Awan Mengejar Cinta

Awan Mengejar Cinta
55 - Hilangnya Shika


__ADS_3

"Mmph.. mmpphhh.."


Belum sempat wanita itu mendekati dan melukai Shika, seorang lelaki dari arah belakang membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah dibubuhkan obat bius.


"Bawa dia!" perintah seorang lelaki bertubuh besar dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya, pakaian serba hitam.


"Baik, Bos."


Kemudian lelaki bertubuh besar itu, menekan alat komunikasi yang terpasang ditelingannya, "Kalian tetap awasi mobil yang baru keluar." titahnya.


Bella, wanita yang berniat ingin menghabisi nyawa Shika kini tak sadarkan diri. Ia dimasukkan kedalam sebuah mobil, mulutnya dilakban dengan tangan dan kaki diikat.


Sementara Shika dan Adit, sudah meninggalkan pelataran parkir tanpa mengetahui apa yang telah terjadi disana.


Ditengah jalan, Adit melihat ke belakang rupanya sejak tadi ia memperhatikan mobil yang terus mengikuti mereka dari spion. Awalnya ia mengira itu mobil yang searah dengan mereka, tapi jika arah mereka sama kenapa mobil itu tidak melewati mereka, pikirnya.


"Ada apa, Dit?" tanya Shika, ia memperhatikan ponaannya itu sebentar-bentar liat ke belakang. Ia pun ikut melihat dari spion depan.


"Sepertinya mobil itu ikutin kita, Mom." Tukas Adit. Shika pun perasaannya mulai tak enak, ia berusaha tenang. Ia melihat keponakannya itu mulai takut, Shika juga memperhatikan jalan yang mereka lewati mulai terlihat sepi.


"Kamu tenang, sekarang ambil ponsel Mommy. Hubungi Papi," titah Shika.


Shika meminta Adit menghubungi Dika, Adit langsung mengambil ponsel sang Mommy dan menghubungi Papi Dika. Shika berpikir jika ia menghubungi Awan, takutnya suaminya itu sedang menangani pasien.


"Halo.."


"Papi, tolongin kita!" lirih Adit dengan suara bergetar, setelah panggilan dijawab Dika.


"Adit, kamu kenapa nak?" tanya Dika panik.


"Kak, ada yang ngikutin kita..." Belum selesai Shika berbicara mobil mereka sudah dihadang didepan.


Ciiiiiittt


Brugh


Shika yang mengerem mobilnya secara tiba-tiba, membuat ponsel Shika yang dipegang Adit jatuh dibawah kolong. Dari mobil depan dan belakang mereka, keluar pria-pria dengan wajah sangar.


"Mommy, Adit takut!" Tubuh Adit gemetar, melihat orang-orang itu mendekat ke mobil mereka.


"Ada Mommy, sayang."


Tokk tokk tokk


"Buka," perintah salah satu pria itu, Shika bergeming. Ia melihat ponakannya itu sudah menangis.


"Buka, atau kami pecahkan kacanya!" Shika terlonjak kaget, pria lain menggebrak kap depan mobil seraya mengancam karena melihat tidak dan pergerakan dari dalam mobil.

__ADS_1


"Mom..!" lirih Adit, wajah anak laki-laki itu tampak pias.


Praangg


"Mommy!!!" jerit Adit, kaca jendela sebelah kemudi berhasil dipecah, dengan kasar mereka menarik Shika keluar dari dalam mobil.


"Papiii.. papiii.. tolongi Mommy!!" teriak Adit lagi, saat pria lainnya membawa dia keluar dari dalam mobil.


"Lepas.. lepasin, siapa kalian? mau apa kalian, hah?" Shika yang dipegang tangannya memberontak, tapi badan mereka yang besar pasti ia akan kalah tenaganya.


"Diam, atau kami akan menyakiti anak itu." Bentak pria sangar itu.


"Mommy!!" Shika pun melihat kearah Adit yang dipegang tangannya oleh pria sangar itu.


"Lepaskan anak itu, terserah kalian mau membawaku kemana." Pasrah Shika pada akhirnya.


"Seharusnya kau berlaku manis sejak tadi, tidak harus nunggu kekerasan dulu." Ketus pria sangar yang memegang tangan Shika.


Shika tidak menjawab, ia fokus pada keponakannya. Mereka melepaskan Adit, ia berlari kearah Shika dan memeluknya erat. Shika membalas pelukan Adit dan menenangkan anak laki-laki itu.


"Mommy disini, sayang. Jangan nangis ya, Papi pasti akan nolongin kita." Shika mendekap keponakannya itu, mengusap-usap kepala Adit.


Diseberang sana, sambungan telpon yang masih terhubung dengan ponsel Shika, Dika bisa mendengar semuanya. Jeritan Adik dan keponakannya semakin membuat rahang Dika mengetat.


Waktu Shika mengatakan ada yang mengikutinya, Dika segera meninggalkan kantor. Diikuti Bian yang langsung melacak keberadaan Shika, Aura dingin dan mematikan seketika menguar setiap langkah kakinya.


"Bian, hubungi Beno." titah Dika begitu dingin.


"Nihil, Tuan." Lapor Bian. Dika mengepalkan tangannya dengan geram,


"Sudah kau temukan lokasinya?"


"Sudah, Tuan."


