
Malam ini Awan membawa kekasih hatinya kesuatu tempat yang telah disiapkannya, kedua mata Shika sengaja ditutup dengan sapu tangan sejak masuk dalam mobil. Aura kebahagiaan malam ini terasa berbeda, rasa cinta yang hadir dihati keduanya kini telah sempurna dengan pengakuan cinta dari Shika.
"Kak, kita mau kemana sih?" tanya Shika dengan mata tertutup.
"Sabar, sebentar lagi juga sampai." Awan tersenyum manis meskipun wanita yang duduk disampingnya tidak dapat melihat senyumannya.
"Dari tadi sebentar-sebentar terus, tapi ngga sampai-sampai!" rajuk Shika dengan cemberut mengerutkan hidungnya. Bibir ranum berwarna peach dengan kilapan efek dari lipsglos sangat menggoda, membuat Awan ingin meminggirkan mobil dan melahap habis bibir itu.
Awan menggeleng-gelengkan kepalanya mengenyahkan jalur mesum yang ada dipikirannya.
Mobil yang dikemudi Awan memasuki kawasan pantai, yups! Awan akan melakukan Candle Light Dinner bersama istri tercintanya dengan suasana yang berbeda. Awan terlebih dulu keluar dari mobil lalu ia berjalan memutar untuk membuka pintu sang Ratu.
"Pantai?" tanya Shika setelah ia keluar dari mobil dan berdiri disisi sang suami. Terdengar deburan ombak, hembusan angin laut menyapa wajahnya.
"Iya." sahut Awan lembut.
"Udah boleh dibuka?" tanya Shika lagi,
"Belum, tujuannya belum sampai." Shika mencebik, ia hanya bisa menurut apa yang dilakukan oleh suaminya.
Awan menuntun Shika berjalan disampingnya, satu tangannya merangkul pinggang sang istri sedangkan satunya lagi menggenggam lembut tangan Shika.
"Sekarang boleh dibuka," ucap Awan begitu mereka tiba ditempat yang telah dipersiapkannya. Dengan cepat Shika membuka penutup matanya, sungguh! sebenarnya ia sangat penasaran dibawa kemana oleh lelaki itu.
Penutup mata terlepas, tapi tidak ada reaksi yang diberikan oleh tubuh Shika. Ia hanya memandang sekeliling dengan mata berkaca-kaca.
Dihadapannya terdapat sebuah meja dengan dua buah kursi yang saling berhadapan, kain-kain panjang berwarna pastel menghiasi pinggiran kursi. Taburan bunga mawar membentuk jalan menuju meja itu, suasana temaram disekitarnya hanya terdapat lilin-lilin dalam gelas besar yang bertiup kesana kemari terhempas oleh angin. Tak lupa sebuket bunga Casablanca Lily favorit Shika sudah menantinya diatas salah satu kursi. Deburan ombak dan hembusan angin sebagai alunan musik persembahan dari alam untuk dua insan yang saling mencintai itu.
"Sayang, kamu tidak suka?" tanya Awan harap-harap cemas. Ia ikut memperhatikan sekeliling apa ada yang salah yang bisa membuat istrinya itu kecewa atau apa.
Hening!
Shika masih tetap diam, ia membalikkan badannya sedikit mendongak agar bisa menatap wajah suaminya.
"Sayang, napa malah nangis, kamu tidak suka?" Awan menyeka air mata diwajah cantik itu.
__ADS_1
"Ngga tau harus bereaksi seperti apa, Kak!" Awan mengernyit, "Maksudnya?" tanya Awan lagi.
"Ini, aku kehabisan kata-kata Kak!" tunjuknya pada meja dan dekor yang begitu indah itu, simple tapi mewah dan Shika sangat menyukainya. Sesuai dengan dirinya yang tidak suka yang terlalu berlebihan.
Shika tak kuasa menahan tangisnya, ia memeluk erat tubuh Awan sambil berkata, "Makasih Kak, makasih udah memperlakukan aku begitu istimewa." Ucap Shika tulus.
"Ssstt... udah, kita mau Dinner kenapa jadi malah nangis." Awan melerai pelukan, membersihkan air mata yang menutupi kecantikan wajah istrinya malam ini.
"Senyum dong sayang, biar makin cantik."
