersisa didalam kaleng bekas biskuit🤧
Jaga kesehatan Zheyeng...
Karena hujan, Kak Jingga kasih bunga Bintang aja😁
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