*****


Awan keluar dari OK dengan tergesa-gesa, ia ingin segera tiba diruangnya untuk menghubungi sang istri. Saat didalam ruang operasi tadi tiba-tiba dadanya terasa sesak, hatinya menjadi gelisah. Tapi ada tanggung jawab yang harus diselesaikannya.


Di tempat lain, sedang terjadi baku tembak antara sekelompok orang tak dikenal dengan anak buah Dika yang di tugaskan untuk menjaga Shika.


"Alex, Nyonya Shika dalam bahaya cepat lacak keberadaan dan segera kirim bantuan untuk melindunginya!" titah Beno ditengah-tengah pertempuran mereka.


"Siap, Bos!"


Genjatan senjata pun tak terhindari, beberapa anak buahnya terkena tembakan karena serangan yang tiba-tiba.


Dika tiba dilokasi, disambut oleh anak buahnya yang tak lain adalah Beno yang beberapa saat lalu juga tiba disana setelah lawannya kabur. Beberapa diantara mereka ada yang berhasil dilumpuhkan dan ditahan guna untuk mendapatkan informasi.

__ADS_1


"Bagaimana bisa terjadi?"


"Maaf, Tuan. Semua terjadi begitu cepat, kami mendapat serangan secara tiba-tiba, saat sedang mengikuti mobil Nyonya Shika. Tapi saat itu juga, saya langsung menghubungi Alex untuk segera melindungi Nyonya Shika, namun terlambat beberapa detik saja dari mereka membawa Nyonya Shika."


"Kami sudah menahan beberapa dari mereka yang berhasil dilumpuhkan saat penyerangan tadi, saat ini mereka ada dimarkas." Jelas Beno.


Dika mengepalkan tangannya, apalagi melihat kaca mobil yang pecah. Beno juga menyerahkan ponsel dan tas milik Shika yang ia temukan dikolong kursi yang diduduki oleh Adit tadi.


*****


Sementara di London, Afnan yang baru mendapat kabar anak dan adiknya diculik langsung meninggalkan pekerjaannya. Setelah berpesan pada asisten dan sekretarisnya, ia segera mencari penerbangan saat itu juga. Sekitar jam 1 siang waktu setempat pesawat yang mereka tumpangi lepas landas mengangkasa menuju tanah air.


Mita sang istri tak henti-hentinya menangis, memikirkan keadaan Putra satu-satunya sedang dalam bahaya. Afnan begitu sabar menenangkannya, walaupun ia sendiri begitu gusar.


Di Indonesia sendiri, Awan yang yang sejak tadi terus menghubungi sang istri tapi tidak ada jawaban semakin membuat hatinya tidak tenang.


"Sayang, kamu sedang apa sih? sampai telepon dari suami ngga dijawab!" gumam Awan masih menghubungi istrinya sambil jalan mondar mandir dalam ruangnya.


Dika menghubungi adik-adiknya, meminta Ray dan Awan untuk segera pulang. Dika tidak mengatakan apapun, dia akan menunggu mereka sampai di rumah dulu.


"Ray, perasaan gue ngga enak banget. Istri gue dari tadi ngga jawab panggilan gue! ngga biasanya Shika seperti ini! ditambah kak Dika yang tiba-tiba minta kita pulang." Ungkap Awan.


"Lo tenang dulu, coba pikir positif. Mungkin hapenya mode silent dan dia lagi sibuk sama anak-anak." Ray yang sebenarnya juga hatinya gelisah berusaha bersikap tenang, ia tidak ingin menambah kekhawatiran pada sejawat dan juga adik iparnya itu.


Tiba di rumah, mereka langsung menuju ruang kerja Dika.


"Ada apa Kak? kayaknya penting banget." Tanya Ray yang sudah masuk kedalam ruang itu, mereka duduk di sofa yang berhadapan dengan Dika.


Dika menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. "Kakak harap, setelah apa yang Kakak sampaikan kalian tetap tenang." Keduanya mengangguk, karena Dika terlihat sangat serius.


"Adit dan Fe diculik." Ucap Dika kemudian.


"APAA!!!" pekik Ray dan Awan. Jantung mereka serasa dipompa begitu kencang, Awan seakan nafasnya ikut berhenti. Terjawab sudah penyebab kegundahan hatinya sejak tadi.


"Iya, mobil mereka dicegat ditengah jalan. Kalau dari kondisi kaca mobil yang pecah, mereka terlihat dipaksa untuk keluar. Karena Kakak yakin, saat itu Fe berusaha mengulur waktu menunggu bantuan datang." Dika pun menceritakan kronologi kejadian tadi.


"Aku akan mencari mereka, Kak," Awan berdiri dari duduknya.


"Jangan gegabah, kita belum tau siapa yang kita hadapi. Kamu tenang dulu, anak buah Kakak sedang melacak mereka." Cegah Dika.


"Bagaimana bisa tenang, Kak. Anak dan istri aku dalam bahaya, entah bagaimana keadaan mereka sekarang!" lirih Awan, air matanya mengalir tanpa bisa dicegah. Baru saja dia merasa bahagia atas kehamilan sang istri tercinta, kini ia dihadapi oleh hilangnya Shika.


"Maksud kamu anak? Adit?" tanya Dika.


"Shika sedang hamil, Kak. Baru dua hari yang lalu kami tau kalau kehamilannya sudah jalan lima minggu." Jelas Awan dengan suara serak.


Deg

__ADS_1


Dika terduduk lemas, tiga nyawa dalam bahaya.


❄❄❄❄❄❄❄


__ADS_2