Blussshh
Wajah Shika memerah, dulu ia biasa saja ketika Awan mengatakan seperti itu. Tapi sekarang kata-kata itu mampu membuat jantungnya berdegup kencang. Shika menundukkan kepalanya, mati-matian menetralkan detak jantungnya.
Awan tersenyum, ia tau istrinya itu salah tingkah. Awan menarik dagu wanitanya agar kembali menatapnya, Shika mencoba memalingkan wajahnya ia tidak sanggup bila harus melihat wajah tampan suaminya yang entah kenapa malam ini menjadi bertambah berkali-kali lipat ketampanannya. Malu! Shika sungguh sangat malu, rasanya pengen nyebur kedasar laut yang ada dibelakangnya itu.
*****
Awan sebagai suami siaga tentunya sudah menyiapkan baju hangat untuk istrinya, ia tidak ingin sang istri yang memiliki alergi dingin sampai terkena hiportemia seperti dulu.
"Kakak ingin selalu seperti ini, Ka. Menghabiskan seluruh malamku bersamamu." Memeluk Shika dari belakang, Awan meletakkan dagunya dipundak sang istri, tangan kekarnya melingkar diperut ramping itu.
"Kak.."
"Biarkan sebentar saja seperti ini!"
Matanya terpejam menghirup dalam aroma tubuh sang istri, aroma yang begitu menenangkan. Posisi yang sepertinya akan menjadi candu untuknya dalam mencari kenyamanan pada tubuh istrinya.
Shika hanya diam menikmati dekapan suaminya, ia merasakan hembusan hangat nafas Awan disekitar lehernya. Pandangannya jauh memandang ketengah lautan yang gelap.
Awan melepas pelukannya, lalu membalikkan badan Shika menghadap padanya. Awan menangkup wajah yang tersenyum manis itu dengan kedua tangannya, sebuah senyuman yang menular padanya hingga ia pun ikut tersenyum.
Cup
"Kamu adalah cinta pertama dalam hidupku, dan hanya menginginkan kamu menjadi yang terakhir bagiku." Kata Awan setelah mengecup kening Shika.
__ADS_1
Cup
"Aku akan selalu berusaha membuatmu tersenyum, aku tidak ingin ada kesedihan diwajah ini."
Cup
"Jangan pernah berubah, tetaplah jadi dirimu sendiri. Jangan pernah lelah untuk mencintaiku."
Cup
"Terima kasih telah mencintaiku." Ucap Awan, setelah mendaratkan ciuman dibibir yang sejak tadi sangat ingin ia kecup.
"Terima kasih juga, telah mencintai dan menerima wanita yang tidak sempurna ini."
Cup
Balas Shika mencium bibir suaminya dengan air mata yang berlinang, air mata kebahagiaan karena rasa cinta yang berlimpah ruah yang ia dapatkan dari sosok lelaki yang menjadi imamnya itu. Lelaki yang begitu tulus mencintai dan menerima dirinya juga anak-anaknya tanpa pamrih.
"Jangan menangis!"
"Aku terlalu bahagia, Kak."
Shika mengalungkan tangannya dileher Awan, perlahan wajahnya ia dekatkan hingga bibirnya menempel pada bibir milik suaminya. Awan tidak tinggal diam, ia pun memeluk posesif pinggang Shika menariknya agar lebih menempel pada tubuhnya. Awan bisa merasakan benda kenyal itu menekan dadanya.
Dengan gerakan kecil, perlahan Shika mengecap bibir suaminya dengan begitu lembut, Awan membalas tak kalah lembut. Mereka saling melu mat, mengecap dan menghisap. Sebelah tangan Awan menekan tekuk Shika memperdalam ciumannya, mengabsen rongga mulut Shika. Ciuman Awan semakin panas menuntut untuk melakukan lebih.
Awan melepas pagutan bibir mereka, dengan nafas terengah-engah. Keduanya saling berebut untuk dapat menghirup udara sebanyak-banyaknya. Kening mereka saling menempel, netra keduanya bertemu, senyum diwajah mereka terus mengembang.
"I Love You,"
"I Love You more."
Awan memeluk tubuh istrinya, dibawah sinar bulan purnama mereka saling melampiaskan rasa cinta dan sayang yang ada didalam hati masing-masing.
❄❄❄❄❄❄❄
__ADS_1